The Quest for The Lost Inheritors

Lya, si Pirang dari Hail

Satu setengah bulan semenjak pelarian mereka dari Lamvorels, akhirnya dua elf itu tiba di kota para manusia. Kota yang besar dan juga luas. Pemikiran serta pandangan bebas dari rajanya yang tidak mengikat rakyat, memberikan banyak kesempatan dan harapan bagi siapa pun yang berusaha mengadu keberuntungan di sana. Pendatang diterima dengan ramah.

Meskipun begitu, tetap saja sistem keamanan pun dijaga amat ketat. Namun jarang sekali terjadi kejahatan di kota itu. Kota yang masih berada dalam lindungan kedamaian. Kota bernama Hail.

Hujan gerimis yang cukup deras mengguyur Aldérin berdua Findarel ketika mereka tiba di kota tersebut, dan disambut cukup ramah oleh sang penjaga gerbang. Meskipun hujan, suasana kota sepertinya sama sekali tak terpengaruh dengan hal itu, orang-orang masih berlalu lalang dengan bebasnya di jalanan dan melakukan aktifitas meski tampak lebih terburu-buru.

“Er-gathima’ve (Berhati-hatilah), Findarel,” bisik Aldérin. “Unar urn harv shilfarel ir’sila (Kita tak tahu keadaan di sini).

“Nu allaif, Ial (Aku mengerti) jawab Findarel.

Aldérin menyentuh bahu seseorang yang melewatinya lalu menganggukkan kepala, memberi salam. “Maaf, Tuan. Aku mencari penginapan terdekat, apa kau tahu di mana tempatnya?” tanya Aldérin, ramah.

Pria itu tersenyum. Lalu tangannya menunjuk ke arah Timur. “Ada penginapan yang cukup baik dan biayanya murah, Warren’s Hut. Ambil jalan ke kanan, lima bangunan di sebelah kiri tepatnya, kau akan menemukannya dengan mudah.”

“Terima kasih.”

“Oh, bukan apa-apa. Tetapi, Tuan ….” Pria itu kelihatan ragu. “Sebenarnya masih ada penginapan lain. Bukan karena Warren’s Hut kurang baik, hanya saja, menuju ke sana sedikit riskan. Kau harus menjaga hartamu, banyak pencuri-pencuri kecil yang sangat lihai.”

“Aku bisa menjaga diriku sendiri, sekali lagi, terima kasih.”

“Hail bukanlah kota buruk. Hanya akhir-akhir ini saja terjadi kejahatan kecil, tetapi kuyakinkan padamu, Hail tetap kota yang memberikan kenyamanan dan rasa aman. Saranku untukmu, tetap berhati-hatilah,” bisik pria itu, lalu dia pun pergi meninggalkan Aldérin dan terus berjalan di bawah siraman air hujan.

“Apa sebaiknya kita mencari tempat yang lain, Ial?” tanya Findarel.

Aldérin menggeleng. “Tak perlu, Warren’s Hut’lah yang kita butuhkan saat ini.”

Jalan menuju Warren’s Hut ternyata sangat sepi, dan sedikit gelap. Bukan hal yang menyulitkan bagi Aldérin dan Findarel melihat di dalam kegelapan, mereka mudah menyesuaikan diri dengan keadaan. Namun, baru saja mereka melewati bangunan ketiga sebelum Warren’s Hut, mereka mendapati sebuah perkelahian.

“Kembalikan!” jerit gadis itu, napasnya terengah-engah dan ia tengah dikepung oleh tiga orang pria dewasa, bukan perkelahian yang adil, tentu saja.

Salah satu dari pria itu menyadari kehadiran Aldérin dan Findarel, ia memberi isyarat mengancam, agar Aldérin sebaiknya tidak ikut campur. Namun, gadis muda itu seolah mendapat harapan ketika melihat sosok elf dari Lamvorels tersebut.

“Mereka,” gumam Findarel, tak percaya. Ia masih mengingat pria-pria yang menyerang Néverlër beberapa hari ke belakang, dan tiga pria itu adalah komplotan dari mereka. Batin Findarel mendadak panas. “Ial!”

“Aku tahu, Findareltan,” bisik Aldérin. “Namun, mereka tidak lebih berbahaya seperti tempo hari, tetap di belakangku dan jangan lakukan apa-apa.”

