The Quest for The Lost Inheritors
Crusel Fardrown Hakim Agung, Kah?
Satu, dua, tiga dan entah berapa banyak masalah yang diselesaikan Lya dalam tempo waktu dua jam di pekarangan rumah Crusel Fardrown. Dengan mudah dan singkat ia mengambil keputusan yang tak bertele-tele, hebatnya semua orang merasa puas dan pulang ke rumah masing-masing tanpa perlu mengeluarkan beberapa keping uang perak, seperti keharusan jika menghadap sang hakim agung.
Namun, mereka pun tidak menyepelekan Lya, dengan memberi hadiah ala kadarnya, Lya sudah merasa lebih dari cukup dan sedikit risih. Sekeranjang buah-buahan, satu-dua botol minuman, sekantung gandum, dan hadiah lain, akan dibawanya pulang.
Satu dari pelayan Crusel tiba-tiba memanggil keduanya, memajukan antrian tanpa sebab yang jelas. Padahal, masih banyak yang ingin meminta keadilan dari gadis yang tak menyandang gelar agung itu. Raut-raut kecewa ditunjukkan oleh penduduk yang kesusahan, tetapi Lya hanya mengatakan, “Tuan Fardrown tentu lebih mengerti dan lebih bijak dalam mengambil keputusan.”
Padahal mereka semua tahu, kadang Crusel suka memperpanjang masalah, agar kepingan perak terus mengalir padanya, dalam upaya menumpuk kekayaan.
Dan kekayaan tersebut terpampang amat jelas ketika keduanya melewati pintu ruang depan dan memasuki lorong menuju ruang peradilan di ujung koridor. Lima pintu besar berderet di sisi kiri dan kanan, berjarak cukup jauh, di mana dinding-dindingnya dihiasi lukisan. Selembar hamparan karpet berwarna marun, memanjang sampai ke ujung, yang berakhir menuju ruangan dua pintu di tengah-tengah, ruang peradilan berada.
Baik Aldérin maupun Lya sama-sama memberi kesimpulan bahwa gaya hidup Crusel amatlah megah juga elegan.
“Apa kehidupanmu selama di Lamvorels layaknya Tuan Crusel, Aldérin?” bisik Lya, ia tak mau pelayan si hakim agung menguping pembicaraan mereka. Aldérin menggeleng. “Dan bagaimana kehidupan penguasa di Lamvorels?”
“Jauh lebih sederhana dari Crusel,” jawab Aldérin. “Ia hanya duduk di sebuah tahkta yang lebih tinggi dari kami ketika di altar Kal’ Luin. Keluar dari itu, Tylosae adalah seorang ayah, seorang teman, dan penduduk Lamvorels.”
“Seandainya aku pernah mengenalnya, mungkin aku adalah orang beruntung. Tidak pernah ada pemimpin yang menganggap dirinya bukan penguasa, jarang kutemui sosok seperti demikian,” gumam Lya. “Kau pasti amat kehilangan ….”
“Memang.” Aldérin menyentuh dadanya. “Namun, Tylosae dan mereka-mereka yang pernah memberikan kenangannya padaku, akan ada di sini. Tetap hidup di hatiku.”
“Semoga kelak, kau akan mengenangku.”
“Sejak awal kau sudah memberikan kenangan tak terlupakan, Lya.”
Lya tersipu dan menepuk-nepuk bahu Aldérin dengan lembut.
Kedua daun pintu kayu berukir aliran abstrak itu mengeluarkan suara gaung yang cukup keras ketika ia terbuka. Sang pelayan membungkukkan badan saat ia menghadap Crusel (dan entah untuk berapa tahun, ia harus membungkuk setiap harinya), lalu mempersilakan Aldérin dan Lya masuk ke dalam.
Pintu tertutup. Hening menyusup.
Terlihat di sana, duduk dihadapan keduanya, seorang pria tua, berambut abu-abu dengan potongan pendek rapi; ia memakai kemeja berkerah kaku berwarna putih, dua tali bretel warna hitam menjadi penghias kepolosan pakaiannya. Dan menggantung di bahu kursi, jubah hitam yang tak lagi ia pakai.
Ia sibuk menulis di sini dan di sana, pada tumpukan kertas; seolah-olah hanya dia sendiri di sana, dan sama sekali tak mengindahkan Aldérin juga Lya. Barulah beberapa menit menunggu, si tua itu mendongakkan kepala, kentara menyelidik lalu mempersilakan keduanya duduk di dua buah kursi yang telah disediakan.
“Aldérin Varwendil dan Lya Brander, kukira?” tanyanya. Secarik kertas yang ada di sebelah tangannya merupakan benda penguat keyakinannya itu. Aldérin dan Lya sama-sama mengangguk. “Masalah yang kalian perdebatkan adalah?”
“Kami tidak dalam perdebatan,” jawab Lya, cepat.
“Oh …,” gumam Crusel, seolah baru mendengar hal sebaru ini. Padahal dia sudah siap mencatat permasalahan, yang mungkin nanti, itu bisa dijadikan satu referensi jika ia menghadapi masalah yang sama. “Lalu?”
“Aku harus menemui Raja Thornell,” kata Aldérin. “Ini masalah serius.”
