The Quest for The Lost Inheritors

Lamvorels dan Kisah dari Aldérin

- 450 tahun, setelah ramalan Iroaél -

 

Malam itu begitu damai. Seperti malam-malam sebelumnya, suasananya tidak berubah. Pohon-pohon seperti ek, beech, spruce, dan pohon lainnya tumbuh tinggi tegap, meski besarnya tak wajar karena ukuran mereka jauh lebih raksasa jika dibandingkan dengan ukuran pohon sebenarnya. Daun-daunnya menari-nari kecil kala angin menggelitik dahan dan ranting.

Binatang-binatang yang bangun di malam hari berdendang, kumbang berderik; burung hantu berkukuk sedu sedan; dan dari kejauhan terdengar lolongan serigala liar yang mengisi waktu di malam kelam. Lampu-lampu yang tergantung di dahan pepohonan kokoh menerangi sepanjang jalan setapak dengan cahaya temaram. Bahkan dalam situasi sesepi apa pun, keadaan aman menyelimuti, tidak perlu merasa takut akan kegelapan.

Dan dia menikmati keadaan itu, ia yang berjalan menuju rumah sederhananya sembari ditemani suara gemericik air yang mengalir pelan tak jauh dari selokan berair jernih yang berada di sisi jalan setapak, dan sayup-sayup angin berhembus lembut yang sesekali menerbangkan ujung pakaiannya yang berwarna biru langit.

Terdengar, irama-irama riang yang lambat laun semakin jelas arah suaranya ketika ia terus berjalan menyusuri jalan setapak:

 

Leth malliná or afola ün an-sondré

Malíndalá or abaré ün an-lorfër

Nín or atâlin wév an-targa silá

Ên an-môrné ref’ave au slir ün daló sinuf

(Kuning pucat untuk daffodils di musim semi

Oranye untuk fleabane di musim panas

Putih untuk linaria ketika musim gugur tiba

Dan musim dingin membuat semua tidur di dalam sepi)

 

Nyanyian-nyanyian dan gelak tawa terdengar oleh telinga Aldérin yang runcing dan mencuat lancip indah. Ia tersenyum kecil dan menghampiri ke arah suara itu berada, di mana pada akhirnya ia menemukan beberapa elter sedang bermain.

Elter adalah elf-elf muda, jika disandingkan dengan usia manusia mereka seperti bocah berumur lima hingga sepuluh tahun. Sedangkan yang lebih muda, dari usia lahir disebut elhil. Setelah usia elter, ada usia elterhel.

“Énuil, elterian, (Halo, anak-anak)sapa Aldérin.

[1] Halo, anak-anak.

“Énuilen, Ial Aldérin, (Halo, Paman Aldérin) jawab mereka serempak.

“Bukankah sekarang sudah waktunya kembali pulang dan beristirahat?” tanya Aldérin.

Anak-anak itu tidak menjawab, yang mereka lakukan hanya berbisik satu sama lain, hingga akhirnya salah satu dari mereka menjawab pertanyaan Aldérin, “Atar dan Atara (Ayah dan Ibu) kami di Kal’ Luin, kami menunggu mereka untuk kembali menjemput dan pulang bersama-sama.”

Aldérin mendesah pelan. Baru ia mengerti bahwa anak-anak itu adalah putra dan putri dari pejabat tinggi di kota Lamvorels, kota para elf. Dan bukanlah sesuatu yang aneh jika anak-anak tersebut bermain hingga larut malam di taman Villéndel, akhir-akhir ini.

Kesibukan orang tua mereka disebabkan oleh berbagai desas desus yang memberitakan adanya aktivitas yang dilakukan oleh beberapa ras kegelapan di daerah Utara Khâli yang kemungkinan besar akan menyebar hingga ke kota elf.

Anak-anak tersebut ditinggalkan oleh orang tua mereka yang sibuk berembuk di altar Kal’ Luin, mencari cara untuk mempertahankan wilayah Lamvorels. Sedikitnya, Aldérin merasa sedih harus menghadapi kenyataan seperti itu.

