Takdir Purba
MALAM DI BATU PUTIH
“Mas, siapa yang pertama kali menemukan gua ini?” tanya Galuh tanpa melepaskan telapak tangannya dari dinding.
“Sudah lama, Mbak. Orang kampung bilang gua ini sudah ada dari zaman moyangnya nenek moyang. Dulu jarang ada yang berani masuk. Katanya angker.”
Galuh tersenyum tipis. Angker. Kata itu sering dipakai untuk menjelaskan sesuatu yang tidak dipahami. Galuh mengangkat kameranya lagi, kali ini dengan napas yang lebih teratur. Klik. Klik. Klik. Suara shutter menggema pelan, bercampur dengan tetesan air dari stalaktit.
Galuh menatap hasil jepretannya di layar kamera, ada rasa tidak puas. Foto-foto itu indah, komposisinya tepat, pencahayaannya dramatis. Namun, tidak ada yang benar-benar menangkap apa yang ia rasakan barusan. Getaran itu, panggilan itu.
“Mbak, sudah mau keluar? Hujan kayaknya turun di atas,” ujar Musyafak.
“Oke, kita pulang sekarang.”
Mereka berjalan menyusuri lorong gua yang sempit. Di beberapa bagian, Galuh harus sedikit menunduk. Saat keluar dari mulut gua, aroma hutan karst Borneo yang mulai samar menyambutnya.
Malamnya, di kamp Batu Putih, Galuh tidak bisa tidur. Suara genset terdengar dari kejauhan. Galuh membuka laptop dan memindahkan hasil foto hari itu.
Saat foto telapak tangan muncul di layar, jantung Galuh berdegup lebih cepat. Dia memperbesar salah satu foto. Telapak tangan merah itu tampak jelas. Di sampingnya, ada cap lain yang lebih kecil. Mungkin milik anak-anak. Galuh menelan ludah. Ada perasaan terhubung yang tak bisa dijelaskan dengan logika.
Dia membuka folder lain. Foto-foto kegiatan perusahaan mulai dari penanaman, penebangan, pengangkutan kayu menggunakan truk-truk besar, rapat koordinasi, tiba-tiba semuanya terasa kontras. Di satu sisi, ia memotret jejak manusia yang ingin meninggalkan warisan. Di sisi lain, ia memotret aktivitas yang perlahan menghapus jejak warisan.
Suara genset sudah berhenti. Artinya, saat ini sudah tengah malam. Galuh bangkit, lalu beranjak ke luar.
Kegelapan tidak lagi bertumpuk liar di antara pohon-pohon raksasa tua, tapi turun rapi di sela barisan pohon akasia yang tumbuh seragam. Ditanam dalam jarak yang terukur, seolah-olah alam telah diajari disiplin.
Batang-batangnya berdiri lurus seperti pagar tak berujung. Jika siang hari kawasan ini tampak seperti ladang kayu yang luas, malam membuatnya berubah menjadi lorong-lorong panjang yang repetitif. Cahaya bulan jatuh lebih mudah menembus celah karena kanopi yang tidak serapat dulu, membentuk bayangan berupa garis-garis sejajar.
Angin bisa datang dan bergerak leluasa. Hampir tidak ada akar besar atau semak rapat yang menahannya. Helaian daun akasia bergetar serempak, menghasilkan suara gemerisik yang seragam, seperti kain plastik yang digesek pelan. Tidak ada lagi kejutan suara dari hewan besar yang menyibak semak belukar lebat, karena semak itu telah dibersihkan.
Galuh menghirup oksigen lebih banyak. Bau humus tua dan daun lapuk bercampur dengan aroma kayu muda dan sisa solar dari kendaraan berat yang siang tadi melintas. Galuh yakin, jika dia berdiri cukup dekat dengan jalan logging, pasti masih tercium samar oli dan debu yang belum sepenuhnya mengendap.
Suara malam di hutan ini nadanya terdengar berbeda dengan suara yang Galuh dengar pertama kali saat tiba di Belitung Timur. Serangga tetap bersahutan, tetapi tidak seramai di Belitung Timur. Tidak ada lagi simfoni suara berlapis yang menyesakkan telinga. Yang terdengar lebih sering adalah dengung mesin panjang dan monoton. Seperti gema kosong yang memantul di antara batang-batang pohon. Sesekali terdengar bunyi logam beradu pelan dari kejauhan. Itu pasti rantai yang tersentuh angin, atau seng penutup pos jaga yang bergetar.
