The Quest for The Lost Inheritors
Pencarian Yang Sulit
Dia membuka matanya perlahan, bahkan hanya untuk menggerakkan kelopak mata terasa begitu menyiksa baginya. Gelap gulita, itulah pemandangan yang dia lihat setelah kedua matanya terbuka. Sesuatu menggelitik telinganya, lalu seluruh tubuhnya bereaksi setelah di sana-sini ia merasakan gerakan-gerakan tak teratur menggerayangi tubuhnya. Tangannya membentur dinding, dan suara gebukan lemah terdengar.
Ia terpana. Bingung. Tak mengerti. Setelah sudut-sudut dari tubuhnya membentur dinding, ia tersadar kini, bahwa ia berada di dalam sebuah peti kayu. Apa aku sudah mati? batinnya tak percaya. Tidak … tidak… aku masih bernapas! Aku masih hidup … aku ….
Tangannya mendadak menyentuh perut, dan ia mendapati rongga besar juga geliatan-geliatan kecil; basah; berjejal; hidup di sana. Tubuhnya bergetar saat itu juga, dalam keadaan tak menentu ia meraba bagian tubuhnya yang lain.
Beberapa berongga, dan ada makhluk lain bersarang di dalamnya. Ia tercekat.
“TIDAAKKKK!!!!!”
*
Findarel terperanjat bangun dan tubuhnya dipenuhi peluh. Ia mimpi buruk dan Estion pun seolah merasakan gejolak kengerian dalam batinnya hingga nyala biru berpendar-pendar dari bandul yang dipakainya. Aldérin yang tak mengistirahatkan pikirannya dan hanya duduk di tepi jendela, segera mengalihkan perhatiannya pada Findarel.
“Ial …,” panggil Findarel, dengan napas terengah. “Aku bermimpi buruk.”
“Mimpi? Bagaimana mungkin kau bisa bermimpi sedangkan bangsa kita hanya mengistirahatkan pikiran, Findarel?”
“Nu urn harv. Helmé liéta (Aku tak tahu. Sungguh ganjil).”
“Tentu saja, karena menurutku pun itu sangat aneh terjadi padamu,” timpal Aldérin. “Apa yang kau lihat dalam mimpimu?”
“Seseorang, entah siapa. Tetapi, di mimpi itu, aku ada di posisinya. Berbaring, dan keadaan amat gelap.”
Findarel berusaha menjelaskan mimpinya. “Seperti dalam sebuah peti kayu, karena samar tercium baunya, meski bau busuk lebih menusuk di hidungku. Lalu, begitu kuraba perut, ada lubang besar menganga dan entah berapa banyak makhluk bergerak-gerak dalam perut dan tanganku. Aku tak pernah merasakan hal semengerikan itu. Apa ini pertanda sesuatu, Ial?”
“Bisa jadi begitu. Tidak menutup kemungkinan, mimpimu mungkin berkaitan erat dengan jiwa seseorang yang berada dalam bahaya. Dan kemungkinan besar, dia adalah kaum manusia. Karena hanya kaum itulah, yang berumur pendek.”
“Ashfear! Jadi, apa yang harus kita lakukan, Ial?”
“Sesegera mungkin mencari takdir yang diramalkan Iroaél, kuharap itu bukan sosok takdir yang kita cari. Karena jika memang dia, harapan kita bisa sia-sia.”
…
Pagi itu sangat ramai di Ärbyn, pasar kota Hail.
Setelah sarapan dengan roti diolesi selai blueberry dan secangkir teh, Aldérin memutuskan untuk berkeliling kota dan mencari pasar. Ia hendak mencari sosok yang tepat, seperti yang dikatakan oleh Iroaél mengenai tiga jiwa, dan dalam pengamatannya, pasar adalah salah satu tempat pencarian yang cocok.
Di sana ada banyak sekali manusia, dan Aldérin berharap dapat menemukan salah satu dari tiga jiwa, di antara mereka. Ia harus teliti dan cepat mencari, sedikitnya, apa yang dialami oleh Findarel dini hari tadi, membuatnya jauh lebih cemas daripada sebelum-sebelumnya. Findarel sendiri mendapatkan banyak hal yang menarik perhatiannya.
Kehadiran Aldérin juga Findarel menjadi pusat perhatian tersendiri bagi penduduk Hail. Di malam hari, mungkin mereka tak kelihatan mencolok, akan tetapi di siang hari, keadaannya berbeda. Meski keduanya memakai kain yang mengikat di kepala dan tudung jubahnya dikenakan, sayangnya paras dan bentuk fisik mereka tak bisa ditutupi.
