Squad Star Girls Story
Hanya Dalam Mimpi
*"Bangun dong, masa lagi belajar tidur!"
Mendengar suara itu Jennie bangun dan mendongkrak ke depan ternyata ada Eun woo yang sedang berdiri di depan jendela sedang memandang dirinya yang tertidur, ah malunya apalagi melihat senyum mengejek Eun woo kepada dirinya akhirnya Jennie memilih untuk bangun.
"Makasih udah banguin," kata Jennie sambil mengusap wajahnya dengan telapak tangannya.*
Tiba-tiba Jennie kaget begitu sadar jika semua itu hanya mimpi, "Astaghfirullah, kenapa dia datang dalam mimpiku sih?" sesalnya.
Seketika pikiran Jennie kembali memutar memori yang ada di otaknya saat ini, mulai dari awal bertemu, awal dekat sampai jadi teman bahkan saat rasa kagum itu ada, Jennie tidak mengerti dengan dirinya, kenapa selalu ada nama Eun woo di otaknya kenapa pikirannya selalu dipenuhi dengan nama Eun woo.
"Aku gak boleh kaya gini terus, yang ada aku bakal mengalami sakit hati kalau tahu Eun woo ternyata suka sama cewek lain," batinnya berusaha menampik pikirannya tentang Eun woo, dia juga beranjak dari duduknya dan pergi ke kamar mandi.
Jennie berniat untuk sholat Dhuha sekalian dia mau minta petunjuk sama sang Pencipta alam semesta dan yang maha membolak-balikkan hati manusia.
Setiap doa yang Jennie sebutkan dalam sujudnya selalu terselip nama Eun woo namun Jennie malah meminta untuk dirinya agar berhenti memikirkan Eun woo dan jauh dari cowok itu agar hatinya tetap damai.
"Sayang," panggil Vera Bundanya Jennie sambil mengetuk pintu kamar Jennie. "Ada yang nyariin tuh, cowok, ganteng lagi."
"Siapa Bun?" sahut Jennie mendengar ada tamu yang mencarinya.
"Bunda gak tahu sayang, kamu lihat sendiri saja yah, cepatlah keluar kasihan teman kamu nungguin," pinta Vera mengingatkan putrinya.
"Baik Bun." Dengan cepat Jennie membuka mukenanya dan melipatnya lalu keluar untuk melihat siapa teman yang datang ke rumahnya.
Hari ini Jennie memang ada janji kumpulan OSIS namun dia tidak meminta Lisa atau Rose untuk menjemputnya lalu siapa yang datang ke rumahnya hari ini? Membuatnya penasaran.
Seketika langkah kaki Jennie berhenti begitu melihat cowok yang sedang duduk bersama Ayahnya, "Astaga itu kan Eun woo, ngapain dia datang ke rumah sih?" Dengan cepat dia melangkahkan kakinya menghampiri kedua cowok itu.
"Nah, itu dia Jennie!" ujar Suho sang Ayah Jennie sambil tersenyum melihat kedatangan putrinya.
"Yah, sebentar yah Jennie mau ngomong dulu sama dia!" pamit Jennie memberi kode pada Eun woo untuk keluar rumah.
Eun woo dengan raut kebingungan tetap mengikutinya.
"Hey, Lo kenapa datang ke rumah gue gak bilang-bilang? Dan tahu dari mana lagi alamat rumah gue?" omel Jennie sambil berdecak pinggang menatap cowok itu dengan kesal.
"Hehehe, sorry gue gak bilang dulu habisnya Lo gue chat gak dibalas-balas jadinya gue minta alamat rumah Lo sama Jisso, kenapa sih emang kayanya Lo gak suka banget gue datang?" Eun woo mencoba menebak sikap Jennie yang merasa keberatan dengan kedatangan dirinya di rumah ini.
Merasa pusing Jennie menepuk jidatnya, "Lo harus tahu Eun woo, selama ini belum ada cowok yang berani datang ke rumah selain Lo?"