“Aku mengerti,” gumam Aldérin. “Bagaimana jika kita berkumpul bersama dan berbagi kisah, itu lebih baik, menurutku, daripada bermain-main dan mengganggu yang lain, yang kini sedang beristirahat.”

“Kami tidak memiliki kisah lainnya lagi untuk dibagi, Ial, karena kami sudah mengetahui kisah begitu banyak,” tutur salah satu elterhel.

Tentu saja mereka berkata seperti itu, mereka sudah menghabiskan banyak waktu untuk berbagi kisah dan nyanyian selama bertahun-tahun. Para elter yang sudah memasuki usia sepuluh tahun, akan mengalami proses lama untuk beranjak lebih dewasa.

Dari umur 1 sampai 10, mereka akan tumbuh seperti layaknya anak manusia. Untuk seorang anak manusia, umur 10 ke 11 hanya dijalani selama satu tahun saja, sedangkan untuk elf dibutuhkan waktu 10 tahun. Begitu seterusnya, sehingga jika diperhitungkan sejak masa elter hingga elf mencapai usia dewasa (yaitu sekitar umur 21 untuk manusia), mereka akan berusia 120 tahun.

Bisa dikatakan umur 25 tahun seorang manusia, elf berumur lebih dari 500 tahun.

Biasanya, elf tidak akan mengalami perubahan lagi setelah mencapai usia 520 tahun, mereka akan abadi selamanya dengan wajah cantik dan tampan. Namun, ada berbagai pengecualian dan mereka bisa mengalami perubahan wajah hingga tampak seperti usia manusia berusia empat puluh tahunan.

Elf yang sudah berusia lebih dari 2500 tahun biasanya memiliki kemampuan untuk menuakan raut wajah mereka, tergantung dari keinginan mereka. Namun, wajah mereka pun bisa berkembang terlihat lebih tua apabila mereka lebih banyak menghabiskan waktu mereka di luar kota para elf.

Kematian, peperangan, kesedihan, maupun penderitaan yang dilihat oleh para elf di luar kota Lamvorels bisa mengubah usia mereka menjadi lebih tua.

Sihir pun bisa membuat mereka terlihat lebih tua dibandingkan para elf yang sama sekali tidak belajar ilmu sihir, karena sihir merupakan bentuk kekuatan gaib yang cukup besar pengaruhnya dan cukup berbahaya.

Sehingga seorang elf yang mempelajari ilmu sihir akan mencurahkan segala konsentrasi hidupnya terhadap ilmu tersebut dan lambat laun wajahnya akan terlihat jauh lebih tua, dan biasanya elf yang mempelajari ilmu sihir dituntut jauh lebih bijak daripada parasnya.

Karena keabadian yang lama, rata-rata dari elf memiliki banyak pengetahuan, mereka pun memiliki daya ingat yang luar biasa hebat. Bahkan seorang elter bisa mengingat banyak hal, mereka kadang bosan dengan banyak kisah yang sebagian besar sudah mereka dengar bertahun-tahun sebelumnya. Hal ini sangat dipahami benar oleh Aldérin.

“Jadi kalian sudah banyak mendengar cerita?” tanya Aldérin. “Lalu apa yang akan kita lakukan malam ini sembari menunggu orang tua kalian?”

Para elter itu saling memandang. Bahkan mereka tidak tahu harus melakukan apa lagi. Dan elterhel yang mengatakan pendapatnya tadi, berkata lagi, “Kami tak akan mengeluh mendengar cerita lama untuk diulang kembali, kecuali apabila Ial Aldérin memiliki kisah lain yang belum kami dengar dan mau berbagi bersama, tentu kami akan senang mendengarnya.”

“Ya, bukankah Ial memiliki ribuan kisah yang indah?” timpal yang lain.

“Oh, tentu saja,” jawab Aldérin, senang. “Aku memiliki satu kisah yang belum pernah kuceritakan pada kalian. Kisah yang sangat menarik.” Aldérin menatap mereka. “Bahkan ada banyak kisah yang belum kuceritakan pada kalian.”

