Takdir Purba

PENGALAMAN BAGJA

Bagja memandang bangkai-bangkai sapi miliknya yang kini tergeletak menunggu untuk diangkut dan selanjutnya dikubur. Sudah dua puluh ekor sapi miliknya yang mati hanya dalam seminggu. Kerugian yang dialami Bagja tak kurang dari empat ratus juta.

Sebuah angka yang cukup fantastis mengingat Bagja dan beberapa peternak lainnya baru saja bangkit dari kondisi Covid-19. Bagja berdiri di tengah kandang yang kini lebih mirip kuburan massal.

Angka empat ratus juta itu bukan sekadar nominal. Angka itu adalah tiga tahun sisa umurnya yang ia habiskan tanpa liburan, itu adalah maket-maket arsitektur yang tak pernah ia bangun, dan itu adalah janji terakhirnya pada almarhum Bapak yang kini terasa retak. Bagja melihat bayang-bayang almarhum bapaknya yang tergambar jelas di antara bangkai sapi. 

Peternakan sapi itu dirintis oleh Duriyat Adrafi, bapaknya Bagja. Peternakan itu diwariskan secara “paksa” ke tangan Bagja ketika usia Bagja baru saja menginjak angka dua puluh satu.  

Pagi itu, ketika Bagja masih berkutat dengan ujian di kampus, Duriyat mengembuskan napas terakhirnya, meninggalkan istri dan empat orang anak yang masih sangat membutuhkan sosok Duriyat.

Dunia Bagja runtuh di semester tujuh. Saat kawan-kawannya sibuk berdebat tentang fasad bangunan minimalis atau menghitung struktur beton di studio arsitektur, Bagja justru harus berdiri di depan kandang sapi, pusaka paling berharga milik Duriyat Adrafi.

“Selesaikan kuliahmu, Ja. Tapi jangan biarkan kandang ini dingin. Mamah mah cuma bisa berdoa supaya kamu kuat. Ada adek-adek kamu yang masih butuh biaya,” bisik mamahnya malam itu. Mata sembap yang Bagja lihat, sudah cukup menjadi alasan Bagja menganggukkan kepala.

Bagja tidak punya pilihan. Gelar sarjana arsitekturnya dia selesaikan dengan mata merah akibat kurang tidur karena harus membagi waktu antara menyelesaikan kuliah di Bandung dan mengurus susu sapi di Cipari.

Selama hampir dua tahun, tiap Jumat sore, Bagja memacu motor tuanya menembus jalur Cadas Pangeran yang berkabut, hanya agar Sabtu subuh ia sudah bisa berdiri di tengah aroma kotoran sapi dan uap susu segar.

Bagja berjuang segera menyelesaikan kuliahnya, mengubur impian untuk menjadi arsitek, pulang ke Cipari dan mengambil alih peternakan sapi yang ditinggalkan Duriyat.

Menjadi bos di usia dua puluh dua tahun bagi para pekerja senior yang dulu adalah pekerja setia bapaknya, bukanlah perkara mudah. Bagja harus membuktikan diri.

Seperti para pemilik sapi lainnya, Bagja bangun sebelum ayam jantan milik Abah Jumali membuka mata. Setiap pagi, jauh sebelum embun menyentuh pucuk-pucuk pohon di kaki Gunung Ciremai, Bagja sudah harus bergulat dengan aroma tajam amonia. Ditemani dingin yang menusuk tulang, Bagja pergi ke kandang. Memastikan sapi-sapinya siap untuk diperah. Pagi masih temaram ketika pekerjaan memerah susu sapi itu selesai. Matahari lebih sering datang terlambat di Cipari.

Tangan yang biasanya halus karena hanya menggenggam pensil 2B, jangka, serta rapido, mulai pecah-pecah dan kapalan karena menyabit rumput gajah. Bagja akhirnya paham, ada teknik khusus saat menyambit agar pinggang tidak remuk. Bagja mempelajarinya sambil menahan perih di telapak tangan yang melepuh.

Tiga tahun pertama terasa bagai neraka yang disiplin. Bagja belajar bahwa sapi-sapi itu adalah makhluk yang harus dirawat dengan hati agar mereka memberi susu yang melimpah. Lengah sedikit saja, sapi-sapi itu tidak akan menghasilkan susu dalam jumlah banyak dan kualitas yang baik.

