The Quest for The Lost Inheritors

Néverlër

Hari itu, merupakan hari ketiga setelah Aldérin dan juga Findarel meninggalkan kediaman Élsus, si druid. Aldérin memutuskan bermalam di kediaman Élsus, di hari mereka berjumpa setelah sekian lama tak bersua. Lalu pada pagi harinya, kedua elf itu berangkat menuju Kota Hail, dibekali buah, dan air dari Élsus, juga ucapan doa.

Lalu di hari ketiga tersebut, keduanya bisa melihat anak bukit Rupert di depan sana, tidak begitu jauh. Dan di balik anak bukit, pemandangan akan berganti, hijaunya warna dedaunan akan berganti kemilau kuning emas padang rumput membentang luas, di mana rusa-rusa bintik hitam bebas berkelana membangun hidupnya.

Melewati anak bukit Rupert, itu mengartikan bahwa dalam satu atau dua hari perjalanan, mereka akan segera tiba di kota Hail. Hail adalah pemukiman manusia yang paling terbesar di Khâli, di mana istana Greathall berdiri di sana, dengan panji-panji berkibar gagah dan benteng-benteng batu yang menjulang amat kokohnya.

Aldérin pernah melihatnya, lama sekali. Namun kenangan itu masih teringat amat jelas dalam ingatannya yang dalam. Dan bukanlah hal mustahil, bahwa satu dari tiga takdir yang diramalkan oleh Iroaél, mungkin hidup di sana.

“Kau tampak diam, sesuatu mengganggumu, Findareltan?” tanya Aldérin.

“Tidak sama sekali, Ial. Aku hanya berpikir, bagaimana jika musuh datang dan menghancurkan semua kehidupan di dunia.” Findarel menatap sedih pada Aldérin.

“Dan kita harus mencegah hal itu! Dengan adanya persatuan bersama bangsa-bangsa lain, kita mungkin memiliki kesempatan melawan bangsa dëia, Findarel,” ujar Aldérin. “Hal utama yang harus kita lakukan adalah memperingatkan mereka, tanpa terkecuali. Meskipun aku tahu, hal itu akan sangat sulit dilakukan.”

“Kuharap teman-teman kita mampu bertahan. Dan Cialla berhasil meyakinkan pemimpin kaum drianal. Entah mengapa, perasaanku tidak enak ketika mengingatnya, seolah ia dan para Takala berada di dalam masalah besar.”

“Semua berada dalam masalah besar, Findarel.” Aldérin menerawang sejenak.

“Apa kita pun harus membantu bangsa manusia?” tanya Findarel.

“Ya, kau suka atau tak suka ….”

Belum juga Findarel mengungkapkan pendapatnya, mendadak saja terdengar suara yang amat gaduh, tak jauh dari keberadaan keduanya. Aldérin dan Findarel bergegas mendekati arah suara, berjalan mengendap-ngendap, melihat apa yang sedang terjadi. Dan ternyata, di sana ada beberapa orang manusia yang berusaha menangkap sesosok centaur berkulit coklat.

“Heneal! (Manusia!) bisik Findarel. “Lihat Ial, apa perlu kita memperingatkan manusia? Sedangkan mereka berlaku kejam pada makhluk lain! Mereka tak patut dibantu!”

“Ada banyak hal yang harus kau pelajari, tetapi tidak sekarang. Nah, tunggulah di sini dan diam,” tukas Aldérin. “Sebaiknya kau menghindar dari pertikaian.”

Aldérin keluar dari balik semak-semak, dan menyiapkan busurnya. Sedangkan Findarel hanya memerhatikan, meski sebenarnya ia tak mau tinggal diam begitu saja, akan tetapi Findarel tak bisa mengingkari perintah Aldérin.

“Ilya, Centaluná! Aya nâh bredé lôr? (Halo, kaum centaur! Apa kau baik-baik saja?) teriak Aldérin, dalam bahasa centaur.

Centaur yang mengamuk itu tersentak kaget, tetapi raut wajahnya mendadak saja berbinar, ketika ia menatap sosok Aldérin, yang menyembunyikan wajahnya di balik tudung jubah. “Im Fiamäl! Néh bredé, Elfalan! (Demi Fiamäl! Aku baik-baik, wahai elf!) sambutnya, bahagia.

 “Kau manusia dari bagian bumi mana, hingga mengerti bahasa makhluk itu?” seringai salah satu dari komplotan manusia tersebut.

“Aku datang dari tempat yang sangat jauh,” jawab Aldérin.

“Wah, tentu kau bukan sembarang pemburu atau penjelajah! Jarang kutemui orang berbakat seperti kau!” serunya, diiringi tawa teman-temannya.

Mata Aldérin memicing.

“Nah kawan, bisakah kau membantu kami?” pinta pria itu. “Katakan padanya agar tidak panik. Kami takkan membunuhnya, kami hanya akan membawanya pada Raja sebagai persembahan. Dan kujamin ia akan hidup enak menjadi peliharaan Raja kami.”

“Maaf, tetapi aku berniat membebaskannya karena ia bukan binatang.” Aldérin pun membidik busurnya. “Centaur adalah makhluk berderajat tinggi, bahkan kaum mereka lebih tinggi derajatnya daripada kalian. Kuperingatkan! Lepaskanlah dia, karena aku tak mau membasahi tanah ini dengan darah kalian.”

Belum sempat pria itu melangkah maju, anak panah milik Aldérin sudah jatuh menancap tepat di antara kedua kakinya. Dan anak-anak panah lain melesat amat cepat, memberi peringatan kepada komplotan manusia lainnya. Mereka membeku, melangkah mundur, meski pedang-pedang mereka terhunus.

“Aku tidak main-main,” ancam Aldérin.

