Squad Star Girls Story
Nobar di Bioskop Mini
Setelah Rose sampai di rumah Jennie, dia membawa sahabat-sahabatnya untuk naik ke lantai dua tempat untuk menonton bioskop.
"Ini kamar gue gays," ujar Jennie seraya membuka knop pintu kamarnya.
Jennie masuk ke dalam kamarnya diikuti oleh Lisa, Rose dan Jisso di belakangnya. Ketiga sahabat-sahabatnya terkejut melihat kamar Jennie yang begitu luas bernuansa modern, cat kamar Jennie berwarna kesukaannya yaitu hijau dan putih.
"Astaga Jennie, lo kpops banget yah!" teriak Rose kaget dia menggelengkan kepalanya tidak percaya ada beberapa album Exo, Astro, Ikon, BTS, Nct Dream dan Black pink di rak khusus sebelah perpustakaan mini yang ada di dalam kamar Jennie.
"Gue kalah sama anak sultan Kim Jennie," cetus Lisa berdecak kagum dengan kekayaan keluarga Kim Jun Myeon (nama asli ayahnya Jennie).
Sedangkan Jennie tidak menanggapi ocehan para sahabatnya, dia mengambil bantal kesayangannya untuk dibawa ke bioskop.
Jisso tertarik melihat novel-novel Jennie yang begitu banyak. "Kak Jen, gue pinjem novel yang ini yah," serunya sambil menunjukkan novel yang berjudul "Dear Imamku"
Jennie menoleh lalu menganggukan kepalanya, "Iya boleh kok bawa aja asal balikin lagi yah wkwk soalnya itu novel bagus banget dan seru."
"Iya siap nanti gue balikin setelah selesai baca," ujar Jisso sembari tersenyum senang.
"Eh hayu katanya mau nonton," ajak Jennie kemudian sambil memeluk bantal guling kesayangannya.
Lisa yang sedang duduk di bangku matanya fokus menatap ponselnya lalu menoleh mendengar ucapan Jennie, "Lah bukannya nonton di kamar you?"
"Ya bukanlah, mau pakai laptop gue? Kecil layarnya gue kan punya bioskop mini jadi nontonnya di sana aja yah," jelas Jennie ternyata sahabat-sahabatnya sudah salah paham dengan dia membawa mereka masuk ke dalam kamar.
"Oh gue kira Lo bawa gue ke sini mau nonton di laptop," timpal Jisso yang sama sudah salah paham juga.
"Ya udah ayo ke bioskop aja, tapi keren banget sih rumah Lo, Jen," seru Rose berdecak kagum dengan fasilitas lengkap di dalam rumah ini.
Jennie bercerita sambil berjalan keluar dari kamarnya, "Iya sengaja karena di keluarga ini sama-sama suka nonton, daripada ke bioskop jauh mending bikin di rumah aja begitu pikir Ayah gue," katanya sambil menutup pintu kamarnya kembali.
"Keren emang om Suho, bokap gue juga kenal sama Ayah Lo, Jen. Katanya Om Suho emang pengusaha sukses banyak sahamnya," seru Lisa dia teringat akan perkataan sang Ayah waktu memperkenalkan sahabat-sahabatnya kepada kedua orangtuanya. Makanya dia ingin bertemu dengan Ayahnya Jennie tapi sayang beliau selalu sibuk di kantornya ketika dia main ke rumah Jennie.
"Oh ya berarti orangtua kita sudah saling kenal dong ya?" Mata Jennie membulat kaget mendengar cerita Lisa.
"Iya kan sama-sama pengusaha, jadi ya mungkin mereka saling bekerjasama atau bertemu satu sama lainnya," timpal Rose mengingat Ayah mereka semua adalah pengusaha dan pebisnis.
Jennie membawa ke tiga sahabatnya masuk ke dalam ruangan yang gelap di paling pojok lantai dua, sampai mereka harus menyalakan flash light untuk menerangi jalan mereka.
"Gue nyalain lampunya dulu yah," pekik Jennie berjalan menuju pintu keluar darurat yang menghubungkan ke toilet umum, itu juga sengaja dibangun karena toilet di lantai dua ini hanya ada satu yaitu di ruang santai itu juga paling ujung laginya setelah kamar Jennie, jaraknya yang jauh membuat Suho memberikan toilet di dalam ruang bioskop mini ini.
