The Quest for The Lost Inheritors

Élsus yang Terakhir dari Kaumnya

Beberapa hari berselang setelah berpisah dengan para dryad dan meneruskan perjalanan ke arah Utara, baik Aldérin maupun Findarel sama sekali tak bertemu dengan satu manusia pun. Seolah-olah mereka hanya berdua di dunia, tanpa ada makhluk lain di sekitar mereka.

Hutan pun begitu sunyi, kicauan burung tak begitu ramai, tetapi tidak ada tanda-tanda mencurigakan di sekitar mereka.

Oleh karena itu Aldérin memutuskan untuk istirahat sejenak di sore hangat menjelang musim panas tersebut. Mereka duduk-duduk santai di tepi sungai Imp. Sungai yang cukup panjang, hingga mencapai danau Crath alirannya.

Keduanya beristirahat sembari menikmati penganan buah kering dari para dryad dan membuka-buka perkamen yang mereka bawa dari Éba.

“Ial, kenapa kita harus melewati danau Crath sedangkan menuju kota manusia kita sama sekali tak perlu melintasinya?” tanya Findarel, sembari memperhatikan peta buatan manusia yang ditemukannya di reruntuhan Éba.

“Karena aku berpikir kita bisa menemukan sosok yang kucari di Éba,” jawab Aldérin. “Selain itu … aku hendak bertemu dengan salah satu teman baikku. Dia tinggal di dekat mata air anak bukit Rupert bagian Timur. Kita hanya perlu berjalan ke utara, mengikuti aliran sungai Imp.

“Satu hari perjalanan kita akan tiba di rumahnya. Aku membutuhkan banyak berita darinya.” Lalu Aldérin pun tersenyum. “Dan saat kau bertemu dengannya nanti, kau akan menemukannya sebagai sosok yang menarik, bahkan temanku ini sering memberi kejutan hebat.”

“Sebenarnya makhluk apa teman baikmu ini, Ial?”

“Aku takkan memberitahukannya.” Aldérin tertawa. “Ini kejutan.”

Satu hari berselang tanpa terasa. Kedua elf dari Lamvorels tersebut akhirnya sampai di mata air sungai Imp, dan di sana sangatlah indah.

Pohon-pohon besar, tua nan kokoh menjulang ke angkasa, menancapkan akar-akar mereka ke dalam air yang jernih, hingga menciptakan rongga-rongga berlumut di permukaannya. Sulur-sulur tanaman hijau yang menghiasi batangnya menjuntai menyentuh air, dan bergerak-gerak tenang seiring air mengalir, seolah mereka sedang menari.

Batu-batu besar berbaris, sekilas hanya seperti batu yang menghiasi mata air, akan tetapi jika diperhatikan, mereka membentuk sebuah pedestrian menuju wilayah di seberangnya; sebuah pohon rowan berukuran raksasa, dengan celah di bagian akarnya, yang Aldérin katakan, adalah tempat tinggal teman baiknya.

“Menakjubkan,” bisik Findarel, tak percaya. Dan belum habis bocah itu menikmati keindahan di sana, terdengarlah suara seruling yang amat merdu. Nadanya riang, tanpa beban, akan tetapi menyiratkan ada kekuatan dalam alunannya.

“Dia tahu akan kedatangan kita,” bisik Aldérin.

Lalu Aldérin membalas sambutan seruling dengan suaranya yang jernih ….

 

Jauh, jauh sekali matahari di angkasa

Namun jarak takkan memisahkan kita

Dan ketika angsa-angsa telah pergi

Ingatlah bahwa persahabatan kita abadi

 

Sosok itu muncul dari balik pepohonan di antara pohon rowan raksasa, lalu ia pun menghentikan irama serulingnya dan melambaikan tangan. Langkahnya amat ringan ketika ia melompati batu-batu pedestrian.

“Aldérin!” sapanya, penuh semangat. “Aku tahu kau yang datang, angin yang mengabarkannya padaku. Senang sekali bertemu denganmu lagi!”

Mereka saling berangkulan dan tertawa bahagia.

Findarel memperhatikan sosok teman baik Aldérin.

Telinganya tidak runcing, wajahnya berbentuk hati, bibirnya agak lebar, hidungnya mencuat mancung dan besar, ia pun berjanggut; yang berwarna kecoklatan dan tercukur cukup rapi. Ia memiliki warna mata hazel yang menyorotkan keceriaan.

