The Quest for The Lost Inheritors

Reruntuhan Éba

Dibutuhkan waktu lebih dari dua minggu bagi Aldérin dan Findarel melakukan perjalanan memutar ke arah barat, lalu setelah itu ke utara melalui daratan, bukit-bukit kecil dan sungai. Mereka tak mau mengambil resiko menyusuri hutan Elethäs, meski jalan tersebut sudah dikenali dengan baik oleh Aldérin. Karena bisa saja bangsa dëia telah menguasai hutan.

Jalan terbaik adalah sedikit melenceng ke barat, lalu meneruskan ke utara, hingga mencapai padang savana dan hutan Edtlër, setelah itu mengikuti petunjuk di peta menuju batu Ratera.

Dan tepat di hari ke-19 semenjak meninggalkan Kota Lamvorels, Aldérin dan Findarel telah melewati danau Crath dengan mengayuh rakit buatan seadanya dan sampai ke sisi utara dari danau, di mana terusannya adalah daratan dengan sedikit pepohonan. Setelah berjalan kurang lebih jarak 4000 kaki, mereka sampai di kawasan reruntuhan bangunan.

Reruntuhan yang dikenali oleh Aldérin—lebih dari 500 tahun yang lalu ketika ia melakukan perjalanan sebagai seorang elvin, dinamakan Éba.

Éba adalah semacam perpustakaan. Kebanyakan manusia pada masa Aldérin berkelana, sering mengunjungi Éba dan menyimpan berbagai bentuk sejarah ke sana, manusia-manusia ini disebut wéa, sang pencatat.

Para manusia ini menulis di atas banyak lembaran perkamen; mengukir pada batu; atau melukis di atas kanvas kulit yang telah disamak; dan menceritakan apa saja yang menurut mereka adalah sesuatu hal yang layak diabadikan sebagai sejarah.

Tempat itu megah, dirawat dengan baik, bahkan banyak manusia menjadikan Éba bak semacam kota kecil.

Namun, pemandangan yang kini dilihat oleh Aldérin telah berubah drastis. Éba tak lebih dari puing-puing rusak dan keadaannya menyedihkan. Diabaikan dan dilupakan.

“Apa yang telah terjadi pada tempat seindah ini?” Terlihat guratan penyesalan di raut Aldérin. “Padahal aku merasa yakin di sini kita bisa menemukan manusia.”

“Apa itu berarti perjalanan kita sia-sia Ial Aldérin?” tanya Findarel.

“Entahlah,” jawab Aldérin. “Masih ada kota besar milik manusia di depan kita, berharaplah bahwa bangsa dëia belum melalap kota tersebut di dalam kubangan api, Findarel. Melihat keadaan di sini begitu tak terurus, aku takut bahwa kota para manusia masih bisa berdiri kokoh.”

“Harapan tidak akan pernah memudar, Ial.”

Aldérin tersenyum. “Tetapi lebih baik kita melihat-lihat di sini, Findarel. Mungkin, masih tersisa sejarah-sejarah yang akan bermanfaat bagi perjalanan kita, sekarang atau nanti.”

Keduanya bergairah mengintari reruntuhan dan menemukan celah besar yang bisa dimasuki. Éba tidak terlalu parah kerusakannya di dalam, hanya berdebu dan berantakan. Semua catatan perkamen, kulit, atau batu, kebanyakan masih tersusun rapi dalam rak-rak batu. Meski sebagian lainnya berserakan di lantai batu padat yang telah ditumbuhi lumut pada sekat-sekat garis lantai.

Dan melihat begitu banyak catatan, merupakan salah satu kesukaan elf, karena rasa ingin tahu mereka terhadap ilmu dan kenangan sangat tinggi. Dan dalam beberapa jam kemudian, keduanya mulai membuka-buka lagi apa yang telah terkubur di reruntuhan Éba.

Findarel mengumpulkan banyak catatan, Lavender dan Manfaatnya; Cara Mengurus Ternak; Ísthván Sang Pencipta Dunia; adalah beberapa di antaranya, ia juga lebih memilih membaca catatan harian milik manusia.