Baru saja Aldérin bergerak dua langkah maju ke depan, salah satu dari mereka sudah menunjukkan ketidaksukaannya. “Ini bukan urusanmu, Tuan,” kata si rambut coklat tua. “Lebih baik kau teruskan perjalananmu karena hujan sangat deras, tentu kau tak mau membuat jubahmu basah kuyup, bukan? Pergilah, sebelum ada yang terluka, Tuan.”

“Lepaskan dia!” bentak Findarel. Suara tarikan tali busurnya terdengar jernih dan kuat, dalam hitungan detik, anak panah bisa terlepas dan mengenai sasaran.

“Turunkan busurmu, Findareltan,” perintah Aldérin, pelan. “Ingat, kita sama sekali tak berniat menyakiti siapa pun di sini.”

Tiba-tiba satu dari tiga pria itu menyerang Aldérin tanpa peringatan. Findarel pun melepaskan anak panahnya, tiga anak panah pun mengenai pria yang sedang mencengkram lengan gadis muda itu, satu di sepatu botnya, satu di pinggangnya, satu di kerahnya.

Semua anak panah tidak melukai daging pria tersebut, tetapi cukup membuat seseorang akan sangat ketakutan karenanya.

Dan pria yang menyerang Aldérin, dengan mudah bisa dihindari. Aldérin hanya mundur sedikit, tangannya segera mencekal lengan pria itu. Dalam hitungan detik dia terkunci dengan sebilah pisau kecil miliknya sendiri yang dihunuskan oleh Aldérin. Bukan hal yang sangat menyulitkan sama sekali.

“Bisakah kalian melepaskan gadis itu?” pinta Aldérin.

Tanpa banyak perlawanan, ketiganya pun segera lari tunggang langgang dari arena pertempuran kecil, mereka melewati Aldérin juga Findarel dan menghilang di balik sudut jalan. Sedangkan gadis muda tersebut terduduk di atas jalan penuh lumpur, lemas karena perasaannya terlalu tegang.

“Kau tidak apa-apa?” tanya Aldérin, setelah menghampirinya dan memberikan sebelah tangan. “Kau bisa berdiri, Nona?”

Gadis itu meraih tangan Aldérin. “Lya, namaku. Dan … ya, aku baik-baik saja, kurasa,” jawabnya, dengan suara yang masih gemetaran. “Terima kasih.”

“Tidak baik bagi seorang gadis bepergian pada malam hari, sebaiknya kau segera pulang,” nasihat Aldérin. “Lagipula hujan begitu deras, kau bisa sakit karenanya.”

“Hujan takkan membuatku tetap duduk di rumah dan berdiam diri, Tuan,” kata gadis itu, enteng. “Aku harus membantu pamanku di penginapannya malam ini, tetapi sial, sebelum aku sampai, para pemeras itu menghadangku.”

“Penginapan?”

“Ya, Warren’s Hut,” tunjuk Lya, pada sebuah bangunan di deretan kelima yang bercat hijau tua dan terlihat sinar lampu berwarna kuning lebih terang dan lebih banyak dari bangunan lainnya. “Apa kau mau mengunjunginya, mungkin sampai hujan reda? Akan kuberikan bir secara cuma-cuma atas bantuanmu. Bar milik pamanku tidak mewah, tetapi untuk sebuah penginapan, tidak demikian buruk.”

“Sebenarnya kami pun hendak ke sana.”

“Oh! Takdir yang sempurna. Apa kalian pendatang?” Lya berdecak senang. Aldérin mengangguk. “Lebih baik kita segera pergi, terlalu lama di bawah hujan bisa membuat sakit. Dan kalian pasti sangat lelah,” kata Lya. “Ayo, ikuti aku.”

Kebetulan yang sangat menguntungkan bertemu dengan Lya. Dengan mudah Aldérin dan Findarel bisa mendapatkan sebuah kamar dengan dua tempat tidur secara cuma-cuma. Dan Blud, paman Lya, putra ketiga Warren—menjanjikan bahwa mereka akan mendapatkan sarapan gratis, karena bantuannya menolong Lya dari serangan pemeras.

Meski Aldérin menolak dengan segala cara, tetapi Blud lebih keras kepala lagi dalam berbagai cara. Maka Aldérin dan Findarel, tak bisa berbuat apa-apa selain menyetujuinya.

“Buah dan air, pesanan kalian. Silakan.” Lya meletakkan baki di atas meja lalu duduk di hadapan kedua elf dari Lamvorels tersebut. Kedua elf itu menganggukkan kepalanya, tanda terima kasih. “Jadi, kalian ini dari Selatan? Setahuku tak ada kota di sana, bahkan tak ada yang tahu apa ada penghuninya,” tanya Lya.