Tak terlalu jauh dari jalur distribusi kayu, arah yang menuju pelabuhan di arah Balikpapan dan sungai besar yang bermuara ke Samarinda, lampu-lampu kecil dari rumah pekerja kadang tampak seperti bintang yang jatuh ke tanah. Menjadi penanda bahwa manusia masih berjaga, bahkan ketika pohon-pohon diam.
Namun, bagi Galuh, malam tetap menyimpan rasa asing. Lorong-lorong pohon yang lurus itu bisa membuat siapa pun kehilangan orientasi. Semua tampak sama. Setiap sepuluh langkah, pemandangan tak berubah. Bayangan tubuh sendiri memanjang di tanah yang relatif bersih dari semak, menciptakan ilusi bahwa ada seseorang berjalan sejajar di samping.
Di sela-sela barisan itu, kehidupan masih bertahan. Burung hantu mungkin bertengger di cabang akasia, tikus-tikus kecil bergerak cepat di antara pangkal batang, dan ular melata diam-diam memanfaatkan jalur terbuka.
Saat genset mati, suasana menjadi lebih sunyi. Tidak ada lagi suara mesin. Tidak ada teriakan pekerja. Yang tersisa hanyalah dengung napas angin yang bergerak tanpa hambatan. Di saat seperti itu, Galuh merasakan kalau tempat ini adalah persilangan antara alam dan ambisi manusia.
Puas menatap dan mendekap malam, Galuh kembali masuk ke kamarnya. Berusaha keras memejamkan mata. Kantuk baru saja membawanya ke alam mimpi, sampai suara itu datang menyapa.
“Galuh anaking, geura hudang, Nok.”
“Abah?”
“Wilujeng tepang taun ka dua puluh lima. Geura hudang geulis. Hayu geura uih ka bumi Abah. Tos lami Galuh henteu sumping ka bumi Abah. Abah sono, bageur.”
Lalu, sosok dengan baju putih itu menghilang dari pandangan Galuh. Galuh berlari mengejar. Namun, yang terlihat hanya bayangan samar. Galuh berteriak, Abah tetap pergi tanpa menoleh.
Tubuh Galuh tersentak seiring matanya yang ikut terbuka. Galuh mengatur napas saat menyadari kalau ini hanya mimpi. Namun, mengapa rasanya begitu nyata?
***
Di belahan bumi lain, di pulau yang jaraknya ribuan kilometer, Menhir menengadah menatap langit. Sebuah getaran membangkitkan hasrat dalam diri Menhir.
Sudah waktunya. Menhir berdesis.
Angin Borneo baru saja menyapa. Membawa kabar, frekuensi itu sudah terhubung dengan sempurna.
Ratusan tahun Menhir menunggu. Kini, frekuensi terhubung dengan sangat sempurna. Semuanya persis seperti yang pernah diramalkan Batara Giri dan diyakini oleh keturunannya. Perubahan akan segera terjadi. Darah Cipari akan membenahi kekacauan yang diakibatkan oleh keserakahan manusia.
Menhir sudah mulai muak. Kalau saja tidak terikat sumpah, sudah pasti Menhir akan meninggalkan tugas ini.
Menghancurkan diri dan membuang ingatan adalah jalan yang paling mudah untuk dipilih. Kalau tubuhnya handur lebur, tiap keping ingatan akan tersebar dan menemukan tempat untuk berlabuh dengan sendirinya. Menhir tidak perlu diam menunggu dan menyaksikan kehancuran demi kehancuran yang lambat laun menyakiti dirinya.
Menhir menunduk menatap tubuhnya sendiri yang kian legam menghitam. Tiap kali malapetakan melanda, permukaan tubuhnya akan bereaksi menjadi lebih hitam. Ada banyak ingatan yang tak ingin disimpannya, namun Menhir tak bisa berbuat apa-apa selain menerima dan menyimpan semuanya dengan baik sampai tiba waktunya dia bisa menemukan dua penjaga yang sudah ditakdirkan. Selain itu, jiwa Watu yang ada dalam dirinya, memberikan kekuatan kepada Menhir untuk tetap bisa bertahan.
***