Takdir Purba
Longsor
"Itulah alasan saya memanggilmu ke sini, Ja. Mungkin kamu paham soal struktur tanah dan tata ruang. Saya butuh pandanganmu sebelum kita benar-benar membawa masalah demo kemarin ke tingkat kabupaten. Saya nggak mau kita datang cuma bawa amarah, tapi nggak bawa data," ujar Pak Lurah serius.
Bagja menatap peta kelurahan Cipari yang terbentang di meja. Matanya tertuju pada area hulu. "Pak Lurah, masalah kita bukan cuma soal limbah cair yang terlihat di selokan atau sungai. Selama setahun ini, rembesan itu sudah masuk ke lapisan subsoil. Cipari ini seperti bangunan dengan fondasi yang sedang digerogoti rayap. Hanya saja, rayapnya adalah limbah kimia."
"Maksudmu, fondasi desa kita goyah?" Haji Syarif menyela, dahinya berkerut dalam.
"Tanah punya daya ikat, Ji. Kalau terus-menerus disusupi cairan yang mengubah ph dan komposisinya, daya ikat itu lama-lama hilang. Tanah berubah jadi bubur di lapisan bawah. Bisa jadi, itu alasan kenapa Cisumur mengalami kekeringan. Selain itu, Hulu Cai Cipari juga sudah mulai tercemar kotoran hewan," jelas Bagja.
Obrolan itu mengalir semakin dalam. Mereka mulai membedah sejarah penggunaan lahan di Cipari. Mang Nana menceritakan bagaimana dahulu, mata air di wilayah atas begitu melimpah dan tanahnya begitu padat, tidak pernah ada cerita tentang tanah amblas atau retakan misterius.
"Tapi sekarang beda," kata Mang Nana lirih. "Setiap malam, saya sering dengar suara dentuman dari arah atas. Seperti suara benda berat yang jatuh ke tanah, tapi jauh di dalam sana."
"Kita butuh survei geologis independen, Pak Lurah," lanjut Bagja. "Kita nggak bisa percaya laporan yang tidak berdasarkan data. Saya punya teman di Bandung yang bisa bantu cek struktur tanah di sini tanpa harus birokrasi yang rumit."
Rapat itu menjadi forum curah pendapat yang emosional. Haji Syarif mengeluhkan kebun kopi yang daunnya mulai menguning secara tidak wajar, sementara Pak Lurah mencemaskan tekanan dari pihak atas yang terus memintanya meredam amarah warga agar tidak mengganggu perekonomian.
Waktu merambat pelan. Di luar, matahari mulai meninggi, menembus kaca jendela kantor kelurahan yang kusam. Namun, cahaya itu tidak memberikan kehangatan. Suasana di dalam ruangan justru kian mencekam seiring dengan data-data kerugian warga yang dipaparkan satu per satu.
Bagja terdiam, telinganya tiba-tiba menangkap sesuatu. Seperti sebuah dengungan rendah yang merambat melalui kaki kursi kayu yang dia duduki. Dengungan itu sangat halus, menyerupai suara lebah yang ribuan jumlahnya, namun berasal dari arah lantai.
Dia menatap gelas kopi di tengah meja. Cairan hitam di dalamnya bergerak membentuk riak kecil melingkar, padahal tidak ada yang menyentuh meja tersebut.
"Pak Lurah, dengar tidak?" bisik Bagja.
"Dengar apa, Ja?"
Bagja berdiri. Ia berjalan menuju jendela dan menatap ke arah Barat, ke arah perbukitan yang membenteng di atas Ciapri. Di sana, rimbunnya pohon-pohon tampak diam, namun udara di atasnya terlihat bergetar, seolah-olah ada uap panas yang keluar dari celah-celah bukit.
"Ada yang tidak beres di atas," gumam Bagja.
Tepat saat itu, dentuman itu terjadi.
Dentuman yang berasal dari perut bumi. Suaranya berat dan masif, seolah-olah ada tulang raksasa yang patah tepat di bawah kaki mereka. Meja rapat bergoyang hebat, menjatuhkan tumpukan kertas laporan warga ke lantai. Pak Lurah refleks memegang pinggiran meja, wajahnya memucat seketika.
"Gempa!" teriak Haji Syarif.
