The Quest for The Lost Inheritors

Munculnya Iroaél

Aldérin segera berbaring di atas tempat tidur yang empuk dan nyaman setelah mengantarkan masing-masing putra dan putri dari para anggota altar Kal’ Luin ke rumah mereka. Tubuhnya tak lelah akan tetapi pikirannya yang letih. Tidak sekalipun terlintas dalam pikiran Aldérin bahwa seumur hidupnya selama 3300 tahun ini, kan datang kegelapan dan kejahatan, bahkan hatinya, kini, merasakan kekalutan.

Kyfa mengatakan padanya, bahwa kegelapan mulai bergerak dan pengawas di hutan sudah merasakan perubahan angin. Bahkan para centaur mulai gelisah, dan menyatakan kekhawatiran mereka ketika berjumpa dengan para pengawas. Keamanan di Lamvorels memang diperuncing dan diperketat, tetapi menurut Kyfa, itu hanya tindakan pencegahan, bahkan sang pemimpin keamanan itu tak memberikan jaminan bahwa bangsa elf akan senantiasa hidup aman.

Apabila kejahatan merambah ke wilayah elf, lalu ke mana bangsa elf akan mencari bantuan?

Selama ini mereka hidup sendiri tanpa mencampuri urusan makhluk hidup lainnya.

Apakah mereka harus muncul ke permukaan dan meminta bantuan dari kaum lain dengan kemungkinan takkan berhasil?

Bahkan pikiran Aldérin tak mampu memutuskan.

Embusan angin pelan menerpa Aldérin, sehingga dirasakannya kembali rasa ketenangan. Mungkin ada cara lain untuk menghentikan kejahatan sampai ke wilayah Lamvorels, meski itu harus dibayar mahal. Namun, demi kehidupan dan kedamaian yang bertahan selama ribuan tahun, hal itu patut dicoba, begitu dalam pikiran Aldérin.

Dan angin kembali bertiup, tapi kali ini hembusannya terasa ganjil.

Aldérin bangkit dari tidur, matanya mengawasi sekeliling; tajam, dirasakannya kehadiran sesuatu, seseorang, atau entah apa, ia tak yakin, tetapi ia tahu, ia tak sendiri.

Dan kemudian, dari balik pepohonan holly yang tua dan besar, muncul sosok berjubah putih kemilau dan berjalan pelan menghampiri Aldérin. Sosok itu begitu jangkung, wajahnya dingin seolah tidak pernah dibanjiri oleh aliran emosi, bahkan Aldérin merasakan sesak ketika menatap sosok itu mendekat. Aldérin tak mampu berkata apa-apa, bahkan ia masih dalam keadaan heran, mengapa sosok itu bisa masuk ke Lamvorels tanpa diketahui oleh pengawas kota.

“Énuil, Aldérin,” sapanya, dingin, ia mengangkat tangan kanan dan membuka telapaknya lebar-lebar. “Aku datang dalam damai, meski damai itu mungkin takkan selamanya bertahan.”

“Siapa kau?” tanya Aldérin, curiga.

“Fel’ Meth,” jawabnya, “sosok yang kau ceritakan beberapa saat lalu.”

“Arunim (Tuan) Iroaél?” Aldérin tak percaya. Bahkan ucapan yang dilontarkan oleh bibirnya terdengar sangat tak yakin. “Tetapi, ini tidak mungkin—”

“Mengapa tidak mungkin?” Kali ini Iroaél yang melontarkan pertanyaan. “Apa yang membuatmu berpikir bahwa aku bukanlah diriku, Aldérin?”

“Karena kau tak pernah muncul di hadapan bangsa mana pun, begitu juga pada kaum kami. Avinlár Sang Tunggal tak pernah memperbolehkan wujudmu diketahui oleh siapa pun kecuali oleh dirinya, penghuni Élfarä dan para Len Arna,” ungkap Aldérin. “Kecuali ada alasan lain.”

“Dan kau tahu alasan itu, Aldérin?” sela Ioraél.

Tubuh Aldérin mendadak menggigil. “Kecuali, jika kehancuran akan datang,” bisiknya. “Kau akan muncul untuk memperingatkan, meski itu adalah pelanggaran untuk Len Arna.”

