Takdir Purba
SINKRONISASI CERITA
“Gua? Cap tangan manusia? Tunggu, kapan tepatnya Aa mengalami kejadian itu?”
“Persis dua tahun lalu. Tanggal yang sama dengan kemarin. Memangnya kenapa?”
“Jangan-jangan ada hubungannya dengan kejadian yang aku alami dua tahun lalu.”
“Dua tahun lalu kamu ke sini?”
“Nggak. Dua tahun lalu aku juga mengalami kejadian aneh. Tapi bukan di sini. Aku lagi ada kerjaan di Batu Putih Kaltim. Terus aku diajakin main ke Gua Mengkuris. Masih masuk areal konsesi tempatku bekerja sih. Di Gua Mengkuris itu aku melihat ada cap tangan manusia di bagian dinding atas gua. Persis seperti yang Aa bilang. Tunggu,” Galuh membuka gawainya dan menunjukkan beberapa foto di Gua Mengkuris yang dia potret dengan gawainya. “Maksud Aa, gambar seperti ini?” Galuh menunjukkan cap tangan manusia yang ada di langit-langit gua.
“Iya, seperti itu. Apa mungkin kejadian yang kamu alami ada hubungannya dengan yang Aa alami? Tapi apa hubungannya?” Bagja memijit pelipisnya.
“Aku merasa tangan-tangan itu memanggilku A. Ada perasaan terhubung yang tidak asing. Tapi aku nggak tahu terhubung dengan apa.”
“Sirkuit ...” gumam Bagja pelan. “Menhir adalah antena utama.”
“Aku makin nggak ngerti, A.” Galuh menggaruk kepalanya dengan gusar.
“Kalian terhubung oleh takdir purba.” Sundari tiba-tiba muncul dari dalam.
***
Tubuh Sundari bergetar. Sejak tadi, dia duduk di balik pintu yang memisahkan ruang tengah dan dapur. Dia sengaja menguping percakapan antara Bagja dan Galuh. Bukan tanpa alasan Sundari melakukan itu. Sejak Bagja dan Galuh masih kecil, orang tua dan mertua Sundari sudah mengatakan bahwa kedua anak itu terhubung oleh takdir purba. Tugas utama Duriyat kini berpindah menjadi tugas Sundari, menjaga dan memastikan tali penghubung itu tidak terputus.
Sundari Citaresmi tidak pernah menganggap dirinya istimewa. Dia bukan pejabat, bukan artis, bukan pula ahli sejarah maupun public figure lainnya. Dia hanya ibu rumah tangga yang bangun saat janari, menanak nasi, menyapu halaman, kadang membantu Bagja di kandang, memastikan kebutuhan perut anak-anaknya terpenuhi, lalu menutup hari dengan tubuh yang lelah, tetapi hati yang penuh.
Dia lahir di masa ketika radio sudah tumbuh menjadi suara modern, beberapa rumah di Cipari sudah memiliki televisi hitam putih, dan ketika sekolah mengajarkan bahwa masa lalu adalah rangkaian tanggal dan kerajaan yang harus dihafal.
Sundari mengunjungi situs Taman Purbakala sebagai bagian dari kunjungan yang dijadwalkan oleh guru sejarahnya ketika duduk di bangku SMP. Dia dan siswa lainnya diharuskan menghafal peradaban yang ada di Cipari sejak era megalitikum sesuai analisis yang ditunjukkan oleh bukti-bukti yang ditemukan oleh para arkeolog.
Perhatian Sundari tertambat ke batu tunggal yang tadi disebutkan oleh penjaga situ sebagai menhir, yang menjadi titik tertinggi dari seluruh batu yang ada di situ. Dada Sundari berdebar. Sebuah perasaan yang tidak dia pahami tiba-tiba saja menyelinap dalam rongga dadanya. Selama kunjungan itu, Sundari hampir tidak pernah beranjak dari batu tunggal. Sayang, tidak ada guru yang bicara tentang batu yang mencuri perhatian Sundari secara detail.
Pulang dari kunjungan itu, Sundari mengalami mimpi aneh selama tujuh hari berturut-turut. Dalam mimpinya, Sundari didatangi oleh seorang kakek berbaju putih yang mengajaknya ke situs Taman Purbakala. Selain Sundari, di depan Menhir juga ada seorang nenek mengenakan kebaya merah yang rambut putihnya disanggul rapi.
