Takdir Purba
KEPUTUSAN GALUH
“Sudah kamu pikirkan baik-baik?”
Secangkir kopi pahit disodorkan Ibu bersama dengan pertanyaan yang sudah Galuh prediksi. Ibu duduk di sebelah kanan Galuh, sementara Bapak yang duduk berhadapan dengan Galuh hanya diam.
Seperti ratusan Sabtu yang sudah berlalu. Pagi itu, ketika matahari masih hangat kuku, tapi hiruk pikuk kota hujan sudah sangat terasa. Galuh menemani orang tuanya sarapan. Di teras. Tiga cangkir kopi pahit tersaji di meja. Kali ini, Ibu membuat goreng uli.
Asap kopi Bapak sudah hilang sepenuhnya. Galuh melirik Ibu. Tatapan perempuan yang masih tampak anggun di usianya yang sudah lebih dari setengah abad itu membuat tubuh Galuh mengeluarkan keringat dingin. Sorot mata Ibu saat sedang tidak setuju terhadap sesuatu selalu begitu. Tajam tanpa ada kelembutan sama sekali.
Berawal dari keputusan Galuh yang disampaikan beberapa menit lalu, kini mereka sibuk menyelami pikiran masing-masing.
“Galuh ….” Teguran pelan Bapak adalah perintah kalau Galuh harus segera memberikan jawaban. Suara itu tidak keras, tetapi berhasil membuat bulu kuduk Galuh meremang.
“Sudah, Bu. Keputusan ini sudah lama aku pikirkan.” Galuh menunduk. Jangan menantang tatapan mata Ibu. Mantra itu yang Galuh rapalkan sejak tadi.
“Terus kamu mau kerja di mana?”
Galuh paham kekhawatiran Ibu. Saat ini, selain karier Galuh, hampir tidak ada yang bisa dibanggakan oleh Ibu di depan keluarga besar saat sedang berkumpul.
Cibiran yang sebelumnya hanya berupa kasak-kusuk di belakang punggung Ibu, kini sudah diucapkan terang-terangan. Kapan kamu akan menikah? Mau cari pasangan yang seperti apa? Jangan nyari yang terlalu tinggi, perempuan seumur kamu pasti susah mendapatkan jodoh. Dulu ya, tante-tantemu itu sebelum umur 25 tahun sudah menikah dan sudah punya anak.
Pertanyaan-pertanyaan seperti itu rasa-rasanya sudah menjadi templat yang akan Galuh dengar minimal setahun sekali saat kumpul keluarga di momen Lebaran.
“Aku belum tahu mau kerja di mana, Bu. Belum kirim lamaran ke kantor lain juga. Kayaknya, aku mau fokus dulu ke foto. Mungkin nanti aku mau lanjut kuliah S-2.” Bahkan, rencana kuliah S-2 itu sama sekali tidak pernah ada di pikiran Galuh. Terucap begitu saja tanpa ada koordinasi antara otak dengan hati.
“Bagus. Jalankan keputusan sesuai keyakinan kamu.” Ucapan Bapak menjadi pertanda kalau Galuh tak bisa mundur.
“Ibu tetap nggak setuju. Ibu tahu, kamu cuma cari alasan supaya bisa fokus jalan-jalan menyalurkan hobi motretmu. Apalagi yang kamu cari? Karier kamu sudah lumayan bagus. Zaman sekarang, susah cari pekerjaan dengan gaji bagus.”
“Aku udah nggak nyaman kerja di tempat sekarang, Bu.”
“Semua pekerjaan juga nggak selalu nyaman. Kamu pikir, Ibu yang sehari-hari jadi ibu rumah tangga ini merasa nyaman?”
“Tapi aku udah nggak bisa lagi kerja di sana, Bu.”
“Ibu nggak pernah mendidik kamu untuk gampang nyerah.”
“Bu, biarkan Galuh dengan pilihannya. Dia sudah dewasa. Keputusan ini pasti sudah dia pikirkan secara matang. Kita sebagai orang tua, hanya bisa mendukung keputusan Galuh.” Bapak mengusap lembut pangkal lengan Ibu.
“Kalau dia mau berhenti bekerja, minimal dia menikah. Apa kata saudara-saudara kita, Pak, kalau mereka tahu Galuh nggak bekerja. Menikah belum, kerja juga nggak. Mau jadi apa anak kita nantinya? Umur dia sudah hampir 30, Pak.”
“Dua puluh tujuh, Bu.” Galuh meralat.
