The Quest for The Lost Inheritors

Di Tempat Élsus

Ketiga Takala tidak serta merta merasa lega setelah mencapai kediaman Élsus, di mana pohon rowan raksasa tempat roh bernama Tar bersemayam di sana, telah berada di depan mata. Karena di tepi telaga, mereka menemukan sesosok centaur wanita berdiri di sana, memberikan tatapan tak bersahabat dan sepertinya siap bertempur apabila ketiga dryad itu berencana untuk menyerangnya.

“Siapa kau?” tanya Cialla, dari jarak aman tempur.

Mata mereka saling menatap tajam juga waspada. Satu sama lain, merasakan suasana yang menegang. Namun, belum ada yang maju untuk menyerang. Para dryad pun ragu, mengapa ada sesosok centaur datang ke kediaman Élsus. Meski begitu, senjata sudah saling terhunus antara centaur dan dryad.

“Lalu kau sendiri, siapa?” balas si centaur sengit.

“Kami adalah teman dari Élsus!” seru Can’Eru.

Cialla langsung menyikut bahu saudarinya. “Mengapa kau harus mengatakan nama itu? Seharusnya biarkan dia bicara apa tujuannya kemari. Dia bisa dengan mudah mengarang cerita, bahwa dia pun mengenali Élsus!”

Can’Eru menatap pada Cialla dengan merasa bersalah. Can’Ara yang sudah siap dengan senjatanya, berusaha menahan tawa. Bisa-bisanya mereka saling berdebat di situasi genting seperti itu.

“Siapa pun bisa mengatakan teman dari Élsus, meski ia adalah lawannya. Aku takkan mempercayai siapa saja, sebelum aku benar-benar berjumpa dengannya,” kata si centaur, sinis. “Seseorang telah memperingatkanku akan hal ini! Dan kedatangan kalian, mungkin salah satu dari peringatannya untukku.”

“Lancang sekali kau umbarkan kata-kata penuh racun itu, Bangsa Pengkhianat!” Cialla geram bukan main. “Kami telah mendapatkan bukti atas ketidaksetiaan bangsa kalian!!”

“Cukup! Ayo maju!! Biar kuajari mulut kalian untuk lebih santun bicara!!!”

Ketiga Takala pun langsung menyerbu si centaur yang berada di posisi pertahanannya. Namun belum juga satu senjata pun saling beradu, sulur-sulur panjang dari tanaman yang ada di sekitar mereka, mendadak saja membelit kaki juga tangan-tangan mereka tanpa terkecuali. Baik para Takala maupun si centaur, tak mampu bergerak di dalam balutan dari sulur tanaman yang mengikat kuat.

Muncul dari balik pepohonan, sosok Élsus yang menopang sesosok centaur gagah dan berkulit coklat tua, di mana tubuhnya dipenuhi oleh luka. Si centaur pun langsung roboh ke tanah ketika matanya menangkap sosok si centaur wanita yang terikat sulur tanaman.

“Ref Wédéal!” teriak si centaur yang terikat dengan suara memilukan.

“Élsus!!” teriak Cialla.

“Astaga! Apa yang telah terjadi di rumahku!” seru Élsus.

Dengan satu kibasan tangan, sulur-sulur tanaman itu melepaskan tawanannya, tali-tali mereka yang menjalit, kembali ke tempat semula dan seolah tertidur lagi. Dengan langkah tergesa, si centaur wanita segera menopang kepala Wédéal, centaur yang ditemukan oleh Élsus. Sedangkan si druid itu, duduk di sampingnya, menekan dada Wédéal, sekuat tenaga untuk memulihkan luka dalam yang dialami centaur itu. Ketiga Takala menghampiri Élsus dan dua centaur tersebut, melupakan kecurigaan sebelumnya, karena mereka tahu bahwa si centaur yang satu ini, mungkin bukan si pengkhianat dari kaumnya.

“Sepertinya ini bukanlah pertemuan orang-orang asing,” ujar Élsus. Ia menatap pada si centaur wanita. “Centaluna, siapa gerangan dirimu?”

Néverlër membungkuk sedikit, dan menunjukkan sikap hormat pada Élsus.

“Namaku adalah Néverlër Harrû, istri dari Gurd’ah Harrû, dan putri terakhir Avesdâk Ahrébärn, penguasa dari Kota Halrunën di hutan Elethäs,” jawabnya, memperkenalkan diri. “Kedatanganku kemari atas petunjuk dari Aldérin Varwendil, elf dari Lamvorels, yang kini sedang melakukan perjalanan ke utara bersama Findarel Elderhel. Karena kota mereka yang indah, telah musnah dihancurkan oleh bangsa dëia.”

