The Quest for The Lost Inheritors
Pengkhianatan
Dahi Yähgé berkerut ketika ia dan Gôntra sedang dalam perjalanan menuju ke puing-puing kota para elf, Lamvorels, yang kini dikuasai oleh para dëia.
“Dia sudah mati,” desis perempuan itu dengan kesal.
Yähgé langsung duduk di atas bebatuan besar di antara pohon-pohon tinggi menjulang di area hutan, batu yang tertutupi oleh lumut-lumut hijau. Saat perempuan itu duduk, lumut-lumut itu mendadak berubah warna menjadi hitam. Gôntra menatap perubahan itu dengan sedikit heran, tapi dia tidak mengatakan apa-apa.
“Siapa yang mati?” tanya Gôntra, yang berdiri di hadapan Yähgé dengan mata mengitari area hutan.
Itu hutan yang lebat dan sedikit gelap, meski cahaya matahari kadang bisa menyelinap menembus melalui celah-celah daun. Pohon oak, beech, yew, hawthorn, juga alder, tumbuh dan seolah saling melindungi satu sama lain. Gôntra tidak takut dengan hutan itu, meski terasa begitu sepi. Amat sunyi.
Bahkan dia cukup menyukai suasana yang sesenyap itu, karena dia selalu hidup dalam kebisingan dan suara gemuruh dari gunung api. Hanya saja, saat mereka di Hail, Gôntra bisa mendengar kicauan burung, juga binatang serangga lainnya. Namun, entah di hutan itu sangat berbeda. Kemungkinan, para binatang pun terlalu takut pada bangsa dëia. Karenanya begitu Gôntra dan Yähgé berubah wujud ke semula, tak satu pun dari para hewan berani menunjukkan batang hidungnya.
“Gûr’adór,” jawab Yähgé singkat.
“Centaur tua itu?”
“Kau lebih tua darinya.”
“Tetapi dia tampak lebih keriput dibandingkan denganku.”
Seringai Yähgé terlihat. “Aku sedang tak ingin bermain-main.”
Lalu Gôntra menyandarkan tubuhnya pada sebuah pohon yew yang ada di belakangnya, duduk di atas permukaan tanah sembari menatap lekat-lekat pada Yähgé.
“Lalu mengapa kau harus tampak muram? Bukankah kau sendiri katakan, bahwa centaur tua itu tak berguna? Dia hanya salah satu bidakmu? Atau kau tidak punya anak buah lain, sehingga kehilangan satu membuatmu benar-benar sedih,” ucap Gôntra panjang lebar.
“Aku tidak sedih! Aku hanya kesal,” ralat Yähgé marah.
“Aku mengerti,” angguk Gôntra. “Bahkan tanaman yang kau duduki sampai mati, karena merasakan angkara murkamu.”
Yähgé tidak menjawab, hanya melirik sekilas pada batu yang sedang ia duduki.
“Kita tidak perlu mengurusi lagi para makhluk lain, Yähgé. Begitu Kolé melancarkan serangan ke semua negeri, dëia akan menang,” sahut Gôntra enteng. “Apalagi dia memiliki kekuatan yang aneh, sehingga jauh lebih kuat. Kita jauh lebih kuat.”
“Aku tidak.”
“Kau bermain-main dengan sihir. Sihir hitam yang bukan dari kaum kita.”
“Apa bedanya dengan kakakku? Dari mana dia mendapatkan kekuatan sebesar itu?”
“Tidak masalah dia mendapat dari mana.” Bahu Gôntra mengendik. “Selama dia melakukan semua ini untuk bangsa kita. Aku tidak mau tahu.”
“Kau mau kita tetap dijajah oleh kakakku? Lalu bagaimana rencana kau menjadi pemilik mahkota, dan aku menjadi pendampingmu.”
Ada kekehan pelan terdengar dari bibir Gôntra. “Kau mau hidup selamanya denganku? Seseorang yang tak kau cintai sama sekali, hanya untuk sebuah tahta? Sedangkan takkan ada yang menginginkan tahta itu, karena kita tidak ada lagi yang harus dilawan atau dihancurkan? Terdengar membosankan.”
“Lazjág[1]!” seru Yähgé sembari mengeluarkan energi bola api berwarna ungu dari tangannya. “Aku sudah melakukan banyak hal sia-sia, jika kau ingkar dari janjimu! Aku akan menghabisimu!”
