The Quest for The Lost Inheritors

Appendix

Sejarah masa penciptaan

Kisah dimulai di sebuah padang kosong penuh cahaya, di mana Yalla (Sang Pencipta) membangkitkan tujuh roh terpilih dari ribuan roh lainnya . Ketujuh roh ini diberi nama Shlikalla Naorma atau "Tujuh Kehidupan". Pada awalnya, mereka tidak mengenali diri mereka sendiri maupun tujuan keberadaan mereka, hingga Yalla memberikan mereka wujud fisik, sifat, dan kekuatan khusus.

Setiap roh diberikan wujud nyata dan atribut yang berbeda sesuai dengan warna cahaya yang merasuki mereka. Mereka dibagi menjadi dua kelompok: Fallana Andulé (Lima Penjaga) dan Launa Alläiya (Dua Pelindung).

  • Avinlár (Cahaya Biru): Sosok gagah dan bijaksana yang memiliki kejernihan dan kekekalan. Ia pergi ke dunia Élfarä melalui Gerbang Air.

Bangsa elf terlahir dari penciptaan Avinlár.

  • Gilardör (Cahaya Cokelat): Sosok yang membumi, penuh kasih sayang, dan menyukai kebahagiaan. Ia menuju dunia Scalyan melalui Gerbang Tanah.

Cikal bakal manusia terlahir dari keasihan pemilik dunia Scalyan ini. Gilardör juga dikenal sebagai Ísthván dengan dunianya yang disebut Stëvnŷa, oleh manusia-manusia setelah zaman ketiga.

  • Hardmenÿthal (Cahaya Abu-abu): Sosok bertubuh mungil namun sekuat baja, mengenakan baju zirah dan membawa kampak. Ia membangun dunia bernama Hardmenÿthal melalui Gerbang Batu.

Bangsa dwarf terlahir dari Hardmenÿthal.

  • Lundiër (Cahaya Merah/Api): Sosok dengan penampilan menyeramkan (bertanduk dan bertaring), tetapi memiliki hati yang setia. Ia menguasai elemen api dan menuju dunia Faineur melalui Gerbang Api. Yalla menjelaskan bahwa bentuknya yang berbeda memiliki tujuan khusus untuk saling melengkapi.

Bangsa api yang dikenal sebagai dëia atau shryh terlahir dari penciptaan Lundiër.

  • Girvám (Cahaya Hitam): Sosok misterius, bungkuk, dan tertutup jubah hitam yang mewakili kehampaan dan kematian. Ia bertugas menjaga jiwa-jiwa gelap di dunia Dörilag (Gerbang Hitam) . Meski tampak menakutkan, Yalla menyebutnya sebagai sosok yang paling bijaksana.

Bangsa orc, goblin, troll diciptakan oleh Girvám.

  • Tiamäl (Cahaya Perak): Salah satu Pelindung (Launa Alläiya). Ia memiliki jiwa yang bebas, bersih, dan penuh harapan. Ia menuju dunia Fárdan melalui Gerbang Perak.

Yang menciptakan beberapa bangsa penyihir dan hidup abadi, terakhir hanya menyisakan 9 dari bangsa Flirya.

  • Fiamäl (Cahaya Hijau): Pelindung lainnya yang membawa harpa. Ia memberikan ketenangan dan kebahagiaan melalui nyanyian. Ia menuju dunia Flardan melalui Gerbang Hijau.

Bangsa netral, dryad, nymph, centaur, diciptakan oleh Fiamäl.

Selain tujuh gerbang untuk masing-masing roh, terdapat gerbang kedelapan yang besar dan tertutup rapat. Yalla menjelaskan bahwa gerbang tersebut adalah "dunia perpaduan" (baik dan buruk, terang dan gelap) yang kelak akan dibangun bersama-sama oleh ketujuh roh tersebut.

Gerbang ini adalah menuju ke dunia Khâli.

 

Sejarah dunia Khâli

Para Shlikalla Naorma ini adalah pembangun dunia Khâli setelah tugas mereka menuntaskan membangun dunia masing-masing selesai. Dan atas perintah dari Yalla, mereka pun mengisi dunia Khâli (dunia kosong) dengan kehidupan para makhluk.

