The Quest for The Lost Inheritors
Putusnya Kutukan
Suara ganjil desiran dedaunan, juga suara gemeretak dari dahan-dahan pepohonan membuat sosok-sosok yang datang ke Nanduél pagi itu waspada. Mungkin karena pengaruh sihir gelap, bahkan alam pun seperti memberi peringatan, jangan ada siapa pun yang terkena pengaruhnya. Alam seolah gelisah, mendapati hal buruk yang terjadi di kota kedua para centaur itu.
Para Takala tidak bisa memasuki kota, dan hanya menunggu di gerbang. Menunggu dengan cemas, dan berharap gelang milik Aldérin setidaknya memberi secercah harapan. Memasuki kota Nanduél yang bak kota mati, Keld mendekatkan tubuhnya ke samping Élsus. Dia tidak percaya saat melihat para centaur tertidur lelap, yang kini sudah tampak dibungkus oleh aura hitam yang semakin pekat.
“Bukankah kemarin tidak seperti ini, apa benda hitam yang menyelubungi mereka,” desis Néverlër.
“Aura hitam semakin membesar dan hampir menarik semua energi inangnya. Semoga saja rencana kita berhasil, jika tidak, aku tak tahu bagaimana nasib para centaur di sini,” kata Élsus.
Lalu Élsus menghampiri tubuh Nevêrther, dia menatap pada Néverlër dan Wédéal, seolah meminta persetujuan untuk mencoba menggunakan Rünga. Baik kedua centaur itu mengangguk dengan yakin. Lalu Élsus menengadahkan tangannya pada Keld.
“Berikan gelang milik Aldérin padaku, Tuan Keld. Semoga kita mendapat restu dari semesta,” ucap Élsus. Dengan tangan gemetar Keld memberikan gelang yang dititipkan oleh Aldérin saat mereka bertemu di Hail. Lalu Élsus mengenakan gelang itu di pergelangan tangannya. “Musnahlah kalian sihir jahat,” desis Élsus.
Élsus menyentuh kening Nevêrther dan merasakan sesuatu bergolak, bahkan aura hitam yang membungkus Néverlër merayap melewati lengan druid itu. Namun, Élsus tetap berusaha tenang sembari memejamkan kedua mata. Ia berbisik-bisik, memohon bantuan cahaya agar bisa mematahkan sihir hitam. Tidak lama kemudian, sesuatu terjadi, seberkas cahaya terang muncul dari gelang milik Aldérin. Saking terangnya tidak ada yang bisa melihat dengan pasti, karena begitu silau.
Kalung yang dipakai oleh Nevêrther mulai retak, terdengar suara derakan pecah, setelah itu kalung pun terjatuh ke permukaan tanah. Seiringan dan hal itu terjadi aura hitam lenyap. Tubuh Nevêrther sudah kembali ke seperti semula, dan lambat laun kesadaran dari kakak Néverlër itu mulai datang. Terdengar lenguhan pelan, dan Nevêrther pun membuka matanya. Begitu melihat sang adik dengan paman, matanya menyipit.
“Néverlër? Ref Wédéal?” gumamnya parau.
“Mia[1]!” seru Néverlër penuh haru. Dia langsung memeluk sang kakak sembari menangis.
[1] Kakak
“Apa yang terjadi? Aku tidak teringat apa-apa, setelah aku tiba di sini,” bisik Nevêrther.
“Kita akan membicarakan hal itu nanti. Sekarang yang harus kita lakukan, adalah membebaskan seluruh kaum centaurlan,” sahut Wédéal.
Mata Nevêrther terbelalak melihat kaumnya yang terbaring tidak berdaya dan berada dalam kungkungan aura hitam yang menakutkan. Dia sampai tersentak berdiri, dan merasakan tubuhnya begitu lemas. Bergegas Néverlër memegangi sang kakak yang kehilangan keseimbangan, karena sudah tertidur lama.
“Apa itu? Benda apa yang menyelubungi mereka?” suara Nevêrther terdengar gemetaran.
“Sihir hitam,” jawab Wédéal.
“Di sini? Di Nanduél? Te-tetapi bagaimana mungkin? Bukankah selama ini semua aman? Apa sihir itu buatan manusia?” Langsung Nevêrther menatap pada sosok Keld dan Élsus. “Apa mereka?”
“Keduanya yang justru membantu kita. Sudah, beristirahatlah sejenak, kita akan menyelesaikan masalah ini setelah menyingkirkan sihir hitam,” tukas Néverlër.