Tanpa perlu diperintah, para elter itu segera duduk mengintari Aldérin. Mereka sangat mengagumi Aldérin, karena elf itu begitu pandai bercerita dan semua lagu yang ia lantunkan terdengar sangat indah. Bahkan mungkin, semua penghuni kota Lamvorels yang mengenalinya begitu terpesona akan kepandaian Aldérin.

Dan sudah semestinya Aldérin mendapat penghargaan sedemikian besar.

Sebagaimana elf, Aldérin diberikan fisik yang indah. Warna rambutnya coklat keemasan, sepunggung, yang diikat rapi oleh pengikat berukir daun berbentuk cincin; bola mata berwarna hijau laut, yang mengesankan keteduhan; kulitnya putih, pucat, sebagaimana elf lain. Yang membedakan ia dari bangsa elf pada umumnya adalah, Aldérin merupakan elf yang cukup dituakan di kota Lamvorels.

Ia berumur 3300 tahun, meski paras wajahnya tidak lebih dari seorang lelaki berumur 30 tahun. Dan di usianya yang sudah sangat tua tersebut, bukanlah hal yang aneh bahwa ia dikenal begitu bijak. Aldérin berpengalaman, wilayah-wilayah di Khâli pun sebagian besar sudah ia jelajahi, banyak yang menyayangkan bahwa ia tidak menjadi penguasa di Lamvorels dan menduduki posisi ketua di Kal’ Luin.

Aldérin memilih menjadi rakyat biasa, hidup bebas tanpa beban dan bepergian kapan pun ia mau. Namun, meski dia menjadi penduduk biasa, banyak elf lain yang begitu segan padanya, bahkan beberapa anggota Kal’ Luin sering meminta nasihatnya. Aldérin begitu dicintai karena kerendahan hatinya yang sangat luar biasa dan kebijaksanaannya yang sedalam samudera.

“Aldérin!” panggil seseorang, suaranya begitu merdu dan jernih.

Dan Aldérin mendapati sosok seorang elf yang begitu cantik.

Wanita berambut hitam, bergelombang; seolah menari diterpa angin, panjang mencapai pangkal paha. Hidungnya mencuat, bibir mungil, kulit seputih mutiara dan semakin terlihat cantik dengan bola matanya yang berwarna biru. Gaunnya berwarna kehijauan ditabur permata kecil di bagian dadanya yang kemilauan diterpa sinar bulan.

Dia adalah Ninye Firélian.

Putri ketiga dari Tylosae Thairtârya, sang pemimpin dari altar Kal Luin. Umurnya baru memasuki 2053 tahun, dan sudah 53 tahun mengabdi sebagai pelayan dari kota Lamvorels, Ninye adalah anggota Golleaf atau daun emas dari Kal Luin.

Altar Kal Luin memang dibagi dalam beberapa kelompok. Golleaf, Silleaf atau daun perak, Hilleaf atau daun hijau dan terakhir Rilleaf atau daun merah. Masing-masing dari kelompok Leaf, memiliki tugas berbeda.

Anggota Golleaf bertugas pada bidang keamanan, strategi, kemiliteran. Sedangkan Silleaf, bertugas pada bidang pangan, kesejahteraan hutan dan penduduk. Para Hilleaf, berada dalam jalur diplomasi, informasi, dan pengetahuan. Dan kelompok terakhir yaitu para Rilleaf, bertugas pada segala pendidikan, pencatatan sejarah dan melindungi benda-benda suci bagi para elf.

Yang merupakan anggota dari kelompok Leaf ini adalah empat klan yang dibagi menurut wilayah masing-masing. Di Utara, adalah klan Andilosh; di Selatan, klan Shaes; di Timur, yaitu klan Sholyrn; terakhir di Barat, klan Anvada.

“Rupanya kau berada di sini, Aldérin.”

“Kau mencariku?”

“Tidak juga, aku keluar dari altar untuk melihat keadaan para elter. Tapi sama sekali tak kuduga bahwa kau bersama mereka di sini.”