Akhirnya lampu menyala meski masih redup, tapi setidaknya jauh lebih baik daripada sebelumnya.
"Kalian mau nonton drama The Penthouse? Atau Vincenzo?" tanya Jennie kepada sahabat-sahabatnya yang sudah mengambil duduk di barisan ke dua dari bawah.
"The Penthouse nanti aja sih kan masih on going mending Vincenzo aja episodenya gak banyak juga," seru Rose memberikan usulan.
"Iya betul gak enak kalau nonton masih on going tuh mending nonton Oppa Song Joong Ki aja deh," timpal Jisso dengan wajahnya yang sumringah.
Jennie pun memutar drama Vincenzo atas kesepakatan bersama dengan sahabat-sahabatnya, Lisa mengambil Snack ringan yang sudah dibawa sebelumnya agar tambah seru jika nonton sambil makan Snack kaya gini.
"Omo, Song Joong Ki keren banget tau disini apalagi waktu menghabisi orang-orang yang mau ngusir itu," seru Lisa yang sudah pernah nonton setengah tapi dia tetap mau mengulanginya bersama sahabat-sahabatnya.
"Gue paling ngakak kalau lihat cewek yang main gitar itu, hahaha." Rose tertawa ketika terlihat Song Joong Ki yang kaget melihat cewek itu menoleh ke arahnya dengan tatapan yang tajam.
Jennie menyandarkan punggungnya sambil memeluk bantal guling kesayangannya, "Aduh," jeritnya saat terlihat adegan perkelahian.
"Parah mainnya keroyokan yah?" Jisso tak kalah heboh.
Wajah mereka tampak serius menonton adegan demi adegan di dalam drama tersebut, sesekali mereka tertawa bersama, sesekali mereka marah karena membenci tokoh di dalam drama tersebut yang berkhianat.
Seru memang kalau nonton bareng tuh, tapi kadang Jennie lebih memilih untuk nonton sendirian di dalam kamar sampai seharian dia habiskan untuk menonton sampai-sampai Bundanya memarahinya karena lupa makan dan lupa mandi.
Di luar Sanha sudah datang yang langsung disambut oleh Jihyo dari depan rumah Jennie karena sebelumnya Sanha memberi kabar jika cowok itu sudah berada di depan gerbang rumah Jennie.
Jantung Jihyo berdegup kencang, sudah seminggu dia tidak melihat Sanha bahkan saat diajak bertemu pun Jihyo sering menolaknya, membuat Jihyo gugup harus bersikap apa kepada Sanha.
"Hay," sapa Sanha saat sudah memarkirkan motornya.
"Hai," balas Jihyo sambil tersenyum gugup. "Ke sana yuk!" ajaknya kemudian.
Jihyo pun membawa Sanha untuk pergi ke taman belakang, seperti yang Jennie katakan jika di dalam khawatir sahabat-sahabatnya Jennie akan melihatnya.
"Sepertinya rumah Jennie rame yah banyak sepatu?" Sanha memulai obrolan memecahkan keheningan yang terjadi sebelumnya.
Jihyo menoleh lalu menganggukan kepalanya, "Iya ada teman-temannya Jennie lagi main ke sini," sahutnya.
Teman-temannya Jennie otomatis cewek Squad star girls itu yah? Siapa lagi kalau bukan mereka? Oh, jadi mereka ada disini. ujar Sanha dalam hatinya.
"Ada acara apa emang?" Sanha masih penasaran mengapa sahabatnya Jennie ke sini.
"Hemm … katanya sih mau latihan dance terus sama mau nonton."
Mereka berdua pun sudah sampai dibangku taman belakang rumah, terdapat bangku yang melingkari meja tersebut dan kolam renang di sampingnya.
"Gue ambilkan minum dulu yah, mau minum apa?"
"Apa aja terserah kamu nanti juga aku minum," sahut Sanha sambil tersenyum manis.
Mendengar gurauan Sanha membuat Jihyo ikut tersenyum, sepertinya dia sudah lama tidak pernah mendengar gombalan laki-laki semenjak putus dengan mantan kekasih nya dulu.
"Jihyo, kamu gak apa-apa kan?" tanya Sanha begitu Jihyo sudah kembali membawa minuman untuk mereka berdua.
