Squad Star Girls Story
Terjebak Dalam Ketidakpastian
Jennie mulai menyadari ada sesuatu yang berubah. Bukan perubahan besar yang langsung terlihat jelas, melainkan detail-detail kecil yang pelan-pelan menyusun perasaan aneh di dadanya. Cara Eunwoo menoleh saat Jisso berbicara, cara langkahnya melambat tanpa sadar agar sejajar dengan gadis itu. Bahkan cara diamnya yang biasanya acuh kini terasa berbeda ketika Jisso ada di sekitar mereka. Semua itu membuat Jennie resah, meski ia berusaha keras menepisnya.
Sejak kejadian di café beberapa hari lalu, Jennie jadi lebih peka. Ia memperhatikan hal-hal yang sebelumnya tak pernah ia pikirkan. Eunwoo yang biasanya duduk sembarang kini memilih kursi yang tak jauh dari Jisso. Tatapan singkat yang terlalu sering. Senyum tipis yang muncul hanya untuk satu orang. Jennie menyesap kopinya sambil berpura-pura fokus pada ponsel, padahal matanya terus mengamati mereka dari balik layar.
Lisa, yang duduk di sebelahnya, jelas menangkap perubahan itu. Ia mengenal Jennie terlalu baik untuk tak tahu ketika sahabatnya sedang bergulat dengan perasaan sendiri. “Lo kenapa sih dari tadi bengong?” tanya Lisa santai, seolah tak ingin menekan.
“Enggak,” jawab Jennie cepat. “Biasa aja.”
Lisa mendengus pelan. “Biasa aja versi Lo tuh jarang banget beneran biasa.”
Jennie terdiam. Ia ingin membantah, tapi lidahnya kelu. Perasaannya terlalu rumit untuk dijelaskan. Ia bukan pacar Eunwoo, bukan pula orang yang punya hak untuk cemburu. Tapi nyatanya, dadanya terasa sesak setiap kali Eunwoo tertawa kecil menanggapi Jisso, seolah dunia mereka hanya berisi dua orang.
Di seberang meja, Jisso terlihat canggung namun nyaman. Sesekali ia tersenyum kecil, sesekali menunduk, tapi Jennie bisa melihat ada kilau hangat di matanya. Bukan kilau kagum yang berlebihan, melainkan rasa aman dan itu justru yang membuat Jennie semakin tak tenang. Ia tahu, rasa aman adalah awal dari sesuatu yang lebih dalam.
“Jen,” panggil Lisa pelan, menurunkan suaranya. “Lo cemburu, ya?”
Jennie terkejut. “Apaan sih,” elaknya cepat, meski jantungnya berdetak lebih kencang. “Gue cuma… ngerasa aneh aja.”
“Anehnya di mana?”
Jennie menarik napas. “Gue gak terbiasa lihat Eunwoo sedeket itu sama cewek.”
Lisa menatapnya lama, lalu mengangguk pelan. “Dan Lo gak suka.”
Kalimat itu seperti palu kecil yang memukul kesadaran Jennie. Ia ingin menyangkal, tapi kebohongan terasa melelahkan. “Gue gak tahu,” ujarnya akhirnya, jujur pada diri sendiri. “Mungkin gue cuma gak siap.”
Lisa tersenyum lembut. “Perasaan tuh gak pernah nunggu orang siap, Jen.”
Obrolan mereka terhenti ketika Eunwoo berdiri. “Gue ke kasir bentar,” katanya singkat. Tanpa diminta, Jisso ikut berdiri. “Aku temenin,” ujarnya ragu. Eunwoo mengangguk, lalu mereka berjalan berdampingan.
Tatapan Jennie mengikuti langkah mereka sampai menghilang di balik pintu kaca. Ada rasa perih yang tiba-tiba muncul, tajam dan tak terduga. “Lis,” katanya lirih, “gue egois ya?”
Lisa menggeleng. “Enggak. Lo manusia.”
Jennie tersenyum pahit. “Tapi gue juga gak mau jadi orang yang posesif. Eunwoo berhak dekat sama siapa aja.”
“Iya,” sahut Lisa tenang. “Tapi Lo juga berhak ngerasain apa yang Lo rasain. Yang penting Lo jujur sama diri Lo sendiri.”
Kata-kata itu menenangkan, meski tak sepenuhnya menghapus gelisah. Jennie teringat semua momen bersama Eunwoo, debat kecil yang berujung tawa, obrolan malam yang kadang terlalu jujur, kebersamaan yang perlahan tumbuh tanpa definisi. Ia sadar, mungkin selama ini ia terlalu nyaman hingga lupa memberi nama pada perasaan itu.