Para Shlikalla Naorma mengantar semua ras juga bangsa yang sudah terlahir di dunia mereka untuk hidup berdampingan di Khâli. Dimana kaum-kaum seperti elf, manusia, dwarf, dryad, nymph, centaur, imp, dëia, dan bangsa-bangsa gelap seperti orc, goblin, troll, adalah ras-ras yang terlahir dari Shlikalla Naorma. Namun, Tiamäl tidak membawa serta ras yang terlahir darinya karena ia sudah menciptakan 7 lapis dunia, dan alasan lain adalah ia tidak mau apabila kejadian seperti di Del’ Aver akan terjadi di dunia Khâli.

 

Para Len Arna

 

Len Arna awalnya adalah salah satu ras tingkat tinggi di Del’ Aver. Di negeri Del’ Aver, tingkatan ras dibagi atas lima, yaitu dari tingkat paling tinggi : Flirya, Harya, Kariya, Rafya dan Barlya.

Flirya adalah bangsa Del’ Aver yang dianugerahi keabadian, mereka akan hidup selama-lamanya apabila tidak terbunuh. Karena bangsa ini diberi keabadian, ada perasaan terancam yang dirasakan oleh bangsa-bangsa lainnya. Sebelum terjadi perang yang sangat besar di Del’ Aver, ada peperangan juga ribuan tahun pada ribuan tahun sebelumnya, di mana bangsa-bangsa lain memerangi bangsa Flirya.

Namun, setelah itu berakhir, kedamaian kembali di Del’ Aver. Dan ribuan tahun kemudian, bangsa Flirya menjadi bangsa dengan tingkatan paling tinggi di dunia Del’ Aver. Maka oleh sebab itulah, hanya sedikit sekali bangsa Flirya yang masih hidup dan sejak peperangan besar hanya menyisakan 9 orang dari bangsa Flirya.

Semua pemimpin dari ini Del’ Aver merupakan keturunan bangsa Flirya murni, yang selamat dari pembantaian di masa lampau. Karena mereka pula, Del’ Aver pun hancur dan tak menyisakan apapun.

*

Del’ Aver.

Sebuah negeri yang telah hancur ribuan tahun silam, negeri yang jauh dari Khâli, bahkan berbeda ruang dan waktu, dan tak pernah ada makhluk di Khâli mengetahui keberadaannya.

Dulu sekali, negeri itu begitu indah, semua makhluk hidup dalam damai juga penuh kasih sayang, tapi sejak peperangan terjadi (di sekitar tahun 8934, menurut perhitungan kalender Del’ Aver), semua berubah drastis. Hanya kematian, jeritan, tangisan dan penderitaan yang menjadi kehidupan di sana, bahkan siapa pun lebih memilih mati daripada harus hidup lebih lama.

Dan di puncak perang, tidak ada yang tersisa lagi. Del’ Aver menjadi sebuah dunia mati, yang hanya menyisakan sembilan orang dari pemimpin di wilayah tersebut.

Mereka ini adalah orang-orang yang sangat sakti, abadi dan memiliki kekuatan sihir. Dan karena mereka pula, peperangan pun tak terelakkan. Ini disebabkan karena mereka terlalu serakah, mereka merasa bahwa diri mereka masing-masinglah yang pantas memimpin seluruh negeri dalam satu kekuasaan absolut. Mereka pun tersadar akan kerusakan yang telah mereka lakukan, tetapi semua sudah terlambat.

Del’ Aver sudah menjadi dunia yang telah mati.

Karena Del’ Aver musnah, maka muncullah sang pemilik Del’ Aver yang sesungguhnya, bernama Tiamäl. Tiamäl menciptakan dunia bernama Fárdan, yang dibagi atas tujuh lapis dunia, Del’ Aver, Del’ Sivila, Del’ Traif, Del’ Fandren, Del’ Hata, Del’ Hanur dan terakhir adalah Fárdan, kerajaan sekaligus tempat tinggal Tiamäl.

