The Quest for The Lost Inheritors
Teman Baru
Jauh dari apa yang diharapkan Aldérin, ternyata Lya bukan hanya mudah menerima kenyataan tapi ia pun begitu antusias untuk meneliti tiap sudut bagian tubuh Aldérin juga Findarel, dan berkali-kali menarik telinga mereka yang runcing berharap (mungkin) bisa lebih memanjang atau putus dan tumbuh kembali seperti layaknya ekor cicak.
“Aku lebih suka kau tak menerima kenyataan daripada menggangguku seperti ini,” keluh Findarel. Dan ia meringis ketika Lya mencubit hidungnya.
“Sihir apa yang kau gunakan, sampai berusia 54 tahun, kau masih tetap bertubuh kecil dan bermuka seperti anak-anak?” tanya Lya, tak mengindahkan keluhan Findarel. Lalu ia berbisik pelan, “Apa Aldérin pun memakai sihir?”
Alderin memberi tatapan peringatan pada Lya.
“Aku hanya ingin tahu, Aldérin,” bela gadis itu, enteng.
“Dan sekarang kau memanggil namaku tanpa tatakrama,” keluh Aldérin.
“Panggilan Tuan itu, sebenarnya untuk orang yang lebih tua dariku, tetapi kau jauuh … sekali lebih tua dari aku. Lalu apa yang harus kukatakan padamu kalau begitu? Kakek? Kakek buyut? Kakek dari buyut, buyut, buyut?”
“Panggil aku sesukamu.” Aldérin menyerah.
“Nah itu lebih baik! Dan kau Findarel? Apa sebaiknya kusebut Kakek Findarel atau Tuan saja?” tanya Lya, bergurau sebenarnya.
“Findarel, itu cukup,” jawab elterhel itu.
“Ya sudah, lebih baik kita kembali ke pokok permasalahan!” tukas Lya. Dia pun duduk dengan manis dan siap mendengarkan cerita Aldérin. “Ayo, ceritakanlah,” ujar Lya.
“Kami sebenarnya takkan mau muncul ke permukaan jika tak ada masalah yang begini pelik dan membahayakan, Lya,” ujar Aldérin, mengawali pembicaraan mereka. “Karena dalam keadaan terdesak, terpaksa harus kami lakukan, ini bukan hanya kepentingan untuk bangsa kami belaka, akan tetapi untuk seluruh makhluk hidup.”
“Jadi, maksudmu ada bangsa lain selain elf yang masih ada di muka bumi?”
Baik Aldérin dan Findarel, keduanya sama-sama mengangguk.
“Dan begitu pun bangsa dëia,” lanjut Aldérin. “Bangsa yang meluluhlantakkan kota kami, dan pasti akan membinasakan kota lainnya di dunia ini. Tak peduli apa itu kaum kurcaci, dryad, nymph, centaur, peri-peri, maupun manusia.”
…
Keheningan datang begitu saja di antara mereka bertiga. Raut wajah Lya yang ceria mendadak keruh, seolah ia tak ingin mendengar apa yang baru saja diterima oleh kedua telinganya. Sesaat ia merasakan kedamaian seumur hidupnya, akan tetapi begitu Aldérin mengungkapkan jati dirinya dan menceritakan sepenggal kisah mengenai kedatangan mereka ke Hail, Lya tahu tidak ada lagi dunia yang aman.
“Menurutmu, mengapa bangsa itu belum menyerang bangsa kami?” tanya Lya. “Jika memang mereka begitu hebat, bahkan sampai menghancurkan kota kalian. Kenapa mereka tak melakukan pada manusia yang lebih lemah dari elf?”
“Kurasa mereka menundanya, sepertinya ada kemungkinan lain.” Aldérin membuat jeda. “Bisa saja mereka berniat memanfaatkan manusia, meski aku tak tahu, cara apa yang akan mereka pakai. Bahkan sekarang, kuusahakan sebisa mungkin untuk mencegahnya. Setidaknya, penguasa di kota ini harus kuperingatkan, dan kuharap ia bersedia bersekutu dengan bangsa lain yang memiliki tujuan sama, yaitu memerangi bangsa dëia.”
“Itu tak semudah kedengarannya, Aldérin.”
“Aku tahu.” Aldérin menggenggam kedua tangan Lya yang dingin. “Tetapi, jika ada sosok-sosok lain sepertimu, aku yakin kita masih mempunyai harapan.”