“Sebenarnya aku dalam perjalanan pulang. Namun para elter tak ada yang mengawasi. Karena itulah kuputuskan untuk menjaga mereka,” ujar Aldérin. “Apa kau hendak bergabung bersama, untuk mendengarkan kisahku?”

“Oh seandainya aku bisa, Aldérin,” jawab Ninye. Ia pun mendesah pelan. “Kebetulan kau berada di sini, ada sesuatu yang harus kubicarakan denganmu, dan kupikir kau pun harus mengetahuinya. Ini sangat penting, aku sendiri tak tahu bagaimana harus mengatakannya.”

Aldérin mengerti. Ia beranjak dari kumpulan anak-anak dan melangkah berdua Ninye menjauhi mereka. “Ceritakanlah, Ninye. Apa yang telah terjadi di Kal’ Luin? Apa ada sesuatu yang sangat berbahaya?” tanyanya.

Ninye mengangguk, seiring dengan anggukannya, raut wajahnya pun berubah murung. “Kejahatan memang berlangsung di Utara, Aldérin. Cahaya biru yang pernah melintas 450 tahun lalu itu merupakan pertanda akan hal ini, aku pun tak mengerti kenapa ini dapat terjadi, padahal dunia begitu damai,” jawab Ninye.

“Lalu apa yang akan para petinggi di Kal’ Luin hendak lakukan?”

“Mereka belum bisa memutuskan apa-apa, aku datang kemari sebenarnya hendak mengantar anak-anak mereka pulang ke rumah, karena entah sampai kapan pembicaraan tentang ini akan berakhir.” Ninye pun tersenyum. “Meskipun aku sudah cukup lama menjadi anggota Kal Luin, tetap saja aku adalah yang termuda, dan lebih banyak … kurang didengarkan. Bahkan ayahku hanya menugaskan agar aku mengantar putra dan putri anggota lain ke rumah masing-masing.”

“Itu tugas yang cukup mulia, Ninye,” hibur Aldérin. “Jangan merasa keberatan.”

“Aku sama sekali tak keberatan,” balas Ninye, lembut. Lalu luncuran keluh pelan terdengar dari embusan napasnya. “Namun, aku harus mengambil beberapa catatan di rumah, lalu meminta laporan terakhir dari para pengawas hutan, dan aku harus memanggil pemimpin keamanan kota agar ia menghadap ke altar Kal’ Luin. Aku tak tahu harus memulai dari mana. Bayangan kegelapan, seolah-olah memberatkan batinku, Aldérin ….”

“Jika begitu, biar kuringankan bebanmu, Ninye,” kata Aldérin. “Aku yang akan mengantar para elter begitu kuselesaikan kisah yang kuceritakan pada mereka. Maka beritahukanlah kepada orang tua para elter ini, agar mereka tak perlu khawatir.”

“Oh, terima kasih banyak.” Wajah Ninye yang keruh sedikit berubah.

“Lalu ada yang ingin kau bicarakan lagi denganku?” tanya Aldérin.

“Tidak ada,” jawab Ninye. “Aku hanya membutuhkan sedikit dukungan, kadang ini semua membuatku lelah, hingga sedikit kata-kata penghiburan membuatku lebih baik.”

“Aku akan membantumu sebisaku, jadi jangan sungkan padaku.”

Ninye tersenyum. “Ini sangat berarti untukku, dengan begitu aku bisa menyelesaikan tugasku lebih cepat, dan bisa segera kembali ke Kal’ Luin. Ah, sekali lagi, terima kasih.”

“Lebih baik kau kerjakan tugas. Lebih cepat kau melakukannya, lebih cepat kembali ke Kal’ Luin. Karena bagaimanapun, mereka membutuhkan kehadiran dan pendapatmu, Ninye.” timpal Aldérin. Ninye mengiyakan. Lalu Aldérin pun memberi gagasan lain, “kurasa kau tidak perlu mencari pemimpin keamanan, karena aku akan pergi melewati kediaman Kyfa. Aku yang akan memberitahukan padanya agar ia segera menuju altar Kal’ Luin.”

