Squad Star Girls Story

Ke Sekolah Ngasih Laporan

Lisa tersenyum, "Ada urusan Bi, biasalah anak OSIS selalu sibuk meski hari libur sekalipun." 

"Mau mesan es gak, neng?" tanya Bi Ah Yeong seperti biasa dia selalu menawarkan pembelinya dengan ramah. 

 

"Boleh Bi, biasa ya es teh jus bye the way ada bakso gak? Aku kangen baksonya Bi Ah Yeong deh," ujar Lisa hari ini dia memang ingin makan bakso sambil nunggu Jennie yang kemungkinan lama.

"Oke siap neng Lisa cantik, kalau gitu Bibi tinggal dulu yah mau buatkan baksonya," seru Bi Ah Yeong seraya pamit untuk meninggalkan Lisa. 

 

Lisa hanya mengangguk matanya kembali fokus menatap layar ponselnya, dia masih belum selesai menonton drama Vincenzo tidak ada waktu santai untuk menonton makanya dia tunda dulu. 

Sungguh membosankan menunggu Jennie dan Eun woo sendirian di kantin. "Sambil nonton ah, semoga aja gak ada yang ganggu," katanya penuh harap.

 

Di koridor sekolah, Jennie berjalan di depan Eun woo dia sengaja berjalan lebih dulu untuk menghindari obrolan dengan cowok itu. Pikirannya kini terfokus pada lembar laporan yang dia buat, berharap Bu Shin tidak banyak komentar akan laporannya.

"Coba sini proposal nya gue lihat!" pinta Eun woo seraya mengulurkan tangannya.

 

Jennie pun langsung memberikannya kepada Eun woo, sejak tadi tangannya terasa pegal memegang lembaran kertas tebal itu juga menggendong tas nya. 

"Bismillah aja yah semoga revisiannya dikit," kata Eun woo penuh harap, dia merasa kasihan melihat Jennie yang harus begadang mengerjakan laporan ini. 

 

Jennie mengaminkan harapan Eun woo dia begitu deg-degan, karena ini adalah yang terakhir kalinya dia melakukan revisian. 

Begitu sampai di pintu ruangan Bu Shin mereka berdua bertemu dengan Pak Ha Joon beliau adalah Guru Olahraga di sekolah ini. 

 

"Pagi Pak," sapa Jennie dan Eun woo dengan begitu kompak.

"Kalian anak kelas berapa? Kok libur datang ke sekolah, rajin sekali." Pak Ha Joon umurnya masih muda beliau juga baru menikah 5 bulan yang lalu, badannya sehat dan bugar karena rajin berolahraga.

 

"Kelas 12 Pak, kita mah ketemu Bu Shin," sahut Jennie dengan sesopan mungkin.

Pak Ha Joon menganggukan kepalanya mengerti dia juga seperti tidak asing melihat dua anak muda ini, karena sering bertemu tapi tidak tahu namanya. 

"Mau ngapain?" tanya Pak Ha Joon yang masih aktif berkomunikasi.

 

"Mau ngasih proposal sekaligus LPJ bekas acara Diesnatalis sekolah kemarin Pak, Bu Shin nya ada?" Eun woo merasa jika Pak Ha Joon akan lama mengajak ngobrol dirinya karena dia tahu kalau beliau suka sekali berbicara.

"Ada di dalam," sahut pak Ha Joon sambil menoleh ke arah samping kanannya.

 

"Kalau gitu kita permisi dulu ya pak," pamit Eun woo yang menarik tangan Jennie untuk masuk ke dalam ruangan.

"Assalamualaikum Bu," salam Jennie begitu pintu dibuka matanya langsung menatap Bu Shin yang kebetulan melihatnya juga. 

"Waalaikumsalam, oh ya Jennie sama Eun woo sini masuk!" ujar Bu Shin dengan lembut. 

 

Diantara guru-guru cewek yang lainnya, Eun woo lebih menyukai Bu Shin dia sosok guru yang tegas, galak dan perhatian.

"Makasih Bu," sahut Eun woo yang langsung duduk di meja rapat Bu Shin. 

"Oh ya Bu ini berkasnya, mohon diperiksa." Jennie menyerahkan berkas yang sejak tadi dia pegang. 

 

"Oh oke, karena hari ini Ibu masih mengerjakan banyak laporan dari kepala sekolah jadi sepertinya besok Ibu beritahu yah, oh ya anak OSIS ada agenda lain gak bulan ini?" Bu Shin menatap kedua anak muda yang selalu membanggakan itu.

