Takdir Purba
Perintah Menikah
“Aku bisa saja menjawab pertanyaanmu. Tapi, sebaiknya kamu tanyakan pada Abah Yusman.”
“Baik, Rama.”
“Sudah hampir jam 9. Bagja pasti sudah selesai dengan urusan kandang. Sebaiknya kamu segera bicara dengan anak itu. Terutama masalah pernikahannya. Kita tidak punya banyak waktu lagi.”
“Muhun, Rama. Kalau begitu, saya pamit. Semoga rencana kita bisa berjalan sesuai rencana. Mohon doanya Rama.”
Rama Anom mengangguk sambil tersenyum sebagai jawaban. Matanya awas memandangi punggung Sukma Atmaja yang kian menjauh.
***
Pukul sepuluh pagi. Matahari mulai terasa panas. Bagja sampai di depan rumah bergaya lama dengan halaman yang dipenuhi pohon puring. Di teras, dia melihat sosok Sukma Atmaja sedang duduk sendiri, menyesap kopi hitam dengan kepulan asap rokok yang tipis. Sukma tampak tidak banyak berubah dari ingatan masa kecil Bagja; seorang pria yang tenang namun memiliki sorot mata yang seolah mampu menembus lapisan waktu.
"Assalamualaikum, Pak," sapa Bagja dengan nada hormat yang kental.
Sukma mendongak, lalu tersenyum tipis. "Waalaikumsalam. Bagja. Masuk, Nak."
Bagja naik ke teras dan mencium tangan pria yang menurut Mamah Sundari telah menjodohkannya dengan Galuh sejak dia masih berusia tiga tahun lebih. Ada rasa canggung yang tiba-tiba menyeruak, namun keteduhan wajah Sukma perlahan mencairkannya.
"Duduklah. Galuh sedang di dalam, membantu ibunya," ujar Sukma sembari mempersilakan Bagja duduk di kursi rotan yang sudah mulai usang. "Bagaimana kabar Mamahmu? Sundari selalu menjadi penjaga cerita yang baik di kampung ini."
"Mamah baik, Pak. Beliau juga tadi menitipkan salam untuk Bapak dan Ibu," jawab Bagja.
“Kalau saja Duriyat masih hidup…” Sukma menatap lekat wajah Bagja. “Dia pasti bangga melihat kamu sekarang. Bapakmu itu, kadang aku sering berpikir kenapa dia harus buru-buru pulang. Padahal tugasnya belum selesai. Dia yang dulu sangat antusias membayangkan bagaimana kami akan berdiri berdampingan sebagai besan. Tapi yah… mau bagaimana lagi. Kita tidak bisa melawan takdir. Bagaimana luka-lukamu bekas demo kemarin? Sudah membaik?”
“Alhamdulillah sudah membaik, Pak. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Hanya luka ringan biasa saja.”
Sukma meletakkan cangkir kopinya perlahan. Bunyi keramik yang beradu dengan meja kayu terdengar nyaring di tengah kesunyian. "Bagja, Bapak meminta Galuh memanggilmu ke sini karena ingin membicarakan perjodohan kamu dengan Galuh. Bapak juga tadi sudah ke Bale Agung dan bertemu Rama Anom.”
Bagja mendengarkan dengan khidmat. Kepalanya sedikit menunduk, matanya menatap meja, jemarinya saling bertaut, dan pikirannya sibuk memikirkan bagaimana dia harus menghadapi pertanyaan-pertanyaan Sukma. Sedangkan antara dirinya dan Galuh belum ada keputusan pasti mengenai hubungan mereka. Bagja sadar, dia adalah laki-laki. Pemegang keputusan. Tidak mungkin dia mengalihkan masalah ini ke pundak Galuh.
“Bapak tahu ini sulit bagi anak muda seperti kamu dan Galuh. Apalagi cerita tentang Menhir. Bagimu, batu adalah material bangunan. Tapi bagi leluhur kita, batu adalah penyimpan ingatan. Duriyat pasti pernah membawamu ke Menhir atau memberi beberapa petunjuk yang tidak kamu sadari. Tiap kejadian yang kamu alami, tidak pernah luput dari takdir yang sudah tertulis dalam hidup kamu dan Galuh. Baik itu kegagalan, kehilangan, kebahagiaan, maupun kesuksesan. Bapak dengar, setelah covid kemarin, kamu juga kehilangan sapi-sapimu ya?"