“Aku tak bisa berperang! Bahkan tak tahu bagaimana menggunakan senjata! Apa yang kau harapkan dari sosok seperti aku?” isak Lya.
“Kepercayaan. Karena atas itulah, kita bisa menjadi kuat dan bersatu kembali seperti di masa lampau. Apakah kau mempercayai kami?”
“Ya, tentu saja aku percaya.” Lya menatap Aldérin. “Tetapi bukankah kau sendiri mengatakan, akan pergi ke Ferden’lyf? Lalu bagaimana dengan Hail? Kota kami?”
“Secepat mungkin aku harus berbicara dengan rajamu. Aku tak punya banyak waktu, karena nyawa dari teman-temanku dalam bahaya saat ini. Mungkin seminggu ke depan, paling lama kami tinggal sepuluh hari, kami berangkat ke utara. Tergantung berapa lama bisa menemui raja, tentunya.”
Lya pun meremas gaunnya. “Jika sudah waktunya kalian akan ke sana, bisakah kalian memberitahukan sebelumnya kepadaku?” pintanya.
“Karena?” Aldérin bertanya.
“Karena ….” Lya menatap ke arah elf itu, “… sudah kuputuskan bahwa aku akan ikut dengan kalian ke utara.”
Aldérin terhenyak. “Ini jauh lebih berbahaya dari yang kau kira. Kami tak bisa membahayakan jiwamu, sebaiknya kau tetap di Hail,” katanya.
“Tetapi Findarel tetap ikut denganmu! Apa karena aku manusia dan dia elf? Begitu?”
“Ini tak ada sangkut pautnya dengan itu. Nyawa Findarel di ambang mata pedang, aku tidak bisa melepaskannya jauh dari pandanganku, Lya. Karena dia adalah pewaris dari sesuatu yang penting bagi bangsa kami. Tolong, mengertilah.”
“Oh, jadi si bocah berumur 54 tahun perannya sangat besar, ya?”
“Dan kau pun sangat penting peranannya bagi kelangsungan hidup manusia,” balas Findarel, pandangan matanya menatap tajam pada Lya. “Meski kau sadari atau tidak.”
“Apa aku benar-benar tak diperbolehkan pergi bersama kalian ke utara?” tanya Lya, memastikan. Aldérin diam. “Aku ingin memperingatkan Thane! Tolonglah!”
“Kita akan memutuskan hal ini setelah kutemui raja Thornell,” kata Aldérin.
“Terima kasih sebelumnya,” ucap Lya. Ia beranjak berdiri lalu melangkah ke arah pintu. “Sebenarnya aku ingin mendengar lebih banyak mengenai bangsa dëia ini, namun aku harus kembali pulang ke rumah. Bisakah nanti sore kita teruskan? Paman Blud tak mungkin berhenti memerlukan bantuanku, ini kesempatan yang baik agar aku bisa berbicara lebih leluasa dengan kalian di sini.”
“Kami tak mungkin menolaknya,” kata Aldérin.
“Baiklah, sampai jumpa lagi,” pamit Lya.
“Lya!” panggil Aldérin. Gadis itu hanya menolehkan wajahnya yang letih dan masih kelihatan bingung. “Terima kasih atas kepercayaanmu.”
“Jangan berkata seperti itu. Kita kan teman.”
*
“Nah, nah, nah … Tuan Muda Findarel, lebih baik kau beristirahat atau bermain dengan anak-anak sebayamu,” pinta Blud, sopan. Ia mengambil tumpukan gelas dan piring yang dibawakan oleh Findarel ke meja bar. “Aku bisa menanganinya.”
Findarel duduk di kursi tinggi depan meja bar, hanya memperhatikan Blud yang sibuk ke belakang dan ke depan menyiapkan pesanan. Siang itu, Warren’s Hut sangat penuh, dan akan terus berlangsung hingga larut malam. Hal ini sudah terjadi selama empat hari lalu, semenjak Findarel dan Aldérin menginap di sana.
Sebagai pebisnis, Blud tahu benar ini bukan suatu kebetulan. Meskipun kamar yang ia sewakan kebanyakan kosong akan tetapi barnya tak pernah sepi pengunjung, terlebih beberapa hari ini. Dan menurut dugaannya, ini merupakan (semata-mata) karena kehadiran dua elf dari Lamvorels tersebut.