[1] Keparat
“Lakukanlah,” jawab Gôntra tak acuh. “Aku lelah jadi pesuruhmu, dan aku bukan abdimu.”
“KAU!!”
Bola api itu hampir meluncur dari tangan Yähgé, tapi dia langsung menutup telapak tangannya. Ada desahan lelah terdengar lirih. Perempuan itu berdiri, dan melangkah melanjutkan perjalanan mereka yang tidak akan lama lagi tiba di puing Kota Lamvorels. Dengan tergesa-gesa Gôntra mengikuti Yähgé dari belakang.
“Aku tak mau kita terlalu jauh dengan ambisimu, jika kau masih bermain-main dengan sihir ganjil itu,” ucap Gôntra. “Batu hitam yang kau temukan, itu pun mulai mempengaruhimu. Itu bukan kekuatan yang Kolé miliki, itu seperti sesuatu yang jauh lebih gelap dan lebih kuno.”
“Kau mengkhawatirkanku?” Yähgé melirik ke belakang sekilas, lalu menatap lurus ke depan kembali.
“Ya, karena kita melakukan ini bersama-sama.”
“Aku akan menyingkirkannya nanti.”
“Jozarré,” kata Kolé dengan suara pelan.
Ada senyum balasan yang tersungging dari bibir Yähgé, meski laki-laki bangsa dëia itu tidak bisa melihatnya. Perlahan, Gôntra mempercepat langkahnya, lalu berjalan di samping Yähgé. Awalnya hanya diam, tapi lama kelamaan, mereka mulai berbincang hal-hal sepele yang membuat suasana kembali cair.
Hutan memang tetap sunyi, akan tetapi bukan hanya karena kedua bangsa dëia itu, atau pengaruh sihir hitam dari batu yang Yähgé temukan dulu sekali. Namun, ada sepasang mata yang mengawasi keduanya, yang memiliki keahlian untuk bersembunyi tanpa disadari oleh sesama dëia. Hanya sedikit jumlah dari dëia yang berkemampuan berkamuflase dan menahan auranya tanpa disadari siapa pun, kecuali oleh para binatang.
Sekitar satu lusin jumlah mereka, dan diberi gelar khusus oleh Kolé sebagai Oroizé, yaitu Mata Api.
Satu dari Oroizé, rupanya mendengarkan ucapan Gôntra juga Yähgé, dan dia tahu kepada siapa dia harus menyampaikan berita yang akan membuat gempar seluruh bangsa dëia.
*****
Mata Kolé menatap pada sosok yang masuk ke dalam singgasana sementaranya di Lamvorels, kepala Nihlá yang sedang bersandar pada pangkuan suaminya terangkat, lalu dia menatap sinis pada salah satu Oroizé yang datang. Hari-hari di Lamvorels sungguh membosankan, karena mereka menunggu pasukan dëia lain untuk menaklukkan Cilticpën dan Pílghym. Rupanya upaya untuk membinasakan bangsa lain, jauh lebih alot dan lama. Kolé tidak menyangka bahwa kegigihan bangsa lain untuk melawan, ternyata cukup menyusahkan. Namun, dia tahu bangsa-bangsa lain lambat laun akan menyerah.
Kini kedatangan Oroizé membuat Kolé lebih bersemangat, entah kabar apa yang akan diberikan. Ada kemungkinan, bahwa kedua kota yang dëia serang akhirnya jatuh.
“Iru, Adegaz.[2]” Sang Oroizé mengangguk dan menunduk dengan hormat.
[2] Salam, Yang Mulia.
“Apa kau datang dari pegunungan Pílghym atau dari garisan anak sungai Neverendíng?” Mata Kolé tampak berkilat penuh minat.
Namun, sang Oroizé menggeleng. “Tidak keduanya, Adegaz.”
“Lalu apa yang kau ingin sampaikan?” seloroh Nihlá, seolah dia benar-benar terganggu dengan waktu santainya bersama Kolé. Yang sebetulnya memang keseharian mereka di tempat itu hanya bersantai.
