The Quest for The Lost Inheritors

Api di Lamvorels

Kobaran api menjalar di pusat kota, menghancurkan semua yang awalnya amat damai menjadi kancah debu dan abu. Pusaran asap melilit batang-batang pohon raksasa yang menjerit di dalam kebisuan mereka. Aldérin terhenyak, sama sekali tak menyangka bahwa serangan sedemikian dashyatnya. Bangsa dëia telah mengeluarkan dentuman amarah mereka, dan takkan mungkin berhenti. Aldérin sudah memahami betul akan hal tersebut.

“Aldérin!!” teriak seseorang. “Serangan datang!! Serangan yang begitu besar!!”

Elf jangkung berambut hitam lurus sebahu itu menghampiri Aldérin, tubuhnya dibalut baju zirah berwarna perak, di bagian dadanya terukir sepasang sayap yang indah. Di punggungnya terikat erat kantung kecil diisi penuh puluhan anak panah, dan di pinggang menggantung dua sarung pedang pendek.

“Mereka memusatkan serangan tepat ke arah sana!” Ia menunjuk ke utara dengan busur panahnya. “Seperti yang kita ketahui, Aldérin, pertahanan kita di sana begitu lemah.”

“Selamatkan para elter, Kyfa!” seru Aldérin. “Bawa mereka semua ke selatan! Jauhkan mereka dari jangkauan musuh!! Bagaimana keadaan di Kal’ Luin?”

Kyfa menggeleng. “Daerah utara dipenuhi api, bahkan kami tak dapat masuk ke sana, kukira altar Kal’ Luin sudah hancur, dan penghuni di sana pun tewas.”

“Oh demi Élfarä,” desah Aldérin, sedih juga putus asa. Ia teringat pada Ninye, yang mungkin sudah tak bisa terselamatkan lagi dan ratusan jiwa lain. “Lebih baik kita semua mempertahankan batas terakhir wilayah utara, jangan sampai mereka memasuki gerbang tengah! Jika itu terjadi, maka kota kita akan hancur.”

Beberapa ratus elf sudah berlarian ke arah utara, membawa busur dan anak panah, pedang dan tombak panjang. Anak-anak dilarikan ke wilayah selatan oleh beberapa pengawas kota. Keadaan begitu kacau, tetapi Aldérin tetap berusaha tenang di dalam kekalutannya.

Aldérin beranjak dari tempatnya, dan bersiap untuk mempertahankan gerbang tengah, tiba-tiba Kyfa menahan laju langkah Aldérin dengan mencekal lengannya.

“Lebih baik kau pergi dari perang ini, Aldérin,” kata Kyfa. “Kita takkan mungkin bisa memenangkan peperangan, kita semua akan binasa, tetapi dengan adanya kau yang selamat, aku yakin bangsa kita akan bangkit kembali.”

“Kyfa … aku harus ikut berperang,” tolak Aldérin. “Aku harus mempertahankan sebisa mungkin hingga elf lain bisa lari dan mencari tempat berlindung.”

“Tidak, Aldérin. Kau harus pergi. Kau harus mengerti, ini adalah perintah untukku.” Kyfa menyerahkan sesuatu kepada Aldérin, sebuah kalung dengan bandul berbentuk bintang segi tujuh, bercahaya keperakan. “Ini milik Tylosae, dan dia ingin kau memilikinya sebelum jiwanya meninggalkan raga beberapa saat lalu,” jelas Kyfa.

Tylosae adalah sang pemimpin di altar Kal’ Luin, dia juga penguasa Lamvorels. Ia elf yang begitu hebat, sedikitnya mengenal ilmu sihir, mungkin sebab itulah ia bisa melarikan diri dari serangan meskipun pada akhirnya ia harus tewas.

Aldérin merasa sedih yang amat sangat, Tylosae adalah sahabat baiknya, bahkan putra dan putri Tylosae, termasuk Ninye, adalah anak-anak yang disayanginya. Namun, bagaimana keadaan putra dan putri dari Tylosae, siapa pun tak dapat meramalkan.

Mungkin mereka tewas, mungkin mereka sudah lari ke selatan dan berbaur dengan elf lain, dan banyak kemungkinan-kemungkinan buruk lain yang Aldérin sendiri tak sanggup untuk membayangkannya. Aldérin hanya ingin semua elf selamat dari serangan mendadak tersebut.

“Yang harus terjadi, mungkin memang harus terjadi, meski itu pahit. Hidup kaum elf, kini berada di tanganmu, Aldérin. Kau adalah pewaris Tylosae,” ujar Kyfa.

“Aku? Tetapi itu … itu sama sekali tidak mungkin, Kyfa.”

“Pandangan Tylosae akan menjelaskan semua padamu,” kata Kyfa. Ia tersenyum, seolah memberikan salam perpisahan. “Kami bergantung padamu, jagalah cahaya bangsa kami.”