Setelah kutukan dari Nevêrther hilang, para Takala bisa masuk ke dalam kota. Sepertinya, sihir sangat kuat ditempatkan pada Nevêrther, sehingga tampak kakak dari Néverlër yang paling kepayahan karena membawa beban sihir sangat kuat.
Élsus ditemani Keld menghampiri satu persatu dari para centaur, yang terpengaruh oleh sihir. Rupanya, barang-barang milik mereka sudah dimantrai oleh Gûr’adór, seperti kalung, gelang, dan akhirnya membuat para centaur masuk dalam perangkap sihir hitam. Begitu Élsus melepaskan mereka dari pengaruh sihir, para centaur langsung berkumpul dan sudah sehat seperti sediakala.
Élsus duduk bersandar pada pohon, merasakan lelah yang amat sangat. Energinya hampir terkuras habis, karena tetap saja Rünga pun membutuhkan dorongan energi agar bisa mengeluarkan kekuatannya. Dengan prihatin Keld menemani Élsus, karena tidak bisa berbuat banyak. Dia hanya memberikan air dan buah-buahan, agar Élsus merasa lebih baik. Keduanya hanya mendengar para centaur yang berembuk bersama para Takala, membicarakan tentang pengkhianatan Gûr’adór, juga kota pertama mereka yang hancur, termasuk Lamvorels kota para elf. Yang paling penting adalah kehadiran bangsa dëia. Raut-raut muram dan marah ditunjukkan hampir semua kaum centaur yang ada di Nanduél. Mereka tidak menyangka bahwa Gûr’adór benar-benar tega dan keji berbuat seperti itu pada kaumnya sendiri.
“Kita harus memperbaiki kota, juga alam sekitar yang sudah dipengaruhi oleh batu berkekuatan jahat itu,” cetus Akoéta, salah satu penguasa dari klan centaur dan berkawan baik dengan Wédéal.
Namun, Wédéal langsung menggeleng. “Kita harus mempersiapkan diri dari serangan para dëia, karena mereka sudah mencapai kota para nypmh. Bahkan, kudengar ratu mereka—Titelénta—sudah mengucapkan salam perpisahan, dan meminta bantuan kepada siapa pun yang bisa menyelamatkan kaum nymph.”
“Demi Fiamäl, apa yang diinginkan oleh bangsa dëia ini? Mereka hendak membinasakan semua makhluk yang ada di bumi?” gumam Akoéta tak percaya. “Jika memang begitu, baiknya apa yang harus kita lakukan sekarang?”
“Kita punya pasukan untuk ke kota para nymph, dan semoga saja mereka masih bisa bertahan. Kita harus menyelamatkan penduduk di sana,” tutur Wédéal.
“Tapi, bukankah para dëia ini sulit dikalahkan? Bagaimana jika mereka malah membinasakan bangsa kita? Sedangkan kita yang ada di sini pun hanya sebagian dari centaurlan yang tersisa,” seloroh Nevêrther, tampak sorot matanya begitu cemas. “Ref Wédéal, hanya seratus lebih beberapa angka jumlah bangsa kita yang berada di Nanduél.”
“Kita pergi ke sana bukan untuk menyerang bangsa dëia dalam perang terbuka, tapi hanya untuk menyelamatkan para nymph. Setelah itu, kita harus berkumpul dengan bangsa lain, untuk melawan kekuatan bangsa dëia. Itu saja yang perlu kita pikirkan sekarang,” sanggah Wédéal.
“Kurasa para dryadan akan ikut bergabung dengan aliansi ini, tapi yang harus kita lakukan adalah meyakinkan ratu kami, Reŷanim, bahwa Gûr’adór sebetulnya tengah menghancurkan kita pelan-pelan,” tegas Cialla. “Jika dia tahu mengenai perbuatan Gûr’adór, tentu saja akan mengubah pikiran ratu kami.”
“Kalau begitu, harus ada yang datang ke Akriár, dan membuka kedok dari ref Gûr’adór,” balas Néverlër.
“Dan kita harus menyelamatkan bangsa lain yang membutuhkan bantuan,” tambah Akoéta.
Yang lain mengangguk setuju, terdengar suara teriakan-teriakan penuh heroik di mana para centaur sudah bertekad dengan keyakinan mereka. Tangan Wédéal memberi isyarat pada Élsus dan Keld untuk mendekat. Dengan penuh kesopanan, para centaur membungkuk hormat saat Élsus berjalan melewati mereka.
