Takdir Purba

ALASAN GALUH TIDAK PULANG

Tidak heran, jika Galuh marah saat tahu rumah Abah dijual. Kemarahan itu dilampiaskannya dengan hampir tidak pernah pulang ke Cipari. Kalau pun pulang saat lebaran, Galuh tidak pernah tinggal lebih dari dua puluh empat jam.

Dua tahun lalu, Bapak mendapat kabar kalau rumah Abah sedang diratakan dengan tanah oleh pemilik barunya. Kabar itu Bapak sembunyikan dari Galuh. Namun, semesta punya cara lain untuk menghubungi Galuh. Abah datang ke mimpi Galuh dan menyuruh cucu kesayangannya itu untuk pulang.

Bapak mengusap wajahnya. Sumpah Abah nyata dialami dua kakak Bapak yang memiliki inisiatif menjual rumah Abah. Hidup mereka di masa tuanya sungguh mengenaskan. Bertahun-tahun sakit hingga harta bendanya habis. Rumah mereka dijual untuk menutupi utang. Sisa umur mereka justru dihabiskan dengan meratapi nasib dan meminta belas kasihan saudara-saudara lainnya.

Mengingat itu, hati Bapak seperti disayat. Abah selalu bilang, kunci sukses orang Cipari, salah satunya adalah menuruti semua ucapan orang tua dalam segala hal. Termasuk jodoh. Dari semua anak Abah, hanya Bapak yang mau dijodohkan oleh keluarga. Pernikahan itu bertahan sampai sekarang. Nyaris tanpa ada gejolak.

“Pak, ayo makan.”

Panggilan Ibu membuyarkan lamunan Bapak. Bapak ke luar dari ruang baca menuju meja makan. Di sana, sudah terhidang beberapa menu. Bapak duduk di kursinya, disusul oleh Galuh yang duduk tanpa suara. 

Malam datang dengan langkah pelan. Ibu belum bicara kepada Galuh sejak percakapan di teras pagi tadi.

Ibu sibuk di dapur, seperti sedang menghindari topik yang terlalu berat untuk disentuh. Meski begitu, makan malam tetap terhidang seperti biasanya. Mereka bertiga pun melingkari meja makan sama seperti ratusan malam minggu yang telah berlalu. Bedanya, kali ini suasana di meja makan terasa asing.

“Jadi kamu benar-benar mau berhenti?” tanya Ibu tanpa menatap Galuh.

“Iya, Bu.”

“Sudah kirim suratnya?”

“Sudah, Bu. Sebulan lalu. Mulai lusa, aku sudah tidak perlu ke kantor lagi.”

Ibu meletakkan sendok sedikit lebih keras dari biasanya, “Kamu pikir hidup itu cuma soal idealisme?”

Bapak mengelus pelan punggung tangan Ibu yang baru saja dipakai untuk meletakkan sendok.

Galuh mengangkat wajahnya. Lalu menjawab, “Bukan cuma soal idealisme, Bu. Ini soal aku bisa hidup dengan diriku sendiri atau nggak.”

“Orang lain juga banyak yang nggak nyaman dengan pekerjaannya, tapi mereka tetap bertahan.”

“Aku tahu.”

“Lalu kenapa kamu nggak bisa?”

Pertanyaan itu menohok. Tapi kali ini Galuh tidak ingin menghindar. “Karena kalau aku terus bertahan, aku takut suatu hari aku nggak lagi peduli. Aku takut kehilangan rasa.”

Ibu terdiam. Tangannya berhenti mengaduk sayur.

“Kehilangan rasa?” ulang Ibu pelan.

“Iya. Aku nggak mau jadi orang yang menganggap hutan cuma angka. Aku nggak mau melihat pohon hanya sebagai komoditas.”

Ibu membuang napas dengan kasar, “Kamu tahu nggak kenapa Ibu marah?” tanya Ibu lebih pelan.

Galuh menggeleng.

“Karena Ibu takut kamu kecewa. Ibu tahu kamu orangnya kalau sudah memutuskan sesuatu, susah mundur. Ibu cuma nggak mau kamu menyesal.”