Tiamäl memberikan kesempatan kepada sembilan orang pemimpin dari Del’ Aver ini untuk memulai hidup yang baru di dunia lainnya, tetapi para penduduk di dunia lain tidak menerima para pemimpin dari Del’ Aver ini, karena perbuatan dari mereka tidak termaafkan. Bahkan para ras Flirya lainnya, tak menerima mereka.

Akhirnya, Tiamäl memutuskan untuk membuang para pemimpin dari Del’ Aver dari dunia yang telah diciptakannya, ia memutuskan menghukum para pemimpin Del’ Aver dan menyerahkan mereka kepada Girvám, pemilik dari dunia kegelapan, yaitu dunia Dörilag.

Lalu, diantar oleh Tiamäl sendiri, ke gerbang menuju dunia di luar Fárdan, kesembilan sosok ini melakukan perjalanan jauh. Melalui Gerbang Perak, mereka berkelana mengarungi ruang dan waktu, dan tiba di tempat masa penciptaan para Shlikalla Naorma atau Tujuh Kehidupan.

Sayangnya, mereka tidak memasuki gerbang menuju dunia Dörilag, melainkan memasuki gerbang Air, hingga akhirnya mereka pun tiba di sebuah negeri cahaya, negeri hijau dan dipenuhi wewangian bunga yang segar, negeri yang abadi dan juga damai.

Nama negeri itu adalah Élfarä.

Dunia yang tidak terbagi atas berbagai lapisan, hanya satu dunia yang sangat luas, terbentang bebas, sangat indah dan juga nyaman. Di dunia tersebut, hidup bangsa yang berusia abadi dan berparas elok, bangsa berbudi dan penuh cinta, bahkan hari-hari mereka diisi dengan bernyanyi dan mengisi diri dengan ilmu-ilmu bermanfaat, bangsa ini pun sangat ramah.

Bangsa yang menyebut diri mereka sebagai elf.

Élfarä adalah dunia di mana para leluhur bangsa elf tinggal. Dan di tempat ini pula, pertama kali dilahirkan bangsa elf, lalu setelah itu, mereka pun pergi ke Khâli atas perintah dari Avinlár, untuk tumbuh dan berkembang di dunia tersebut, dan kembali pulang ke Élfarä, apabila waktu bagi mereka telah tiba.

Karena begitu terpukau oleh dunia itu, ditambah dengan penduduknya yang terlihat lemah, keserakahan pun timbul kembali di benak sembilan pemimpin dari Del’ Aver. Dengan kesaktian dan juga keabadian yang mereka miliki, mereka pun menciptakan lagi peperangan melawan para penghuni dari Élfarä. Tak ada yang dapat menandingi kekuatan pemimpin dari Del’ Aver, dan satu persatu dari wilayah Élfarä berjatuhan ke tangan mereka.

Sampai akhirnya, sembilan orang dari Del’ Aver tiba di wilayah terakhir yang belum mereka kuasai.

Wilayah tersebut bernama Nil’ Cyan, yaitu tempat di mana pemimpin tunggal dari dunia Élfarä tinggal. Penguasa ini memiliki kekuatan yang hebat, sangat sakti, ia pun dikenal sangat adil juga bijak. Hal ini membuat sembilan pemimpin dari Del’ Aver ingin menguji kehebatannya, hingga titik terakhir.

Dan hal tersebut memang terbukti. Para pemimpin dari Del’ Aver merasakan kepahitan. Bukannya memenangkan perang, tapi yang mereka dapatkan adalah kekalahan telak, oleh satu orang yang begitu hebat. Orang yang pantas mendapat kedudukan sebagai pemimpin Élfarä.

Dia bernama Avinlár.

Salah satu dari Shlikalla Naorma. Para Shlikalla Naorma takkan mungkin bisa dikalahkan oleh bangsa mana pun, kecuali oleh penciptanya sendiri, yaitu Yalla.

