The Quest for The Lost Inheritors
Peringatan Estion
Keduanya tersentak kaget dan tergopoh-gopoh masuk ke dalam kamar. Lya tak percaya dengan apa yang dilihat oleh kedua matanya. Pria itu, pria yang ada di dalam mimpinya, kini berada di atas tempat tidur, di mana posisi Findarel pun kini berubah; terduduk dengan mata terpejam. Pria itu memeluk tubuh Findarel dari belakang seolah sedang melindunginya.
Keanehannya adalah, sosok tersebut bak sosok hantu, tembus pandang dan berwarna kebiruan.
“HANTU!!!” pekik Larker. Ia langsung berlari dan memeluk Newtor sembari menangis.
“Jangan sentuh dia,” kata Lya, dengan suara bergetar. “Lepaskan Findarel!”
Newtor memegangi gaun Lya dengan erat, bahkan ia tak mampu bergerak dan lari keluar kamar, tubuhnya seolah membeku, layaknya musim salju muncul di antara mereka semua. Hal yang sama dirasakan oleh Larker juga Lya.
“Lepaskan Findarel kataku!!!” bentak Lya.
Findarel membuka matanya. “Aku tak apa-apa, Lya. Sesuatu yang jahat datang, aku tak bisa menahan pengaruhnya, kumohon … tinggalkan kami, sampai aku pulih.”
“Tetapi ….” Lya menatap sosok roh tersebut ketakutan. “Findarel, aku tak bisa melakukannya. Kau bisa terluka! Menjauhlah dari makhluk itu, kumohon….”
“Kalian akan sakit karena dingin, keluarlah.” Findarel tersenyum. “Dia takkan menyakiti hati yang baik, akan tetapi kekuatannya terlalu besar, bahkan bisa menjadi menyakiti. Dia harus menyembunyikanku dari shyrh.”
“Dia hantu,” gumam Larker, bergidik.
Findarel menggeleng. “Dia adalah Estion, Larker. Pelindungku. Dan berkat benda yang kau curahkan kasih sayang, kekuatannya bangkit. Aku berterima kasih atas bantuanmu.”
“Kau boleh memilikinya kalau kau mau,” kata Larker, sembari menatap boneka dan selimut usangnya. “Aku tak mau membawa benda-benda yang menjadi sarang hantu.”
Findarel tertawa lirih. “Nu helni … (Kau lucu).”
“Baiklah Findarel, jika itu yang kau inginkan. Kami akan meninggalkan kalian,” pamit Lya, sembari mengajak kedua adik laki-lakinya sebelum mereka semua terserang flu berat karena udara dingin yang ditimbulkan oleh Estion. Newtor dan Larker masih menunjukkan raut kebingungan dan heran luar biasa.
Lya menyuruh mereka duduk di kursi depan meja makan. Membiarkan hawa panas dari tungku perapian, menghangatkan mereka bertiga. Selama beberapa saat ketiganya membisu, yang terdengar hanyalah dentingan sendok pada perut cangkir berisi susu coklat hangat yang sedang dibuat oleh Lya.
“Kenapa udara begitu dingin di kamar kami?” tanya Newtor. Lya tak menjawabnya, sulit menjelaskan kepada anak berusia delapan dan lima tahun yang belum tentu bisa menutup mulutnya di hadapan anak-anak lain. “Kita harus memanggil peramal, Lya! Atau apa pun yang bisa mengusir hantu itu dari sini!!” lanjut Newtor.
“Findarel mengatakan bahwa sosok itu adalah pelindungnya,” tukas Lya.
Newtor menggeleng. “Aku bukan anak kecil, dan kau katakan itu sebelumnya padaku! Apa kau pikir hantu itu takkan menyakiti Findarel? Bahkan kedua tangan ini sampai begini beku, apalagi dia? Ia bisa menjadi bongkahan es tak lama lagi!”
“Dengar!” Lya meletakkan kedua cangkir di depan adik-adiknya dengan gusar. “Estion takkan mengancam keselamatan Findarel. Cukup! Selesai!”
“Apa Findarel juga hantu?” tanya Larker, tiba-tiba.
“Bicara apa kau, Lark?” kata Lya, sengit.
“Kalau dia manusia, dia akan kedinginan seperti kita, bukan?” tanyanya lagi. “Tetapi mengapa ia tak menggigil sedikit pun?”
