Squad Star Girls Story
Gue Masih Disini
Lisa tersenyum tipis. Ia tahu ajakan itu bukan sekadar soal lomba, tapi juga cara Rose mengumpulkan mereka agar semuanya tetap utuh, tetap bersama seperti dulu.
Perjalanan menuju rumah Rose terasa lebih ringan. Jennie duduk di kursi penumpang, memandangi jalanan malam yang mulai ramai. Pikirannya masih penuh, tapi setidaknya kini ada distraksi. Sesampainya di rumah Rose, suasana hangat langsung menyambut mereka. Musik pelan terdengar dari dalam, aroma camilan memenuhi ruang tamu.
“Jennie! Lisa!” Rose menyambut dengan senyum lebar. “Akhirnya datang juga.”
Hanbin yang duduk di lantai dekat meja kecil ikut menoleh. “Hai,” sapanya ramah.
Lisa membalas santai, sementara Jennie mengangguk singkat. Ia masih menyimpan perasaan campur aduk, tapi berusaha bersikap normal. Tak lama, Jisso juga datang, sedikit terlambat, dengan wajah canggung namun sopan seperti biasa.
“Maaf telat,” ucap Jisso.
“Santai,” jawab Rose. “Justru pas, kita baru mau mulai.”
Mereka berkumpul membentuk lingkaran kecil. Rose menjelaskan detail lomba, konsep, waktu, pembagian peran. Semua mendengarkan dengan serius. Jennie berusaha fokus, mencatat poin-poin penting, tapi sesekali matanya tertangkap pada interaksi kecil antara Eunwoo dan Jisso yang duduk tak jauh darinya. Cara Eunwoo mencondongkan badan saat Jisso bicara. Cara Jisso tersenyum kecil ketika pendapatnya didengarkan.
Lisa menyenggol Jennie pelan. “Fokus,” bisiknya.
Jennie tersenyum tipis. “Iya.”
Latihan dimulai. Mereka mencoba beberapa konsep, berdiskusi, berdebat kecil, lalu tertawa ketika ide terasa terlalu berlebihan. Untuk sesaat, Jennie merasa kembali ke ritme lama, ritme kebersamaan yang ia rindukan. Namun di sela-sela itu, hatinya tetap bekerja diam-diam.
Saat istirahat, Rose menarik Lisa ke dapur. “Gue ngerasa ada yang beda sama Jennie,” bisik Rose.
Lisa menyandarkan punggung ke meja. “Lo gak salah ngerasa.”
“Eunwoo?”
Lisa mengangguk pelan. “Dan Jisso.”
Rose terdiam. “Duh…”
“Makanya gue jagain Jennie,” lanjut Lisa. “Tapi gue juga gak bisa nahan apa pun. Semua orang punya perasaan masing-masing.”
Sementara itu di ruang tamu, Jennie berdiri di dekat jendela, mencoba mengatur napas. Eunwoo mendekat tanpa suara. “Latihannya berat ya?” tanyanya.
“Biasa,” jawab Jennie. “Cuma capek.”
Eunwoo mengangguk. Hening sejenak. “Lo aneh hari ini.”
Jennie menoleh. “Aneh gimana?”
“Lebih diam,” kata Eunwoo jujur. “Biasanya Lo paling ribut.”
Jennie tertawa kecil, hambar. “Orang juga boleh capek mental.”
Eunwoo menatapnya lama, seolah ingin mengatakan sesuatu, tapi urung. “Kalau Lo butuh apa-apa, bilang aja.”
Kalimat itu sederhana, tapi cukup membuat dada Jennie bergetar. “Makasih,” ucapnya pelan.
Latihan berlanjut hingga malam semakin larut. Meski lelah, ada rasa puas di wajah mereka. Saat bersiap pulang, Rose memeluk Jennie erat. “Apapun yang Lo rasain, jangan sendirian ya.”
Jennie tersenyum, kali ini lebih tulus. “Iya.”
Di luar, Lisa menunggu sambil memainkan kunci mobil. Jennie berjalan ke arahnya, lalu berhenti sejenak menoleh ke belakang. Eunwoo dan Jisso masih berbincang, tertawa kecil.
Jennie menghela nafas panjang. Ia sadar, lomba itu mungkin hanya satu event, tapi baginya, ini adalah awal dari ujian lain yaitu ujian tentang kejujuran, keberanian, dan perasaan yang tak lagi bisa ia abaikan.
****
Ponsel Jennie bergetar tepat saat ia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Lampu kamar masih menyala, pikirannya belum sepenuhnya tenang setelah latihan panjang di rumah Rose. Ia meraih ponsel dengan malas, lalu seketika tubuhnya menegang saat melihat nama Taehyung tertera di layar.
Ia terdiam beberapa detik, ragu apakah harus menjawab atau membiarkannya berdering. Kenangan lama perlahan naik ke permukaan, membawa perasaan yang belum sepenuhnya sembuh. Akhirnya, Jennie menarik napas panjang dan menekan tombol hijau.
