The Quest for The Lost Inheritors
Dëia, Bangsa Darah
Ujung gaun warna hitam berkilaunya dipenuhi bercak lumpur coklat dan entah berapa banyak tumpahan darah yang ikut menodai gaunnya, tetapi warna merah tertutup oleh warna gelap, sekelam hatinya yang dingin dan tak berperasaan.
“Apa yang kita dapatkan di sini?” gumamnya, senang tetapi terdengar gusar. Tangannya yang berwarna kemerahan dan halus, mencengkram kasar rambut seorang wanita elf, mendekatkan raut kejinya dengan wajah si elf yang hampir-hampir mati.
“Dia cantik, Nihlá,” ujar seseorang di belakangnya. Memerhatikan.
“Kau tahu, kecantikan takkan membuatnya tetap hidup. Dan aku tak tertarik menanggapi leluconmu.” Nihlá melepas elf itu, menghempaskannya ke tanah, dengan dingin menginjak tubuh rampingnya dan berjalan meninggalkan sosok lelaki dëia itu.
Dia hanya tertawa keras tanpa beban, mendapati sikap sinis dan kemarahan dari Nihlá. Setelah kepergian dari wanita bangsa dëia tersebut, ia menghampiri si wanita elf. Senyumnya mengembang, meski tampak keji terlihat jelas dari taring runcing di antara sela-sela bibirnya.
Dia adalah Gôntra Järfirr.
Adik kandung Nihlá, putra ketiga dari Yédha Järfirr dan Fúrain Wedherré, salah satu dari kaum yang paling tertinggi di bangsa dëia, kaum Badzék. Gôntra sendiri adalah panglima ke-4 dari tujuh panglima elit perang yang dipimpin dan diangkat oleh raja mereka, Kóle Alángdar. Kóle yang merupakan suami Nihlá, kakaknya.
Mungkin karena kekuasaan dan pengaruh yang membelakangi punggungnya sangat besar, Gôntra lebih banyak bermain-main dalam melakukan banyak hal. Ia kurang berdedikasi tinggi seperti panglima lain. Gôntra lebih suka bersenang-senang. Dan kali ini, korban permainannya adalah wanita elf yang malang.
“Siapa namamu?” tanya Gôntra, yang duduk di atas kedua lututnya, seraya menyentuh surai-surai rambut elf yang masih tersadar itu. “Di saat kematian akan merenggutmu pun, kau masih begitu cantik. Sayang, nasibmu sungguh buruk ….”
“Biarkan aku mati,” rintih wanita elf itu, begitu lirih bisikannya.
“Seharusnya dalam saat-saat seperti ini, kau akan memohon padaku untuk tetap dibiarkan hidup,” ujar Gôntra, tidak mengindahkan keinginan terakhir dari si wanita elf.
Entah kekuatan apa yang mendatangi elf tersebut, mendadak ia mendongakkan kepalanya dan menatap tajam pada Gôntra. “Kau ….” Elf itu geram, ia menggigit bibir bawahnya. Lalu ia melanjutkan, “Untuk apa aku hidup? Aku sudah mati sejak tempat ini ditelan api kalian!!”
Gôntra tertawa. Tawanya disebabkan oleh dua hal. Pertama, elf itu bisa mengumpatnya di saat kematian menghampiri. Kedua, elf itu masih memiliki kekuatan untuk bicara panjang lebar.
“Semangat yang bagus,” puji Gôntra, sinis. Ia meraih bahu elf itu dan mendekatkan wajahnya, lalu berkata, “Aku menyukaimu dan sepertinya kau takkan mati hari ini, wanita cantik.”
Nihlá yang berada tak jauh dari adiknya, hanya melihat Gôntra memanggul wanita elf yang seharusnya ia bunuh. Dengan kesal, Nihlá menusukkan pedang panjangnya ke tubuh elf yang terbaring tepat di sampingnya. Kekesalannya pada Gôntra sedikit terobati, ketika kedua tangannya merasakan robekan tulang dan erangan yang mendadak putus.