“Sama saja. Udah mau tiga puluh.” Ibu bersikeras.
Galuh tersentak. Bahkan, Ibu pun kini sudah tidak berdiri tegak menjadi pembelanya. Ibu mulai membahas kaitan umur Galuh dan kenyataan bahwa sampai hari ini Galuh masih belum bertemu jodohnya.
Tes. Satu tetes air mata jatuh tanpa bisa Galuh cegah. Mendengar ucapan Ibu, rasanya seperti ada belati yang tiba-tiba saja menembus jantungnya.
Galuh berdiri, mengentakkan kaki lalu beranjak masuk ke dalam kamar tanpa peduli tatapan Bapak dan Ibu. Saat ini, dia hanya butuh ketenangan. Keputusan keluar dari pekerjaan bukan hal yang mudah. Lebih dari dua tahun Galuh bertarung melawan gelisah yang selalu saja menghantuinya. Pintu kamar ditutupnya dengan sedikit keras. Tak lupa, dia mengunci pintu karena tak mau bapak atau ibu masuk.
***
“Galuh ….”
Panggilan Bapak disertai ketukan di pintu kamar, memaksa Galuh untuk bangkit dari rebahannya. Sedikit terhuyung, Galuh membukakan pintu, mempersilakan Bapak masuk dengan isyarat mata. Galuh kembali menuju kasur, menyandarkan punggungnya pada headboard.
Bapak duduk di pinggir ranjang. “Kamu masih marah?”
“Apa keputusanku salah, Pak?”
“Tiap keputusan selalu ada sisi salah dan benarnya. Apa alasan kamu berhenti kerja?”
Galuh menegakkan tubuh. Kedua tangannya mendekap guling. Menarik napas perlahan dan dalam, lalu mengembuskannya sekuat tenaga.
“Aku sudah nggak nyaman, Pak. Perasaan ini sudah ada sejak tahun kedua aku kerja di Belitung Timur. Tiap hari, aku melihat pohon-pohon ditebang. Gelondongan kayu itu dijual. Hutan dipaksa telanjang untuk dibangun ulang ditanami karet. Aku melihat babi hutan diburu, padahal mereka menampakkan diri karena habitatnya sudah terbuka.”
“Kamu menilai bahwa itu salah?”
“Iya. Bapak bisa bayangkan, hutan berganti nama jadi kebun. Aku ada di dalam sistem yang menyebabkan perubahan itu. Tahun pertama di sana, aku menyusun rencana kerja untuk setahun, lima tahun, bahkan sampai sepuluh tahun. Semua kegiatan yang dilakukan berujung ke penebangan pohon-pohon yang sudah tumbuh di sana sejak lama. Aku membuat estimasi berapa ribu kubik kayu yang bisa kami panen. Aku menghitungnya seperti sedang menghitung angka-angka mati, Pak. Padahal yang dihitung itu pohon. Sesuatu yang hidup.”
Suara Galuh mengecil di ujung kalimat. Ia tidak lagi mendekap guling, tetapi menautkan kedua tangannya di atas paha, seolah-olah sedang menahan sesuatu agar tidak runtuh.
“Kami juga mengalami konflik dengan masyarakat. Aku pernah tiga hari nggak bisa keluar dari site karena diadang warga. Mereka membakar ban di tengah jalan yang baru kami buka.”
“Masyarakat juga melakukan pembalakan?”
“Di tempatku, mereka membuka lahan hanya untuk tanaman lada mereka. Setelah dua atau tiga tahun, mereka berpindah. Bekas lahan lada mereka ditinggalkan begitu saja. Dan ternyata lahan ini bisa memulihkan dirinya sendiri. Tanpa ada intervensi manusia, lahan bekas lada berubah menjadi hutan lagi. Walaupun butuh waktu beberapa tahun. Tapi kami, dari pihak perusahaan yang mengantongi izin resmi, menurutku, kami tidak pernah punya rencana memulihkan hutan. Izin yang kami pegang memang izin pemanfaatan. Tidak pernah ada izin pemulihan hutan.”
Bapak berdiri, beranjak duduk di kursi kecil dekat meja belajar Galuh. Kamar itu tidak banyak berubah sejak Galuh kuliah dan memilih tinggal mandiri. Rak buku masih dipenuhi catatan lama, novel, dan beberapa album foto yang jarang disentuh. Di dinding, tergantung satu foto besar hamparan hutan hijau yang Galuh ambil lima tahun lalu, ketika pertama kali ditempatkan di Belitung Timur.
***