The Quest for The Lost Inheritors
Keluar
“Aku adalah elf dari kota Lamvorels di Hutan Elethäs,” kata Aldérin.
“E-elf?” Keld terbata.
“Kedatanganku ke Hail, karena didesak oleh bahaya,” lanjut Aldérin. “Bangsa kami diserang oleh kaum dëia, makhluk penguasa api. Dan entah kapan sampai kapan, bangsa manusia pun akan diserang oleh mereka. Aku harus memperingatkan Raja Thornell akan hal ini, akan tetapi Crusel menghambat langkahku.
“Dan sekarang, penyusup telah datang ke Hail, surat ini adalah petunjuknya. Shyrh adalah nama lain bangsa dëia. Entah apa tujuan dari pria itu memberikan surat ini padamu, tetapi aku yakin, ia memang bertujuan untuk menyampaikan kedatangan bangsanya kemari,” jelas Aldérin.
“Apa ia akan menghancurkan kota ini? Maksudku, pria itu?” tanya Keld, yang kini sudah bisa menguasai emosinya. Meski wajahnya kini terlihat sangat pucat.
Aldérin menggeleng. “Aku tak tahu. Namun, saat ini aku memohon bantuanmu. Rencana awalku adalah melarikan diri dari penjara, maaf, aku sama sekali tak bermaksud berbuat demikian, akan tetapi itu merupakan keterpaksaan,” jelas Aldérin. “Namun, mendapati surat dari pria misterius, seperti yang kau katakan padaku sebelumnya, aku harus mengubah rencanaku. Aku harus menemui Raja Thornell, dan sebisa mungkin keberadaan pria itu diawasi. Jangan sampai, ia dapat keluar dari Hail. Tetapi, Tuan, jangan mencarinya sendirian, karena ia bisa saja berbahaya.”
“Lalu bagaimana dengan Findarel?” tanya Lya.
“Ia harus tetap dibawa pergi oleh Tuan Blud, lebih baik kau temani mereka dalam perjalanan ke Pine Tower, karena kau pun bisa berada dalam bahaya, Lya. Aku tak mau membuat nyawamu terancam,” jawab Alderin.
“Apa sebaiknya aku membuat laporan mengenai pria itu pada Tuan Fardrown? Mengatakan bahwa ia melakukan tindakan mencurigakan?” tanya Keld.
“Jika itu memang ide yang bagus, Tuan Keld. Lakukan apa yang menurutmu baik, dan tidak membahayakan,” Aldérin menjawab lagi. “Aku memang tak memiliki kemampuan hebat, akan tetapi aku akan berusaha menghadapi dëia itu. Aku bisa menjaga diriku sendiri.”
“Tetapi Aldérin, kau berada di tahanan! Bagaimana jika bangsa itu mendesakmu dan kau tak mampu melawan mereka?” kata Lya, cemas. “Lebih baik kita lakukan saja rencana awal, kau harus pergi dari sini dan jangan hadapi mereka!”
Terdengar suara pintu berkerit di depan, sepertinya Burbock sudah kembali. Aldérin memberi isyarat pada Keld, agar mereka segera pergi dari ruang tahanan. Keld mengajak Lya keluar, meski gadis itu kelihatan enggan. Namun Aldérin tak mengatakan apa-apa lagi, ia memakai kembali syalnya dan berdiri menghadapi dinding, menghindar dari tatapan Lya yang memohon agar ia mengurungkan niat untuk menghadapi bangsa dëia.
Burbock tampak heran mendapati Keld dan Lya keluar dari ruang tahanan, tetapi ia tak banyak berkomentar, diacungkannya kantung kulit berisi tiga botol ale, “Satu adalah hadiah cuma-cuma,” katanya pada Keld. Burbock menoleh ke belakang, “Cahreb!!” teriaknya. “Astaga! Ke mana bocah itu?”
Pintu kembali terbuka dan sosok Cahreb muncul dari baliknya. “Maaf, maaf, Tuan Redboot, topiku terbawa angin,” katanya. Ia mengangguk pada Keld juga Lya. “Di luar mendadak dingin sekali, cuaca menjadi sangat aneh akhir-akhir ini. Beruntung ibuku membuatkan sedikit pai labu, kita bisa menikmatinya bersama-sama selagi hangat.”
“Wah, ucapkan terima kasihku pada Rasil, Cahreb,” sahut Keld. “Ayo, ke ruanganku. Waktunya menikmati pai dan minum teh!”
“Untukku, tentunya ale,” kekeh Burbock, menambahkan.
“Maaf, tapi aku harus melewatkannya,” tolak Lya, halus. “Paman Blud membutuhkan bantuanku. Kau akan datang ke rumah kami sebelum makan malam, Tuan Keld?”
“Ya, setelah menemui Tuan Fardrown,” jawab Keld, serius. “Kita akan melalui ini dengan baik, Lya. Jangan khawatir.”
“Nah, ada masalah apa lagi kali ini?” tanya Burbock. Ia menyimpan jubahnya pada kapstok. “Melibatkan Crusel Fardrown bukanlah berita yang baik.”