Sementara itu, di sisi lain Kota Lamvorels yang telah hancur…
Kóle menatap ke arah pepohonan kering, hangus dan hitam, yang kini menjadi pemandangan mengerikan di Lamvorels. Dan selama lebih dari dua minggu ia dan bangsanya menguasai kota yang dulunya kota milik para elf, bau mayat terbakar masih dirasakan olehnya. Sedikit muak, perasaan Kóle, akan tetapi itu setimpal, kini ia menjadi penguasa dan tak terkalahkan. Dendamnya mulai terbalaskan.
Namun, kemenangan belum mutlak.
Banyak elf yang lolos memasuki wilayah pegunungan Pílghym, dan menembus pertahanan bangsa kurcaci bukanlah hal yang enteng. Secara gegabah pasukannya menyerang wilayah kekuasaan kurcaci—karena berpikir mereka cukup mudah untuk dikalahkan seperti bangsa elf, dan akibatnya, banyak dari pasukan Kóle tewas sia-sia.
Namun, yang membuat Kóle geram adalah kematian pasukan dëia di bagian barat hutan, tak jauh dari sungai Neverending. Mereka ditemukan dua hari setelah serangan di Lamvorels. Anehnya, mereka tewas tanpa luka sedikit pun.
Yang ada hanya genangan air dan lumpur di sekitar pasukan yang tewas tersebut. Kóle tahu, tidak banyak elf yang tertarik mempelajari ilmu sihir, oleh karena itulah, agak janggal jika ada elf bisa mengeluarkan energi yang bisa membunuh banyak bangsa dëia, tanpa membuat korbannya terluka pada dagingnya. Kaum centaur yang dikenal ahli sihir pun, tak mungkin memiliki kekuatan sebesar itu. Jadi siapa pun—diduga elf—yang membunuh mereka, Kóle yakin ia bukanlah sembarang elf.
Tiba-tiba, ia teringat akan peristiwa kedatangan dua dari Len Arna, 450 tahun yang lalu. Mungkinkah, ia yang ditakdirkan untuk menjadi lawanku? pikir Kóle. Ya, itu mungkin.
“Yol arto baf foig’haj, no Kóle? (Apa yang kau pikirkan, Kóle’ku)”
Dua tangan memeluk pinggang Kóle. Rasa nyaman menjalari perasaan raja dari bangsa dëia itu. Ia membalikkan tubuhnya dan mendapati Nihlá yang kini menatapnya dengan tatapan mata khas—tajam tetapi teduh, yang kini menunjukkan raut tak senang.
“Ada apa?” tanya Kóle. “Kenapa akhir-akhir ini wajahmu muram?” lanjut Kóle.
Nihlá mengembuskan napas berat. “Aku sudah kehilangan kesabaran pada Gôntra. Dia membiarkan elf itu hidup! Bahkan dia merawatnya seolah-olah elf itu adalah teman atau entah peliharaan barunya! Aku kesal. Bisakah kau melakukan sesuatu, Kóle?” rajuk Nihlá. “Meskipun Gôntra adikku, tetapi ia tetap harus mengendalikan kelakuannya. Ia pasti akan menurut padamu.”
“Akan kulakukan, Nihlá, tetapi tidak sekarang.”
“Jozarré … (Terima kasih.)”
“Jozéla ….”
*
Gôntra menyenangi kebiasaan barunya dengan berbicara kepada wanita elf yang ia biarkan hidup, akan tetapi sebenarnya lebih banyak bicara sendirian karena si elf sama sekali tidak mengindahkan perkataan Gôntra. Tidak seperti kebanyakan bangsa dëia lain, Gôntra memiliki tingkat kesabaran tinggi. Bukannya membunuh elf itu karena membuat kesal dengan kebisuannya, yang dilakukan oleh Gôntra adalah terus mengajaknya bicara.
Dia menceritakan tentang malam aneh di mana cahaya biru datang, 450 tahun yang lalu, dan Kóle mendapatkan kekuatan api yang sangat luar biasa, bahkan seluruh bangsa dëia pun merasakan energi api yang jauh lebih kuat di dalam tubuh mereka.