Sedangkan Aldérin lebih tertarik pada segala sesuatu yang berbau ilmu dan sesuatu yang kelihatannya berhubungan dengan sejarah lampau.

Sampai pada menjelang sore hari, Findarel mendapatkan sebuah kejutan. Ada satu bendel perkamen yang berisi catatan harian seorang tahanan, dan semuanya berisi mengenai hal-hal misterius, di mana usia catatan tersebut ditulis tidak jauh sejak kedatangan cahaya biru, 450 tahun yang lalu. Pada sampul bendel perkamen yang terbuat dari kulit itu tertulis sebuah nama dengan huruf mengabur: Hering Bluelock.

 

Hari ke-13, bulan Juli, 6666 Masa Baru ke-III.

Kutemukan lagi sekawanan yerk yang tewas mengenaskan dan tidak satu pun mengalami luka pada dagingnya, mereka seperti mati karena keracunan makanan, atau entah karena apa, aku pun tidak tahu. Siang tadi, Jereed kuperintahkan ke Vold, memberitahukan masalah ini pada para wéa lainnya. Kuharap dia pun menyelesaikan dengan cepat dan kembali pulang ke Hail lalu menyerahkan catatan penting mengenai kematian banyak binatang di sini.

Entah kenapa, sejak tiga bulan lalu kami mendapati cahaya biru yang melintas di langit, semua keadaan berubah menjadi ganjil. Kuungkapkan apa yang ada di dalam pikiranku kepada Jereed bahwa cahaya itu adalah pertanda petaka, tetapi ia hanya menertawakanku. Mengatakan bahwa otakku hanya diisi hal-hal penuh omong kosong bernama khayalan.

Hanya karena aku percaya pada keajaiban, aku dianggap orang tolol.

Lalu bagaimana dengan kisah sebelum tidur mengenai centaur, elf, kurcaci, dan makhluk-makhluk ajaib lainnya? Apa benar itu hanya karangan semata? Sampai saat ini aku merasakan bahwa mereka ada atau pernah ada, hanya saja manusia sudah mengingkarinya.

Dan sekarang, hal-hal aneh mulai terjadi …

Semoga saja tidak ada kejadian buruk, aku sangat khawatir.

 

Findarel terhenyak, antara bahagia dan terkejut luar biasa.

“Ial, lihat,” tunjuk Findarel. “Manusia ini memiliki pengalaman yang aku pun belum pernah mengalaminya.” Findarel menyerahkan bendel perkamen tersebut pada Aldérin.

Aldérin membuka lembaran perkamen secara acak dan terbelalak. “Astaga … manusia ini, apakah dia benar-benar mengalaminya?” serunya, tak percaya.

Entah kebetulan, entah memang takdir, ia dan Findarel menemukan apa yang terkait dengan perjalanan mereka. Si penulis catatan, melihat dengan mata kepalanya sendiri akan kebangkitan bangsa dëia. Seperti pada sepenggal tulisan di salah satu lembaran perkamen yang ia tulis:

 

Mereka berbadan tinggi, besar dan tegap, kulit yang merah seolah mereka itu diciptakan dari bara api, seluruh jenis makhluk itu berambut hitam dan ke semuanya memiliki kepang-kepang kecil, baik yang berambut panjang atau lebih pendek.

Baju mereka indah, mengesankan kemegahan dan arogan, sedangkan yang tampak kaum wanitanya berbaju halus; berkilau; meski semuanya berwarna gelap; ujung gaun-gaun mereka menyisir tanah tanpa suara; sangat anggun, akan tetapi memberi kesan menakutkan hingga bulu kudukku merinding.

 

“Apa dia mengenali kaum shyrh, Ial?” tanya Findarel.

Aldérin menggeleng, lalu ia menunjukkan baris tulisan lain. “Ia seorang wéa, pencatat siklus hidup yerk, atau rusa gunung. Kupikir, secara tidak sengaja ia bertemu rombongan bangsa dëia yang sedang melalui bukit Emun Tantrum.”

“Jika ia memang seorang wéa, lalu mengapa tulisannya disimpan di dalam rak khusus, yang datang dari kumpulan catatan penjara di kota Hail?” tanya Findarel.