“Baik, Tuan!” teriak salah satunya, dengan suara bergetar. “Tetapi kami mohon jangan bunuh kami … ini hanya kesalahpahaman semata.”

“Pergi!” perintah Aldérin.

Mereka saling berpandangan beberapa lama, lalu mereka pun lari terbirit-birit tanpa peringatan, bahkan beberapa di antaranya sampai jatuh berguling-guling. Aldérin hanya berdiri tegak, mengawasi kepergian mereka.

“Dro’allon, Elfalan (Terima kasih, wahai elf). bisik centaur itu begitu lega, saat Aldérin membukakan tali-tali yang menjerat leher dan pinggangnya.

Findarel keluar dari persembunyian, ia menganggukkan kepala pada centaur itu, sebagai tanda salam. Dan centaur tersebut membungkuk rendah, begitu anggun.

“Aku tak tahu kau membawa teman seperjalanan, Elfalan,” sahut si centaur.

“Itu merupakan kisah yang sangat panjang,” ujar Aldérin.

“Ya, aku tahu. Lamvorels dibinasakan,” timpalnya, dengan raut sedih. Aldérin hanya mengangguk lemah. “Karena Halrunën pun mengalami hal yang sama. Seminggu yang lalu. Dan sebelum-sebelumnya, bangsa api telah memberikan peringatan, agar kami menyerah.”

Senyuman si centaur menyungging, meski amat getir. “Dan kau tentu tahu bagaimana perangai kaum centaurlan. Kami lebih baik mati daripada dijajah. Maka kau bisa menentukan akhir cerita. Kebinasaan kota kami,” lanjut si centaur.

“Mengapa kau tak meminta bantuan dari para drianal? Atau saudara-saudara kalian yang berada di kota Nanduél?” tanya Aldérin.

“Kau tahu mengenai kota baru itu?” tanyanya, terkejut.

“Ya, sedikit banyak. Namun permasalahanku tak sekedar keberadaan Nanduél yang dibangun secara diam-diam,” jawab Aldérin.

“Kau benar, ada hal yang sebenarnya jauh lebih rumit dari itu, Elfalan. Aku, oh ….” Tiba-tiba saja centaur itu tersungkur. Ia terlihat amat kesakitan sembari memegangi sisi perutnya. “Maaf, aku sangat lelah.”

Findarel bergegas membuka tasnya, mengeluarkan beberapa kantung berisi penganan yang dibekali oleh Élsus sebelumnya. Ia pun mengambil satu kantung kecil berisi obat-obatan. “Aku tahu ini akan berguna,” bisiknya. Findarel pun mengalihkan perhatiannya pada si centaur. “Maaf, kuharap kau tak keberatan jika luka-lukamu kuobati.”

“Tidak sama sekali, Elterhel yang manis. Bahkan aku sangat berterima kasih,” balasnya, senang. Dan lagi-lagi ia tersenyum.

Ketika Findarel mengobati luka memar di perutnya, bocah itu tersentak kaget. Ia menatap si centaur tak percaya. “Ah, tentu saja begitu!” serunya. “Serangan manusia-manusia itu sebenarnya bisa kau patahkan, akan tetapi kondisi tubuhmu tak memungkinkan untuk melukainya, bukan?”

“Kau telah mengetahui rahasiaku,” kata si centaur itu. Ia mengelus perutnya. “Ia penerusku. Jika ia tak terlahir ke dunia ini, maka entah bagaimana keturunan klan Barüa, kelak. Karena aku adalah centaur terakhir dari klanku.”

“Jangan berkecil hati, kuharap ia akan tumbuh besar dan mempertahankan garis keturunan klan Barüa,” hibur Aldérin. “Kita mungkin tak pernah tahu seperti apa masa depan, tapi kita masih mempunyai harapan.”

“Kuharap begitu, Elfalan,” timpalnya. “Ah, karena kejadian tadi, tatakramaku terlupakan. Aku adalah Néverlër Harrû, putri terakhir dari Avesdâk Ahrébärn.”

“Kau putri Avesdâk?” tanya Aldérin, tak percaya. Bahkan matanya membelalak karena mendapat kejutan yang luar biasa. “Aku tahu ayahmu, bahkan kami saling mengenal sangat baik. Aku Aldérin Varwendil.”

“Benarkah itu? Astaga, aku sama sekali tak mengetahui bahwa kau berteman dengan ayahku,” sahut Néverlër. “Ini seperti anugerah.”

“Dan aku Findarel Elderhel,” seloroh Findarel.

Néverlër menyapukan jari-jarinya begitu lembut pada pipi Findarel. “Senang bertemu, meski di waktu yang sangat tidak beruntung.”

“Mungkin kau tak mengenalku, karena sudah cukup lama aku tak mengunjungi Halrunën, lima puluh tahun lamanya,” ujar Aldérin.

“Itu masuk di akal. Aku sendiri baru berumur tiga puluh tahun, karena itu aku tidak mengetahui tentangmu,” ujar Néverlër. Lalu ia menatap pada Findarel. “Namun aku tahu mengenai dirimu, Elterhel. Kau keponakan dari Tylosae, pewaris Estion setelah Elverel, bukan?”

“Yah, kau memang benar.” Findarel terpukau dengan pengetahuan Néverlër tentang dirinya yang cukup mendetail.

“Karena pewaris dari bandul di masa lampau harus dilindungi,” ujar Néverlër. “Beruntung kutemukan kalian. Ada banyak bahaya, maka berhati-hatilah, terlebih kau, Findarel. Bangsa dëia tahu mengenai kekuatan dari bandul di masa lalu.”

Alderin langsung heran sekaligus terkejut. “Tunggu sebentar, bagaimana kau bisa tahu tentang Findarel? Lalu, bagaimana para dëia bisa tahu mengenai Estion?”

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!