Warna kulitnya putih kemerahan, tidak sejernih elf atau coklat kayu seperti dryad; tidak juga sepucat nymph air. Rambut berwarna emas, ikal, sebahu, tergerai bebas.

Pakaiannya agak aneh, terusan berwarna putih hingga lutut, tanpa lengan, berhiaskan tali terbuat dari serat kayu pada pinggangnya yang juga melintas di dada dan punggung. Dan tidak memakai alas kaki.

“Sudah lebih dari lima ratus tahun,” ujarnya. “Apa yang terjadi padamu, Aldérin?”

“Banyak sekali ….”

Dia menatap ke arah Findarel. “Oh! Kau membawa teman!”

“Élsus, perkenalkan ….” Aldérin meraih bahu Findarel. “Dia adalah pewaris dari Andilosh, Findarel Elderhel putra dari Elverel, keponakan dari Tylosae.”

“Senang bisa bertemu dengan pewaris dari Andilosh,” kata Élsus. Tetapi tiba-tiba saja ia menunjukkan raut sedih. “Sayangnya, Findarel … pertemuan kita di dalam masa yang amat menyulitkan. Kuharap kau bisa tabah akan hal itu.

“Aku mendengar berita, api besar muncul di Elethäs. Namun, sama sekali tidak mendapatkan kabar tentang para elf maupun makhluk lainnya yang hidup di sana. Oleh karena itu, aku merasakan kekhawatiran luar biasa, ttapi kecemasanku kini tak beralasan, kau ternyata selamat, Aldérin.”

“Tetapi banyak dari kaum kami yang tidak selamat,” gumam Aldérin.

“Hhhh … bencana besar memang sulit untuk dihadapi,” keluh Élsus. “Namun, sehebat apa pun penderitaan, kita masih memiliki harapan, bukan?”

Aldérin mengangguk setuju.

“Nah, sebaiknya kita segera ke tempatku, ada banyak buah dan air segar untuk kalian,” tukas Élsus. “Kita bisa bicara banyak hal sembari makan.”

Élsus pun melangkah tergesa melewati batu-batu yang dijadikan jalan setapak. Namun sebelum Aldérin mengikuti Élsus, Findarel tiba-tiba menahan lengannya.

“Ial, bangsa apakah dia?” tanyanya bocah itu, berbisik.

“Dia manusia,” jawab Aldérin.

“Bagaimana ia masih hidup setelah kalian tak bertemu selama lima ratus tahun? Apa Ial berpikir bahwa dia adalah takdir dari tiga hati? Itukah sebabnya muncul cahaya yang kita lihat beberapa hari yang lalu?”

Aldérin menggeleng. “Ia bukanlah sosok manusia dalam pencarianku, Findarel. Karena sifat-sifat dasar manusia dalam dirinya, sudah tidak ada,” katanya. “Élsus diberikan anugerah mulia, dia adalah druid.”

“Druid? Filsuf sekaligus penyihir?” Findarel menunjukkan mimik tak percaya. Dan Aldérin hanya mengiyakan. “Aku tidak pernah mendengar ada druid di dunia ini yang bisa hidup selama itu, bukankah mereka sudah punah, Ial?”

“Memang benar.” Ekspresi wajah Aldérin berubah murung. “Élsus adalah druid pertama, dan kini terakhir yang masih hidup di Khâli.”

Aldérin pun mulai mengisahkan tentang sahabatnya ini…

Druid.

Dikatakan sebagai manusia-manusia yang meleburkan dan mengabdikan diri mereka pada alam. Mereka melepaskan segala emosi, nafsu dan juga keinginan keduniawian. Akan tetapi masih tetap berhubungan dengan manusia lainnya untuk memberikan petuah dan nasihat, agar tidak tersesat di dalam kegelapan hati.

Maka dikatakan bahwa manusia-manusia ini dilahirkan kembali ke dunia menjadi sosok baru yang menyebarkan kebaikan juga pengetahuan. Dan para druid dianggap sebagai kaum yang setingkat lebih tinggi dari manusia lain.

Usia druid lebih panjang daripada manusia kebanyakan, usianya bisa mencapai 500 hingga 800 tahun. Namun, hal itu jarang terjadi. Banyak dari druid meninggal pada usia dua ratus tahun. Oleh karenanya, panjang usia Élsus merupakan keajaiban dari kaum druid.

Pembangkitan adanya druid terjadi sekitar seribu tahun lalu.

Seorang manusia bernama Wert Halton, sering mengalami mimpi-mimpi aneh yang menakjubkan dan mendengar bisikan-bisikan di dalam batinnya. Hingga ia pun memutuskan tuk keluar dari kotanya dan berkelana mencari tempat untuk menenangkan diri.