“Dan atas itulah, kulanggar janjiku pada Avinlár; untuk menyembunyikan wujudku kepada semua makhluk di dunia ini.” Iroaél memperlihatkan telapak tangan kanannya yang bersinar kemerahan. “Pertumpahan darah takkan terelakkan, Aldérin. Sebagai bangsa yang dicintai oleh Avinlár karena kau adalah darah dagingnya, aku datang untuk memperingatkanmu.”

“Lalu apa yang harus kami lakukan, Arunim Iroaél?”

“Aku tak bisa memberikanmu apa pun, tugasku hanyalah memberitahukan hal ini padamu,” kata Iroaél. “Apa yang akan kalian lakukan, itu di luar kekuasaanku.”

“Dan kapankah kehancuran itu mendatangi kami?”

“Sekarang.”

Tiba-tiba terdengar dentuman keras di Utara Lamvorels, tanah berguncang hebat dan cahaya merah yang membara membumbung ke angkasa diiringi suara angin yang melengking. Aldérin mendongakkan kepalanya dan terhenyak.

“Peperangan dimulai,” kata Iroaél, dingin. Bahkan ia sama sekali tak terpengaruh oleh suara mengerikan itu, seolah dia telah mendengar berkali-kali dan mengalami berulang-ulang. “Selesaikanlah, Aldérin. Baik itu menjadi kekalahan atau kemenangan bagi bangsamu.”

Ketika Iroaél bersiap pergi, mendadak Aldérin mencekal lengannya. “Demi dunia Élfarä, Arunim. Berikanlah petunjuk agar bangsa kami tak hancur di peperangan ini,” pinta Aldérin.

“Ini sudah terlalu banyak, Aldérin. Memperingatkanmu adalah keputusan yang besar dan kesalahan yang harus kutanggung kepada Avinlár,” tolak Iroaél.

“Hanya satu, Arunim. Hanya itu permintaanku, demi kehidupan di dunia ini yang telah dibangun dengan susah payah oleh para Len Arna, demi kedamaian yang kami dambakan, demi semua makhluk yang hidup bahagia di dunia,” sahut Aldérin. Ia menatap ke arah Iroaél, bersungguh-sungguh.

Sebelum Iroaél memberi jawaban, tiba-tiba angin berembus dan muncul sosok seseorang dari balik punggung Iroaél. Wajahnya pucat, datar tanpa ekspresi namun menunjukkan kelembutan. Telapak tangannya menyentuh bahu Iroaél dan menekannya dengan lembut.

“Rentaga, nuah gal er’mar er’tagh herra, (Kawan, jangan kau begitu berkeras hati) ia berujar.

“Len Arna ago da’mertaga’on ildu amru, (Len Arna tidak diperkenankan ikut campur) jawab Iroaél.

“Tetapi, mereka pun seharusnya diberikan kesempatan memilih. Meski mereka tak memiliki pilihan lain selain memilih jalur di dalam warnaku, Iroaél,” bisiknya. “Perjalanan teka-teki ini harus adil, si jiwa merah telah mendapatkan haknya.”

“Kau akan menjalani tugasmu setelah aku yakin apakah ia takdir dari tiga hati,” bisik Iroaél, memberikan argumen. “Tidak seharusnya kau datang, Luinyel.”

“Tetapi, kau datang dan menunjukkan wujudmu, itu pun merupakan pelanggaran janjimu terhadap Sang Tunggal. Yang akan kulakukan sekarang adalah memohon padamu untuk memberikan dirinya petunjuk, tidak lebih.

“Kau pernah mengatakan siapapun takdir dari tiga hati, takkan mempengaruhi keputusanku untuk memberikan setitik harapan putihku dan setitik cahaya perak milik Éraiel. Dan aku ingin menyerahkan kepadanya, karena si jiwa merah telah memilih takdirnya, jauh sebelum ini berlangsung ….”

“Ini di luar kekuasaan kita, Luinyel.”

“Oh, Iroaél … tolonglah,” pinta si sosok putih, atau Fel’ Nín. “Bantulah dia.”

“Jika itu memang keinginanmu yang tidak bisa kutolak.”

Luinyel tersenyum, ia menatap ke arah Aldérin, mengangkat tangan kanan dan membuka telapaknya. “Ér tila (Demi cahaya) …

“Ketahuilah, wahai kaum elf yang disayangi Avinlár … masa depan yang kelak kau jalani akan berat dan sukar, tetapi aku kan membukakan jalan untukmu hingga kau akan dipertemukan dengan takdirmu,” ujarnya.