Si kakek bicara dengan Menhir dengan bahasa yang tidak bisa dimengerti oleh Sundari. Setelah bicara pada Menhir, si kakek mengalihkan pandangannya ke arah nenek berkebaya merah, mengusap kepala nenek itu lalu mengangguk dan tersenyum. Setelahnya, kedua orang itu menghilang dari pandangan Sundari.
Mimpi Sundari selalu terputus di bagian itu. Dalam kebingungannya, Sundari menceritakan mimpi itu kepada Rukmini, ibunya.
Rukmini, yang biasa Sundari panggil dengan sebutan Mimih, mengusap lembut kepala Sundari ketika anak perempuannya itu selesai menceritakan mimpi dan kegelisahannya.
“Sudah waktunya kamu tahu,” Rukmini memulai cerita. “Kakekmu, Aki Wijaya, adalah orang yang pertama kali menemukan kapak batu di sana. Tanah yang kini menjadi areal situs dulunya adalah kebon milik Aki. Sebelum situs itu ditemukan, ada orang-orang yang selalu memberikan penyuluhan pada kami. Orang-orang itu bilang, kalau kami menemukan batu yang bentuknya berbeda dengan batu pada umumnya, kami harus melapor. ”
“Mimih tahu siapa mereka?”
“Ada orang Jakarta, dari Departemen Pendidikan, ada juga orang Bandung. Kalau yang rajin ke Cipari memberikan pengarahan itu dari Paseban. Kami memanggilnya Rama Jati. Areal yang sekarang menjadi situs, dulunya adalah tanah milik Aki. Aki sendiri sejak muda sudah menjadi salah satu orang kepercayaan Rama Jati. Aki pernah bersumpah ‘engke ieu tanah aing bakal jadi gedong sigrong’. Sumpah itu terbukti. Saat ini tanah yang dulunya milik Aki sudah menjadi areal situs Taman Purbakala.”
“Aki yang menemukan situs?”
“Aki menemukan kapak batu, lalu melaporkannya ke Rama Jati, sesuai perintah bahwa jika menemukan batu atau benda-benda yang tidak lazim, kami disuruh melapor. Ketika itu, sekitar awal tahun 70-an, Mimih juga ingat kalau pemerintah sedang melakukan pendataan situs kepurbakalaan. Rama Jati meneruskan laporan Aki ini ke Jakarta. Tahun ‘71 atau ‘72, areal tanah Aki mulai digali. Selain Aki, Mamakmu juga adalah bagian dari warga yang membantu pemugaran dan pembangunan kembali Taman Purbakala. Mamak membantu penggalian.
Menurut cerita Mamak, Rama Jati memerintahkan semua orang bekerja tanpa bersuara. Mereka dilarang berkata-kata apalagi ngobrol, sebelum pekerjaan selesai. Semuanya tidak ada yang membantah. Ratusan warga bekerja mulai dari lepas isya dan selesai sebelum subuh. Seandainya para pekerja ini tidak menuruti ucapan Rama Jati, mungkin pekerjaan mereka tidak akan selesai tepat waktu. Begitulah kami, sejak dulu tidak pernah berani membantah perintah orang tua.”
Sundari masih menyimak dengan khidmat.
“Sayang, peran Rama Jati tidak pernah diceritakan. Kalau kamu main ke Paseban, kamu akan melihat foto Rama Jati ada di antara para pekerja yang bergaya di depan alat-alat berat. Foto itu tidak pernah sekali pun terpasang di areal museum.”
“Kenapa bisa begitu?”
“Mimih nggak tahu alasannya. Aki yang tahu dengan jelas. Selain Rama Jati, ada satu orang lagi yang hilang dari sejarah pemugaran Taman Purbakala. Dia seorang perempuan. Bahkan orang-orang mungkin sudah melupakannya.”
Mimih menghentikan ceritanya. Masuk ke dalam kamarnya, lalu keluar lagi dengan membawa sebuah foto yang sudah menguning.
“Dia adalah nenekmu. Ibunya mimih. Istri Aki Wijaya. Namanya Kinasih. Dulu lebih dikenal dengan panggilan Mak Acih.”
Sundari memandangi wajah perempuan yang seharusnya dia panggil nenek. Matanya membeliak. Perempuan itu adalah perempuan yang ada dalam mimpi Sundari. Mak Acih meninggal ketika Sundari berusia empat tahun. Tidak ada ingatan tentang Mak Acih yang tertanam di kepala Sundari.
***