“Aku datang dari perbatasan hutan menuju kota para manusia, dan bertemu dengan adegazi[3] Yähgé juga panglima Gôntra. Dari pengamatanku, mereka seperti baru saja dari arah kota para manusia. Aku tidak tahu dari dan akan ke mana tujuan mereka sebetulnya, karena mereka dalam perjalanan menuju ke Lamvorels. Namun, di perjalanan mereka berhenti, di tempat aku berjaga.
[3] Yang Mulia tapi untuk perempuan
Kolé dan Nihlá tampak terkejut mendengarnya. Namun, mereka tidak memotong penjelasan sang Oroizé, yang belum selesai menceritakan kisahnya.
“Hal yang menarik adalah, mereka membicarakan mengenai tahta dan kuasa, di mana kudengar dengan jelas bahwa adegazi Yähgé menginginkan tahta dan menjadikan panglima Gôntra sebagai raja. Kurasa keduanya, hendak melakukan perebutan kekuasaan yang kini berada di tanganmu, Adegaz,” tutupnya.
“Adik kami?” balas Nihlá dan Kolé berbarengan.
“Hidup dan apiku adalah taruhannya. Aku takkan mengatakan hal ini, jika bukan mendengar dari bibir salah satunya. Akan tetapi, aku mendengar dari keduanya langsung,” tambah sang Oroizé.
“Aku akan menemui mereka,” ucap Kolé dingin. “Cari keduanya, dan titahkan untuk berada di tengah kota sekarang juga. Jika mereka menolak, seret.”
Sang Oroizé mengangguk patuh lalu segera keluar dan bicara pada pasukan penjaga di luar ruangan Kolé juga Nihlá. Lalu semua bergerak untuk mencari di mana Gôntra dan Yähgé berada.
“Aku sudah menduga, bahwa adikku adalah pembawa masalah,” desis Nihlá kesal. “Seharusnya sudah sejak lama kau menghancurkannya.”
Kolé tahu bahwa Nihlá memiliki rasa ketidaksukaan besar pada adik laki-lakinya. Apa ini semacam firasat yang dirasakan oleh sang istri, bahwa Gôntra memang memiliki hasrat untuk menguasai seluruh bangsa dëia dan dunia.
Ada gelengan lemah ditunjukkan oleh Kolé seraya ia berkata, “Dia adalah adikmu.”
“Kau adalah rajaku.” Mata Nihlá yang penuh pesona menatap lekat pada suaminya. “Dan aku setia padamu, hingga akhir dunia ini. Bukan keluargaku.”
Namun, tetap saja wajah Kolé dirundung oleh kekecewaan dengan dahi berkerut dalam. Sosok sang adik, Yähgé, yang memang berbeda dari semua dëia, tidak pernah ia sangka justru akan berbuat seperti itu. Selama ini, Kolé selalu berpikir bahwa Yähgé tidak pernah peduli dengan kekuasaan. Bahkan perempuan itu cenderung sibuk dengan kegemarannya sendiri. Lagipula, seorang perempuan di dëia tidak diperkenankan memegang kekuasaan tunggal, karena tetap semua harus pada garis keturunan laki-laki.
Rupanya Yähgé memiliki ambisi tersembunyi, bersekongkol dengan Gôntra. Entah keduanya melakukan itu karena saling mencintai satu sama lain. Hanya saja, sepengetahuan Kolé, justru Yähgé dan Gôntra saling membenci. Bisa-bisanya mereka berdua mengecoh sang kakak.
“Rasanya aku masih belum mempercayai bahwa adikku dan adikmu, merencanakan hal sebusuk ini di belakang kita. Sedangkan aku hanya ingin kemenangan bagi bangsa dëia,” tutur Kolé.
“Iri dan dengki yang bersarang hingga ke tulang sumsum, takkan membuat mata mereka terbuka atau punggung mereka membungkuk karena menghormatimu.” Nihlá berdiri dan berjalan mondar-mandir dengan gelisah. “Akan tetapi mereka akan berusaha untuk merobek telapak tanganmu ketika kau mengulurkan kekuasaan dan kemenangan dalam abadi.”
“Takkan pernah!” Kolé geram. “Aku takkan membiarkan mereka memporak porandakan apa yang telah aku persiapkan selama beratus-ratus tahun. Aku akan membuat mereka menyesal.”
“Maka hancurkan telapak tangan mereka, dan aku takkan pernah menghalang-halangimu.”