“Kami tahu bahwa peperangan ini bukan milikmu, Élsus. Karena kau sudah melampaui masalah duniawi dan tak ingin terlibat dalam masalah apa pun. Karena itu, kami berterima kasih atas bantuanmu, kami akan berusaha menjaga hutan di mana tempat kau tinggal,” ucap Wédéal.
“Jika bangsa dëia hendak membinasakan semua makhluk, maka aku adalah satu di antaranya. Tidak ada pilihan lain bagiku, selain ikut bersama dengan kalian,” putus Élsus. “Kita akan melewati waktu sulit dan berat ini, saling berbagi satu sama lain. Niscaya, kekuatan dari cahaya akan tetap berada di samping kita.”
“Para centaurlan akan pergi menuju Cilticpën begitu siap, sedangkan beberapa dari kami akan menemani para Takala untuk kembali ke Akriár,” ucap Wédéal. “Ke mana engkau akan ikut, Élsus?”
“Aku tidak memiliki kekuatan kaki yang kokoh, dan langkahku cukup lamban. Kecuali jika aku memiliki lebih dari sepasang kaki lagi, yang sayangnya tidak. Dipastikan aku hanya akan membuat lambat pasukan kalian yang sedang dalam ketergesaan,” sahut Élsus. “Kurasa, aku dan Tuan Keld akan ikut menuju Akriár. Untuk meyakinkan ratu para dryad, bahwa bangsa manusia pun berada dalam ancaman bangsa dëia.”
“Dan menyingkirkan Gûr’adór untuk selama-lamanya,” desis Can’Eru.
“Kami yang akan mengurus mengenai Gûr’adór. Karena memang dia adalah tanggung jawab kami, para centaurlan untuk memberikan hukuman yang pantas pada dirinya,” timpal Wédéal.
Ketiga Takala mengangguk setuju.
Maka diputuskan, para centaur yang dipimpin oleh Akoéta, akan segera berangkat besok di pagi buta menuju ke kota para nymph, Cilticpën. Lalu para Takala ditemani kedua bersaudari putri Avesdâk, Wédéal, bersama Élsus dan Keld berangkat menuju Akriár siang itu juga untuk menemui ratu para dryad Reŷanim.
Begitu Élsus dan para dryad sedang bersiap-siap untuk pergi, Keld yang sedari tadi hanya berkeliling kota dan masih kelihatan takut melihat sosok para centaur, bergegas menghampiri Élsus.
“Bukankah sosok bernama Gûr’adór ini adalah yang menyebarkan sihir, Tuan Élsus?” tanya Keld hati-hati. “Bagaimana jika dia menyihir kita saat datang ke sana, dan kita tak bisa melakukan apa-apa karena itu.”
Élsus terkekeh pelan. “Kupastikan kau akan baik-baik saja, Tuan Keld. Dan, kumohon panggillah aku hanya dengan Élsus saja.”
“Oh, aku tidak mau bersikap kurang sopan,” gumam Keld.
“Kekuatan dari Aldérin, yang entah dia sadari atau tidak, lalu terkumpul di dalam gelang miliknya ini, sebagai salah satu sumber cahaya bagi kita, Tuan Keld,” seloroh Élsus. “Kurasa, sihir besar yang digunakan oleh Gûr’adór, dapat terpatahkan. Selama kita saling percaya dan memupuk kekuatan.”
“Semoga saja, ratu bangsa dryad mau membantu kami. Meski aku dengar dari para dryad, bahwa manusia sering berbuat onar,” keluh Keld pelan. “Aku tidak pernah tahu mengenai hal itu. Tetapi, bangsa kami pun sedang dalam bahaya.”
“Tenanglah, Keld Fielgreen.” Terdengar suara Can’Eru dari belakang punggung Keld. “Aku tahu kalian bangsa ceroboh, dan teledor, tapi kami pun takkan mungkin membiarkan bangsa kalian dalam kesengsaraan.”
“Ah, terima kasih,” sahut Keld tampak kikuk.
“Di mana tunas baru dari induk kita?” bisik Can’Ara.
“Tetap aman padaku.” Can’Eru menepuk-nepuk dadanya.
“Pastikan kau menjaga jarak aman dari Gûr’adór, karena kita tak pernah tahu apa sihirnya nanti akan berpengaruh pada tunas Akishá,” nasihat Can’Ara yang diikuti oleh anggukan patuh saudarinya.
“Sebaiknya kita segera pergi, waktu dipertaruhkan di sini,” sahut Cialla.