Takdir Purba
SEBUAH HUBUNGAN
Ah, mungkin aku yang tidak menyadari gejalanya. Bagja mencoba menenangkan dirinya sendiri.
Sapi-sapi sudah mati. Bangkai yang tergeletak harus segera dikuburkan agar virus maupun bakteri yang masih tersisa tidak menyebar. Bukan waktunya untuk memikirkan hal-hal yang tidak masuk akal. Bagja memilih untuk menghadapi kejadian ini dengan mencari solusi bagaimana menyelamatkan sisa sapi-sapinya yang masih sehat.
Malam itu, sisa-sisa hujan meninggalkan kabut tipis yang merayap turun dari punggung Gunung Ciremai, menyelimuti kandang-kandang yang kini terasa sunyi dan dingin. Bagja berdiri di depan pintu kandang karantina, tempat dua belas ekor sapi yang tersisa masih bertahan dalam diam yang mencemaskan. Bau disinfektan yang tajam menusuk hidungnya, berusaha menutupi sisa aroma kematian yang masih tertinggal di udara.
“Ini tidak masuk akal,” bisiknya pelan, mencoba mengusir bayang-bayang kerugian empat ratus juta rupiah yang baru saja ia kubur bersama bangkai-bangkai sapinya. Ia mencoba mengingat kembali setiap detail kebersihan kandang, ventilasi udara yang ia rancang sendiri dengan ilmu arsitekturnya, hingga jadwal vaksinasi. Semuanya sempurna di atas kertas, tetapi alam memiliki rumus lain yang tidak diajarkan di studio perancangan.
Langkah Bagja tanpa sadar membawanya menuju sudut paling timur peternakannya. Areal itu kini dinamakan situs Taman Purbakalan. Di sana, di bawah keremangan cahaya bulan yang sesekali tertutup awan, sebuah batu besar tertanam separuh di tanah.
Bagja mendekati batu andesit tua itu. Batu tunggal yang orang sebut sebagai Menhir. Bagja sudah mengenal Menhir sejak kanak-kanak. Kalau Bapak sedang sibuk di kandang, Bagja akan bermain di sekitar Menhir. Ada dua Menhir di sana. Satu di bagian Barat situs, satu lagi di bagian Timur. Menhir di bagian Timur ukurannya lebih kecil daripada yang ada di bagian Barat.
Bagja mengusap permukaan Menhir yang berdiri tangguh, tetapi jauh dari kata angkuh. Bagja teringat ucapan Abah Jumali sore tadi tentang cahaya merah redup yang keluar dari celah batu itu. Bagja mencoba mencari penjelasan rasional. Mungkin itu hanya pantulan lampu pekerja atau reaksi kimia dari mineral tanah. Namun, saat ia berdiri kurang dari setengah meter di depan, bulu kuduknya meremang.
“Ada yang 'bangun' di sana,” kata-kata Abah Jumali kembali terngiang.
Logika Bagja memberontak. Cahaya merah dari batu? Itu terdengar seperti dongeng pengantar tidur.
Malam semakin larut di Cipari, membawa bayangan dua puluh sapi Bagja yang mati. Bagja sudah berniat untuk pulang. Namun, saat dia melangkah menjauh batu tersebut, dia merasakan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan oleh rumus fisika mana pun. Udara di sekitar batu itu terasa lebih padat, lebih hangat, dan bergetar halus seolah-olah ada sebuah mesin raksasa yang sedang beroperasi jauh di bawah permukaan bumi.
Tanah di bawah kakinya bagaikan berdenyut mengikuti irama detak jantungnya sendiri. Cahaya merah redup yang diceritakan Abah Jumali kini benar-benar ada. Cahaya itu memancar dari dasar Menhir, membentuk jaring-jaring halus yang merayap di atas rumput.
Bagja kembali menatap lekat puncak Menhir. Batu itu tampak agung, permukaannya kasar dimakan zaman, tetapi memancarkan wibawa yang membuat Bagja merasa sangat kecil. Dia merasa ada hubungan antara batu di kandangnya dengan Menhir ini. Dua titik dalam sebuah jaringan energi purba yang selama ini dijaga oleh bapaknya.