Tak lama, Eunwoo dan Jisso kembali. Eunwoo meletakkan struk di meja, sementara Jisso duduk dengan wajah sedikit memerah. “Antrenya panjang,” kata Eunwoo santai.
“Iya,” sambung Jisso. “Tapi gak kerasa.”
Jennie menggigit bibirnya, lalu tersenyum paksa. Ia tak ingin suasana berubah karena dirinya. Ia menertawakan cerita Lisa, menanggapi obrolan seadanya, tapi pikirannya sibuk menyusun pertanyaan-pertanyaan yang tak berani ia ucapkan.
Sore itu berakhir dengan perpisahan singkat. Saat mereka berjalan menuju parkiran, Jennie sengaja melambat. Lisa menyadarinya dan ikut menyesuaikan langkah. Di depan, Eunwoo dan Jisso berbicara pelan. Jennie tak mendengar apa yang mereka bicarakan, tapi melihat bahu Jisso yang sesekali condong ke arah Eunwoo sudah cukup membuat hatinya berdenyut.
“Jen,” ujar Lisa lembut, “kalau Lo gak ngapa-ngapain, Lo harus siap sama kemungkinan terburuk.”
Jennie menoleh. “Maksud Lo?”
“Perasaan yang dipendam lama-lama bisa telat,” jawab Lisa jujur. “Dan kalau nanti Lo nyesel, jangan salahin siapa-siapa.”
Jennie terdiam. Ia tahu Lisa tidak bermaksud menakut-nakuti, hanya mengingatkan. “Gue takut,” akunya. “Takut kalau ternyata perasaan gue cuma sepihak.”
Lisa merangkul bahunya. “Takut itu wajar. Tapi diam juga punya risikonya sendiri.”
Di sisi lain, Eunwoo berhenti dan menoleh. “Kalian kenapa lambat?” tanyanya.
“Perut gue keram,” sahut Lisa asal, menarik Jennie sedikit ke depan. Jennie tertawa kecil, berterima kasih dalam hati pada sahabatnya yang selalu tahu kapan harus melindungi.
Saat mereka berpisah di parkiran, Eunwoo menatap Jennie lebih lama dari biasanya. “Lo gak apa-apa?” tanyanya.
Jennie terkejut. “Hah? Iya. Kenapa?”
“Dari tadi kelihatan mikir,” kata Eunwoo datar, tapi matanya menyimpan perhatian.
“Cuma capek,” jawab Jennie, setengah jujur.
Eunwoo mengangguk. “Jangan kebanyakan mikir. Nanti pusing.”
Jennie tersenyum. “Lo ngomong gitu gampang.”
“Gampang kalau dibiasain,” balas Eunwoo singkat, lalu melangkah pergi.
Jennie menatap punggungnya hingga menghilang. Ada banyak hal yang ingin ia katakan, tapi semuanya tertahan. Lisa berdiri di sampingnya, diam-diam menggenggam tangannya.
“Pelan-pelan aja,” bisik Lisa. “Gue ada.”
Jennie mengangguk. Ia tahu, mungkin ini bukan tentang siapa yang lebih dulu, tapi tentang keberanian untuk jujur. Dan malam itu, di bawah lampu parkiran yang temaram, Jennie berjanji pada dirinya sendiri ia tak ingin terus bersembunyi dari perasaan yang semakin jelas bernama cemburu.
***
Telepon Lisa bergetar tepat saat mereka baru saja sampai di apartemen. Jennie melempar tasnya ke sofa dan menjatuhkan diri di sebelahnya, sementara Lisa menatap layar ponsel yang menampilkan nama Rose. Senyum kecil langsung terukir di wajahnya.
“Hello?” jawab Lisa sambil berjalan ke arah jendela.
“Lis, Lo lagi sibuk gak?” suara Rose terdengar ceria di seberang sana. “Gue mau ngajak latihan sekalian kumpul di rumah gue. Ada event lomba yang harus kita ikutin, dan waktunya mepet banget.”
Lisa melirik Jennie yang masih diam sambil menatap langit-langit. “Enggak sih, gue free. Kapan?”
“Sekarang kalau bisa,” jawab Rose cepat. “Hanbin juga udah di sini, dia bantuin konsep sama teknisnya.”
Nama Hanbin membuat Lisa mengangguk paham. “Oke, gue otw. Jennie sama yang lain gue ajak sekalian ya?”
“Boleh banget,” sahut Rose antusias. “Makin rame makin enak diskusinya.”
Lisa menutup telepon lalu menghampiri Jennie. “Rosé ngajak latihan di rumahnya. Ada event lomba, katanya penting.”
Jennie menoleh. “Sekarang?”
“Iya.”
Jennie terdiam sesaat, lalu menghela napas. “Yaudah. Daripada gue mikir gak jelas di sini.”