Begitulah kisah terakhir dari kekuasaan para pemimpin dari Del’ Aver di negeri para elf, Élfarä. Namun, Avinlár tidak sampai hati untuk mengusir bahkan membunuh mereka, meski pun Tiamäl meminta Avinlár untuk menyerahkan ke-9 pemimpin dari Del’ Aver ini dan membuangnya ke dunia milik Girvám.

Karena, Avinlár tahu betapa hening, gelap dan penuh keputusasaan, dunia yang diciptakan oleh Girvám, ia mengeri bahwa para pemimpin dari Del’ Aver memang harus mendapatkan hukuman setimpal, tapi tak seberat itu, hingga harus dibuang ke Dörilag.

Maka Avinlár pun membuat keputusan yang amat bijak, dia membujuk Tiamäl agar para pemimpin dari Del’ Aver tinggal di Élfarä bersamanya. Atas segala perbuatan jahat yang mereka lakukan, hukuman tersebut diserahkan sepenuhnya pada Avinlár sendiri, dan Tiamäl akhirnya menyetujui usul Avinlár.

Dengan kebaikan dan kedamaian yang senantiasa di hatinya, Avinlár membuat perubahan. Para pemimpin yang datang dari Del’ Aver itu dibuang sifat-sifat jahatnya, dan Avinlár merubah mereka menjadi pribadi yang baru.

Mereka terlahir kembali menjadi Len Arna atau Sembilan Warna.

Len Arna kini menjadi tangan kanan Avinlár. Namun, sebelum mereka bisa dapat menjadi tangan kanan Avinlár, mereka harus menjalani hukuman. Akhirnya, para Len Arna ditugaskan untuk membangun apa-apa yang hilang warnanya untuk berwarna kembali.

Tugas pertama mereka adalah memperbaharui lagi kerusakan yang pernah mereka timbulkan di Élfarä. Lalu setelah itu, mereka harus memberi warna-warna baru di dunia bernama Khâli. Maka jika semua telah selesai, mereka diperbolehkan untuk kembali ke Élfarä, dan hidup tenang di dalam keabadian kekal.

 

Ilandel.

Ilandel, penguasa Nen Cara di Barat Del’ Aver, pada masanya. Ratu yang sangat cantik, dengan rambut ungu kemerahan, bermahkota kristal berbentuk angsa bertabur permata, ia tinggi tegap, mempunyai ilmu sihir tinggi berasal dari api, dan hidup abadi karena merupakan turunan Flirya, yaitu ras tingkat tinggi dari Del’ Aver yang sudah hampir punah keberadaannya.

Karena keabadiannya, Ilandel menjadi ratu congkak, bengis dan dipenuhi amarah. Bahkan ia memutuskan untuk menjadi satu-satunya yang paling tunggal, hingga ia pun terlibat di dalam peperangan besar di Del’ Aver, negerinya yang kini sudah tidak ada lagi.

Namun, sekarang dia telah berubah setelah disucikan kembali oleh Avinlár. Ilandel bukan lagi ratu keji dari Nen Cara di Del’ Aver.  Kini ia disebut sebagai Fel’ Caran, Sang Merah.

Pembangun api suci, pemberi kehangatan, yang memberi ulasan merah ketika matahari terbenam dan memberi sapuan merah ketika musim gugur datang.

Drúedel.

Drúedel, raja Nen Maiya di Timur Del’ Aver, yang juga keturunan dari bangsa Flirya murni. Dia adalah raja yang sangat tampan, tegap, gagah dengan rambut kuning keemasan yang bergelombang. Dia adalah seorang raja, suami dan ayah yang bijak. Namun, semenjak peperangan pecah yang dimulai di daerah Barat, ia pun berubah.

Karena takut akan kehilangan segalanya, Drúedel pun ikut terlibat di dalam peperangan, dan semakin lama, ia menjadi haus akan kekuasaan. Istri dan lima keturunannya menjadi korban perang, dan itulah yang menyadarkan Drúedel untuk menghentikan peperangan, meski ia tahu semua sudah terlambat. Namun, semua itu adalah kisah masa lalu Drúedel yang kelam. Kini dia terlahir menjadi sosok yang baru, seseorang yang dinamai Fel’ Malliná, Sang Kuning.