Blud meletakkan beberapa mug besar di atas tatakan, dan sebelum ia sempat mengantarkan pesanan, Findarel mengambil kendali. Dengan cepat diraihnya nampan tersebut, ia berkeliling ke tiap meja yang memesan bir, tanpa Blud bisa melarangnya. Pria tua itu hanya menggeleng-gelengkan kepala, heran dengan sikap kukuh Findarel dan mengapa ia terlalu rajin untuk anak seusianya.
“Kau tahu, aku bisa dimarahi oleh Tuan Varwendil karena memperkerjakanmu tanpa seijinnya,” kata Blud, sedikit mengeluh, ketika Findarel selesai mengantar pesanan dan kembali duduk di depan meja bar.
“Ial takkan keberatan, lagipula Tuan Pramber sudah begitu baik kepada kami. Kami banyak berhutang budi kepadamu, Tuan Pramber,” ujar Findarel.
“Kamar-kamar di sini selalu kosong, aku tak keberatan meskipun tak dibayar oleh kalian. Nyawa Lya sangat penting bagiku, pertolongan kalian padanya takkan mungkin bisa dibayar dengan uang,” sahut Blud, tulus. “Dan tolong, mulai saat ini panggil saja aku Paman Blud, ya Tuan Muda Findarel?”
“Dan seharusnya Paman memanggilku Findarel saja.”
“Baiklah, baik ….”
Keduanya sama-sama terkekeh.
Blud duduk di hadapan Findarel, melepas lelah setelah semua keinginan para pengunjung terpuaskan. Ia melap piring dan gelas-gelas basah dengan lap yang kering, meletakkannya di rak-rak meja bar. Lalu pria tua itu menyodorkan segelas air pada Findarel, dan sekeranjang buah. Bahkan ia sengaja membeli buah-buahan, padahal jarang sekali ada pengunjung yang mau memakan buah.
Namun ia lakukan hal itu untuk menunjukkan pelayanannya yang paling tinggi kepada dua elf dari Lamvorels tersebut, meski ia pun tak mengerti mengapa harus repot-repot melakukannya.
“Sebenarnya ada rasa ingin tahu yang ingin kutanyakan pada kalian,” begitu kata Blud. “Yah … seperti misalnya, ada urusan apa kalian datang ke Hail?”
“Entahlah, aku hanya mengikuti Ial. Tujuan kami yang utama adalah ke utara, menuju kota bernama Ferden’lyf,” jawab Findarel, jujur.
“Apa Lya sudah pernah mengatakan pada kalian mengenai kota itu?” Blud terkejut. Findarel mengangguk. “Lalu kenapa kalian bersikeras ke sana? Kami (penduduk Hail) saja takkan pernah mengetahui sebesar apa bahaya mengintai jika keluar dari batas kota. Banyak rumor jelek di sana-sini dan bahkan, menuju Vôld pun diperlukan keputusan yang matang, terlebih ke Ferden’lyf,” lanjut Blud.
“Seandainya Paman harus melaksanakan sesuatu demi keselamatan orang banyak dan hal itu memerlukan pengorbanan besar, apa Paman akan tetap diam dan tak melakukan apa-apa?” Findarel berbalik bertanya.
“Entahlah.” Blud menimang-nimang. “Aku memang tak senekat Thane. Kau tahu dia?”
Findarel mengangguk lagi.
“Yah, begitulah. Dia mungkin anak yang berbakti dan mau melakukan segalanya, akan tetapi pemikiran yang jelas lebih diperlukan, menurutku. Hanya saja, jika memang seluruh keluargaku terancam, mungkin aku akan mengorbankan diriku. Meski di usia setua ini,” tambah Blud.
Findarel terkekeh.
“Aku memang tak bisa berbuat banyak, tentu,” kata Blud. “Tetapi sekuat tenaga aku akan berusaha melindungi keluargaku. Kau pun mungkin akan melakukan hal yang sama.”
“Itulah yang kulakukan sekarang bersama ial Aldérin, Paman Blud.”
“Yah, aku mendengarnya dari Lya, bahwa orang tuamu telah tiada. Sungguh, aku sangat prihatin mendengarnya,” ujar Blud. Findarel hanya tersenyum getir. “Tak ada yang bisa mencegah bencana dari dunia langit, akan tetapi niscaya semua akan berakhir dengan bahagia jika kita percaya, bukankah begitu?” tambah Blud.