“Betul, Pak. Dua puluh sapi saya mati tanpa sebab klinis yang masuk akal." Bagja menjawab dengan suara sedikit bergetar mengingat kerugian empat ratus juta yang dialaminya. "Abah Jumali bilang ada cahaya merah dari Menhir. Lalu, saat saya menyentuh batu itu bersama Galuh, saya merasa ditarik ke tempat lain."
Sukma mengangguk pelan. "Itu bukan sekadar ilusi, Bagja. Itu adalah resonansi. Galuh membukanya di Kalimantan, di Gua Mengkuris, dan kamu menerimanya di sini. Darah Duriyat yang mengalir di tubuhmu adalah penerima sinyal yang sudah ditentukan. Duriyat adalah keturunan kelima dari garis Surawisesa, pemimpin di Cipari selama empat generasi. Kalian bukan dipilih secara acak. Cahaya merah yang disebutkan Abah Jumali itu pulung. Kalau kata anak sekarang mah pulung itu sama seperti pertanda. Kalau pulung sudah keluar, artinya akan ada kejadian luar biasa yang bisa mengubah tatanan Cipari. "
Tiba-tiba, pintu depan terbuka. Sekar Taji keluar membawa nampan berisi pisang goreng dan satu cangkir kopi lagi untuk Bagja. Wajahnya anggun, dibingkai rahang yang tegas—sebagaimana Galuh sering menggambarkannya—menatap Bagja lurus-lurus.
"Kamu sudah besar, Bagja. Terakhir Ibu lihat, kamu masih suka menangis kalau sapi ayahmu sedang sakit," ujar Sekar dengan nada yang sedikit lebih lembut daripada saat ia berbicara dengan Galuh.
Bagja mengangguk sambil tersenyum kepada Sundari.
“Jadi, bagaimana usaha yogurt yang kamu rintis? Pasti berkembang ya?” Sundari menatap Bagja.
“Alhamdulillah, Bu. Sekarang kami sudah punya dua gerai. Masih kecil-kecilan, Bu.”
“Semua juga diawali dari hal yang kecil, Bagja. Lama-lama akan tumbuh dan berkembang jadi besar.” sahut Sukma.
“Amin. Insya Allah, Pak.”
“Bagja,” Sukma mencondongkan sedikit tubuhnya. “Langsung saja. Bapak tadi sudah bicara dengan Rama Anom, pernikahan kamu dan Galuh harus terlaksana dalam beberapa hari ke depan. Tidak bisa ditunda lagi. Tentang Galuh, biar menjadi urusan Bapak dan Ibu. Saat ini, Bapak mau menanyakan kesiapan kamu. Apakah kamu siap dan mau menerima perjodohan ini?”
“Saya siap, Pak. Tapi, kalau boleh, saya ingin tahu kenapa harus sekarang? Dan kenapa harus kami?" tanya Bagja.
Sukma Atmaja menyesap kopinya sebelum memberikan jawaban. "Karena frekuensi dunia sedang kotor, Bagja. Ketamakan manusia sudah sampai pada tahap di mana tanah tidak lagi bisa bernapas. Cipari bukan sekadar situs wisata; ini adalah 'pasak bumi' yang ditegakkan oleh Batara Giri ribuan tahun lalu untuk menjaga keselarasan. Jika penjaganya—yaitu kalian—tidak segera terhubung, maka jati diri tempat ini akan hilang selamanya. Itu yang tadi Bapak obrolkan dengan Rama Anom. Tapi, kabar yang kamu bawa tentang pulung yang dilihat Abah Jumali, menambah kuat alasan kenapa kalian harus segera menikah."
Tak lama, Galuh keluar dari dalam rumah. Dia mengenakan daster batik bermotif Mayang Segara. Rambut ikalnya diikat asal. Galuh duduk di samping ibunya, matanya menatap Bagja.
"Lalu, apa yang akan terjadi saat purnama nanti?" Bagja bertanya kepada kedua orang tua itu, mencari kepastian.
Sukma Atmaja menarik napas panjang. "Bapak tidak tahu. Bisa dibilang, hampir lima generasi kami tidak pernah berinteraksi langsung dengan para karuhun. Ratusan tahun Cipari berjalan tanpa ada gejolak. Seumur-umur, baru kemarin Bapak mendengar orang Winduherang melakukan demo. Sepelik apapun masalah yang terjadi, tidak pernah ada keributan di Cipari.”
“Kalau begitu, apa yang harus kami lakukan di sana nanti?” Bagja tak mampu menutupi rasa penasarannya.***