Dengan napas terengah dan tangan yang gemetar, Bagja mengulurkan tangannya. Begitu telapak tangannya menyentuh permukaan Menhir yang dingin, sebuah ledakan sensoris menghantam kesadarannya. Dunia di sekitarnya mendadak sunyi. Suara jangkrik dan angin malam lenyap, digantikan oleh suara dengungan frekuensi rendah yang sangat dalam.
Bagja tidak lagi melihat Situs Cipari. Dalam penglihatannya yang tiba-tiba meluas, ia merasakan dirinya ditarik menembus lapisan tanah, melintasi samudra, dan terhubung dengan sebuah titik di belahan bumi lain. Ia merasakan aroma tanah yang berbeda. Lebih lembap, lebih liar, bercampur dengan bau kayu terbakar dan mesin-mesin besar yang sedang merusak hutan.
Melalui Menhir, Bagja merasakan “kegelisahan” bumi. Dia menyadari bahwa kematian sapi-sapinya bukanlah sekadar musibah medis, melainkan sebuah alarm. Menhir di Cipari sedang bereaksi terhadap sesuatu yang sedang terjadi jauh di luar sana yang mengusik keseimbangan pasak-pasak bumi.
Frekuensi itu merambat masuk melalui pori-pori kulitnya, menjalar ke tulang, dan beresonansi di dalam jiwanya. Bagja tersentak dan menarik tangannya dengan napas memburu. Dia terjatuh terduduk di atas tanah yang dingin, menatap tangannya sendiri yang kini terasa masih menyisakan sisa getaran dari batu tersebut.
Bagja kembali meletakkan telapak tangannya di permukaan Menhir. Di bawah telapak tangan Bagja, permukaan Menhir itu mulai memancarkan kehangatan yang tak wajar. Getaran frekuensi rendah yang tadinya hanya terasa di ujung jari, mulai merambat naik, menyusuri lengan, hingga berdegup tepat di ulu hatinya. Bagja memejamkan mata, dan saat itulah dunianya benar-benar terbalik.
Dia tidak lagi melihat kegelapan Situs Cipari. Dalam benaknya, muncul sebuah garis lurus yang bercahaya, membentang dari bawah kakinya, menembus dinding-dinding tanah dan berakhir tepat di puncak Menhir bagian Barat.
Garis itu tampak seperti kabel serat optik yang tertanam jauh di dalam tanah, menghubungkan Menhir Barat dengan Menhir Timur.
“Satu sirkuit ...” gumam Bagja tanpa sadar. Jika Menhir ini adalah antena utama, Menhir Timur mungkin saja adalah pemancar satelit kecil. Dan malam ini, entah karena apa, seseorang atau sesuatu telah menekan tombol 'ON'.
Tiba-tiba, getaran itu berubah menjadi suara. yang bergema langsung di dalam tengkoraknya. Itu adalah suara gesekan batu raksasa, suara aliran air bawah tanah yang menderu, dan suara lenguhan sisa sapi-sapinya yang masih hidup.
Cahaya merah yang tadinya tipis kini mulai mengental di sekitar dasar Menhir. Cahaya itu bukan lagi sekadar pantulan, melainkan denyut energi yang nyata. Bagja merasa jantungnya dipaksa untuk mengikuti ritme denyutan batu tersebut. Seluruh sel di tubuhnya sedang diselaraskan dengan frekuensi megalitikum ini.
Bagja merasakan sebuah tarikan yang sangat kuat ke arah bawah, ke perut bumi. Di sana, dia merasakan ada sesuatu yang sangat besar sedang menggeliat. Sesuatu yang terhubung dengan situs-situs serupa di tempat lain. Menhir ini hanyalah salah satu simpul dari jaringan yang jauh lebih luas.
Tanpa sadar, Bagja menggenggam sisi Menhir itu lebih erat. Air mata mengalir di pipinya bukan karena sedih, tapi karena tekanan energi yang luar biasa besar.
“A BAGJA!”
Suara teriakan Abah Jumali memecah keheningan malam dan seketika memutus koneksi tersebut. Bagja terlempar ke belakang, jatuh terjerembap di atas rumput. Napasnya tersengal-sengal, paru-parunya terasa seperti baru saja menghirup udara dari zaman yang berbeda.
Abah Jumali berlari mendekat dengan obor di tangan, wajahnya pucat pasi. “A, sadar A.” Abah Jumali menepuk-nepuk wajah Bagja.
***