“Kau benar, Lark!” Newtor seolah mendapat ide. Pandangannya ia alihkan pada Lya. “Dia hantu yang bisa berwujud! Apa kau tak menyadari hal itu, Lya? Ia salah satu dari makhluk halus! Arwah gentayangan!!”
“Tidak, tunggu ….” Lya memegangi dahinya. Rasa pening mendadak datang begitu saja karena pertanyaan-pertanyaan konyol (tetapi sesungguhnya bukan hal konyol) adik-adiknya yang penuh keingintahuan.
Ketukan di pintu mengalihkan pembicaraan itu, dan setidaknya memberikan Lya waktu berpikir untuk menjelaskan secara benar kepada kedua adiknya hingga mereka tak penuh pertanyaan lagi, dan tidak perlu mengetahui kebenarannya, sampai Aldérin dinyatakan tidak bersalah atau sampai Aldérin bisa menemui raja dan menceritakan segalanya.
“Paman?” Lya mendapati sosok Blud yang berdampingan dengan Cahreb di depan pintu rumahnya. “Apa yang kau lakukan di sini?” tanyanya, pada Cahreb.
“Aku menanyakan hal yang sama padanya,” tunjuk Blud pada Cahreb. “Tetapi ia tak mau mengatakan, tidak sampai bertemu denganmu.”
“Astaga!” wajah Lya mendadak memerah. Namun, ia berusaha tetap wajar dan tenang, meski sedikit terkejut mendapat kunjungan dari Cahreb.
“Tuan Fielgreen menitipkan ini untuk si bocah malang,” Cahreb menyerahkan gelang milik Aldérin pada Lya. “Untuk keponakan si tahanan, kurasa.”
“Tuan Varwendil,” ralat Blud. “Rupanya rumor mudah mengalir di Hail, akan tetapi belum tentu semua orang mengetahui kebenarannya.”
“Yah, terlebih pada orang asing,” tambah Cahreb. “Meskipun Hail cukup besar, tetapi adanya orang asing mudah sekali dikenali di sini. Kurasa si tua Crusel pun telah menyelidiki hal ini, terlebih kepada dua orang dari selatan itu.”
“Kau pikir begitu?” tanya Lya. Agak tersaingi karena ia tak berpikir akan hal itu sebelum-sebelumnya. Namun, apa yang dipaparkan Cahreb bisa juga benar.
“Mungkin,” jawab Cahreb. “Lalu bagaimana keadaan si bocah malang?”
“Tidak baik dan tidak buruk,” jawab Lya. “Dia sedikit syok, itu saja.”
“Sharon Rose bisa mengurangi depresinya,” kata Cahreb. “Klamath nama lain dari bunga itu, apabila kau tak tahu apa Sharon Rose. Bunganya berwarna kuning keemasan, dan bulan ini adalah tepat bulan mereka berkembang!”
“Di mana bisa kutemukan tanaman ini?” tanya Lya.
Cahreb mengerutkan dahinya, lalu ia tersenyum dan menunjuk pada tanaman setinggi hampir dua meter bak semak-semak raksasa dengan polkadot kehitaman pada batangnya di ujung halaman rumah Lya. “Ah, ternyata tak sulit menemukan Sharon Rose. Bahkan hampir di setiap rumah ada.”
“Dan apa yang harus kulakukan dengan sesemakan itu? Membakarnya?”
“Astaga, apa kau tak punya rasa belas kasih terhadap tanaman, Lya?” tanya Cahreb, polos. “Kau bisa keringkan bunganya dan jadikan teh. Itu cukup.”
“Baiklah,” tukas Blud. “Nah, terima kasih atas pengetahuanmu yang sangat berguna itu, Cahreb. Tetapi, kurasa kau harus segera pergi.”
Cahreb menggeleng-gelengkan kepalanya, heran. “Hari ini banyak sekali orang yang mudah marah dan tak sabar,” ujarnya. “Bahkan tuan Fielgreen pun berkata amat ketus pada dua orang asing yang melewati penjara kota.”
“Apa mereka menanyakan tentang penginapan?” tanya Blud.
Cahreb mengangguk. “Ya, Deliret House. Namun kami tak berbincang banyak, Tuan Keld mengusir mereka secara halus, katanya ia memiliki firasat jelek pada mereka,” jawab Cahreb. “Memang aneh, aku tak mengerti kenapa akhir-akhir ini banyak pengunjung ke Hail sedangkan suasana pun begitu tak menentu.”