Samar-samar tubuhnya mulai menghilang seiring dengan suaranya yang kini berubah seperti sebuah bisikan, “Kau akan menemui takdirmu yang sesungguhnya, apa itu akan berakhir dengan baik atau buruk. Namun, jangan berpaling, karena Fel’ Cebél menyerahkan setitik cahaya peraknya untukmu ….”

Aldérin masih berdiri di sana, membeku dengan wajah pucat, ia sama sekali tak tahu apa yang tengah terjadi di kancah kekacauan itu, munculnya Iroaél dan sosok seseorang yang begitu mirip dengan Fel’ Meth membuatnya tak mampu untuk berpikir lebih jernih.

“Aku tak pernah tahu, apa kau adalah takdir dari pengemban pesan para Len Arna yang lain, karena Fel’ Cebél dan Fel’ Nín telah memutuskan adalah kau orangnya, aku tak bisa menolak suratan takdir. Kau adalah batu penghalang bagi mereka yang memilih jalur lain, dari yang telah ditawarkan para Len Arna, sebelum ini,” kata Iroaél. “Dan Fel’ Cebél telah memberikan berkatnya, yang akan kau tebarkan kepada setiap makhluk yang ikut berjuang bersamamu, kelak.”

“Namun, sesungguhnya pikiranku begitu kacau bahkan aku tak bisa berpikir jernih. Apa yang harus kulakukan saat ini, apa selanjutnya yang harus dilakukan, aku tak tahu ke mana harus melangkah! Tolonglah Arunim, tolong beri petunjuk,” pinta Aldérin.

“Oh, apa yang telah kuperbuat sekarang semoga tak membawa bencana lebih besar,” desah Iroaél. “Sesungguhnya, ramalanku tidak diperkenankan diketahui oleh siapa pun, tetapi ini adalah desakan nuraniku.” Iroaél pun memejamkan matanya sejenak, lalu bola matanya yang kelabu itu mendadak berubah menjadi berwarna putih. “Gerbang Air tak lama lagi akan terbuka, sang penyelamat akan turun ke dunia,” kata Iroaél.

“Sang penyelamat?” tanya Aldérin, tak percaya.

Iroaél mengangguk. “Namun, sebelum ia turun ke Khâli, kau harus mencari tiga jiwa yang membawa pemikiran yang kuat; keteguhan; dan hati yang senantiasa siap untuk berkorban. Jika kau telah menemukan mereka, maka segeralah temui aku di puncak Gunung Wiesgäy. Dengan begitu, aku dan mereka bisa memanggil hati terakhir. Maka sang penyelamat akan muncul.

Mata Iroaél berangsur-angsur menjadi kelabu kembali.

“Satu adalah bangsamu, satu bangsa bumi dan satu adalah bangsa manusia. Dan yang terakhir, merupakan misteri bagi kita semua ….”

Aldérin hanya mengangguk, tanpa mengatakan apa-apa lagi.

“Maka kunamai kau Fel’ Maes, Sang Pencari. Jika kau gagal, maka kedamaian yang kau inginkan pun akan binasa,” tambah Iroaél. “Hanya itu yang bisa aku berikan kepadamu.”

“Bagaimana aku bisa mengetahui orang yang tepat, Arunim Iroaél?”

“Hatimu’lah yang akan menjawabnya, Aldérin,” jawab Iroaél. Ia memberikan senyum tipis dan dingin. “Sudah waktunya aku untuk pergi.”

“Tetapi, Arunim—”

“Luidor, Fel’ Maes ….” Suara Iroaél tak lebih dari sebuah bisikan.

Sosok Iroaél pun menghilang seiring angin kencang datang. Dan setelah angin kembali berhembus pelan, sosok Fel’ Meth itu pun benar-benar lenyap.

Aldérin berlari ke dalam pondoknya, mengambil busur dan kantung yang berisi anak panah. Ia bergegas keluar kembali dan berlari kencang mendatangi sumber suara yang begitu riuh di bagian Utara Lamvorels. Sekilas, Aldérin melihat cahaya biru muda melintas kencang di langit.

Aldérin tahu, bahwa itu adalah tanda dari kegelapan telah datang, karena cahaya itu pernah muncul 450 tahun yang lalu.

“Avinlár Yang Agung, lindungilah kami,” bisiknya cemas.

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!