Takdir Purba

INGATAN MENHIR

Bagja tersentak. Lalu menatap telapak tangannya. Ada bekas kemerahan yang membentuk pola garis-garis rumit, mirip dengan guratan yang ada di permukaan Menhir. Ia mendongak menatap Abah Jumali dengan pandangan kosong.

“Bah ... batu itu bicara,” bisik Bagja dengan suara parau.

Abah Jumali terdiam, dia membantu Bagja berdiri sambil menatap Menhir yang kini kembali menjadi batu bisu yang dingin.

“Ayo pulang, A.”

Bagja berjalan tertatih meninggalkan situs. Ada struktur lain di dunia ini yang tidak terbuat dari semen dan baja, dan Bagja baru saja menjadi bagian dari strukturnya.

***

Tanpa Bagja tahu, di belakangnya, Menhir sedikit bergeser dari posisi semula. Hanya nol koma nol sekian mili. Sentuhan tangan Bagja di tubuh Menhir menghidupkan energi yang selama ini diam.

Sempurna. Dua antena terhubung dengan sangat sempurna, gumam Menhir yang hanya bisa didengar oleh angin.

***

Menhir Barat merekam dua peristiwa yang baru saja terjadi dan menggulungnya dalam lipatan ingatan. Senyum puas terpancar di puncak tertinggi tubuhnya. Dua antena yang sudah dia tunggu selama lima abad, kini sudah terhubung sempurna. Tinggal menunggu waktu hingga mereka bertemu.  

Malam mulai menanggalkan jubahnya. Bagi orang Cipari, inilah saat yang tepat untuk bergelung nyaman di bawah selimut tebal. Ketika lelap sedang menyelimuti, Menhir mulai menggeliat. Tubuhnya menjejak tanah lebih dalam. Tanah bergetar dalam sekali entakan. Getarannya bermuara hingga Gunung Ciremai. Atap tertinggi tanah Pasundan seketika bergemuruh tanpa ada yang menyadari. Kabut pekat turun tiba-tiba.

Asap putih mengepul keluar dari tubuh Gunung Ciremai, perlahan memudar lalu berubah menjadi sosok seekor naga putih. Panjang tubuhnya bisa temu gelang memeluk Gunung Ciremai. Dialah Eyang Sigrawana. Penjaga Cipari yang bermukim di kesunyian Gunung Ciremai.

Sosok yang berhasil menyembunyikan keberadaan Menhir ketika sebuah peradaban baru yang menganggap Menhir adalah benda yang tabu untuk disembah datang dan mengubah kepercayaan masyarakat Cipari. Tanpa Eyang Sigrawana, Menhir yakin dirinya sudah hancur menjadi kepingan tak berarti.

Kepala naga putih atau Eyang Sigrawana perlahan turun dari puncak gunung menuju Cipari. Ekornya masih tertinggal di Gunung Ciremai, tetapi kepala Eyang Sigrawana sudah sampai di depan Menhir. 

“Eyang …” Menhir membungkuk hormat. Setelah Batara Giri, Eyang Sigrawana menjadi orang yang berjasa atas kelangsungan hidup Menhir. 

Eyang Sigrawana membalas ucapan Menhir dengan anggukan kepala.

“Kerja bagus, Menhir. Aku sudah menyaksikan semuanya. Kali ini, frekuensi menyatu sempurna.”

“Semuanya berkat Eyang. Saya hanya menjalankan tugas yang Eyang berikan.”

“Bukan aku yang memilihmu.”

“Tanpa restu Eyang, saya tidak mungkin sanggup mengemban tugas ini,” Menhir kembali membungkuk takzim.

“Kamu penjaga yang luar biasa. Tidak salah jika Batara Giri memberikan jiwanya ke dalam tubuhmu.” Eyang Sigrawana mengedarkan pandangan ke seluruh kampung.

“Cipari sudah sangat jauh dari jangkauanku. Sudah tidak ada lagi yang bisa membaca pertanda yang aku kirimkan tiap kali aku datang ke sini,” Eyang Sigrawana kembali menatap Menhir. “Kamu menjadi satu-satunya harapan untuk memanggil para penjaga.”

Menhir menunduk. Hatinya mengamini semua perkataan Eyang Sigrawana. Tidak ada lagi masyarakat Cipari yang bisa membaca tanda-tanda kedatangan Eyang Sigrawana. Gemuruh Gunung Ciremai teredam oleh lenguh ribuan sapi. Kabut pekat, dingin yang tiba-tiba menusuk, angin yang mendadak berhenti berembus, maupun malam yang seketika hening tanpa suara binatang, dianggap sebagai fenomena alam biasa.