“Ya, tentu saja,” jawab Findarel.
Seorang pria setengah baya menghampiri meja bar, ia mengangguk sopan pada Findarel.
“Blud, Lain kali kau adakan hiburan gratis di sini, heh? Kulihat dawai itu tak pernah berdenting bertahun-tahun lamanya,” ia menunjuk pada sebuah harpa yang bersandar pada dinding di atas sekat perapian, “menurutku, kawan, itu akan mengundang banyak pelanggan untukmu.”
“Ya, ya, ya, akan kupertimbangkan saranmu, Keld,” balas Blud, diiringi tawa kecil. “Ah! Findarel, kenalkan dia, Tuan Keld Fielgreen.”
Findarel menyodorkan tangannya. “Findarel Elderhel, Tuan Fielgreen.”
“Ah, ya! Si pendatang dari selatan yang dikenal amat cantik, eh?” Keld pun menyambut Findarel dengan genggaman tangan bersahabat. “Hanya berkelakar, Anak Muda. Tapi, apa wanita di sana seelok kau dan pamanmu?” tanyanya.
Findarel hanya menjawab dengan senyuman.
“Seandainya saat muda dulu, aku berani berkelana ke sana, mungkin sekarang bukan Paltis yang menjadi ibu dari anak-anakku,” keluh Keld.
“Kau jangan membuat masalah,” peringat Blud. “Paltis wanita baik, bahkan dia begitu setia padamu. Tidak bijak menjelekkannya, Keld.”
Mendapati pembicaraan yang kurang menarik, Findarel melirik harpa yang tadi sempat disinggung oleh Keld. Lagipula ia sedikit jenuh menunggu Aldérin dan Lya yang pergi menuju rumah Crusel Fardrown, si hakim agung, sejak pagi tadi.
“Paman, apa boleh kupinjam harpa itu?” tunjuk Findarel.
“Kau bisa melantunkan lagu, Nak?” tanya Blud, heran. Elterhel itu menjawab dengan tawa lirih. “Ya, silakan! Bernyanyilah sesukamu!”
Tidak menyita waktu banyak, Findarel pun meraih harpa tersebut. Ia duduk di depan perapian, mengambil tempat yang bisa dilihat oleh semua pengunjung. Dan ini merupakan pemandangan langka, karena jarang ada anak-anak yang mampu menciptakan nada indah ketika jemarinya memetik senar harpa.
Findarel pun mendendangkan sebuah lagu semasa ia masih tinggal Lamvorels, yang liriknya diubah ke dalam bahasa manusia:
Tik … tik … tik …
Bukan iringan itik akan tetapi derikan jengkerik
Syur … syur … syur …
Bukan jatuhnya air melainkan ombak berdebur
Bum … bum … bum …
Hati-hatilah pada suara berdebum
Trang … trang … trang …
Bukan besi berdentang, awas genderang perang
Ketika masa damai terbentang
Mereka kelak kan datang
Api yang menyala di bola mata
Mereka yang membawa dengki dan geram
Luka lama menjadi dendam
Jangan lengah pada dëia
Seharusnya Findarel tak menyanyikan lagu itu, meskipun semua pelanggan bersorak-sorai dan mengangkat gelas mereka, tanpa tahu apa inti maksud lirik tersebut, bersahut-sahutan, “Lagi … lagi!” Namun rasa sesak dan pedih sudah lebih dulu mengoyakkan perasaan bocah tersebut.
Findarel menangis. Semua pengunjung menyangka ia terharu dengan berbagai sambutan meriah, tetapi Blud jauh lebih paham, ia menghampiri Findarel, meraih bahunya lalu mendudukkannya di kursi tinggi, merangkul dan membisikkan kata-kata penghiburan, meski itu sama sekali tak mengurangi kesedihan yang dialami oleh Findarel.
Dan itu menimbulkan pertanyaan baru di benak paman si Lya itu, dia tahu bahwa keluarga Findarel tewas karena penyakit. Namun lamat-lamat ia pun meragukannya, terlebih mendengar lirik terakhir. Dëia? gumamnya dalam hati.
Namun hal itu, akan ia mengerti kemudian. Nanti, tetapi tak lama lagi.