Cahaya merah membumbung di angkasa. Api membakar di sana-sini, para pasukan elf menatap takjub sekaligus getir, tetapi mereka tidak beranjak dari posisi. Aldérin menerima kalung yang diberikan Kyfa, lalu ia pun memeluk erat elf pemimpin keamanan Lamvorels itu.

“Pergilah, Aldérin.”

“Semoga cahaya Élfarä senantiasa melindungimu, sahabatku,” kata Aldérin.

Senyum getir Kyfa tersungging. “Estelia, elthan (Selamat tinggal, sahabatku).”

“Esteliara, elthan (Selamat tinggal).”

Alderin menoleh ke belakang untuk terakhir kalinya, dan berdiri di sana, Kyfa yang menatapnya dan mengangguk, seolah memberikan arti. “Semoga berhasil.”

Entah berapa lama Aldérin berlari di keremangan malam menembus hutan, ia tidak tahu sudah sejauh apa ia berlari, tetapi ia pun tak tahu sejauh mana musuh ada di belakang membuntuti mereka.

Yang Aldérin pikirkan hanya keselamatan anak-anak dan para wanita yang berlari mendahuluinya menuju selatan, ke arah sungai besar dan terus melewatinya hingga mereka tiba di kota para kurcaci. Aldérin sendiri masih menyangsikan apakah para bangsa bumi akan menerima bangsa elf atau mungkin mengacungkan kampak mereka, ia hanya bisa berharap bahwa para kurcaci memiliki pemikiran terbuka.

Angin ganjil kembali berembus ….

Aldérin mendongakkan kepalanya dan melihat sosok Fel’ Meth berdiri di tepian sungai Neverending. Ia berhenti dan memperhatikan Iroaél yang berjalan ke arah barat, menjauhi aliran air. Sedangkan elf lain sudah menyeberangi sungai dengan perahu mereka dan memasuki wilayah selatan. Hatinya bimbang, apakah ia harus mengikuti elf lain menuju selatan atau mengikuti jejak sang Fel’ Meth yang terus berjalan ke barat?

“Ial Aldérin!” panggil seorang elterhel yang berdiri tak jauh darinya. “Ial? Apa kau takkan pergi bersama kami? Musuh sudah dekat, aku bisa merasakan kehadiran mereka, Ial.”

“Pergilah, selamatkan dirimu!” teriak Aldérin.

Aldérin berlari mengejar sosok Iroaél yang semakin menjauh dan berjalan seringan angin karena begitu cepatnya. Namun, tanpa Aldérin sadari, bocah kecil itu tidak mengikuti perintahnya, melainkan mengikuti langkahnya menuju ke barat.

Cahaya merah membumbung di angkasa, menebarkan teror, musuh sudah dekat. Itu mengartikan pertahanan di Lamvorels telah dipatahkan, jika kekuatan di Lamvorels telah musnah, maka tak akan ada lagi tempat untuk berlindung, kecuali di dalam pegunungan Pílghym. Benteng sekaligus kerajaan milik bangsa kurcaci yang sangat kuat juga kokoh, yang letaknya jauh di selatan.

Apabila Aldérin memutuskan melewati sungai dan berlari ke selatan, mungkin dirinya dapat terhindar dari serangan, akan tetapi jika ia memutuskan tetap tinggal dan terus mengikuti langkah Iroaél, tak ada yang tahu apa ia bisa selamat dari musuh.

Sedangkan beban yang kini dipikulnya pun sudah berat. Menjadi Fel’ Maes, dan tonggak bagi para bangsa elf setelah Tylosae tiada.

“Ial Aldérin!!!” panggil seseorang, yang membuat Aldérin tersentak.

Elf itu menatap ke belakang dan melihat bocah kecil mengikutinya. Bocah yang usianya tidak lebih dari anak manusia berumur tiga belas tahunan—rambut hitam sebahu, paras elok, dan bola mata berwarna violet. Baju lengan panjang dan juga celananya yang berwarna putih, dipenuhi bercak debu dan arang hitam. Rautnya menunjukkan ketakutan yang amat sangat.

Perasaan Aldérin bercampur aduk, antara sedih, marah juga terkejut. “Apa yang kau lakukan dengan mengikutiku?” katanya, sedikit keras. “Seharusnya kau melewati sungai bersama dengan yang lainnya!”

Terdengar ledakan keras tidak jauh dari keberadaan mereka, Aldérin melihat cahaya kemerahan; api yang berkobar panas, menjilati puncak pepohonan penuh kepuasan. Entah bangsa dëia ingin menunjukkan kekuasaan mereka, entah juga itu adalah peringatan awal sebagai penebar kekalutan. Namun, bagi Aldérin, itu kesempatan baginya untuk lari lebih jauh dari kancah penyiksaan di hutan.

Dengan segera, Aldérin pun menarik si bocah kecil lalu mengajaknya berlari lebih jauh ke arah barat.