Mata Eun woo melotot mendengar ucapan Jennie, "Serius belum ada cowok yang pernah ke sini?" yang dijawab dengan gelengan kepala oleh Jennie.
"Ya bagus dong, berani gue gentleman kan? Dan sepertinya Ayah Lo setuju deh kalau gue sama lo," Eun woo tersenyum menggoda. Dalam hatinya pantas saja Bokapnya Jennie terlihat kaget dan banyak tanya tentang dirinya ternyata ini alasannya.
Mendengar Eun woo berkata seperti itu membuat Jennie memutarkan bola matanya, beraninya Eun woo menggoda dirinya dengan terang-terangan apa cowok ini tahu yah kalau gue kagum sama dia? pikir Jennie.
"Apaan sih gak jelas banget, Lo mau ngapain datang ke rumah gue?" tanya Jennie mengalihkan topik pembicaraan.
"Ya gue mau jemput Lo lah, yang lain udah pada nungguin tuh di sekolah Lo gak kasihan apa sama temen-temen Lo sendiri?" seru Eun woo memancing Jennie agar merasa iba dan mau datang ke perkumpulan.
"Kenapa Lo yang jemput, kenapa bukan Sanha atau Lisa?" tanya Jennie dia tidak mungkin naik motor berdua dengan cowok ini.
"Mereka lagi belanja buat konsumsi tadi gue yang nyuruh." Mendengar jawaban Eun woo membuat Jennie berpikir apa cowok ini sengaja datang untuk menjemput dirinya, astaghfirullah Jennie kamu gak boleh baperan okey!
"Yaudah buruan sana ambil tas nya gue tunggu di sini!" pinta Eun woo melihat Jennie memang sudah rapi pagi ini.
"Gue gak mau naik motor berdua sama Lo!" pekik Jennie menolak jemputan Eun woo.
Mendengar penolakan dari Jennie membuat Eun woo sedikit terkejut, "Lo ribet banget sih, gue udah datang malah gak mau bareng."
Ameena menatap ke arah lain, "Ya, gue gak mau pokoknya!" bahaya jika Eun woo denger detak jantungnya.
"Terus mau Lo Gimana?" Eun woo mencoba menenangkan Jennie meski sebenarnya dia kesal dengan sikap cewek di depannya kini.
"Gue mau naik angkot aja deh, Lo duluan aja gak apa-apa yang penting gue udah mau datang kan?" sahut Jennie sambil tersenyum begitu menemukan jalan keluarnya.
"Jennie … naik angkot itu lama, udah mending Lo naik motor bareng gue aja yah." Eun woo kembali membujuk Jennie.
Yang dikatakan oleh Eun woo memang benar tapi dia juga tidak bisa naik motor berdua dengan Eun woo, bagaimana ini? Oh Tuhan tolong hambamu ini.
"Sayang, kok ngobrolnya di luar sih, ajak masuk ke dalam aja yuk!" Terdengar suara Vera dari balik pintu yang terbuka menatap kedua anak muda yang sedang berdebat ini.
Jennie menoleh, "Iyah Bun, ini Jennie bentar lagi mau pergi," sahutnya. "Gue ambil tas dulu di dalam," katanya kepada Eun woo.
Setelah kembali Jennie jadi berpikir kasihan juga Eun woo datang ke rumahnya jauh-jauh buat jemput eh malah berangkatnya sendiri-sendiri, jadinya Jennie bersedia untuk dibonceng motor berdua dengan Eun woo dan menaruh tasnya di tengah-tengah untuk menjadi pembatas agar tidak bersentuhan.
"Jennie, gue yakin setelah ini Lo bakal ketagihan naik motor dibonceng sama gue," ujar Eun woo penuh percaya diri.
Dalam hati Jennie mengaminkan ucapan cowok itu, dia akui jika hatinya senang bisa naik motor berdua dengan Eun woo, dia kira selama ini hanya mimpi membayangkan hal ini bisa terjadi nyatanya takdir berbaik hati kepadanya.