“Terima kasih.” Ninye tersenyum. “Aku pergi sekarang, selia (sampai nanti) Aldérin.”

Seliara (sampai jumpa), Ninye.”

Lalu Ninye berpamitan pada Aldérin setelah sebelumnya memberitahukan para elter bahwa mereka akan diantar pulang oleh Aldérin, karena orang tua mereka masih di dalam pertemuan dan entah kapan akan kembali ke rumah. Elter-elter itu tampak bersuka cita karena akan diantar pulang oleh Aldérin. Itu mengartikan, sepanjang perjalanan pulang ke rumah mereka akan disuguhi senandungnya.

Aldérin menatap kepergian Ninye dengan hati berat. Entah mengapa, hatinya merasa khawatir melihat sosok wanita itu, seolah-olah ia dan Ninye takkan pernah bertemu lagi dengannya dan persahabatan mereka yang terjalin begitu lama, berakhir ketika Ninye berpamitan sesaat tadi. Namun itu hanyalah perasaan, batin Aldérin.

“Ada apakah di Kal’ Luin, Ial Aldérin?” tanya Trunde, salah satu putra pejabat tinggi dari klan Sholyrn di Timur wilayah Lamvorels. “Ada sesuatu yang buruk terjadi?”

“Kudengar kegelapan akan datang, Atar mengatakan hal itu pada Atara ketika kami dalam perjalanan kemari,” timpal Halina, putri pejabat dari klan Shaes di Selatan wilayah Lamvorels.

“Apakah kegelapan itu akan memangsa kami, Ial Aldérin?” tanya Limete, putri dari klan Anvada di Barat, dan yang paling terkecil dari para elter. “Apakah para kegelapan itu tidak akan memperbolehkan kami bernyanyi dan bermain lagi?”

“Tidak, Limeté sayang,” jawab Aldérin.

“Tapi Trunde mengatakan padaku, bahwa kegelapan akan memangsa siapa saja, bahkan kedua orang tuaku. Bahkan kami takkan mungkin bisa bersenang-senang lagi,” Limeté terlihat cemas. “Aku takut sekali, Ial.”

“Oh, ini bukan sesuatu yang harus kalian khawatirkan,” ujar Aldérin, berusaha untuk menenangkan para elter yang mendadak gelisah setelah kepergian Ninye. “Semua akan diselesaikan oleh orang tua kalian, maka percayalah akan hal itu.”

“Baiklah,” kata Trunde. “Bagaimana jika Ial segera menceritakan sebuah kisah untuk kami? Bukankah Ial sudah menjanjikan hal tersebut sebelumnya?”

“Tentu saja aku takkan mengingkari janjiku,” balas Aldérin. “Dan setelah kisah ini berakhir, kita akan pulang bersama-sama dan tak perlu khawatir akan apa pun.”

“Bukankah itu putra Ial Elverel dari klan Andilosh?” tunjuk Halina, tiba-tiba, pada seorang anak lelaki yang berlari tergesa-gesa.

Bocah itu melalui jembatan gantung dan ia memasuki Gerbang Tengah, terus berlari ke Utara hingga sosoknya menghilang. Bocah yang terlihat menarik; berambut hitam mengkilat, sepanjang bahu (hampir semua elter maupun elterhel laki-laki berambut sebahu), tetapi justru ia memiliki aura yang membuatnya berbeda dari bocah seumurnya.

“Siapakah dia? Rasanya aku belum pernah melihatnya?” tanya Aldérin.

“Sejak memasuki elterhel sura empat tahun yang lalu, ia jarang bersama kami lagi,” jawab Trunde, serius. “Findarel memiliki tanggung jawab besar terhadap klannya, karena itu ia tidak lagi meluangkan waktu dengan kami semenjak atar-nya memberikan banyak tugas dan ujian.”