Kalimat itu membuat hati Galuh menghangat, “Aku juga nggak mau menyesal, Bu,” bisik Galuh. “Makanya aku berhenti.”

“Apa rencana kamu berikutnya?” Suara Ibu mulai melunak.

“Aku mau ke Cipari, Bu.”

“Mau apa ke sana? Kalau mau titirah, ngapain di Cipari. Nanti kamu malah stres dengan pertanyaan-pertanyaan saudara di sana.”

“Nggak apa-apa, Bu. Aku cuma mau main aja.”

“Kapan mau ke sana?”

“Besok.”

Ibu tidak menjawab lagi.

“Makan. Nggak baik ribut di meja makan,” pungkas Bapak.

***

            Pagi itu, Galuh sudah bersiap. Galuh berangkat dari Bogor sebelum matahari benar-benar tinggi. Tekadnya untuk ke Cipari sudah bulat. Menuntaskan kegelisahan yang menghantuinya selama dua tahun.

Dia sudah menyiapkan tas kamera sejak malam sebelumnya. Tidak banyak barang yang dibawa. Selain kamera kesayangan, Galuh pun membawa dua lensa. Tidak lupa laptop dan notebook kecil. Galuh tidak ingin perjalanan ini terasa seperti liburan. Harapannya, lebih seperti pulang, meski Galuh sendiri belum tahu sejauh apa makna “pulang” itu berlaku baginya.

Dari rumahnya, Galuh naik commuter line menuju Jakarta, turun di Stasiun Manggarai untuk ganti kereta yang menuju Stasiun Kota.

Galuh turun di Stasiun Juanda, lalu melanjutkan ke Gambir menggunakan ojek online. Bangunan Stasiun Gambir  selalu membuatnya merasa kecil. Atap tinggi, gema langkah kaki, papan jadwal elektronik yang terus berganti angka.

Setelah menyelesaikan urusan check-in, Galuh naik ke lantai dua menuju peron 3 di mana kereta dengan tujuan Cirebon sudah menunggu.

Selang lima belas menit, kereta melaju. Galuh duduk di dekat jendela, menikmati lukisan alam. Rel kereta membelah sawah, tambak, dan perkampungan. Pemandangan berganti cepat. Di sela suara gesekan roda dan dengung AC, ingatan Galuh melayang ke Cipari.

Kedua orang tuanya lahir di Cipari. Namun, mereka tidak pernah saling mengenal secara dekat. Bapak tumbuh dan besar di Jakarta karena Abah memang kerja di Jakarta. Ibu menghabiskan masa sekolah dengan tetap tinggal di Cipari. Aki atau kakek dari pihak Ibu adalah seorang pengusaha. Aki punya banyak truk. Usaha ini diteruskan oleh adiknya Ibu. Saat kuliah, Ibu melanjutkan kuliah di Bandung. Di sinilah Bapak dan Ibu mulai dekat.

Setelah menikah, Bapak dan Ibu tinggal di Bogor. Ibunya yang melanjutkan kuliah di luar negeri dan Bapak yang dimutasi ke luar Pulau Jawa membuat Galuh kecil sempat tinggal di Cipari bersama Abah yang pulang ke Cipari setelah pensiun.

Memori tentang Cipari mengelindan di kepala Galuh. Tentang saudara yang banyak, tentang peternakan sapi yang tumbuh seperti jamur, tentang tanah warisan yang tak lagi luas seperti dulu. Cipari selalu hadir sebagai pengalaman, bukan hanya latar belakang.

Lebaran menjadi momen yang paling Galuh nantikan. Bukan tentang baju baru atau uang yang dia terima sebagai hadiah atas puasanya yang tak pernah batal, tapi tentang keriuhan di dapur Emak. Aneka kue kering dibuat langsung oleh tangan Emak. Belum lagi masakan berupa semur daging, opor ayam, sambal kentang, ketupat, uli goreng, papais, atau peyek kacang dan peuyeum beras ketan.

***

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!