“Kami pun teman dari Aldérin,” timpal Can’Ara, senang. Ia pun berdehem pelan. “Maaf atas kekasaran kami sebelumnya, Néverlër. Sikap kami dikarenakan—.”

“Perbincangan ini lebih baik kita tunda,” potong Cialla. “Saat ini Wédéal membutuhkan pengobatan. Bisa kulihat lukanya sangat serius, ia bisa kehilangan nyawanya bila kita tak cepat-cepat menanggulanginya. Lekas!”

Ketika para Takala membopong tubuh Wédéal, ketiganya bisa mendengar pertanyaan Néverlër pada Élsus mengenai pamannya. Élsus hanya menjelaskan bahwa Wédéal sudah ditemukan dalam keadaan terluka enam hari yang lalu di Éba, meski saat itu keadaan si centaur tersebut belum separah sekarang. Saat Néverlër menanyakan, siapa kira-kira yang menyerangnya, Élsus langsung bungkam dan segera masuk ke dalam kediamannya.

“Kurasa Tuan Élsus tahu siapa yang menyerang Ref Wédéal,” ujar Néverlër pada para Takala, sembari berbisik pelan. “Namun kenapa ia tak mau mengatakannya?”

Ketiga Takala yang sedang melewati pedestal batu saling berpandangan. Lalu Can’Eru pun berkata, “Karena dia tak sanggup mengungkapkan jati diri si penyerang.”

“Dan kau ingin tahu kenapa?” Cialla melangkah mundur mengikuti gerak saudarinya yang membawa tubuh Wédéal dengan hati-hati menuju kediaman Élsus. “Karena saudara kandung Wédéal sendiri yang melakukannya!”

“Gûr’adór,” desis Can’Ara. Néverlër menunjukkan raut tak percaya, akan tetapi sebelum dia menyanggahnya, Can’Ara segera meneruskan, “Dan atas perbuatannyalah, kami harus lari dari Akriár! Menjadi buronan dan dipermalukan!!”

“Apa kau pikir hal demikian dapat dikatakan dengan mudah oleh Élsus, Néverlër?” timpal Can’Eru. “Ketika orang yang memiliki hubungan darah denganmu ternyata adalah sosok yang tak bisa dimaafkan perbuatannya. Apa kau bisa menerima kenyataan tersebut dengan mudah? Kurasa tidak.”

Néverlër bungkam, tetapi dari kebisuannya dapat dipastikan ia sangat kecewa juga sangat sedih, ketika bulir-bulir air mata jatuh mengaliri pipinya, tanpa berusaha ia tutupi. Para Takala mendesah pelan, mereka tak melanjutkan perkataannya pada Néverlër, yang mereka lakukan adalah membawa Wédéal dan menidurkannya di tempat nyaman yang telah disiapkan oleh Élsus.

Beruntunglah, Wédéal.

Berkat pengobatan para dryad dan Élsus, nyawanya dapat diselamatkan. Ia memang belum siuman, bagusnya dapat dipastikan keadaan centaur itu baik-baik saja. Ini sedikit menghibur perasaan Néverlër yang sudah hancur dan remuk, mendengar kisah yang sama sekali tak ia duga, sebelumnya. Centaur itu pun lebih banyak diam dan mendengarkan para Takala juga Élsus berbincang-bincang, padahal, meski ketiga dryad itu tak memendam dendam padanya, Néverlër tetap merasa tak enak atas perbuatan Gûr’adór terhadap mereka bertiga. Bagaimanapun juga, Gûr’adór adalah pamannya, dan Néverlër seolah-olah harus bertanggung jawab atas perbuatan Gûr’adór.

Dan di hari yang melelahkan itu, mereka semua lalui sembari menjaga Wédéal yang masih terbaring, sembari bertukar cerita satu sama lain, dan mengapa mereka semua berada di kediaman Élsus. Néverlër hanya menceritakan detail saja, karena ia sendiri cukup lelah karena sedang berbadan dua, dan kini ia sudah meringkuk di samping Wédéal dan tertidur pulas. Waktunya para Takala dan Élsus untuk memaparkan kisah mereka.

“Lalu apa yang terjadi pada kalian?” tanya Élsus lirih.

“Sesuatu yang sangat mengerikan, tapi sekaligus penuh dengan daya magis,” jawab Can’Eru.

“Lalu ceritakanlah, aku masih memiliki banyak waktu dalam semalam ini,” balas Élsus.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!