“Ini pun harus kubicarakan denganmu, Burb! Dan aku tak keberatan apabila Cahreb pun mau ikut bergabung,” kata Keld.
“Tentu saja, Tuan Fielgreen,” balas Cahreb, senang.
“Sebaiknya aku pergi, sampai jumpa lagi,” pamit Lya.
“Tuan Fielgreen, aku tak mungkin membiarkan Lya pulang sendirian,” sahut Cahreb. “Aku akan kembali meneruskan perbincangan serius ini setelah mengantarkannya.”
“Ya, ya, tentu. Aku sama sekali tak keberatan,” jawab Keld. “Kau benar, gadis semanis Lya tidak boleh pulang sendirian saat badai akan datang. Temanilah dia, dan segera kembali kemari, Cahreb.”
“Maaf, aku merepotkanmu, Cahreb,” kata Lya.
“Tak apa-apa.” Cahreb menyerahkan jubah yang dipakainya pada Lya. “Kau lebih membutuhkan ini daripada aku, pakailah.”
“Terima kasih.”
Burbock dan Keld masih berdiri di ruang depan saat Cahreb dan Lya sudah pergi dari penjara kota. Keduanya sama-sama membisu. Burbock pun mendesah pelan, ia masuk ke ruangan Keld, menuang salah satu botol ale pada dua gelas kayu, lalu ia duduk di bangku. Keld menyusulnya, ikut duduk; rautnya kelihatan cemas, tetapi ia berusaha tetap tenang.
“Ceritakan padaku semuanya, Keld,” pinta Burbock. “Apa yang terjadi?”
“Tuan Varwendil sebetulnya tidak bersalah,” kata Keld. Burbock menunjukkan raut terkejut. “Ia sepertinya dijebak seseorang, Burb. Aku benar-benar yakin. Ini bukan dugaan semata,” bisik Keld, serius.
“Maksudmu Crusel Fardrown?”
Keld menggeleng, “Kurasa bukan dia. Orang yang kucurigai adalah pendatang. Orang asing. Sepertinya ia memiliki ketertarikan terhadap tuan Varwendil, pada awalnya. Namun gelagat yang ia tunjukkan, lebih dari itu. Dia tahu, siapa tuan Varwendil.” Ia menghirup ale-nya. Lalu melanjutkan, “Dua kali kami bertemu. Pertama, pagi ini, ketika ia melewati penjara kota. Lalu yang kedua, saat aku berada di bar. Ia memberikan secarik kertas padaku, yang bertuliskan shyrh. Dan kau tahu, Burb? Tuan Varwendil tahu artinya.”
“Tetapi bisa saja Tuan Varwendil dan dia, satu komplotan, bukan?” duga Burbock.
“Aku tak menduga sejauh itu. Namun apabila benar, hal ini di luar kendali dari Crusel. Kita harus melaporkannya kepada raja Thornell.”
“Keld,” Burbock diam sebentar, “Kurasa melibatkan raja terlalu jauh. Bahkan sangat jauh! Kita memiliki hakim agung dan dewan kota, dengan melaporkan langsung kepada raja, apa kau tak berpikir baik Crusel dan seluruh anggota dewan kota akan marah besar, karena dianggap tidak mampu menjalankan tugasnya, sehingga harus melibatkan raja? Masalah kita di sini karena Tuan Varwendil adalah pendatang. Hanya itu!”
“Baik Tuan Varwendil dan pria itu adalah orang asing, datang dari negeri yang kita sendiri tak tahu keberadaannya. Mungkin mereka mata-mata dan berniat menguasai Hail. Pikirkanlah, Burb! Kita harus menghadapkan tuan Varwendil pada raja secepat mungkin!”
“Bukankah masalah yang ditimbulkan tahanan kita adalah uang yang dibawanya? Kenapa membicarakan masalah mata-mata? Keld, kurasa kau terlalu banyak minum.”
“Aku bersungguh-sungguh. Kepalaku taruhannya!”
“Baiklah, baik. Jangan gusar,” Burbock mengalah. “Jika memang dugaanmu itu benar, kita pun harus mengawasi pria asing yang kau maksud, Keld. Sebaiknya kita menangkapnya. Mengenai perkara apa yang ia lakukan, itu akan kupikirkan.”
“Kurasa Cahreb dapat mengawasinya.”
Burbock mengangguk. “Langkah kita selanjutnya adalah meyakinkan Crusel dan dewan kota. Kau bisa melakukannya, Keld?”
Keld mengangguk. “Kau temui Crusel, dan aku akan mendatangi tiap rumah para anggota dewan kota. Kita lakukan hal ini setelah Cahreb kembali.”
“Ya, ya, aku setuju.” Burbock menuang lagi ale pada gelas. “Sebaiknya, sembari menunggu Cahreb lebih baik kita minum.”
Keduanya mengangkat gelas dan saling membenturkannya dengan pelan. Lalu sama-sama terkekeh pelan. Keld mulai merasakan bahwa ale tersebut sangat keras, hingga kepalanya terasa berputar semakin kencang. Gelas pun merosot dari genggaman tangannya yang lemah dan ia terjatuh tak sadarkan diri.