“Apa dua orang asing itu mengatakan nama mereka, Cahreb?” tanya Lya.
Dia menggeleng. “Tidak. Sepertinya mereka hanya sepasang suami istri biasa, tidak terlihat mencurigakan.” Cahreb menuntaskan pembicaraan mereka. “Yah, sebaiknya aku pergi. Tuan Fielgreen bisa lebih gusar lagi jika aku pergi terlalu lama.”
“Maaf, Cahreb. Atas perlakuanku tadi,” kata Blud, menyesal. “Ini karena … ah, ada banyak hal tak menentu. Aku begitu khawatir.”
“Aku mengerti, Tuan Pramber. Jangan dirisaukan.”
“Hati-hati, Cahreb. Dan terima kasih,” kata Lya. “Sampaikan juga rasa terima kasihku pada tuan Keld. Untuk gelangnya.”
“Akan kusampaikan. Sampai jumpa lagi!”
Lya menatap kepergian Cahreb, merasakan debaran jantungnya yang sedikit kacau. Dia memang menyukai pemuda itu, tapi hanya sebatas kagum.
“Perempuan itu sikapnya aneh,” gumam Blud, sembari memandang pada punggung Cahreb yang menjauh, lalu menghilang di tikungan jalan. Lya menatap pamannya, heran. “Apa yang mereka lakukan selalu bertentangan dengan perasaan,” lanjut Blud.
“Apa maksud, Paman?”
“Pemuda itu,” tunjuk Blud pada jalanan kosong. “Kau menyukainya, bukan?”
Lya menggembungkan pipinya. “Sama sekali tak lucu! Ia laki-laki bodoh.”
“Ah, ya … tentu, tentu saja,” Blud mengerlingkan sebelah matanya.
Tetapi godaan itu tak berlangsung lama, Newtor dan Larker sudah menghambur keluar, ribut dengan pembicaraan mereka mengenai hantu dan mengadu pada Blud, sampai pria itu dibuat kewalahan untuk menutup mulut keduanya agar tak terdengar para tetangga.
“Makhluk ini, yang bernama Estion, datang entah dari mana, tetapi Findarel mengatakan dia adalah pelindung.” Lya menjelaskan, kurang terperinci. Blud yang menggendong Larker mengernyitkan hidungnya, bingung. “Lihatlah sendiri, tetapi tetap pakai mantelnya, Paman. Kau akan mengerti,” lanjut Lya.
Blud menurunkan Larker, memberinya satu kecupan sebelumnya. Dan satu lagi untuk Newtor yang meringis geli. Lya memberikan gelang milik Aldérin pada Blud, meminta pamannya yang menyerahkan pada Findarel, karena sensasi udara dingin yang pernah ia rasakan, tak mau ia alami lagi. Kedua bocah itu menatap penuh ingin tahu saat Blud membuka pintu kamar mereka, tetapi Lya mengawasi penuh dengan tatapan mata galak yang serius dengan ancamannya.
Udara dingin menusuk Blud ketika ia masuk ke dalam kamar. Findarel sadar, dan ini berita bagus untuk Aldérin. Namun, bocah itu … Blud terkesiap. Setiap sudut dari tubuhnya mulai ditumbuhi bunga-bunga es, dan makhluk bak asap itu masih di sana, memeluk Findarel, menatap Blud dengan tajam.
“Aku tak bermaksud menyakitinya,” kata Blud. Ia beruntung memiliki mental yang cukup kuat. Setidaknya jika makhluk itu hantu, Blud berhasil untuk tidak terkencing-kencing di celana. Diletakkannya gelang itu di tepi tempat tidur, tak jauh dari jangkauan Findarel. “Pamannya meminta menyerahkan itu,” lanjut Blud, masih menatap pada Estion.
Findarel meraihnya, mendekapkannya begitu erat pada dada, seolah gelang itu ada penyembuh atas sakit yang ia derita. Air mata mengalir pelan melalui pipi-pipi putihnya yang bersih tanpa cela. “Ial Aldérin …,” isaknya lemah.
“Blud Pramber. Kumohon, bawalah dia pergi,” kata Estion, tiba-tiba. “Ia lemah. Bawa jauh-jauh fir Andilosh dari tempat ini. Kegelapan menerawang, mereka mengawasi.”