Findarel? batin Aldérin. Ada dua putra bernama Findarel dan usia keduanya pun tidak terpangkut jauh. Sama-sama dari klan Andilosh. Mungkinkah bocah itu yang menjadi sang pewaris? Kenapa aku sama sekali tak pernah mengingatnya?

“Dan suatu saat, kita pun akan melewati waktu yang sama dengannya,” keluh Halina. “Bukankah kita semua memiliki tanggung jawab seperti Findarel?”

“Ya, kita semua,” tukas Aldérin. “Apakah kalian putra dan putri dari anggota altar Kal’ Luin, atau hanya elf biasa, semua memiliki tanggungan yang sama, tak ada perbedaan. Semua harus menjaga Lamvorels dan hutannya, itu merupakan kewajiban kita.”

“Aku akan menjaga Lamvorels dan hutan kita, Ial,” seloroh Limeté. “Saat aku sebesar Findarel, aku akan belajar dengan sebaik-baiknya.”

“Oh, itu sangat bagus sekali, Limeté.” Aldérin tersenyum senang dan bangga, lalu ia memberikan sebuah pelukan hangat pada elter yang manis itu. “Nah, mari kita mulai dengan kisah yang akan kuceritakan ….”

“Baik, Ial Aldérin,” balas mereka serempak dan riang. Anak-anak itu duduk dengan khidmat, siap mendengarkan kisah baru.

Aldérin memulai ceritanya:

“Seperti yang kita semua ketahui bahwa dunia yang kita tinggali ini pernah merasakan pahitnya kegelapan dan kehancuran. Peperangan seolah tak berakhir ketika melawan bangsa dëia, dan saat semua mencapai puncak, dunia kita harus merasakan akibat yang begitu pahit. Yang kita ketahui sebagai Masa Gelap.

Anak-anak itu seperti mencicit ketakutan ketika Aldérin mengatakan bangsa dëia, bangsa merah atau yang dikenal sebagai shyrh oleh elf, yang artinya bangsa darah. Dan bangsa api di kalangan para dwarf dan manusia.

“Bahkan akibat dari itu pun, kita kehilangan persatuan dengan bangsa-bangsa lain, dan entah apakah dapat terjalin kembali. Tapi, kuharap begitu … karena kita sudah memenangkan peperangan dan Masa Awal Baru telah kita jalani selama ribuan tahun, setelah Masa Gelap. Perdamaian dan persatuan, dapat terjalin seiring waktu kita jalani, dan tugas kalian adalah membangun dunia ini, kelak.

Anak-anak mengangguk setuju.

“Setelah Masa Gelap berakhir, kehidupan terus berjalan, akan tetapi tanpa adanya persatuan, tanpa adanya dunia yang hijau, bahkan kita pun takkan mungkin bertahan hidup. Kalian tidak merasakan pahitnya kehidupan ribuan tahun lalu, di mana semua makhluk hidup sengsara karena dunia menjadi kering ….

“Kalian bisa membayangkan, bagaimana pepohonan mati, dan sebagian kecil dari mereka yang bertahan meski ranting dan dahannya rapuh. Lalu hewan-hewan yang semestinya berbahagia di hutan, semua lenyap … tewas karena perang. Dan aliran air berbau amis darah, rawa-rawa keruh, tanah tidak lagi subur melainkan hitam legam bagaikan padang kematian ….

Anak-anak menunjukkan mimik sedih karena prihatin.

“Namun, masa penderitaan itu tidak berlangsung lama, kita diberikan kemurahan dari Avinlár, yang menyayangi semua makhluk hidup di dunia Khâli. Maka Avinlár pun mengutus sembilan sosok yang datang dari dunia Élfarä, di mana mereka ini datang untuk memperbaharui segala sesuatu yang ada di dunia. Dengan harapan, bahwa dunia akan bangkit kembali menuju kehidupan yang lebih baik.

“Dan kisahku ini merupakan kisah dari para pembangun kembali dunia Khâli, ribuan tahun yang lalu. Bangsa yang sangat hebat dan datang dari negeri yang sangat jauh. Mereka dikenal sebagai para Len Arna ….”

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!