Tapi getaran itu tidak berlangsung lama. Hanya beberapa detik, diikuti oleh keheningan yang jauh lebih menakutkan. Di luar, suara burung-burung yang tadinya riuh mendadak senyap. Yang terdengar kemudian hanyalah suara gemuruh panjang yang datang dari kejauhan, merayap turun dari arah lereng.
Pintu kantor kelurahan terbanting terbuka. Seorang warga bernama Asep berlari masuk dengan napas tersengal-sengal. Wajahnya pucat pasi, bajunya robek di bagian bahu, dan yang paling mengerikan adalah bercak lumpur hitam pekat yang memenuhi celananya—lumpur yang mengeluarkan aroma kimia menusuk, bau yang jauh lebih busuk daripada limbah yang biasa mengalir di sungai.
"Pak Lurah... A Bagja..." Asep jatuh terduduk, tangannya gemetar menunjuk ke arah luar. "Munjul Nini, Pak! Munjul Nini longsor!"
Jantung Bagja seakan berhenti berdetak. Munjul Nini. Titik tertinggi itu adalah pasak bagi seluruh Cipari. Jika Munjul Nini bergerak, maka tidak ada tempat yang aman di Cipari.
Bagja tidak menunggu penjelasan lebih lanjut. Pikirannya langsung melesat ke satu titik koordinat: lokasi di mana Galuh tadi pagi bilang akan mengambil foto. Lereng bawah Munjul Nini.
"Galuh!" desis Bagja.
Tanpa memedulikan teriakan Pak Lurah yang memintanya tetap di tempat, Bagja berlari keluar kantor. Di halaman, ia melihat pemandangan yang takkan pernah ia lupakan. Di ufuk Barat, di lereng Munjul Nini yang biasanya hijau, kini terlihat robekan besar yang membelah bukit. Massa tanah hitam yang kental merayap turun seperti lidah monster, menelan pepohonan dan bangunan apa pun yang dilaluinya.
Matahari pagi itu kini tertutup oleh kabut debu pekat yang membumbung tinggi. Cipari tidak lagi sekadar berbau limbah; Cipari kini sedang ditelan oleh rahasia busuk yang selama ini disembunyikan di perut bukitnya sendiri.
Bagja menyambar motornya, memacu mesin hingga batas maksimal, menembus udara pagi yang mendadak berubah menjadi gelap dan menyesakkan. Ia harus menemukan Galuh. Ia harus melawan frekuensi kehancuran ini sebelum semuanya benar-benar lenyap.
Suara gemuruh itu tidak berlangsung lama, namun keheningan yang mengikutinya jauh lebih mengerikan. Hanya dalam hitungan menit, lereng Munjul Nini yang agung telah berubah menjadi luka terbuka di wajah Cipari. Massa tanah hitam yang kental dan beraroma kimia itu berhenti bergerak tepat beberapa meter sebelum menyentuh pemukiman warga di bawahnya. Alam seolah-olah memberikan peringatan terakhir, sebuah gertakan yang cukup untuk meruntuhkan kesombongan manusia, tetapi belum sampai mencabut nyawa.
Bagja menghentikan motornya dengan kasar di batas aliran lumpur. Napasnya memburu, paru-parunya terasa terbakar oleh udara yang pekat dengan debu tanah dan bau busuk yang menyengat. Matanya liar menyapu hamparan material longsor yang masih mengeluarkan bunyi letupan-letupan kecil—udara yang terjebak di dalam perut bumi yang kini dipaksa keluar.
"Galuh!" teriak Bagja. Suaranya pecah, tertelan oleh sunyinya lereng yang baru saja mengamuk.
Pikirannya kacau. Ia teringat ucapan Galuh tadi pagi tentang mengambil foto di lereng bawah Munjul Nini. Lokasi itu kini tertutup lapisan lumpur setinggi pinggang orang dewasa. Bagja melompat dari motor, mengabaikan peringatan akal sehatnya tentang kemungkinan longsor susulan. Kakinya tenggelam dalam material lembek yang terasa hangat, suhu yang tidak wajar untuk sebuah tanah, seolah-olah ada reaksi kimia yang sedang terjadi di bawah sana.
"Galuh! Jawab, Galuh!"
Bagja terus merangsek maju. Tangannya gemetar saat menyibak dahan-dahan pohon yang tumbang. Di kejauhan, ia melihat sesuatu yang berwarna cokelat muda kontras dengan hitamnya lumpur. Sebuah kemeja lapangan.***