Dan untuk mengenang segala kenangan akan keluarganya, Drúedel pun memberikan warna ceria, sebagaimana hari-hari yang pernah dilaluinya dulu bersama keluarga. Ia menyapukan warna kuning cerah di langit ketika matahari muncul di ufuk Timur, ia memoleskan warna pada dedaunan ketika musim gugur tiba dan ia mengulaskan warna ceria ketika musim semi tiba.

Teman yang selalu menemaninya ketika ia melakukan tugasnya adalah Rináel. Sahabat terbaiknya di masa lampau dulu, saat dia masih di Del’ Aver.

Rináel.

Rináel, raja dari Nen Aruf di Tenggara Del’ Aver. Dari semua penguasa di Del’ Aver, mungkin dialah yang paling sombong, karena dia merasa bahwa ia memiliki sekutu kuat ketika masa peperangan pecah. Sekutunya adalah Drúedel, yaitu saudara sepupunya yang menguasai wilayah Timur, yaitu Nen Maiya. Karena keserakahan, ia dibantu Drúedel, mulai memerangi wilayah lain dan sampai pada akhirnya, karena semua penguasa wilayah sama-sama kuat, Rináel pun berputar arah, ia mulai memerangi saudara sepupunya sendiri karena takut bahwa Drúedel akan menguasai wilayahnya. Namun, kini Rináel hanya dikenal sebagai Fel’ Malden; Sang Emas. Yang memberikan kekuatan kepada siapa-siapa yang berhati mulia dan gagah berani.

Dalam melakukan tugas-tugas yang diperintahkan oleh Avinlár, dia bekerja sama dengan Drúedel, seperti di masa lampau.

Arionel.

Arionel, si penguasa lautan dan wilayah dinamakan Nen Lao, yang terletak di Barat Laut Del’ Aver. Ia seorang raja yang begitu cerdas, pengetahuannya luas dan ia begitu hebat dalam menyusun strategi peperangan terlebih dalam perang di lautan. Arionel mempunyai armada yang kuat ditambah lagi, orang-orang dari Nen Lao sangat loyal dan pantang menyerah. Arionel terkesan sangat tenang dalam menghadapi situasi apapun, namun di balik ketenangannya itu ada jiwa yang kejam dan kelam. Arionel sama sekali tidak segan membunuh rakyat tak berdosa, bahkan anak kecil sekalipun, selama itu dapat mencapai tujuan terbesarnya, yaitu menjadi seorang penguasa tunggal di Del’ Aver.

Siapapun di Del’ Aver yang (apabila masih hidup) mendengar namanya, akan bergidik ketakutan. Namun kisah kelam Raja ke-38 dari Nen Lao itu telah menjadi legenda terlupakan, seperti lautan yang menyapu daratan. Kini ia disebut sebagai Fel’ Lwin, Sang Biru.

Sebagai tangan kanan Avinlár, tugasnya adalah menciptakan warna biru tenang dan damai. Memberikan gelombang indah pada lautan, menyapu kebiruan di langit yang cerah tanpa awan hitam. Dan untuk menghapus rasa sepinya, Avinlár mengutus seorang sahabat untuk menemaninya, Shee’aluya. Shee’aluya adalah sosok peri air, yang tubuhnya sangat kecil sebesar telapak tangan. Berdua dengan Shee’aluya, Arionel memberikan warna biru di dunia.

Éraiel.

Éraiel adalah seorang putri keturunan terakhir dari penguasa wilayah Nen Qual di Barat Daya Del’ Aver. Setelah ayah dan semua keluarganya tewas di dalam peperangan terbuka di wilayah terluar Nen Qual, Éraiel yang memimpin kerajaannya. Dia merupakan satu-satunya keturunan bangsa Flirya murni dari Nen Qual yang masih hidup. Dan karena dendamnya kepada pemimpin-pemimpin dari wilayah di luar Nen Qual, perangai Éraiel yang begitu cinta damai dan berhati suci, berubah menjadi pendendam dan menginginkan kematian bagi semua yang telah membunuh seluruh anggota keluarganya.