Motor Eun woo melaju dengan kecepatan diatas 60 km, dia mengejar waktu agar bisa sampai di tempat tujuan dengan lebih cepat dan tidak membuat teman-temannya yang lain menunggu lama.
"Eun woo, hati-hati!!" pinta Jennie dia sedikit merasa takut melihat motor Eun woo yang terus-menerus menyelip di depan mobil truk.
"Iyah tenang aja, gue gak bakal buat Lo celaka kok percaya deh, gue ini kan salah satu geng motor di daerah sini," sahut Eun woo yang suaranya tidak terdengar jelas karena deru motor yang terlalu kencang dibarengi hembusan angin.
Jennie hanya mendengar bahwa Eun woo salah satu geng motor, apa itu benar? Jika iya dia baru tahu jika seorang Eun woo hobby bermain motor selama ini dia mengira jika Eun woo adalah orang yang pendiam tidak suka apapun yang membahayakannya.
Sungguh mengagumkan Eun woo ini, semakin Jennie dekat dengannya semakin banyak sisi lain yang dia tahu dari seorang Eun woo salah satunya Eun woo tidak merokok, dia selalu menolak jika temannya menawarkan rokok kepadanya.
Seketika motor Eun woo berhenti mendadak, membuat Jennie memegang bahu Eun woo demi menghindar sentuhan dua buah dadanya dengan punggung Eun woo.
"Astaghfirullah, Eun woo kenapa mengeram dadakan?" omel Jennie terkejut dan kesal kepada Eun woo.
"Sorry-sorry kayanya ban motornya kempes deh," jelas Eun woo sambil menoleh ke bawah melihat ban depan Eun woo yang memang kempes.
Jennie pun ikut menoleh mengecek ban motor Eun woo dan ternyata benar ban depan Eun woo kempes seperti tertusuk paku atau benda tajam lainnya.
"Ya ampun ada-ada saja deh, bentar gue turun dulu." Akhirnya Jennie memilih turun dari motor Eun woo dan mencari tempat tambal ban di sekitarnya.
Eun woo juga turun untuk mengecek motornya, "Duhh kenapa sih pas bonceng cewek cantik malah kempes nih ban."
Mendengar ucapan Eun woo membuat Jennie mengangkat kedua alisnya, jantungnya seketika langsung berdetak kencang, bibirnya pun secara tidak sadar berbentuk bulan sabit, untung saja Jennie dapat mengendalikan perasaannya kalau tidak dia bisa jatuh terus-menerus jika diperlakukan manis seperti ini oleh Eun woo.
"Gak usah ngegombal deh mending kita nyari tempat tambal ban aja," ujar Jennie mengingatkan jika dia dan Eun woo sudah ditunggu-tunggu oleh teman-temannya di sekolah.
Melihat kondisi motornya membuat Eun woo sedikit bingung, "Jennie, mending Lo naik angkot aja deh daripada pada harus nemenin gue benerin motor, pasti lama."
"Kok gitu, Lo kan yang bilang gue harus berangkat bareng lo ya ini resiko yang bakal gue terima jadi apapun yang terjadi gue gak mau pergi duluan," kata Jennie sedikit kesal dengan omongan Eun woo yang malah menyuruhnya untuk pergi duluan, padahal dari awal dia sudah menolak namun kini malah disuruh pergi duluan naik angkot, dasar cowok plin plan.
Eun woo menatap Jennie dan tersenyum manis, "Okey deh kalau begitu yuk kita cari tempat tambal bannya kayanya di depan sana ada deh."
Akhirnya Jennie jalan kaki mengikuti Eun woo yang mendorong motornya, rasanya nikmat sekali bisa menghabiskan waktu berdua bersama Eun woo seperti ini, andai saja dia dan Eun woo bisa jadian pasti semuanya akan indah, pikir Jennie yang mulai menghalu.
"Itu dia tempatnya!" teriak Eun woo begitu menemukan tempat tambal yang sudah ada di depannya kini.
"Alhamdulillah," sahut Jennie bersyukur karena tempatnya tidak jauh jadi dia dan Eun woo tidak kecapean jalan kaki mencarinya.