Takdir Purba
PERANAN SUNDARI
Dia menjalani hari-hari dengan ritme yang pasti. Menjadi simpul penghubung semua hal. Antara rumah dan kandang, antara Bagja dan adik-adiknya, antara Duriyat dan dunia luar. Dia menyimpan resep keluarga, mengingatkan setiap ulang tahun, menjaga foto-foto lama agar tidak hilang. Dia menjadi penjaga tradisi kecil yang tidak pernah tercatat, tetapi selalu dibutuhkan. Sundari tidak sadar, itu adalah bentuk modern dari apa yang pernah dilakukan kelompok Batara Giri ribuan tahun lalu. Menjaga ingatan.
Sundari pertama kali merasakan panggilan Menhir, ketika Bagja berusia tiga tahun tujuh bulan. Dia mengalami mimpi seperti dulu. Tapi kali ini mimpinya berbeda. Dalam mimpi itu, Sundari bertemu dengan Sukma Atmaja dan Sekar Taji. Teman mas kecil Sundari yang tinggal di Bogor.
Mereka bertiga tengah mengelilingi Menhir. Sekar menggendong seorang bayi perempuan yang kemudian bayi itu diserahkan Sekar kepada Sundari. Tidak ada pembicaraan apapun. Sundari hanya mendekap bayi perempuan itu. Mimpi yang sama, terus saja berulang hingga tujuh kali. Sundari akhirnya menceritakan mimpi itu pada Mimih dan Duriyat.
“Menhir sudah memilih dan memberikan petunjuk. Kalian harus menemui Sukma Atmaja dan Sekar Taji. Duriyat, kalau anak Sukma memang perempuan, kamu harus memastikan anak Sukma akan menjadi istri dari Bagja,” titah Rukmini.
Meski Duriyat tidak meragukan sedikit pun ucapan Rukmini, Sundari tetap gamang. Dia memutuskan untuk mengunjungi Menhir.
Sampai di depan Menhir, Dia menatap batu itu lama, menyentuh permukaannya dengan lembut, kemudian berbisik, “Apakah arti mimpiku itu sama dengan yang diucapkan oleh Mimih?”
Tentu tidak ada jawaban dalam bentuk bahasa. Tapi dadanya hangat dengan pemahaman yang muncul begitu saja: keyakinan bahwa ucapan Rukmini adalah benar dan perempuan itu perempuan yang akan membawa perubahan.
***
Di hari Duriyat meninggal dan Sundari harus merawat anak-anaknya sendirian untuk pertama kalinya, Sundari kembali ke Menhir. Bukan untuk berdoa. Bukan untuk mencari petunjuk mistis. Hanya untuk memastikan dirinya masih utuh. Dia menyentuh batu itu lagi.
Kali ini, getaran itu muncul lebih jelas. Masuk dari telapak tangannya, mengalir ke lengan, lalu berhenti di dada. Rasanya seperti dikuatkan, bukan oleh kekuatan luar biasa, tetapi oleh ingatan yang mengalir masuk. Ingatan perempuan sebelum dirinya yang pernah berdiri di tempat yang sama. Perempuan yang menunggu suami pulang berburu. Perempuan yang menyembuhkan luka anaknya dengan ramuan hutan. Perempuan yang menyalakan api unggun untuk menghangatkan kaum tua. Perempuan yang memintal benang dari serat pohon. Perempuan yang duduk menganyam ruas bambu untuk melanjutkan hidup. Perempuan yang mengajari anak-anak mereka mengingat letak matahari. Perempuan yang memandikan jenazah dengan air sungai suci.
Sundari tidak melihat wajah mereka. Tetapi ia merasakan getaran peran yang sama. Sundari menangis tanpa suara. Menhir tidak bergetar lebih keras, tetapi tidak diam juga. Menhir hanya menyimpan. Seperti yang selalu dilakukannya selama ini. Menhir merangkul Sundari melalui frekuensi dan ingatan.
Setelah itu, hampir satu dekade dilalui Sundari dengan ketakutan tidak bisa menjalankan perannya karena tak ada kabar dari Galuh. Setelah rumah orang tua Sukma dijual, Galuh malah semakin menjauh.