Tak kurang dari setahun sekali, Eyang Sigrawana hadir untuk menjenguk keturunannya di Cipari. Hanya Menhir yang selalu siap menyambut kehadirannya. Ketika Covid-19 melanda, Eyang Sigrawana datang setiap purnama.     

Sayangnya—seperti yang dikatakan Eyang Sigrawana—masyarakat Cipari makin jauh dari jangkauan. Kemajuan teknologi membuat masyarakat terlena dan melupakan koneksi dengan alam.

“Tapi Eyang, saya belum tahu kapan dua penjaga itu akan terhubung secara langsung.”

“Bersabarlah. Batara Giri hanya memintamu untuk menyaksikan dan mengingat seluruh peristiwa. Begitu pula dengan Surawisesa yang membuatku menjadi penunggu abadi Gunung Ciremai. Meskipun Surawisesa pernah membuatmu terkubur, tetapi Surawisesa tidak pernah melenyapkan atau menghancurkanmu. Itu artinya, Surawisesa mengakui keberadaanmu.”

“Bagaimana kalau penyatuan dua penjaga ini gagal?”

“Menhir, kamu sudah menyimpan semua ingatan selama ribuan tahun. Kamu menunggu kelahiran penjaga hampir lima abad. Kenapa kamu pesimis?”

“Saya takut upaya ini akan gagal seperti sebelumnya.”

“Maksudmu Kinasih dan Sundari? Takdir purba tidak pernah memilih mereka. Dua perempuan itu bukan kegagalan. Mereka adalah gerbang masuk menuju keberhasilan. Jiwa Watu yang bersemayam abadi dalam tubuhmu, akan memanggil perempuan suci lain untuk memegang tongkat estafet melalui kelahiran para penjaga pilihan. Garis keturunan tidak boleh terputus, meski kita harus menunggu berabad-abad untuk mengembalikan kemurniannya.”

Menhir membuka gurat serat yang menyimpan ingatan tentang garis keturunan. Sejak meninggalnya Surawisesa, garis keturunan Batara Giri tidak pernah sepenuhnya dialiri darah Cipari. Selalu ada darah dari luar Cipari yang membuat frekuensi yang dimiliki Menhir tidak pernah terhubung sempurna. 

“Maaf, Eyang. Saya salah menafsirkan.”

“Kamu tidak salah. Hanya saja, kamu tidak boleh menyerah. Tugasmu sangat berat. Menyimpan ingatan selama ribuan tahun, adalah hal yang tidak bisa dilakukan oleh kami. Jiwa Watu bisa menyurup dalam tubuhmu, aku bisa meragak sukma menjadi naga putih, bahkan Batara Giri sendiri membagi jiwanya kepadamu, tapi kami tidak bisa menyimpan ingatan sebaik kamu. Batara Giri sudah memilihmu untuk menjadi bagian paling penting dalam simpul takdir purba ini.”

“Apa yang harus saya lakukan sekarang Eyang?”

“Tetaplah bertahan dan simpan semua ingatan,” Eyang Sigrawana memandang tajam tubuh Menhir. “Seratmu makin dalam.”

Menhir tidak menjawab. Dalam lima dekade terakhir, lebih banyak luka dan bencana yang dia simpan dalam ingatannya. Gurat luka selalu terasa lebih menyakitkan bagi tubuhnya. 

Tak lama, suara petir mulai terdengar. Tiga kali berturut-turut nyaris tanpa jeda. Air di Cisumur bergejolak. Mata airnya menyembur kencang.

“Sudah waktunya aku pulang.”

Muhun, Eyang.”

Menhir membungkuk. Tidak berani menatap langsung kepergian Eyang Sigrawana. Kabut pekat ikut lenyap seiring bayangan naga putih yang makin jauh. Udara mulai menghangat, angin melambai pelan, suara burung hantu pun kembali terdengar.

Setelah keadaan normal, Menhir kembali menegakkan tubuhnya. Sudah lama sekali Eyang Sigrawana tidak pernah menyebutkan nama Batara Giri. Malam ini, kehadiran Eyang Sigrawana menjadi pertanda peristiwa besar itu sudah di depan mata.

Menhir memeluk ingatan tentang Batara Giri lebih dari sekadar menjalankan tugas. Jiwa Batara Giri selalu hidup dalam dirinya. Jiwa itulah yang membuat Menhir Barat berbeda dengan kakaknya, Menhir Timur. Meski Menhir Timur menjadi penanda sebuah kelahiran, Batara Giri menitipkan jiwanya pada Menhir Barat yang menjadi penanda kematian.  

Menhir adalah saksi bisu yang tidak pernah benar-benar membisu. Dia telah berdiri di tanah Cipari, jauh sebelum manusia mengenal aksara untuk menuliskan kecemasan mereka.

***

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!