Ia pun menemukan mata air dan pohon rowan raksasa, sebuah tempat yang selalu ada di dalam mimpinya. Maka Wert pun mulai tinggal di sana. Meleburkan dirinya bersama alam, bermeditasi, hidup sendiri, tetapi tidak kesepian karena ia merasakan bahwa alam dan sekitarnya lambat laun memperdengarkan suaranya pada Wert.

Dan pada suatu malam, Wert bertemu dengan roh dari pohon rowan. Roh itu bernama Tar.

Tar bersosok seorang lelaki tua bungkuk, membawa tongkat melengkung pada ujungnya seperti seorang penggembala. Berambut panjang selutut, lurus, dengan keseluruhannya berwarna putih; ia berjanggut putih, ikal, sepanjang dada.

Sorot mata Tar teduh tetapi tajam. Seolah mampu menyelami pikiran seseorang tanpa perlu menanyakan ketidaktahuannya. Pada dahinya, melingkar mahkota kecil yang sangat sederhana, terbuat dari jalitan akar dan hiasan dedaunan.

Tar menyukai Wert, bahkan menyayanginya. Lalu ia menawarkan tiga pilihan warna pada Wert, dan ia harus menjelaskan, kenapa ia memilih warna itu, dan mengapa tak memilih warna yang lain. Pilihannya adalah, merah; putih; dan hijau.

“Merah merupakan simbol keturunan manusia. Meski takdir hidup manusia amat singkat, akan tetapi keturunannya akan mengalirkan masa yang tak bertepi. Ah, sayangnya merah pun mampu menimbulkan pertikaian. Aku takkan memilihnya.

“Putih lambang kedamaian. Namun, hatiku sendiri tidak sesuci yang kukira. Dan warna itu, kadang menyelimuti dunia dengan rasa dingin. Hampa karena tak ada sapuan warna lainnya. Aku makhluk pecinta ragam dan rupa, karena itulah, putih kukesampingkan, meski aku mendambakannya.

“Hijau, itulah keputusanku. Karena setelah merah berakhir, putih’lah berperan, tetapi putih akan kembali tidur, maka hijau kan muncul. Musim panas; lalu kan datang musim dingin; dan musim semi adalah yang terbaik. Itu perumpaan dari ketiga warna tersebut, menurutku penilaianku. Dan hijau merupakan keabadian … meskipun kelak kan gugur, suatu saat kan bertunas kembali.”

Maka begitulah yang disampaikan oleh Wert kepada Tar.

Tar puas dengan jawabannya. Maka ia memberikan apa yang belum pernah diberikan olehnya kepada makhluk mana pun. Wert diberi anugerah usia panjang, sepanjang kebijaksanaan melekat padanya. Dan Wert mendapat tugas baru, yaitu menyebarkan kembali kebijaksanaannya kepada manusia lain.

Wert berganti nama, karena dirinya telah menjadi pribadi yang baru, sebagai druid.

Maka Tar memberinya nama Élsus, Penyebar Pengetahuan dan Ahli Sihir.

Manusia tidak memiliki keahlian sihir, maka bagi manusia yang bersedia untuk meninggalkan sifat-sifat keduniawiannya, ia akan diangkat menjadi sosok druid, dan diperbolehkan mempelajari sihir. Sayang, banyak dari manusia yang memutuskan menjadi druid, berpaling dari sumpah mereka. Mereka terpaku hanya pada warna merah dan putih.

Ilmu-ilmu sihir putih yang seharusnya tidak disebarluaskan kecuali dalam kalangan mereka sendiri, disebarkan kepada manusia-manusia lain, tanpa berpikir hal tersebut dapat membahayakan kelangsungan hidup dari para druid sendiri. Bahkan ilmu sihir hitam dibuat setelah mereka mengetahui sihir putih druid.

Seiring waktu berjalan, keberadaan druid semakin menyusut. Banyak mereka punah sebelum menuntaskan tugas, dan mencari calon-calon baru. Sampai pada akhirnya, hanya Élsus yang tersisa. Dan ia tak bisa mencari calon druid baru, yang dikarenakan ia sudah kecewa akan hati manusia yang mudah berpaling.

Namun ia percaya, suatu saat ia kan menemukannya. Satu, sebagai tunas awal, pengganti dirinya, ketika masa hidup baginya, berakhir. Sosok yang dianggap oleh Élsus adalah pemilih warna hijau.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!