Bagja mulai menikmati ritme menjadi peternak. Dia berupaya mencintai bau tanah Cipari yang basah setiap pagi. Bagja bahkan merancang desain kandang baru dengan ventilasi udara yang sempurna menggunakan ilmu arsitekturnya yang sempat ia anggap sia-sia.

Sebelum wabah melanda, peternakan Bagja mencapai puncaknya. Ia berhasil melunasi sisa utang bank peninggalan almarhum Duriyat. Adik-adiknya bisa sekolah seperti biasa tanpa memikirkan biaya. Bagja bahkan sudah berencana merenovasi rumah. Roda ekonomi di rumah itu nyaris mencapai titik seperti saat Duriyat masih ada. Orang-orang di Cipari mulai mengenal Bagja tanpa embel-embel “anaknya Duriyat”.

Namun, alam punya cara sendiri untuk menguji sisa-sisa ambisi manusia. Dimulai dari satu ekor sapi yang mendadak lesu. Air liurnya menggantung, kakinya gemetar. Bagja panik. Ia mengerahkan seluruh ilmunya, memanggil dokter hewan di Cipari, hingga menyuntikkan vitamin paling mahal. Sayang, maut seperti kabut yang merayap pelan tapi pasti. Hingga sampailah Bagja di pagi jahanam itu.

Bagja menyeka keringat dingin di dahinya, padahal udara Cipari pagi itu sanggup membekukan air di dalam gayung. Bau amis sisa pembersihan kandang dan aroma disinfektan yang tajam menusuk hidungnya, tetapi tak mampu menutupi bau kematian yang mulai menguar.

​Dua puluh ekor. Itu bukan sekadar angka di atas kertas laporan keuangan. Itu adalah napas yang diberikan Bapak padanya. Setiap sapi punya nama, punya karakter, dan Bagja hafal lenguhan masing-masing saat mereka meminta jatah rumput gajah. Kini, mereka hanya gundukan daging kaku yang menunggu alat berat datang.

​”A, kopi,” suara parau Abah Jumali memecah lamunan. Lelaki tua itu adalah tangan kanan almarhum Bapak, orang yang pertama kali mengajari Bagja cara memerah susu tanpa menyakiti puting sapi.

​Bagja menerima gelas seng itu. Tangannya gemetar. “Bah, ini bukan sekadar PMK (Penyakit Mulut dan Kuku) biasa, kan? Dokter hewan bilang gejalanya mirip, tapi matinya terlalu cepat. Semalam mereka masih mau makan.”

​Abah Jumali tidak langsung menjawab. Ia menatap ke arah perbukitan di belakang pemukiman, arah di mana Gunung Ciremai berdiri.

​”Tanah ini sedang gelisah, A,” bisik Abah Jumali. “Bukan cuma sapi A Bagja. Ayam-ayam di kandang Abah juga mati berdiri semalam. Tanpa suara, tanpa tanda-tanda sakit.”

​Bagja mengernyitkan dahi. “Gelisah gimana, Bah? Ini pasti virus. Mungkin sanitasi kita yang kurang.”

​”Bukan soal bersih atau kotor. Ada yang 'bangun' di sana,” Abah Jumali menunjuk Gunung Ciremai dengan telunjuknya. “A Bagja ingat cerita Bapak dulu soal batu besar di pojok kandang yang nggak boleh digeser?”

​Bagja tertegun. Dia ingat. Di sudut paling timur peternakannya, ada sebuah batu yang tertanam separuh di tanah. Bapak selalu berpesan untuk tidak pernah menyentuhnya, apalagi memindahkannya.

​”Kenapa dengan batu itu, Bah?”

​”Semalam, Abah lihat ada cahaya merah redup keluar dari sana. Tipis sekali. Dan pagi ini, sapi-sapi yang paling dekat dengan batu itu yang pertama mati.”

Bagja terdiam, memandangi gelas seng lurik di tangannya yang kini terasa sedingin es. Logika arsiteknya memberontak mendengar ucapan Abah Jumali. Baginya, konstruksi dan struktur adalah kepastian, sementara cahaya merah dari sebuah batu adalah mitos yang tidak punya tempat dalam pikirannya. Namun, kenyataan di depan Bagja tidak bisa dibantah. Dua puluh ekor sapi mati dalam semalam tanpa gejala klinis yang masuk akal.

***

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!