Orang-orang memperhatikan mereka seksama, aneh, mendapati orang seelok dan seindah keduanya. Terlebih kaum wanita, bahkan di antara dari mereka secara terang-terangan menatap lama dua elf dari Lamvorels tersebut.
“Ish-anvemé-ár (Mengganggumu)?” tanya Aldérin, yang menyadari pandangan orang-orang.
Findarel menggeleng. “Nu urn térwal (Aku tidak masalah).”
“Shalume.”
Mereka pun berjalan, menyusuri pasar, kembali melihat-lihat hal yang sedikit menarik perhatian mereka. Kadang-kadang memperhatikan orang-orang di sekitar dan berharap bahwa salah satunya memberikan aura petunjuk.
“Apa permintaanku berlebihan?!” bentak seseorang di ujung jalan, yang merupakan akhir dari pasar. “Tak bisakah kau sekali saja mengikuti saran ibumu?”
“Ibu, kumohon … pelankan suaramu,” balas yang dibentaknya.
“Biar semua orang tahu!! Biar semua tahu betapa kau tidak berbakti padaku!”
Aldérin menghampiri arah suara itu dan mendapati seorang ibu dengan anak gadisnya. Ia tersentak kaget melihat siapa sebenarnya yang ia lihat.
“Nona Brander?” panggil elf itu, tak percaya.
“Jadi dia?!” tunjuk wanita tua bersyal merah marun dan sedikit bungkuk itu pada Aldérin. “Dia yang membuatmu tak mau menikahi Fardeb?”
“Oh, Ibu!!” seru Lya, gusar. Ia menatap malu ke arah Aldérin. “Maaf, ini hanya sedikit kesalahpahaman, Tuan.” Lalu Lya mengalihkan perhatian pada wanita itu yang ternyata ibunya, “Dia tamu di penginapan paman Blud, Ibu.”
“Oh,” gumam wanita itu. Ia pun menatap Aldérin dan tidak berkata apa pun selama beberapa menit. Lalu ia berujar, “Maafkan aku, Tuan. Aku sedang banyak pikiran, dan oh … tidak ada maksudku untuk menyinggungmu.”
“Tidak usah dipikirkan, Nyonya,” ujar Aldérin, ramah.
“Aku Malda Brander. Jika ada sesuatu yang kau perlukan di sini, di Hail, aku mungkin bisa membantumu. Dan sebaiknya aku pergi sekarang,” ujarnya. Malda pun beralih pada Lya. “Kita bicarakan hal ini di rumah, setelah kau pulang.”
Malda berpamitan. Ia berjalan bungkuk sembari terbatuk-batuk memasuki pasar, dan sosoknya menghilang di balik kerumunan orang. Dan kejadian itu menguap, tak menjadi pusat perhatian sejenak orang-orang lagi. Lya pun menjauhi pasar dan berjalan menuju jalan yang lebih lapang juga sepi, hal itu dilakukan oleh Aldérin, yang kini mengikutinya.
“Kau mendapatkan apa yang kau cari, Tuan Varwendil?” tanya Lya, setelah agak lama mereka sama-sama membisu.
“Belum, mungkin nanti,” jawab Aldérin sembari menggeleng lemah.
“Maaf, atas kejadian tadi. Ibuku memang begitu, kasar dan cepat marah, tapi sebenarnya ia wanita yang sangat baik dan ibu yang hebat.”
“Bisa kulihat itu, dan aku sama sekali tidak tersinggung akan sikapnya tadi.” Aldérin tersenyum simpul. “Bukankah sudah kukatakan semalam, bahwa apa yang dilakukannya semata-mata karena khawatir kepadamu?”
“Ya, aku tidak lupa,” kata Lya. “Tapi, itu meresahkanku ….” Lya menatap pada Aldérin. “… ya hal itu, pernikahan. Membuat kepalaku sakit jika memikirkannya.”
“Kau tahu, Nona Brander? Setiap makhluk di dunia ini diberikan cobaan yang pasti bisa dilaluinya, dunia langit tidak akan memberi beban yang tidak bisa dipikul oleh ciptaan-Nya,” sahut Aldérin. “Kau harus menemukan jalanmu sendiri, dan tentang hal ini, aku yakin kau bisa mendapatkan jalan keluar yang terbaik.”
“Entahlah,” gumam Lya.
