Takdir Purba
CERITA TENTANG MENHIR
Mimih melanjutkan ceritanya, “Ada sebuah batu, ukurannya setengah dari ukuran Menhir yang kecil. Batu itu akan diletakkan di depan museum. Di tengah-tengah antara pintu masuk sebelah kanan dan sebelah kiri. Para pekerja sudah berusaha mengangkat batu itu, namun tidak ada yang berhasil. Sampai kemudian, Rama Jati mendapat petunjuk agar Mak Acih yang mengangkat batu itu. Mak Acih mengangkat batu menggunakan kain yang biasa dipakai untuk menggendong bayi. Batu itu digendong seperti Mak Acih menggendong bayi. Batu berhasil diangkat tanpa kesulitan. Sejak itu, Mak Acih selalu mengatakan bahwa keturunannya akan selalu terhubung dengan Menhir dan batu-batu di Taman Purbakala.”
“Jadi, aku terhubung dengan Menhir?”
“Mimpi yang kamu alami adalah jawaban kalau kamu sudah terhubung.”
“Apa yang harus aku lakukan?”
“Menunggu. Itu saja.”
“Menunggu apa?”
“Menunggu pertanda berikutnya dari Menhir. Jika kau bingung, Dari… tempelkan telingamu ke Menhir. Menhir akan bicara lebih jujur daripada manusia.”
Sejak itu, Sundari mulai mengingat, bahwa Menhir memiliki suara sendiri. Dan Sundari kecil melakukan apa yang dikatakan Rukmini.
Diam-diam, dia sering menempelkan telinganya ke Menhir. Sundari mendengar apa yang tidak didengar orang lain. Ada dengung rendah, seperti napas panjang bumi. Kadang suaranya mirip gemuruh jauh, kadang seperti getar halus yang terasa sampai di tulang pipinya.
Tumbuh besar, ia belajar menyimpan kemampuan itu sendiri dan tidak mengatakannya pada siapa pun. Sundari takut dikatakan gila. Seperti label yang disematkan orang-orang kampung kepada Mak Manis yang sering menceritakan tentang perang di Munjul. sundari belajar, bahwa dunia tidak punya tempat untuk hal-hal begitu.
Lulus SMA, Sundari sempat bermimpi menjadi perempuan karir. Dia ingin bekerja sebagai pegawai negeri atau bekerja di bidang administrasi, mungkin perbankan, mungkin koperasi, mungkin apapun yang membuatnya punya penghasilan sendiri. Ia ingin membeli kompor baru untuk ibunya, ingin mengganti genteng bocor di rumah keluarga, ingin membawa adik-adiknya makan di luar sesekali, ingin mengajak keluarganya main ke Cirebon.
Mimpi itu kandas ketika seorang laki-laki bernama Duriyat datang ke Abah Karna—ayah Sundari—untuk melamar Sundari. Abah Karna tidak langsung memberikan jawaban. Beliau minta waktu tiga hari, dengan alasan ingin menanyakan kesediaan Sundari terlebih dahulu.
Faktanya, Sundari tidak pernah diberi kesempatan untuk memilih atau sekadar mempertimbangkan. Abah Karna langsung mengemukakan keputusannya agar Sundari mau menerima lamaran Duriyat. Penilaian yang dilakukan Abah Karna sudah jelas berdasarkan bibit bobot dan bebet.
“Sing nurut kana omongan kolot, supaya hirup bagja dunya aherat. Hidup kamu akan terjamin kalau kamu menikah dengan Duriyat.” Begitulah keputusan Abah Karna yang tidak bisa dibantah oleh Sundari.
Sundari paham, di Cipari, rasanya tidak akan ada orang tua yang menolak lamaran Duriyat. Duriyat adalah lelaki yang teguh. Pekerja keras. Pemilik peternakan yang dirintisnya dengan peluh dan air mata. Dia tidak banyak bicara, tetapi ia membawa ketenangan seperti gerimis sore. Kehadirannya membuat semua terasa mungkin. Di usianya yang memasuki kepala tiga, Duriyat sudah bisa dikatakan mapan. Punya rumah, mobil, dan usaha yang jelas.
Sundari memohon kepada Mimih agar membantunya menolak lamaran Duriyat. Tapi Mimih bergeming.
“Jangan sedih. Kami menikahkanmu dengan Duriyat bukan tanpa alasan.” Mimih mengelus kepala Sundari yang ada di pangkuannya.
“Pasti karena Duriyat sudah mapan,” jawab Sundari ketus.