"Iya gue gak apa-apa kok, btw thank yah semalam udah nolongin gue awalnya gue gak tau, kalau Lo ikut nolongin tadi pagi Jennie baru ngasih tahu cerita yang sebenarnya terjadi." Jihyo mengambil gelas miliknya lalu meminumnya.
Sanha mengeluarkan petisan untuk Jihyo, "Nih makan buat Lo satu, terus satu laginya kasih ke Jennie yah takut dia ngambek kalau gak gue dibeliin," katanya sambil terkekeh dia tahu betul sikap kekanakan Jennie.
Jihyo tersenyum, "Hehe makasih yah, gue emang lagi pengen makan ini dari kemarin."
"Jihyo, Lo ingat gak cowok yang semalam Lo temui sebelum akhirnya Lo pingsan?" Sanha mulai mengulik cerita yang terjadi kepada Jihyo sungguh dia begitu penasaran dengan cowok itu.
Jihyo terdiam sejenak dia begitu ragu untuk mengatakannya kepada Sanha, "Dia namanya Bangtan, pacarnya Nayeon sahabat gue."
"Kok Lo bisa ke tempat itu terus nangis minta jemput ke Jennie bagaimana ceritanya?" Sanha memandang Jihyo lekat-lekat.
"Nayeon dan Mina ngajak gue jalan-jalan ke beberapa tempat lalu Nayeon mendapat telpon dari Bangtan untuk datang ke club itu, dengan senang hati Nayeon pergi ke sana mengajak gue dan Mina dengan rayuan katanya itu tempat menyenangkan untuk bersenang-senang dan bisa melupakan masalah yang terjadi gue akhirnya mau ke sana tapi tiba-tiba gue disuruh ikut minum oleh mereka berdua yang sudah mabok, gue nolak dan memilih keluar saat keluar ada banyak cowok yang …." Ucapan Jihyo terhenti dia takut untuk berterus terang kepada Sanha.
"Gak apa-apa lanjut aja, gue ngerti kok seperti apa tempat itu." Sanha berkata seperti dia bisa menebak pikiran Jihyo.
"Iya gue digodain cowok untuk berdansa dan minum dengan mereka gue merasa jijik akhirnya gue berhasil keluar dan menelpon Jennie, untuk menjemput gue awalnya gue udah nelpon bokap gue dan Bobby untuk jemput tapi yang aktif cuma Jennie pada saat gue nungguin dia, ada Bangtan yang menghampiri gue dan menawarkan gue minuman Aqua gue sempat curiga, tapi Bangtan bilang ini hanya Aqua biasa pada saat gue minum barulah gue tau kalau ternyata Bangtan punya niat jahat sama gue, dia bilang kalau dia suka sama gue sedangkan posisinya sekarang adalah pacar Nayeon pacar sahabat gue sendiri." Mata Jihyo berkaca-kaca setelah menceritakan kejadian menyedihkan yang dialaminya itu, tangannya menutup wajahnya merasa malu dengan Sanha.
Perlahan Sanha menyentuh kedua tangan Jihyo menariknya agar tidak menutupi wajahnya yang cantik, "Jihyo, gak perlu merasa takut lagi ya ada gue yang akan selalu ada buat Lo, jadikan kejadian kemarin adalah pelajaran buat Lo sendiri untuk selalu hati-hati."
Tangan Sanha mengusap-usap punggung tangannya dengan lembut, memberikan ketenangan pada hati Jihyo yang gelisah memikirkan kejadian itu.
"Jihyo Lo tau kalau gue itu sayang sama Lo meskipun lo masih belum buka hati gue akan tunggu itu, karena dihati gue cuma ada nama Lo di pikiran gue cuma ada wajah lo, kalau Lo butuh bantuan, Lo bisa ngehubungin gue jangan sungkan-sungkan, Lo tau gimana perasaan gue saat Jennie bilang Lo nangis minta dijemput gue panik banget Jihyo, sampai Eun woo yang bawa mobilnya karena dia takut gue malah ngebut dan gak bisa kendalikan diri gue." Sanha terus mengutarakan perasaannya dia menceritakan apa yang dia rasakan sama sedihnya dengan Jihyo sekarang ini.
Deg.
Jihyo menatap sendu wajah Sanha yang terlihat begitu tampan saat dilihat dengan jarak dekat seperti ini, dia baru menyadari jika Sanha begitu menyayangi dirinya, selama ini dia mengira jika cowok itu hanya bercanda saja menyukai dirinya.