Namun, Sundari salah. Menhir tidak pernah berhenti menjalankan tugasnya. Menjaga seluruh frekuensi agar tetap terhubung. Cerita yang baru saja Sundari dengar dari balik tembok, menyadarkan Sundari bahwa Bagja dan Galuh memang terikat oleh takdir purba.
Sundari masuk ke ruang tengah menghampiri Bagja dan Galuh yang sedang asyik berbincang.
“Kalian terhubung oleh takdir purba,” ucap Sundari memutus obrolan Bagja dan Galuh.
***
“Ada takdir yang sudah terikat sejak leluhur kita dulu. Takdir bahwa garis keturunan Batara Giri akan kembali bertemu,” Sundari memulai ceritanya. “Kalian boleh pecaya boleh juga nggak, tapi cerita itu yang Mamah dengar dari orang tua Mamah dan kakek nenek Mamah. Kalian sudah melihat dan mengalaminya, bukan? Takdir purba bukan hanya tentang jodoh atau pernikahan. Tapi ttentang beban yang dipikul para leluhur. Bagja, dua puluh sapimu yang mati itu bukan karena wabah penyakit biasa. Mereka adalah korban. Tanah ini menuntut pembersihan karena frekuensi di sini sudah terlalu kotor oleh ketamakan. Kamu, sebagai sarjana arsitek, seharusnya membangun rumah untuk jiwa manusia, bukan hanya bangunan beton yang menutupi pori-pori bumi.”
Sundari kemudian beralih ke Galuh. “Dan kamu, Galuh. Kamu dikirim ke Borneo bukan untuk memotret kehancuran, tapi untuk merasakan denyut terakhir hutan purba itu agar kamu bisa membawanya pulang ke Cipari. Kamu adalah memori yang berjalan.”
Galuh menunduk, “Mah, ini sebenarnya tentang apa? Aku sama A Bagja harus melakukan apa? Kami hanya dua manusia kecil di tengah sistem yang begitu besar. Aku masih bingung, Mah.”
Sundari tersenyum tipis, sebuah senyuman yang mengandung kepahitan sekaligus harapan. “Kalian adalah sirkuitnya. Menhir ini adalah antenanya. Tugas kalian bukan untuk melawan dunia, tapi untuk memulihkan frekuensi di tempat ini dulu. Cipari harus kembali menjadi jirim diri. Mulailah dari apa yang ada di depan mata. kotoran hewan yang menjadi biang keladi itu, ubahlah menjadi energi, jadikan pupuk untuk pohon-pohon yang sudah lama tidak ditanam oleh generasimu.”
“Aki Wijaya pernah bersumpah bahwa tanah ini akan menjadi ‘gedong sigrong’. Tapi gedung itu bukan bangunan mewah, melainkan peradaban yang tahu cara berterima kasih pada bumi,” lanjut Sundari dengan suara yang bergetar hebat. “Jika kalian gagal terhubung sekarang, maka frekuensi ini akan padam selamanya. Dan saat itu terjadi, Cipari benar-benar akan kehilangan jati dirinya.”
“Aku juga masih belum mengerti, Mah.” Bagja memijit pelipisnya.
“Kapan Batara Giri meminta kalian untuk datang lagi?’ tanya Sundari.
“Saat purnama penuh,” jawab Bagja.
“Purnama penuh yang dimaksud itu seharusnya lusa malam. Mamah perhatikan, sejak sepuluh hari lalu, bulan sabit tipis sudah terlihat.”
“Apa yang akan terjadi dengan kami?” Bagja kembali bertanya.
“Mamah tidak bisa memastikan, Ja. Mungkin kalian akan mendapat petunjuk. Atau mungkin kalian akan kembali melintasi waktu seperti kemarin dan melihat apa yang tidak bisa dilihat oleh orang lain, termasuk Mamah.”
“Maksud Mamah, Mamah nggak pernah bertemu Batara Giri atau masuk ke zaman dulu seperti kami?” Cecar Galuh.
“Ya, kejadian yang kalian alami kemarin, tidak pernah terjadi pada Mamah. Selama ini, Mamah hanya mendengar seluruh cerita dari orang tua serta kakek nenek. Meski begitu, Mamah terhubung dengan baik ke Menhir. Beberapa kali Mamah merasakan apa yang dirasakan oleh para perempuan zaman dulu.”
***