“Kamilah penghuninya,” jawab Aldérin. “Tetapi kota kami kota kecil, maka tidak heran jika banyak yang tidak mengetahui keberadaannya.”

Lya mengangguk-angguk mengerti. Lalu gadis itu bertanya lagi, “Aku sangat tertarik dengan keahlian memanah kalian, apa rata-rata dari orang di selatan adalah pemburu?”

“Itu hanya keahlian dalam mempertahankan diri,” ujar Aldérin.

Dan ia sedikit gusar karena tingkah Findarel yang melepaskan tiga anak panah, tanpa menyadari bahwa hal itu tidak lazim bagi manusia. Findarel yang menyadari tekanan batin dari Aldérin, menunduk; merasa bersalah.

“Latihan bertahun-tahun menjadikan kami sedikit menguasai ilmu memanah,” lanjut si Fel’ Maes tersebut.

“Hmm … menarik.” Lya sekali lagi mengangguk-angguk. Sepertinya dia gadis dengan rasa ingin tahu yang tinggi. Terlihat jelas dari pandangan matanya.

“Tuan Pramber mengelola tempat ini dengan baik,” ujar Aldérin, mengalihkan topik pembicaraan, karena terlalu dalam membicarakan kota di selatan, tidak lain dan tidak bukan adalah Lamvorels, bisa menimbulkan kecurigaan.

“Oh tentu saja,” balas Lya, bangga. “Semenjak kakekku, Warren, meninggal empat tahun lalu, pamanku yang mengurusnya. Namun ia tak sendiri, keluargaku pun ikut membantu, terlebih aku. Ya … bisa dikatakan ini adalah bisnis semua.”

“Dan ayahmu?”

“Ayahku telah tiada, sejak aku berusia lima tahun, Tuan Varwendil.”

“Maafkan aku,” ujar Aldérin, prihatin. “Pasti sangat berat untukmu.”

Lya menggeleng. “Pamanku, Blud, yang menjaga keluarga kami, juga paman Ardel, adik kedua ibuku, ia pun banyak membantu keluargaku. Bisa dikatakan aku cukup beruntung meski ayahku telah meninggal,” sahutnya.

“Berapa usiamu?”

“November nanti aku berusia sembilan belas tahun, usia yang sudah sangat cukup untuk menikah, begitu kata ibuku,” keluh Lya. “Kenapa ia tidak berpikir bahwa aku lebih baik bekerja?”

“Karena ia khawatir padamu,” kata Aldérin. “Tidakkah kau menyadari bahwa kau gadis yang sangat menarik? Gadis cantik harus dijaga dengan baik.”

Lya tertawa geli, mendengar pujian Aldérin. Ia memang gadis yang manis.

Rambutnya lurus sebahu, berwarna pirang; Kulitnya putih segar dan tanpa bercak, bola matanya berwarna coklat muda, bulat dan tajam. Bibirnya mungil dan merah, dagunya lancip; hidung mancung dengan batang tegas.

Dari keseluruhan Lya Brander adalah gadis anggun meski raut wajahnya kelihatan agak angkuh, padahal kenyataannya tidak demikian.

“Jangan memuji berlebihan, Tuan. Karena pujian bisa menyesatkan.”

“Dan katakanlah bahwa itu sebuah sanjungan,” kata Aldérin, yakin. Findarel yang sedari tadi diam, tiba-tiba tersenyum geli, tapi ia pun ikut menganggukkan kepalanya, setuju dengan pendapat Aldérin.

“Menarik atau tidak, itu bukan sesuatu yang harus dikhawatirkan oleh ibuku,” kata Lya. “Jika aku menikah, lalu siapa yang akan membantu paman Blud? Siapa yang akan mengurus ibu dan kedua adikku? Sejak Thane meninggalkan Hail, aku menjadi kepala keluarga sekarang. Seharusnya ibu menyadari akan hal tersebut.”

“Thane?” alis Aldérin sedikit berkerut.

“Kakakku,” jawab Lya. “Ia pergi ke utara kira-kira hampir dua tahun lalu, dan sejak saat itu pun tak ada kabar darinya! Benar-benar anak tak berbakti.