“Hallo?” suaranya terdengar hati-hati.
“Jen,” suara Taehyung terdengar lebih dalam dari yang ia ingat, tenang namun sarat emosi. “Gimana kabar Lo?”
Jennie menatap langit-langit kamar. “Baik,” jawabnya singkat. “Lo gimana?”
“Gue… ya gitu,” Taehyung terkekeh kecil. “Masih sibuk. Tapi bukan itu sebenernya alasan gue nelpon.”
Jantung Jennie berdetak lebih cepat. Ia sudah menduga arah pembicaraan ini, tapi tetap saja dadanya terasa sesak. “Terus?”
Taehyung terdiam sejenak, seolah sedang mengumpulkan keberanian. “Gue denger Lo lagi sering bareng temen-temen, kayaknya Lo udah lebih ceria sekarang.”
Jennie tersenyum tipis, meski Taehyung tak bisa melihatnya. “Gue cuma berusaha jalanin hari-hari gue aja.”
“Jen,” panggil Taehyung pelan. “Gue mau jujur.”
Hening menyelimuti ujung telepon. Jennie menutup matanya, menyiapkan diri.
“Gue nyesel,” lanjut Taehyung. “Nyesel ngelepas Lo dengan cara yang gak adil, waktu itu gue pikir gue butuh jarak, gue janji gak bakal nyakitin Lo lagi.”
Kata-kata itu menusuk tepat ke tempat yang dulu paling ia lindungi. Jennie menggigit bibirnya. “Thaehyung, itu udah lama.”
“Iya, gue tahu,” sahutnya cepat. “Tapi perasaan gue gak pernah benar-benar pergi. Dan gue mau Lo tahu satu hal… Lo masih punya harapan buat balik ke gue.”
Jennie membuka matanya. “Maksud Lo?”
“Kalau Lo mau,” kata Taehyung lirih, “gue siap mulai dari awal. Pelan-pelan. Lebih dewasa. Gue gak minta jawaban sekarang, gue cuma gak mau Lo mikir pintu itu udah ketutup.”
Hening kembali tercipta. Jennie merasakan campuran perasaan yang sulit dijelaskan rasa hangat, sedih, rindu tapi juga ragu. Taehyung adalah bagian besar dari hidupnya, orang yang pernah ia bayangkan untuk masa depan. Namun sekarang, hatinya tidak lagi kosong seperti dulu.
“Taehyung,” ucap Jennie akhirnya, suaranya lembut tapi tegas. “Gue gak bilang gak mungkin. Tapi gue juga gak bisa bilang iya.”
“Itu udah cukup,” jawab Taehyung cepat. “Gue cuma mau Lo tahu, gue masih di sini.”
Jennie tersenyum pahit. “Terima kasih udah jujur.”
“Jaga diri Lo ya, Jen,” kata Taehyung. “Dan jangan ngerasa sendirian.”
Telepon berakhir. Jennie menurunkan ponselnya perlahan, menatap layar hitam yang memantulkan wajahnya sendiri. Ada bagian dari hatinya yang tersentuh, tapi juga ada bagian lain yang justru semakin bingung.
Ia menyadari satu hal, masa lalu memang belum sepenuhnya pergi, tapi masa depan kini menawarkan terlalu banyak kemungkinan. Dan untuk pertama kalinya, Jennie tahu ia harus memilih bukan berdasarkan kenangan, melainkan pada siapa dirinya sekarang.
Suara pintu depan terbuka tiba-tiba memecah keheningan kamar Jennie. Ia tersentak dari lamunannya, cepat-cepat meletakkan ponsel di samping bantal. Dari luar kamar terdengar suara tawa kecil yang begitu ia kenal.
“Jennie, kami pulang,” suara Suho terdengar hangat dari ruang tengah.
Tak lama kemudian, Irene menyusul, langkahnya ringan namun penuh wibawa. “Sayang, sudah makan belum?” panggilnya.
Jennie bangkit dan keluar kamar. “Belum,” jawabnya jujur sambil tersenyum. Melihat kedua orang tuanya pulang selalu memberi rasa aman yang berbeda. Suho menepuk bahu Jennie lembut. “Kebetulan. Ayah sama bunda mau ngajak makan malam di luar.”
Irene mengangguk setuju. “Sekalian quality time, kamu kelihatan capek akhir-akhir ini.”
Jennie sempat ragu, pikirannya masih penuh, tapi ia tahu ajakan itu tulus. “Oke,” ujarnya akhirnya. “Aku ganti baju dulu.”
Di perjalanan menuju restoran, suasana mobil terasa hangat. Suho bercerita tentang pekerjaannya, Irene sesekali menyelipkan candaan kecil. Jennie lebih banyak mendengarkan, menikmati kebersamaan itu. Untuk sesaat, segala kegelisahan di hatinya mereda, tergantikan rasa syukur karena ia tak pernah benar-benar sendirian.