Takdir Purba
Cipari Walagri
Bapak tidak marah. Ia justru menatap Galuh dengan belas kasih yang membuat hati emosi Galuh perlahan mereda.
"Sumpah itu bunyinya sederhana, tetapi beratnya melampaui Gunung Ciremai," bisik Bapak. "Nalika silsilah papanggih dina hiji titik, Cipari bakal walagri. Mun henteu, taneuh bakal ceurik, batu bakal bengkah (Ketika silsilah bertemu di satu titik, Cipari akan sejahtera. Jika tidak, tanah akan menangis, batu akan terbelah). Kamu pikir, kekeringan yang melanda Cipari ini hanya fenomena alam biasa? Kamu pikir kenapa mata air Cisumur yang tidak pernah kering selama ratusan tahun, tiba-tiba surut? Atau kenapa Munjul Nini longsor, padahal selama ini longsor tidak pernah terjadi? Keberadaanmu di sini memiliki resonansi dengan tanah ini. Kamu adalah 'pasak' bagi Cipari. Dan Bagja adalah 'talinya'. Tanpa kalian berdua yang menyatu, Cipari akan kehilangan perlindungannya. Situs-situs megalitikum itu, mereka bukan sekadar tumpukan batu mati bagi turis. Mereka adalah mesin energi yang butuh operator. Dan operatornya adalah kalian."
Galuh mencoba mencari logika dalam kata-kata Bapak. Dia teringat saat dia berada di Kalimantan, di tengah hutan yang jauh dari ‘peradaban’. Dia sering merasakan getaran aneh di bawah kakinya, seolah bumi sedang berdenyut. Dia pikir itu hanya imajinasinya. Tapi sekarang, penjelasan Bapak membuatnya merasa bahwa dia memang memiliki "antena" yang terhubung dengan frekuensi purba.
"Kenapa harus melalui pernikahan, Pak? Apa tidak bisa kami hanya bekerja sama menjaganya tanpa harus terikat dalam rumah tangga?"
Bapak menggeleng pelan. "Penyatuan itu harus total. Darah, batin, dan jiwa. Hanya melalui ikatan suci yang diakui oleh langit dan bumi, energi dari dua keluarga ini bisa mengunci kembali gerbang-gerbang yang mulai terbuka. Kamu adalah pewaris kelembutan air, dan Bagja adalah pewaris kekuatan batu. Tanpa pernikahan, kalian hanya akan menjadi dua kekuatan yang saling tolak-menolak, bukan saling menguatkan."
Galuh menunduk, menatap lantai ubin kamarnya yang dingin. “Bagaimana kalau aku dan Bagja tidak saling mencintai?"
Bapak tersenyum tipis, sebuah senyum yang mengandung rahasia masa lalu. "Cinta itu seperti tanaman, Galuh. Ada yang tumbuh liar, ada yang harus disemai dengan sabar. Leluhur kita tidak bicara tentang cinta yang meledak-ledak. Mereka bicara tentang harmoni. Tentang dua nada yang berbeda namun menghasilkan melodi yang indah saat dimainkan bersama."
"Dan ingatlah satu hal," tambah Bapak dengan nada yang lebih dalam, hampir seperti peringatan. "Kepergianmu ke Kalimantan dua tahun lalu... kamu pikir itu kebetulan? Kamu pikir proyek itu benar-benar hanya tugas kantor? Tidak, Galuh. Tanah ini yang mendorongmu pergi ke sana, untuk menyentuh dinding Gua Mengkuris, agar kamu merasakan getaran yang sama dengan yang dirasakan Bagja di depan Menhir di sini. Itu adalah cara alam menghubungkan kalian berdua melintasi jarak ribuan kilometer. Jangan lupa juga tentang pengkhianatan Bagas. Itu pun bukan kebetulan. Kamu memang sudah ditakdirkan berjodoh dengan Bagja."
Galuh ternganga tak percaya. Segala pencapaiannya, ambisinya, pelariannya ke pedalaman Kalimantan, ternyata semua itu hanyalah bagian dari skenario besar yang disusun oleh orang-orang yang sudah lama meninggal.
“Kemarin malam, setelah kamu pulang dari rumah Bagja, Sundari menghubungi Ibu. Menjelaskan kalau kamu dan Bagja sudah membicarakan masalah perjodohan ini. Bagja tidak keberatan. Keputusan ada di tanganmu. Betul, Galuh?” selidik Ibu.