"Sebentar Bu," ujar Eun woo dia mengecek ponselnya untuk mengingat agenda yang akan dilaksanakan selanjutnya oleh OSIS. 

 

Jennie menatap Eun woo penasaran, kemudian dia palingkan pandangan ke arah lain melihat foto-foto guru yang terpajang di dinding kemudian piala-piala yang penuh dengan piala-piala kejuaraan yang rata-rata diperoleh dari seni musik dan lomba futsal. 

 

Sekolah SMA Mutiara ini sekolah negeri yang memang diimpikan oleh semua anak-anak agar bisa masuk di sekolah ini namun ini terbilang sekolah untuk anak orang kaya yang mampu membayar semua biaya sekolah yang begitu mahal. 

 

"Ada kontes menyanyi dan puisi Bu, tapi belum dirapatkan lagi untuk konsepan pelaksanaannya," jelas Eun woo menyampaikan agenda OSIS yang sudah tertulis dari awal bulan. 

Bu Shin menganggukkan kepalanya, "Bagus, oh ya Ibu mau ngasih tau kalau Pak Baek Senin besok sudah tidak mengajar di sekolah ini lagi beliau jadi kepala sekolah SD di kota Bogor penggantinya Pak Nam Joo," ucap Bu Shin memberitahu. 

 

"Wali kelas kita masih tetap Ibu kan?" timpal Jennie dia takut jika akan ada pergantian wali kelas juga. 

 

"Iya Ibu juga lagi ngurus soal ujian kalian nih, ya udah mungkin Ibu kasih saran untuk pelaksanaan kontes menyanyi dan puisinya di akhir bulan aja ya setelah ujian sebelum liburan juga," saran Bu Shin yang selalu membimbing dan mengarahkan anggota OSIS dalam setiap kegiatannya. "Jangan lupa kalian buat proposal acaranya dari jauh-jauh hari sekalian Ibu mau mengajukan dana untuk memeriahkan acaranya." Bu Shin tersenyum manis.

"Siap Bu, terima kasih arahannya." Eun woo menganggukan kepalanya mengerti apa yang harus dipersiapkan nantinya. 

 

"Kalian jangan lupa belajar ya, Ibu harap kalian bisa mempertahankan peringkat kalian, mungkin itu saja yang ingin Ibu sampaikan kalian boleh pulang takut mau main." 

"Baik Bu." Jennie menatap Eun woo yang bangun dari duduknya. "Kami pamit pulang ya Bu." Mereka berdua bersalaman dengan sopan.

 

Tiba-tiba ponsel Jennie berdering terdapat panggilan dari Jisso, dengan cepat dia keluar dari ruangan Bu Shin lalu mengangkat telepon tersebut.

"Hallo Jisso, ada apa?" tanya Jennie penasaran biasanya Jisso akan mengirim pesan terlebih dahulu sebelum menelpon.

 

"Ka Jisso, Maaf ya gue langsung telpon soalnya buru-buru mau les privat, jadi gini kak, Jisso dapat tugas Fisika dari Bu Ji Ah besok dikumpulkan bisa tolong bantuin gak ka? Tapi nanti sore bisa gak jemput di Taman Sekarwangi?" Jisso berkata dengan begitu cepat membuat Jennie kebingungan.

"Kamu ngomong pelan-pelan ya Jisso, biar suaranya tuh terdengar jelas," pinta Jennie sambil menoleh ke arah Eun woo yang sudah ada di sampingnya.

 

"Kenapa?" tanya Eun woo penasaran mendengar nama Jisso disebut-sebut dia khawatir telah terjadi sesuatu dengan cewek itu.

Akhirnya Jisso mengulang kembali kalimatnya dengan pelan-pelan, matanya celingukan mencari guru les nya yang sedang mengambil buku paket.

 

"Pokoknya ka Jennie bisa jemput Jisso kan di taman Sekarwangi?" ujar Jisso dengan suara yang lantang.

"Insya Allah gue gak janji tapi bakal diusahakan setelah pulang dari sekolah gue kesana ya, kasih tahu aja kalau udah pulang." Jennie memang selalu bersikap baik kepada semua sahabatnya.

"Owh ka Jennie lagi di sekolah? Sama siapa kak?" 

 

"Iya, nih ada Eun woo juga kita habis ngasih laporan ke Bu Shin, yaudah kamu belajar yang rajin ya jangan lupa kabarin kalau mau dijemput," kata Jennie sebelum mengakhiri sambungannya.

"Kok Jisso gak minta gue ya? Apa cewek itu marah gara-gara semalam gak gue telpon?" pikir Eun Woo dalam hati merasa heran dengan sikap Jisso hari ini.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!