Namun, setelah dipertemukan dan disucikan kembali oleh Avinlár, Éraiel pun kembali menjadi seorang putri yang bijaksana, berhati suci, mencintai damai dan wajah keruhnya berubah menjadi lebih bersinar dengan kecantikan tiada tara.

Ia bernama Fel’ Cebél, Sang Perak.

Dan Avinlár pun menamai Éraiel dengan nama lain, yaitu En’ Metta, atau yang disebut sebagai Si Pelengkap. Karena dari seluruh warna di dunia, Éraiel memberi warna pelengkap, agar semuanya terlihat lebih indah. Gua-gua gelap, ia lengkapi dengan bebatuan yang berwarna keperakan, menemani bebatuan yang telah berwarna keemasan yang diciptakan oleh Rináel. Air yang biru jernih ditempa cahaya perak agar lebih bersinar ketika matahari menerpanya, dan begitu banyak warna lain yang dilengkapi oleh Éraiel.

Karnidél.

Karnidél, keturunan Flirya dari wilayah Nen Orn di Timur Laut Del’ Aver. Karnidél sendiri bukanlah keturunan langsung penguasa dari Nen Orn, tapi dia adalah putra dari adik lelaki penguasa Nen Orn, bernama Bartalla, yang tewas di peperangan. Dan karena tak ada lagi keturunan dari Bartalla yang masih hidup, maka Karnidél diangkat menjadi penguasa Nen Orn. Tapi kini Nen Orn pun sudah musnah dan Karnidél sudah tak lagi mengemban kedudukan sebagai seorang pemimpin. Semenjak menginjakkan kakinya di Élfarä, ia bernama Fel’ Calben, Sang Hijau. Tapi ia pun diberikan julukan lain oleh Avinlár, yaitu En’Ala, atau Si Penumbuh.

Karena warna yang disapukannya, tumbuhan hijau hidup subur, tanah-tanah lebih segar, binatang-binatang dapat hidup dengan nyaman, dan daratan-daratan muncul ke permukaan. Dari ke-9 Len Arna lainnya, tugas Karnidél adalah yang paling terberat, oleh karena itu Avinlár memberikannya teman untuk meringankan beban Karnidél, yaitu dua sahabat yang senantiasa menemani Karnidel. Laktá dan Tartá, yaitu dua ekor burung rajawali raksasa.

Luinyel.

Luinyel, ratu penguasa Nen Daga sekaligus penyihir sakti dari wilayah Selatan Del’ Aver. Dia bermulut manis, kata-katanya indah dan banyak sekali orang-orang yang terperangkap di belenggu sihir hipnotisnya, hingga mereka terjebak di dalam kematian perlahan-lahan. Mungkin, Luinyel adalah ratu yang paling kejam, sangat licik dibandingkan penguasa Del’ Aver lainnya, karena ia berani mempermainkan hidup orang lain di dalam khayalan yang diciptakan olehnya.

Namun, Luinyel takkan lagi membuat tipuan sejahat itu. Kini ia mengabdi pada kebaikan dan menebarkan bisikan kepada jiwa-jiwa makhluk hidup untuk memilih jalur kebaikan, agar hati mereka tetap bersih seputih salju yang jatuh dari langit.

Maka oleh itu, sekarang Luinyel dikenal sebagai Fel’ Nín, Sang Putih.

Berbeda dengan para Len Arna lainnya, Luinyel lebih banyak berhubungan dengan makhluk hidup lain meski yang ia lakukan adalah memberi mereka titik-titik warna putih dan bisikan-bisikan kebaikan. Oleh sebab itu, agar apa yang dilakukan Luinyel seimbang dengan jalannya roda kehidupan, Avinlár memerintahkan Granédel untuk menyeimbangkan tugas Luinyel.

Granédel.

Granédel, putra terakhir dari tiga bersaudara keturunan dari penguasa Nen Afish di Utara Del’ Aver. Ada kisah yang sangat menarik mengenai dirinya.