Gadis itu pun berhenti di sebuah taman dan duduk di atas bangku batu yang dinaungi sebatang pohon yew besar, Aldérin dan Findarel ikut duduk mengapitnya sembari memperhatikan orang-orang yang berjalan, atau naik kereta kuda, masih mencari sosok tepat yang Aldérin cari. Lya mengambil kantung gula-gula dan mengulum satu, ia menyerahkan pada Findarel yang dibalas dengan pandangan aneh dari bocah itu.
“Benda apa ini?” tanya Findarel, heran. Mengambil satu gula-gula bulat warna merah muda sebesar ibu jari dan memperhatikannya dengan takjub.
“Gula-gula,” jawab Lya, lebih heran. “Apa kau tidak pernah memakannya?”
“Oh, jadi kau memakannya?”
“Tentu saja.” Lya menunjukkan lidahnya dengan gula-gula setengah lumer di permukaannya. “Apa kau pikir aku memakainya tuk mengganti salah satu gigiku?”
Findarel terkekeh geli.
“Cobalah, rasanya tak buruk.” Lya menambahkan. “Jangan langsung kau telan, hisap saja.”
Elterhel itu mengangguk paham lalu memasukkan gula-gula yang dipegangnya ke dalam mulut. “Mmmm … manis. Rasa yang menarik sekali,” gumamnya.
“Kau paman yang sangat buruk, sampai-sampai keponakanmu tidak diberikan gula-gula,” sungut Lya, pada Aldérin.
“Rasa yang diberikannya hampir seperti érhol, Paman,” seloroh Findarel.
“Dan apa itu érhol?” tanya Lya.
“Érhol itu ….” Aldérin berpikir sejenak.
Érhol adalah makanan yang dibuat dari berbagai macam buah-buahan, bentuknya segitiga sebesar sebutir anggur, lembut dan kenyal. Satu butirnya bisa mengenyangkan perut sehari penuh dan tentunya dapat meningkatkan stamina hingga sekuat dua ekor kuda jantan. Dan sedikit menyulitkan untuk menjelaskan kepada manusia yang sama sekali tak menikmati makanan semacam demikian.
“Ya?” Lya menunggu.
“Itu semacam kue,” jawab Aldérin, yang teringat pada penjual kue di pasar tadi. “Karena di selatan kurang mengenal gula-gula, kami menikmati kue di segala suasana.”
“Kurasa jika aku berkunjung ke kotamu, aku harus mencoba érhol, sepertinya enak.”
“Ya, rasanya memang lezat! Kau tahu, sewaktu aku masih di sana ….” Mendadak Findarel terdiam. Perasaannya sakit seketika saat mengingat kenangan akan Lamvorels yang telah hancur. Lya menatap heran padanya lalu melihat Aldérin, meminta jawaban.
“Dia kehilangan seluruh keluarganya,” jawab Aldérin, pelan dan tampak sedih.
“Jadi sebab itulah kalian berniat pergi ke utara, karena penyakit tersebut telah memakan banyak korban,” kata Lya, prihatin. “Aku turut berduka, Tuan.”
Aldérin hanya mengiyakan saja, tanpa membantah. Sulit untuk menjelaskan pada Lya bahwa kebenarannya bukan begitu, bahkan ia mencari cara bagaimana agar bisa meyakinkan Lya akan perang di depan mata dan rongrongan dari dëia, karena di Hail semua berjalan normal juga damai.
Lalu bagaimana menjelaskan hal yang kelihatannya tidak terjadi?
Keputusasaan merayapi Aldérin. Kali ini ujiannya memang berat. Dia tidak bisa masuk ke lembah manusia dan memproklamirkan datangnya bahaya, bahkan Élsus sama sekali tak menyarankan hal itu dilakukan. Meski druid itu manusia pada kehidupan sebelumnya.
Tiba-tiba terdengar suara ramai dari seberang jalan di depan mereka, delapan ekor kuda yang dinaiki delapan orang prajurit gagah berjalan sedikit tergesa dan mereka mengawal sebuah kereta mewah, bercat hitam berpulas warna emas berbentuk burung rajawali di pintunya, yang ditarik enam ekor kuda.
Dua prajurit paling depan membawa dua tiang kayu dengan panji-panji berkibar bergambar burung rajawali berwarna hitam yang tercetak di atas kain panji berwarna hijau tua bergaris hitam sepanjang kain berbentuk segi lima itu. Orang-orang yang dilalui rombongan tersebut serta merta membungkukkan badan mereka rendah-rendah, begitu pun juga dengan Lya.
Siapakah orang itu? batin Aldérin.