“Ia pergi menuju Ferden’lyf. Kota yang sangat dingin cuacanya, menurut orang-orang. Bahkan dari kota kami sudah tak ada lagi yang berkunjung ke sana, kecuali Thane karena kegilaannya! Sejak mendengar rumor dari orang-orang di Kota Vôld sepuluh tahun lalu, bahwa di sana ada mata air ajaib yang bisa menyembuhkan segala penyakit, entah kenapa ia selalu bertekad untuk pergi ke sana.

Aldérin terhenyak. Cerita yang sangat layak untuk diteruskan, pikirnya.

“Ibuku memang sakit-sakitan, tetapi bukan berarti Thane harus pergi mencari sesuatu yang belum tentu kebenarannya. Sekarang? Dia menghilang, tanpa kabar berita. Hanya Ísthván yang tahu apa dia masih hidup atau tidak,” jelas Lya.

Aldérin segera mengeluarkan peta dari balik jubahnya dan menunjukkannya pada Lya. “Bisakah kau tunjukkan padaku, di mana letak kota tersebut?” pintanya.

Lya menatap ke arah peta, serius. “Aku belum pernah ke sana, tetapi mungkin bisa kutunjukkan tempatnya,” gumam gadis itu. Lalu ia tersenyum, telunjuknya menempel pada peta. “Mudah sekali, di sini sudah ditunjukkan, Tuan Varwendil.”

Dan Aldérin mendapatkan kejutan. Dalam peta berusia ratusan tahun itu, Lya menunjukkan letak di mana batu Ratera berada. Ternyata, setelah 450 tahun kota nymph air lenyap, kini ratusan tahun setelahnya, keberadaan kota nymph berubah menjadi kota manusia, bernama Ferden’lyf.

“Kau tidak berniat pergi ke sana, bukan?” tanya Lya, curiga.

“Sejujurnya, aku harus.”

Lya terbelalak. “Itu ide mengerikan! Kau tak tahu betapa beratnya perjalanan ke sana, belum lagi banyak rumor misterius.” Lya pun merendahkan suaranya. “Kebanyakan pendatang yang ke sana tidak pernah kembali ke kota kelahirannya! Hal itu sudah menjadi berita yang tidak asing lagi selama lima tahun terakhir ini. Jangan sia-siakan usia mudamu, itu nasihatku, Tuan Varwendil.”

Findarel terkekeh kecil, geli ketika mendengar kalimat ‘usia mudamu’, ia jelas tahu bahwa Aldérin sudah sangat jauh terlalu tua untuk dinasihati terlebih menyia-nyiakan masa mudanya. Masa mudanya, telah dilewati, ribuan tahun lalu.

“Kau tak mungkin bisa mempengaruhi pamanku,” ujar Findarel, tiba-tiba.

“Jadi kata-kataku takkan di dengar pamanmu, eh?” tanya Lya. Findarel mengangguk. “Ya sudahlah, aku takkan mengatakan apa-apa lagi. Kalau itu keinginan kalian,” tukas Lya.

“Bukan maksudku tidak menghargai peringatanmu, Nona Brander,” kata Aldérin. “Tetapi aku memang harus pergi ke sana, ini merupakan kewajiban.”

“Kau sendiri awalnya tak tahu ada kota Ferden’lyf, dan tiba-tiba mengatakan akan pergi ke sana karena suatu kewajiban? Bukankah itu sangat ganjil?”

“Kami memang mencari mata air tersebut, dan di peta ini ditunjukkan dengan tanda di mana kota Ferden’lyf berada,” kata Aldérin. “Kami hendak mengambil air di sana, untuk mengobati orang-orang yang sakit keras di kota kami,” lanjutnya.

“Lagi-lagi orang yang percaya pada rumor,” keluh Lya. “Aku tak tahu kau bisa mendapatkan informasi tidak benar seperti itu dari mana, tapi … jika itu memang harus kau lakukan, aku takkan menghalangi”

“Lya!” panggil Blud, dari balik meja bar. “Bisakah kau membantuku di sini?”

“Ya, Paman!!” balas Lya. Ia beranjak dari duduk. “Sebaiknya aku segera pergi, nah … bersantailah dan nikmati hidangannya. Sampai nanti.”

Lya melirik ke arah Aldérin dari balik punggungnya. Rasa aneh menjalari setiap tubuhnya.

Pendatang dari selatan, gumamnya dalam hati. Apakah ada manusia seelok dan secantik mereka, padahal mereka adalah pria? Di dunia ini memang begitu banyak kejadian-kejadian tak terduga.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!