“Kau menarik resiko kematian lebih besar dengan mengikutiku,” kata Aldérin. “Jika kau pergi bersama yang lainnya ke Selatan, setidaknya para kurcaci dapat melindungimu dari serangan bangsa dëia.”

“Lalu mengapa Ial tidak pergi bersama kami? Bukankah Ial menjadi tumpuan semua elf sejak saat ini?” tanya bocah itu. “Ial Kyfa mengatakan hal itu sebelum kami berpisah tadi. Bangsa elf mengandalkanmu, Ial.”

“Dengarkan, aku sendiri tidak tahu apa yang harus kulakukan untuk menjadi sosok tumpuan bangsa elf,” jawab Aldérin. “Sekarang yang kuketahui, aku sedang menjalani satu misi yang mungkin bisa menyelamatkan semua makhluk di dunia. Dan bahayanya jauh lebih besar, daripada aku tinggal di kota para kurcaci dan memikirkan langkah selanjutnya untuk melakukan serangan balasan.”

“Jadi maksud Ial, aku salah telah mengikuti Ial?”

“Kau seharusnya bisa memikirkan hal tersebut lebih bijak pada sebelumnya.”

“Maafkan aku, Ial. Namun, aku sama sekali tak tahu ke mana aku harus pergi. Aku kehilangan segalanya.” Ia pun menatap sedih pada Aldérin. “Seharusnya aku ikut mati bersama yang lain, tetapi Ial Tylosae ….”

“Apa yang dilakukan Tylosae padamu?”

“Ia menyelamatkanku.”

“Siapa kau sebenarnya?” tanya Aldérin, di dalam pelarian mereka.

“Namaku Findarel, putra Elverel dari klan Andilosh.”

“Andilosh? Para putra Utara Lamvorels?” tanya Aldérin. “Apa kau keponakan dari Tylosae, putra Elverel anggota Rilleaf dari altar Kal’ Luin?”

“Benar, aku adalah dia. Dan apabila Ial Tylosae tidak menyelamatkanku, tentu ia takkan kehilangan nyawanya. Sebuah bola api meluncur ke arahku, tetapi Ial Tylosae mendorong tubuhku dan bola tersebut mengenainya.

“Dan di saat itu, ia masih mampu mengeluarkan sihir terakhirnya, untuk mengeluarkanku dari area Rilleaf. Mungkin akibat sihir itulah, tenaganya terkuras, dan ia tewas.” Terdengar nada penyesalan dari Findarel. “Ial Tylosae seharusnya tak perlu mengindahkan keberadaanku yang terancam.”

“Dengarkan aku, Findarel. Tylosae menyelamatkanmu karena ia tak ingin kau sampai terbunuh. Seharusnya kau tidak menyia-nyiakan nyawamu yang telah diselamatkan oleh Tylosae dengan pergi mengikutiku,” sahut Aldérin, tegas. “Kau jauh lebih aman bersama yang lainnya dengan melewati sungai Neverending dan pergi menuju selatan. Meminta perlindungan kepada bangsa kurcaci yang sudah menjadi sahabat bangsa kita sejak puluhan ribu tahun lalu.”

“Tetapi, mereka pun tak pernah datang atau memberikan kabar kepada bangsa kita, Ial? Bagaimana kita tahu, apabila mereka masih menganggap elf sahabat?”

“Ada sebuah ikatan yang jauh lebih kuat pengaruhnya dari keberadaan fisik semata, Findarel,” jelas Aldérin. “Aliansi kita dengan bangsa kurcaci telah ditempa berbagai cobaan dan tetap tak tergoyahkan. Apa kau meragukan kesetiaan para bangsa pengukir gunung itu? Itukah yang ingin kau sampaikan?”

Findarel hanya diam, tidak mengatakan sepatah kata pun untuk menyanggah pendapat Aldérin. Sehingga membuat Aldérin menjadi merasa bersalah, karena terlalu keras pada bocah tersebut, yang ragu apa bangsa kurcaci masih setia dan menganggap sahabat kepada para elf.

Tentu Findarel bimbang, dan memutuskan untuk mengikutinya. Persis dengan kebimbangan yang dialaminya oleh batinnya. Bagaimanapun seharusnya ia sendiri tidak perlu mengikuti langkah Iroaél, dan kini sosok Fel’ Meth itu menghilang.

“Sudahlah, tidak perlu kita perdebatkan masalah ini, karena sekarang kau ada di sampingku. Mungkin keberadaanmu bersamaku di sini, memang suratan takdir. Namun, mulai saat ini, jangan pernah lepas dari pengawasanku, Findarel,” kata Aldérin, kemudian. “Kita akan melaksanakan misi ini, kau dan aku. Kau mengerti?”

Findarel menatap Alderin penuh kebahagiaan. “Ya, Ial.”

Aldérin mengangguk tegas. “Untuk permulaan, lebih baik kita segera menjauh dari musuh! Ikuti aku, Findarel!”

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!