“Jadi menurutmu, pekerjaanku di sini tidak serius, Tuan …,” Crusel lagi-lagi melihat secarik kertas yang kini diletakkannya di atas meja, “… Varwendil?”
“Aldérin.”
Crusel meletakkan penanya. “Aldérin, ya … Aldérin. Begitu menurutmu?”
“Maaf, aku tidak ada maksud menyinggung, Tuan Fardrown. Namun, apa yang kusampaikan, ini mungkin akan kau anggap tak masuk akal.”
“Jika aku berpikir begitu, lalu bagaimana tanggapan Raja Thornell? Bisa-bisa dia menganggap itu semua hanya lelucon,” kata Crusel, mengejek. Ia melirik pada Aldérin, waspada. “Pernahkah itu tersirat dalam pikiranmu?”
“Dengar, Tuan Fardrown.” Lya menukas pembicaraan tak menentu tersebut, ia tahu apa yang diinginkan oleh Crusel. “Katakan berapa yang kau perlukan, bagi kami, kepentingan menemui raja lebih utama dari apa pun!”
“Kau menyuapku?” Crusel terlihat tersinggung.
“Memberikan penawaran!” tegas Lya.
“Kalau begitu ….” Crusel membuat jeda, berpikir. Kedua ibu jari tangannya saling memijat, seolah ikut memikirkan pertimbangan Crusel. “Agak sulit juga ‘tuk menembus persetujuan Dewan Kota, belum lagi para penasihat raja.”
“Berapa?” tanya Lya, lagi.
“Lima puluh koin emas, kurasa,” jawab Crusel, enteng.
Lya terbelalak, kaget. “L-lima puluh?”
“Kukurangi hingga empat puluh jika kau keberatan,” ralat Crusel.
“Tentu saja kami ….”
Namun belum Lya meneruskan protesnya, Aldérin langsung menukas dengan mengambil kantung kulit dari dalam jubahnya, lalu ia letakkan di atas meja. Suara gemerincing terdengar ketika kantung menyentuh permukaannya.
Begitu kelihatan tamaknya Crusel, pria itu langsung menyambar si kantung. Ia keluarkan isinya, dan berserakan di atas meja, logam-logam koin emas yang kotor juga lusuh, tetapi tetap emas jika dicuci.
Crusel ternganga. Itu merupakan koin kuno, yang harganya tentu lebih mahal dari harga koin emas jaman sekarang.
“Dari mana kau dapatkan ini, Tuan Aldérin?” tanya Crusel, takjub.
“Apa itu tak cukup, Tuan Fardrown?” selidik Aldérin, tak suka.
“Oh, tidak! Jangan begitu … ini lebih dari cukup.” Crusel berseri-seri.
Busuk! dengung batin Lya, jijik.
“Aku akan membuat perjanjian dengan Dewan Kota, paling sedikit dalam dua minggu kalian bisa menemui para penasihat sekaligus Raja Thornell,” Crusel pun menyudahi pembicaraan mereka.
“Lima hari, paling lambat,” tekan Lya. “Aku tahu kau bisa melakukannya.”
“Baik, baiklah, Nona Lya yang manis,” rajuk Crusel. “Aku akan mengusahakan hal ini seadil-adilnya. Bagaimana? Setuju?”
Aldérin memberi isyarat pada Lya agar tetap diam. Aldérin menganggukkan kepalanya pada Crusel, menyetujui perjanjian itu. Dan hakim agung yang rakus, dengan lagak sopan, menjabat tangan Aldérin. Kepercayaan adalah yang saat ini dibutuhkan oleh elf dari Lamvorels itu, dan ia merasa bahwa Crusel cukup bisa diandalkan.
Namun, yang Aldérin tidak sadari adalah sisi gelap yang bersarang di hati Crusel, sisi yang pernah diperingatkan oleh Élsus sebelumnya. Si tua itu menatap puas ketika Aldérin dan Lya keluar dari ruang peradilan, yang tak menunjukkan keadilannya.
…
Pena pun berjalan seiring keinginan benak Crusel, menuliskan satu dua kata yang mendadak terangkai menjadi untaian kalimat penuh cela dan fitnah. Di atas secarik kertas itu, Crusel menumpahkan kekejiannya. Dengan terburu-buru ia pun membakar lilin, seolah tidak mau menunggu lagi, dan kesempatannya meluncur mulus datang, saat pintu ruangannya terbuka kembali setelah Lya dan Aldérin keluar dari pintu tersebut beberapa saat sebelumnya.
“Munder,” panggil Crusel, ketika pelayannya itu masuk ke dalam membawa berkas kasus lain dan sudah mengantar Aldérin juga Lya keluar, Munder hanya memberikan tatapan malas lalu mengangguk patuh.
“Ya, Tuan Fardrown?”
“Berikan ini pada Liédik Gargôl,” titahnya. Ia menyerahkan secarik amplop putih bersegel lilin merah yang masih basah. “Katakan ruang sidang ditutup cepat hari ini, aku hanya mau menerima satu kasus lagi saja.” Crusel menunjuk berkas yang baru dibawa oleh Munder. “Hanya ini, terakhir.”
“Baik, Tuan.”