Granédel dan ayahnya, Valendel, tewas di peperangan. Karena rasa kasih sayang yang amat sangat, kedua saudaranya, Grainwel dan Gragel dengan ilmu sihir tingkat tinggi mengorbankan nyawa mereka dan membangkitkan kembali Granédel yang tewas. Dan sebagai keturunan terakhir, akhirnya Granédel menjadi raja dari Nen Afish, menggantikan posisi sang ayah.

Granédel adalah satu-satunya Flirya yang pernah kembali dari kematian. Oleh sebab itulah, ia bisa melihat kapan kematian akan menjemput seseorang, ia tahu seperti apa hidup di dunia gelap gulita, bahkan ia menjadi sang kegelapan itu sendiri, hingga jiwanya menjadi kelam.

Dan atas itulah, Avinlár menamainya Fel’ Morn, Sang Hitam.

Meski Granédel telah disucikan kembali, tapi karena ia pernah dibangkitkan dari kematian, ada setitik kegelapan yang terus menghantuinya. Avinlár tak memiliki kemampuan tuk mengusir gelap dari hati Granédel, meski ia berubah menjadi sosok yang baik. Maka, untuk mengawasi sekaligus menghilangkan rasa kesepian Granédel, Avinlár menunjuk Luinyel agar senantiasa menemani Granédel.

Tugas Granédel sendiri adalah, membisiki makhluk-makhluk hidup tuk jatuh ke dalam perangkap kegelapan dan kejahatan, di mana sosok Luinyel yang senantiasa menemani, mengimbangi Granédel dengan memberikan pencerahan.

Iroaél.

Iroaél, penyihir misterius sekaligus penguasa dari Nen Wial di wilayah Tengah Del’ Aver. Saat peperangan berlangsung bertahun-tahun, Iroaél sama sekali tak terlibat dalam perang. Tapi, ketika semua penguasa dari berbagai wilayah di Del’ Aver mencapai daerah kekuasaannya, Iroaél melakukan satu tindakan yang sangat fatal. Dan tindakannya ini, yang menyebabkan kehidupan di Del’ Aver yang awalnya sudah kacau balau, menjadi benar-benar hancur total.

Dengan sihirnya, Iroaél menciptakan pembunuhan massal. Dari tumbuhan, binatang, bahkan penduduk di Del’ Aver, tewas karena sihir hebatnya. Kecuali para penguasa dari masing-masing wilayah yang memiliki sihir seimbang. Dan atas ini, peperangan pun berakhir di Del’ Aver.

Iroaél disebut-sebut sebagai Sang Penghancur pada masa itu. Bahkan, dirinya dikutuk oleh pencipta dunia Del Aver, yaitu Tiamäl. Ironisnya, Iroaél adalah kaum Flirya yang bisa berhubungan langsung dengan Tiamäl dan dipercaya untuk menjaga Del’Aver, tapi Iroaél’lah yang berani menghancurkannya. Namun kini, ia disebut sebagai Fel’ Meth, Sang Abu-abu.

Ia diberikan nama itu oleh Avinlár karena apa yang pernah dilakukannya di masa lalu. Tidak ada yang bisa dibenarkan lagi atas apa yang dirusak oleh Iroaél, maka untuk menjalani hukuman, Iroaél hanya diberi tugas untuk mengawasi Gerbang Air. Ia pun diberi anugerah untuk melihat masa depan dan masa lalu, namun tak boleh sedikit pun ia mengatakan apa yang telah dilihatnya kepada orang lain kecuali kepada para Len Arna.

Kekuatan Iroaél berasal dari angin, karena angin tidak memiliki warna, sesuai dengan hati Iroaél yang tanpa warna. Ia tidak berpihak pada kebaikan, maupun kejahatan, ia tidak berpihak pada yang benar atau pada yang salah. Yang bisa dia lakukan hanyalah mengawasi jalannya kehidupan. Ia akan mendapatkan kembali warna hatinya, setelah pintu Gerbang Air kembali terbuka dan menerimanya untuk pulang ke Élfarä.

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!