Gôntra juga menceritakan, setelah mendapat kekuatan hebat tersebut, mereka melakukan perjalanan ke daerah barat laut, ke Trâg, kota nymph air di wilayah utara. Mereka melenyapkan bangsa itu dengan mudah, dan membiarkan bangsa manusia yang tinggal tak jauh dari sana tetap hidup.
“Kóle memiliki rencana besar terhadap mereka,” ujar Gôntra. “Entah rencana apa, karena setelah peperangan berlalu di sana, ia tak mau mengatakan padaku.”
Dan banyak cerita yang dipaparkan Gôntra, termasuk rencana mereka untuk menyerang kota para elf, Lamvorels; kota para kurcaci, Pílghym; lalu seluruh dunia Khali.
“Kami hanya ingin diakui oleh dunia yang mengabaikan kami,” kata Gôntra.
Ia pun menatap si elf yang duduk di pojok ruangan setengah hancur, dengan kedua kaki terikat rantai besi. Wanita itu selalu menunduk. Sama sekali tidak mengeluarkan suaranya lagi. Bahkan dia tak menyentuh makanannya, meski Gôntra sediakan. Ia hanya minum air. Tidak lebih dari itu.
“Dan setelah semua terjadi, aku yakin setiap bangsa akan mengakui keberadaan dëia,” lanjut Gôntra.
Si wanita elf kemudian menatap pada Gôntra, hal yang tak pernah dilakukan olehnya selama dalam tahanan panglima dëia itu. Ia tersenyum, meski terlihat mencemooh.
“Takkan pernah ada pengakuan dari bangsa lain karena semua akan musnah di tangan kalian,” ujarnya, pelan dan menusuk. “Apa yang kalian lakukan akan berakhir sia-sia.”
Gôntra terkekeh. “Kurasa kau tak sepenuhnya salah,” timpalnya, enteng. “Tetapi setidaknya aku cukup senang mendapati kau mau berbicara padaku.”
Si elf tampak geram, tetapi ia tak mengatakan apa-apa, seolah dirinya lelah dengan tingkah acuh tak acuh Gôntra. Dan keduanya sama-sama diam. Yang terdengar hanyalah samar-samar suara denting besi dan teriakan-teriakan di sana-sini.
Siang itu bangsa dëia sibuk dengan persiapan perang yang akan mereka lakukan tidak lama lagi. Bahkan sudah sejak lama mereka selalu sibuk, karena ingin membalaskan dendam ribuan tahun.
“Siapa namamu?” tanya Gôntra, setelah beberapa saat suasana hening berada di antara keduanya. Si elf diam. “Apa bangsa elf sudah kehilangan kehalusan budi juga kesantunan mereka, bahkan nama pun tak mau diberitahukan?” tanyanya lagi.
Dan wanita itu masih bungkam.
“Aku tak pernah menyakitimu, bukan? Dan kurasa hanya mengatakan nama, takkan menyakitkan untukmu.” Gôntra berdiri, beranjak untuk meninggalkan elf itu yang kembali pada posisi semulanya, menunduk dan menutup diri dari semua yang ada di sekitarnya.
“Ninye.” Ia mendongakkan wajahnya dan memandang Gôntra. “Namaku Ninye Firélian.”
Panglima ke-4 dari bangsa dëia itu tersenyum puas. Pada akhirnya ia bisa memasuki pertahanan batin yang hebat dari elf itu. “Senang berkenalan denganmu, Ninye Firélian,” sambut Gôntra. “Kuharap bukan hanya itu saja yang akan kau katakan padaku, kelak.”
Lalu sosok Gôntra pun menghilang di balik dinding. Sepeninggal Gôntra, Ninye mulai berpikir bahwa tindakannya sangat bodoh, dengan bersikap lunak kepada bangsa yang telah menghancurkan hidup dan masa depannya. Dengan gusar dia menghantamkan kepalan tangannya ke lantai.
Marah, kesal, benci, sakit hati dan bertanya-tanya mengapa ia mendapatkan nasib buruk dengan dibiarkan hidup sendirian sebagai tahanan, memenuhi benak yang mulai runtuh keyakinannya. Ia mulai teringat pada orang yang begitu dikasihinya.