“Iya sih. Tapi aku masih belum bisa mengambil keputusan. Aku masih mau memikirkannya.” Galuh meremas ujung kaosnya.
“Galuh, kalian sudah sama-sama dewasa. Apalagi yang kamu kalian pertimbangkan?” tanya Bi Yoyoh.
“Justru karena kami sudah dewasa, Bi. Kami harus memikirkannya dengan matang. Aku juga nggak tahu apakah Bagja orang yang cocok untukku atau bukan,” Galuh memberikan alasan.
“Tidak ada yang tahu pasangan kita cocok atau tidak sampai kita menjalaninya. Bahkan orang yang sudah puluhan tahun membangun rumah tangga seperti Ibu dan Bapak atau Bi Yoyoh dan Mang Ono pun masih menemukan banyak hal yang tidak cocok dalam diri kami. Tapi kami berusaha kompromi dan berusaha saling memahami. Kami memegang teguh komitmen pernikahan. Alasan itu yang membuat kami tetap bisa mempertahankan pernikahan. Bukan hanya tentang cocok atau tidak. Bukan juga tentang orang yang tepat atau tidak. Bertahun-tahun kamu pacaran sampai bertunangan dengan Bagas, ternyata dia pun bukan orang yang tepat untuk kamu.” Ibu menjelaskan panjang lebar.
“Tapi, aku sama Bagja kan bisa pendekatan dulu. Nggak usah buru-buru nikah,” tawar Galuh.
“Bapak nggak setuju,” sela Bapak. “Bapak nggak mau kamu dan Bagja membuang-buang waktu untuk hal yang nggak ada gunanya. Seharusnya kamu belajar dari hubungan kamu dengan Bagas. Bertahun-tahun kalian bersama, hasilnya apa? Bapak nggak mau hal itu terulang lagi. Bapak tanya, apakah ada alasan lain yang membuat kamu menolak Bagja?”
Galuh menggeleng pelan.
“Baiklah. Ini sudah lewat tengah malam. Lebih baik kita tidur. Kita sama-sama sudah lelah. Oh ya Galuh, kamu hubungi Bagja. Suruh dia besok pagi ke sini. Bapak mau ketemu.” Bapak berdiri dan masuk ke dalam kamar diikuti oleh Ibu.
Tanpa mengeluarkan suara, Bi Yoyoh dan Mang Ono pun berlalu menuju kamar mereka. Meninggalkan Galuh yang masih termenung.
***
Sukma Atmaja berdiri menatap bangunan di depannya. Bale Agung. Sejak kecil. Sukma dan Duriyat sudah mendapatkan penjelasan kalau Bale Agung bukan sekadar bangunan. Bale Agung adalah detak jantung dari sebuah harmoni yang tenang.
Mata Sukma memicing memperhatikan dengan saksama Bale Agung yang berdiri kokoh dengan tiang-tiang kayu jati tua yang berwarna cokelat gelap kemerahan, tempat ini memancarkan wibawa sekaligus kehangatan bagi siapa pun yang melangkah mendekatinya.
Atapnya yang tinggi dan melengkung megah menyerupai gunungan, dilapisi sirap kayu yang telah menghitam oleh waktu, menandakan bahwa bangunan ini telah tumbuh sejak berabad-abad lalu.
Tanpa dinding yang membatasi, Bale Agung membiarkan angin bebas bergerak menyusup ke setiap sudutnya, membawa kesegaran melati yang merekah di pelataran.
Dulu, Duriyat selalu berkata pada Sukma, “Di Bale Agung, waktu seperti berhenti berdetak, membiarkan jiwa beristirahat sejenak dari hiruk-pikuk dunia luar."
Ikatan kontrak tak kasat mata antara Sukma, Duriyat, dan Bale Agung mulai
Bale Agung adalah sebuah perlindungan. Sebuah ruang di mana kemegahan arsitektur bertemu dengan kerendahan hati alam, menjadikannya tempat yang sempurna untuk berkumpul, bercengkerama, atau sekadar menemukan kedamaian dalam kesunyian.
Sukma melangkah pelan memasuki halaman Bale Agung. Cahaya matahari pagi yang baru saja naik setinggi galah memantul di atas permukaan kolam koi, menciptakan pola-pola cahaya yang menari di langit-langit aula kayu tersebut.
Di meja kayu panjang di tengah aula, Rama Anom sudah menunggu. Di hadapannya tertumpuk beberapa gulungan cetak biru lama yang tampak kusam dan berdebu.***