Di lain pihak, Burbock, hanya memperhatikannya dengan tatapan dingin. Ia beranjak dari duduk dan tersenyum simpul. Lambat laun, sosok Burbock mulai berubah. Kulitnya menjadi semakin merah, dan bentuk tubuhnya membesar.
Gôntra Järfirr, kini yang berada di ruangan itu.
Dan ia dapat merasakan hawa elf berada di tempat tak jauh darinya.
“Aku perlu bicara dengan tahananmu,” kata Gôntra, pada Keld yang sudah tak sadarkan diri. Ia mengambil rangkaian kunci yang berada di dalam saku Keld. “Dan lebih baik kau tinggal di sini. Tidur nyenyak.”
Ia melangkah keluar. Menuju sel tahanan.
Misinya harus berhasil kali ini. Dan tidak boleh gagal.
Aldérin bersandar pada dinding, tanpa gentar menatapnya yang juga memberikan pandangan mata yang amat dingin. Sudah tidak ada lagi jalan keluar bagi Aldérin, maka ia takkan lari, yang pasti ia akan menghadapinya.
“Kukira kau yang bernama Aldérin?” tanyanya.
“Ya. Tetapi aku tak perlu tahu siapa kau,” jawab Aldérin tajam, “dëia.”
Gôntra tertawa. “Kau sudah siap untuk mati rupanya.”
“Kematian bukanlah sesuatu yang harus ditakuti. Silakan, lakukan tugasmu.”
“Sayang sekali, aku datang dengan tujuan yang berbeda.”
Mereka saling bertatapan lagi. Bertahan agar tidak memalingkan muka. Perang ini adalah perang yang sangat sulit dilakukan, karena berkecamuk di dalam batin.
“Sebaiknya kau segera pergi dari Hail,” kata Gôntra, tiba-tiba. “Lanjutkan apa yang harus kau lakukan, dan aku pun akan melakukan hal yang sama.”
“Tidak pernah kulihat ada bangsa dëia yang senang berbasa-basi sepertimu. Dan mengatakan omong kosong bagi kaumnya sendiri.”
“Ini permintaan dari Ninye Firélian, jika nama tersebut berarti untukmu.”
Aldérin tersentak kaget. Desiran hangat mengaliri tubuhnya. Ninye masih hidup! Namun, cobaan macam apa yang harus membuat gadis itu berada di dalam kurungan bangsa dëia. Kebahagiaan dan sedih mendera batin Aldérin. Apa yang dialami Ninye, tentu lebih berat dari apa yang ia alami selama ini.
“Dia baik-baik saja,” kata Gôntra, seolah tahu apa yang dipikirkan oleh Aldérin. “Aku berani menjamin. Oleh karena itu aku datang kemari, untuk melepaskanmu pergi, demi dirinya. Meski ini merupakan pengkhianatan besar bagi pemimpinku.”
“Apa maksudmu, Dëia?”
“Namaku adalah Gôntra Jarfirr. Panggil aku dengan namaku, Elf.”
“Aku tak peduli apa yang akan kau katakan. Aku tak mempercayainya.”
Gôntra menggeram. “Inilah yang paling kubenci dari bangsa kalian, mengingat-ingat masa lalu mengenai kekejaman kaum kami, dan menganggap kami semua sama,” ujarnya. “Aku memang diutus kemari untuk membunuhmu dan pemilik Estion, tapi sebenarnya aku berniat untuk memperingatkanmu agar kau segera pergi dari sini, selamatkan hidupmu sendiri dan dia. Si pewaris Estion.”
Aldérin pun terkekeh sinis. “Kau hanya ingin bermain-main denganku lebih lama, dan menganggap ini perburuan yang bagus, kelak.”
Percikan api meluncur cepat ke arah Aldérin dan menabrak dinding diiringi suara desisan pelan. Helaian rambut Aldérin beberapa melayang dan kembali turun, jatuh ke dadanya. Elf itu diam, menatap Gôntra penuh kebencian.
“Keras kepala!” bentak Gôntra. “Kupertaruhkan nyawaku dan Ninye, untuk elf sebodoh kau! Kukatakan, pergi dari sini selagi ada kesempatan!!” Gôntra langsung membuka kunci sel dan membuka pintunya. “Sekarang! Cepatlah!”
“Kau gila!”
“Aku lebih waras darimu, Elf!” Gôntra melemparkan jubah yang dipakainya. “Pakailah. Kau harus segera pergi sebelum semuanya terlambat. Lekas!”
Dengan ragu Aldérin meraih jubah itu. Ini di luar rencananya dan ia tak menduga bahwa dëia tersebut melepaskannya, demi sesuatu yang bahkan Aldérin tak mengerti sama sekali. Apa benar ia melakukannya hanya untuk Ninye? Apa hubungan antara dia dan Ninye, hingga dëia itu begitu berani mengambil resiko untuk menyelamatkannya?
“Benarkah ini kau lakukan demi Ninye?” tanya Aldérin.