“Aldérin ...” bisik Ninye. “Tar enwera, Aldérin? Nu ish-renfarn-ar … (Kau di mana, Aldérin… aku membutuhkanmu)”
Air mata mulai membasahi pipinya. Di dalam ruangan gelap, kotor, dan keheningan yang menyelimuti, Ninye pun menangis tersedu-sedu. Ia putus asa.
*
Yähgé mendengarkan keluhan Kóle tanpa memotongnya sedikit pun, ia hanya duduk dan sebelah tangannya menopang dagu pada lengan kursi. Kadang sesekali ia mendorong helaian rambut hitam yang menutupi wajahnya ke balik punggung. Yähgé tampak santai, seolah-olah tak peduli dengan apa yang didengarnya.
Namun, memang selalu begitu yang ditunjukkan oleh rautnya. Yähgé memang tak terlihat bengis atau menakutkan.
Kulitnya lebih cerah dibandingkan Kóle, matanya tidak menatap secara tajam, bahkan seolah kosong dan amat sayu. Bibirnya tipis, dipulas warna hitam gemerlap; dua alis melengkung ke bawah tampak mengiba; akan tetapi yang paling menarik adalah bola matanya yang berwarna ungu gelap. Warna bola mata, yang tak satu pun dari dëia, memilikinya.
“Sudah kuduga Gôntra takkan mengindahkan perkataanku,” keluh Kóle.
“Baik kakak maupun adiknya, keduanya hanya sumber masalah, Kóle,” timpal Yähgé. Mendapati pandangan mata Kóle tertuju padanya dengan geram, Yähgé pun meneruskan, “Dengarkan … selama ini Nihlá selalu merasa terganggu dengan tingkah Gôntra, dan kau yang harus menanganinya. Tetapi di sisi lain, Nihlá tak menerima jika kau terlalu kasar pada Gôntra. Menurutku, Kóle, jika seperti itu, kenapa bukan Nihlá saja yang menyelesaikannya sendiri?
Sang kakak hanya terdiam, mendengarkan dengan saksama.
“Nihlá adalah ratu. Jika begitu sulit untuk mengendalikan adiknya, masih pantaskah ia menyandang perannya itu? Sudah dari awal kukatakan padamu, Kóle, meskipun ia terlahir dari klan cukup tinggi, Nihlá kurang pantas untukmu.” Yähgé menatap Kóle tanpa merasa bersalah.
“Tetapi ia adalah ratu, dan kau seharusnya menghormati istriku.”
Yähgé terkekeh. “Jangan membutakan dirimu sendiri. Lama kelamaan, keberadaan mahkotamu akan terancam,” ujarnya. “Ingat, Kóle. Jika kau pun tak bisa bertindak tegas pada Gôntra, kelak, tak hanya aku saja yang berpikir bahwa kau tak layak menjadi raja.”
Setelah mengatakan apa yang ada di dalam pikirannya pada Kóle, Yähgé pun beranjak dari duduk. Ia merasa bahwa percakapannya dengan Kóle sebaiknya diakhiri, karena ia akan melakukan sesuatu yang jauh lebih hebat dari apa yang bisa dilakukan oleh Kóle.
“Serahkan masalah Gôntra padaku,” kata Yähgé, ia memandang Kóle dengan tatapan yang sulit diartikan. “Aku takkan melakukan sesuatu yang akan membuat ratuku gusar.”
Kóle menatap adik satu-satunya agak khawatir. “Jangan membuat masalah baru.”
“Oh, dengan senang hati …. Hör aghzá élgar, Jal (Dengan senang hati, Kak).”
Yähgé memberikan senyum yang aneh, senyum yang membuat Kóle sebagai seorang raja dengan kekuatan dashyat dibuat merinding. Lalu sosok Yähgé pun keluar dari ruangan yang dulunya adalah ruangan milik Tylosae, elf penguasa kota Lamvorels. Pikiran Kóle tidak lekas menjadi lebih tenang setelah menceritakan apa yang menjadi masalahnya kepada Yähgé, melainkan semakin buruk.