“Hmm ….” Aldérin membuka lembaran-lembaran perkamen dengan cepat dan melihat sekilas catatan panjang milik Hering. Ia menemukan sesuatu.

 

Hari ke-27, bulan Maret, tahun 6668 Masa Baru Ke-III

Kematian … Itu yang terbayang di pelupuk kedua mataku.

Betapa aku tidak menyangka bahwa selama ini yang kualami hanya dianggap kegilaan semata. Dan hari ini, setelah mengalami proses peradilan yang panjang, aku diputuskan bersalah. Aku dinyatakan sakit jiwa dan membahayakan.

Namun, satu hal yang dapat kupetik atas kejadian ini, akhirnya aku bisa menulis kembali …

Aku bisa mencurahkan perasaanku dan entah pada suatu saat nanti, mungkin ada seseorang yang mempercayaiku. Itu pun jika manusia masih ada di dunia ini. Karena setelah melihat makhluk ajaib yang hingga sampai saat ini membayangiku dengan rasa takut yang dipancarkan oleh mereka, aku tak yakin kehidupan umat manusia akan selamat.

Entah sampai kapan aku akan tinggal di kamar pengap, gelap, dingin, dan bau ini. Namun, aku akan bertahan, sekuat pendirianku yang mempercayai adanya kehidupan lain, meski semua orang menganggapku tak lebih dari sampah yang pemikirannya sudah tercemar.

 

“Kurasa ….” Aldérin menatap pada Findarel dengan sedih. “… Manusia tak lagi percaya adanya keberadaan makhluk lain selain diri mereka sendiri. Dan Hering mengalaminya, ia dianggap gila karena bersikukuh adanya bangsa selain manusia, Findarel.”

“Lalu bagaimana cara kita meminta bantuan kepada mereka, Ial?

“Aku akan mencari cara, Findarel.” Aldérin menepuk lembut bahu elterhel itu dengan kasih sayang. “Jangan khawatir, kita masih mempunyai harapan.”

“Itu pun jika kau masih bisa melalui tempat ini hidup-hidup!!!” teriak seseorang dari celah pintu masuk.

Dan dua buah pun anak panah berdesing, melesat dengan cepat mengarah kepada keduanya. Jika mereka manusia, sudah tentu akan tewas terkena tusukan anak panah, untungnya kemampuan elf jauh di atas rata-rata manusia, Aldérin dan Findarel dapat menghindari serangan tersebut dengan cepat. Keduanya bersembunyi di balik rak-rak batu.

“Siapkan anak panahmu, dan tetap di tempat, jangan gegabah,” bisik Aldérin.

Aldérin menghunus pedang pendeknya, ia pun meninggalkan Findarel dan secara pelan-pelan mendekat ke arah si penyerang. Anehnya, orang itu pun memiliki gerak-gerik gesit. Seolah bisa membaca pikiran masing-masing, apa yang mereka lakukan seperti permainan, dan Aldérin mulai merasakan bahwa si sosok yang menyerangnya, bukan sembarang orang.

“Estion laira ….” Bisikan Findarel terdengar oleh Aldérin. Elf itu terhenyak dan berlari kembali ke arah bocah tersebut untuk menghentikannya memanggil roh dari Estion, karena kekuatannya bisa membahayakan.“Estion laira … harya!!”

“Findarel, hentikan!!”

Gelombang angin menyapu dan menghentakkan rak-rak batu, Éba pun mulai berguncang hebat dan roh Estion muncul dengan pedangnya yang agung. Ia pun menatap sekeliling dan bergerak gemulai menghentakkan pedangnya ke arah rak-rak di seberang Findarel berada.

Suara jeritan melolong dari arah sana, lalu Éba berhenti bergetar, seolah-olah kemarahan teredam kembali. Aldérin menghampiri Findarel yang terduduk dengan lemas karena sebagian dari tenaganya terkuras untuk memanggil roh Estion.

“Nao tar wel’alav man, Findareltan? (Apa kau baik-baik saja, Findarel kecil?) tanya Aldérin, khawatir.