“Bukan. Ikatan jodoh di antara kalian sudah tertulis lebih dari tiga abad lalu.”
“Hah? Kok bisa, Mih?” Sundari terlonjak bangun.
“Karuhun kita yang mengaturnya. Darah murni keturunan karuhun Cipari harus dikembalikan. Dan itu hanya bisa dilakukan melalui pernikahan.”
“Mih, aku nggak ngerti kenapa harus begitu.”
“Kelak, setelah kamu punya anak, kamu akan mengerti. Menhir akan memberikan petunjuk itu kepadamu.”
Sundari hanya bisa diam. Dalam senyap, dia datang menemui Menhir. Bersimpuh di bawahnya, lalu menangis.
“Kenapa harus aku?” Ratap Sundari di tengah isaknya.
Lamat-lamat terdengar suara yang datang dari kejauhan.
Karena kamu bukan pemburu. Bukan pemahat batu. Bukan pemimpin musyawarah. Tetapi perempuan yang menjaga batas antara kehidupan dan kehilangan. Perempuan yang mengurus kelahiran, mengurus duka, menghubungkan cerita, mengikat ulang sejarah keluarga setiap hari tanpa merasa itu penting.
Sejak hari itu, Sundari lebih sering datang ke situs. Kadang ia hanya duduk diam. Kadang ia menyentuh batu itu sambil memejamkan mata satu-dua detik. Dia tidak pernah melihat sesuatu yang tampak gaib. Tidak ada cahaya merah. Tidak ada suara aneh. Yang ada hanya rasa bahwa dia sedang menyambung sebuah garis lama yang tidak boleh putus.
***
Setelah menikah dengan Duriyat, hidup membawa Sundari ke arah lain. Tentu saja pernikahan Sundari dengan Duriyat bukanlah pernikahan yang penuh romansa cinta ala remaja. Mereka tidak mengalami masa pacaran. Usia Sundari belum dua puluh tahun. Berbeda satu dekade dengan Duriyat.
Meski Sundari menikah dalam keadaan belum mencintai Duriyat, Sundari tetap merasa bahagia. Walaupun, ia harus merapikan kembali mimpi-mimpinya dan menaruhnya di lemari, di antara kain kebaya pemberian Mimih dan selendang kawinnya.
Cinta kepada Duriyat baru tumbuh di hati setelah anak pertama mereka lahir. Selama masa kehamilan, Duriyat memperlihatkan sisi sabarnya yang luar biasa dalam menghadapi Sundari. Pernah di satu hari, Sundari minta dibelikan tahu pohaci. Duriyat membelinya bukan di tempat langganan Sundari. Tiba di rumah, Sundari melempar tahu itu penuh kemarahan tepat di muka Duriyat.
Awal-awal kehamilan, Sundari tidak mau melihat wajah Duriyat sama sekali. Dengan berat hati, Duriyat mengantarkan Sundari pulang ke rumah orang tuanya. Mereka pisah rumah hampir sebulan. Sampai Abah Karna memberikan ultimatum keras bahwa apapun yang terjadi, Sundari tidak boleh meninggalkan suami seenaknya.
Anak pertama mereka lahir. Duriyat memberikan nama Bagja Guna Munggaran dengan harapan si sulung ini akan membawa banyak kebahagiaan dan berguna bagi sekitarnya.
Benih cinta di hati Sundari terhadap Duriyat mulai tumbuh ketika Sundari melihat bagaimana Duriyat menjadi suami siaga saat dirinya melahirkan. Duriyat menemaninya tanpa pernah beranjak sekejap pun. Memberikan semangat, menggenggam tangan Sundari, memeluknya penuh kehangatan, merapalkan doa-doa penuh harapan, tatapan Duriyat membawa keteduhan dan ketenangan bagi Sundari, bahkan kain serta pakaian bekas melahirkan yang penuh darah dicuci oleh Duriyat tanpa rasa jijik.
Duriyat nyaris tidak memberikan kesempatan kepada yang lain untuk mengurusi Sundari dan bayinya.
Sejak Bagja lahir dan dirinya mulai merawat benih cinta yang mulai tumbuh itu, Sundari tahu hidupnya sekarang punya pusat baru. Dia tidak lagi mengejar karir. Dia mengejar kebahagiaan keluarganya. Kebahagiaan yang hanya bisa diciptakan. Bukan dicari.
Adik-adik Bagja lahir dengan jarak yang cukup jauh. Setelah Bagja, Sundari melahirkan tiga anak perempuan. Tidak ada penyesalan. Atau setidaknya, tidak ada ruang untuk itu.
***