“Findarel?” tanya Blud. Estion mengangguk. “Ke mana?” tanya Blud lagi.
“Sejauh kau bisa menghindarkannya dari bahaya, sampai ia pulih benar,” kata Estion. Ia menatap tajam pada Blud. “Lekas! Waktu mendesak! Ia dalam bahaya!”
Blud keluar dari kamar dengan raut wajah ngeri, tubuhnya menggigil. Ini tak main-main, pikirnya. Jika Findarel tinggal terlalu lama, musuh bisa mencium aura es yang dipancarkan Estion untuk melindungi pemiliknya.
Dan keluarga Lya bisa terserang sakit karena udara dingin terus meluas.
“Hantu itu masih di sana?” tanya Larker, berharap Blud sudah mengusirnya.
“Aku akan mengajaknya pergi dari sini, dan berjanji, bahwa ia takkan kembali lagi,” sahut Blud menenangkan keponakannya. “Malam ini, Lark.”
Lya menyerahkan secangkir coklat hangat yang disambut Blud dengan suka cita. Ia sesekali menoleh ke dalam kamar dan menggelengkan kepalanya. Tidak percaya, tetapi ia harus percaya.
“Kita harus bagaimana, Paman? Bangsa api itu sudah dekat, kota kita akan hancur! Aku tak tahu harus mulai dari mana,” bisik Lya, raut wajahnya memucat. “Segalanya bisa menjadi terlambat jika kita tidak segera bertindak!”
“Tenanglah, jika mereka sudah dekat seharusnya sudah ada kabar!” kata Blud. “Para pemburu selalu berkeliaran di hutan, mata mereka cukup awas, tentu ada yang melihat kedatangan pasukan besar sebelum mencapai kota!”
“Tetapi—”
“Dinginkan kepalamu,” potong Blud. “Nah, sekarang pergilah ke penjara kota dan katakan pada tuan Aldérin bahwa Findarel akan kubawa pergi malam ini juga. Dan Aldérin harus segera keluar, meski belum ada keputusan dari Thornell.”
“Kau akan membawanya ke mana?”
Blud beranjak dari duduk, mencari-cari kertas dan pena, yang baru ia temukan setelah beberapa menit mencari di laci ‘segala benda’ milik Malda. Dia menulis tergesa-gesa, tangannya pun masih bergetar karena rasa kaget yang belum pulih.
“Ferden’lyf, aku akan mengobatinya dengan mata air ajaib,” kata Blud.
Ia pun menyerahkan secarik kertas itu pada Lya. Kertas yang menulis tujuan sebenarnya, Pine Tower, satu dari penginapan yang terletak di utara, agak jauh dari kota Hail, akan tetapi sangat aman dan biasa dikunjungi pemburu-pemburu binatang liar yang rasa ingin tahunya tidak tinggi.
“Sampai ia pulih.”
“Aku mengerti,” kata Lya setelah membaca sekilas isi surat. “Apa Paman yakin ini akan berhasil?” ia menatap adik-adiknya. “Mata air itu?” Blud mengangguk.
“Paman, jika kau sampai di sana, katakan pada Thane, ia harus pulang,” sahut Newtor. “Sebagai kepala keluarga di rumah ini, aku memiliki tanggung jawab dan ia tak boleh mengatakan ‘tidak’.”
“Baik, baik … aku akan mengatakannya,” balas Blud.
“Kapan kau akan pergi, Paman?” tanya Lya.
“Setelah makan malam.” Blud merendahkan suaranya. “Dan yakinkan hal ini diketahui oleh Crusel, aku ingin ia datang dan memastikan kondisi Findarel sangat kritis.”
“Tetapi bagaimana dengan keberadaan Estion?”
“Crusel harus datang setelah kami siap berangkat, maka temuilah dia sebelum makan malam, Crusel pasti akan datang setelah ia menyelesaikan santapannya. Dengan begitu, ia takkan mungkin bisa membantah keputusanku, jika kedua matanya telah melihat sendiri keadaan Findarel,” jawab Blud. “Estion tentu dapat dibujuk, untuk menghilang sementara. Pasti ia jauh lebih paham, bahwa ini untuk kebaikan Findarel. Percayalah padaku!”
Lya hanya mengangguk-anggukkan kepalanya, setuju.