Bocah itu bersandar pada rak batu dan membungkukkan badannya sembari menyentuh dada. “Mar, Ial. Nu wel’alav man (Ya, Paman. Aku baik-baik saja).  Aku hanya lelah,” jawabnya. Lalu Findarel menatap sungguh-sungguh pada Aldérin. “Jangan khawatir, Ial.”

Estion memberikan tatapan mata yang sejuk pada Findarel, tapi tersirat kegetiran pada rautnya. “Fir Andilosh, liorion-in nu. Nu urn hita ish-sevaen-ar (Pewaris Andilosh, maafkan aku. Aku tidak bisa menjagamu),” ujarnya lirih.

“Tidak, Estion. Kau sudah begitu baik menjagaku dan aku berterima kasih karenanya,” balas Findarel. “Aku tidak apa-apa.”

Shalume … (Baguslah)” Lalu sosok Estion pun menghilang.

Masih dengan pedang pendek yang terhunus mengancam, Aldérin menghampiri secara hati-hati ke arah si penyerang misterius yang terkapar tak sadarkan diri dengan reruntuhan batu menimpa kaki dan tubuhnya. Mungkin ia telah tewas, tetapi mungkin saja ia mengalami luka berat, dan Aldérin tak sampai hati harus meninggalkannya jika memang ia cedera.

“Oooh … aduh,” rintihnya, sosok itu berusaha bangkit, tetapi ia sudah tidak memiliki tenaga lagi. “Demi langit, kekuatan mengerikan macam apa itu.”

“Kau tidak apa-apa?” tanya Aldérin, hati-hati.

“Sepertinya aku takkan pernah keluar dari sini hidup-hidup,” jawabnya, datar. “Selesaikan saja, karena aku tak mau memohon padamu!”

“Aku sama sekali tak berkeinginan membunuhmu,” kata Aldérin. Lalu ia pun menyarungkan pedangnya dan mengangkat reruntuhan batu dengan sangat hati-hati. “Kalau kau menawarkan sikap bersahabat sejak awal, hal ini tidak akan pernah terjadi. Bahkan jangan sampai terjadi.”

“Rach (Bah)!! Manusia dan mulut sampahnya!!” teriaknya, kuat-kuat.

Aldérin terhenyak begitu mendengar suara yang mengomel itu. Suara perempuan begitu melengking, akan tetapi halus seperti desiran dedaunan yang tergelitik hembusan udara, dan aksen bahasanya terdengar lebih asing dibandingkan manusia mana pun. Dengan seksama dan secepat mungkin Aldérin memperhatikan sosok yang menyerangnya. Ternyata ia seorang wanita. Namun bukan hanya wanita biasa, dia bangsa dryad.

“Ashfear! (Astaga) gumam Aldérin, sedikit panik.

“Ashfear?” Sosok itu mengulangi kata Aldérin dan terdengar sangat terkejut. “Siapa kau sebenarnya?” tanyanya. Lalu ia mengeluh pelan. “Oh … jangan katakan padaku, bahwa kau seorang elfelar (elf)?”

(elfelar: sebutan bangsa elf oleh bangsa dryad)

“Kau sama sekali tidak keliru akan hal itu,” jawab Aldérin. Ia pun mengangkat tiap-tiap reruntuhan. “Bertahanlah, aku akan menyingkirkan semua batu-batu ini dari atas tubuhmu.”

“Oh maaf, aku sama sekali—”

“Jangan mengatakan apa-apa lagi, simpan saja tenagamu,” potong Aldérin.

“Terima kasih, elfelar.”

“Jangan dipikirkan, Drianal,” balas Aldérin, ramah.

[8] Sebutan bangsa dryad oleh bangsa elf.

Findarel yang tenaganya sudah pulih segera menghampiri Aldérin dengan terburu-buru, ia merasa bersalah karena telah menyakiti salah satu dari kaum dryad, tetapi wanita pohon itu tampaknya tidak masalah.

Karena ia mengatakan, “Kau yang mengeluarkan kekuatan itu?” Findarel pun mengiyakan. “Kau diberkahi keajaiban oleh dunia langit, elfelar muda,” lanjut si dryad.

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!