The Quest for The Lost Inheritors
Di Gua Utara
Badai pun dimulai ketika mereka tiba di tempat perlindungan milik Raven, Lya merasa senang mereka bisa tiba tepat pada waktunya dan tidak perlu merasakan serangan badai yang menurut Raven, bisa berakibat sangat fatal. Dengan tergesa mereka memasuki semacam gua yang di depannya tertutupi oleh semak-semak.
Dan ternyata, itu bukan hanya tempat perlindungan untuk seorang pemburu. Ketika mereka masuk ke dalam, mereka terpaku melihat gua yang amat besar bak balairung. Gua tersebut menjorok ke perut bumi, sehingga dari luar seolah-olah tidak terlihat apa pun.
Ketiganya amat takjub ketika menatapi tiap-tiap dari dinding-dindingnya yang kokoh dan berkelap-kelip karena mengandung bebatuan kristal, sehingga gua itu tidak gelap gulita. Di depan mereka ada beberapa tangga melingkar di sana sini, meski sebagian besar telah hancur. Agak jauh di depan mereka, lebih masuk ke perut bumi, ada banyak ceruk-ceruk kecil pada dinding dan salah satunya memancarkan cahaya, meski redup.
Mengingatkan Aldérin pada kota dwarf, Pílghym. Meski kota para kurcaci jauh lebih megah, dan terang di dalamnya. Hanya saja, ia tidak menyangka selama ribuan tahun tidak pernah menginjakkan kaki ke daerah utara, ternyata ada tempat seindah itu di dunia Khali. Perasaan Aldérin benar-benar terasa damai, dan aman. Merasa bahwa tempat itu sebagai tempat perlindungan yang memukau.
“Tempat apa ini? Sepertinya satu koloni kota pernah tinggal di sini,” bisik Lya, tak percaya. “Tapi benar-benar mengagumkan, indah sekali ….”
“Dari salah satu catatan sejarah yang pernah kubaca, tempat ini adalah awal peradaban dari orang-orang utara di wilayah ini, dan jika tidak pernah ada tempat ini, mungkin istana Ferden’lyf pun takkan pernah di bangun,” kata Raven.
“Kenapa mereka harus tinggal di gua?” tanya Findarel, yang kurang begitu senang harus memasuki gua dan berlama-lama di dalamnya. “Alam hijau, matahari, tanah, menawarkan kehidupan yang lebih baik.”
Raven melirik sekilas dan sebelah alisnya naik. Rasanya aneh jika ada seorang bocah yang memberikan pendapat dengan pemikiran sejauh itu. Sedangkan apa yang dikatakan oleh Findarel memang ada benarnya, karena dia tinggal di Lamvorels. Di mana seumur hidupnya dikelilingi oleh alam, sinar matahari yang hangat, dan musim-musim yang tak membuat para elf kesusahan. Kehidupan yang begitu nyaman juga damai hanya ada di Lamvorels yang terbaik dari seluruh tempat mana pun di Khali.
Lalu Raven terdiam beberapa saat dan menjelaskan rinci pada Findarel.
“Karena kami adalah orang-orang utara, Findarel. Tidak ada sinar matahari yang sepanjang hari kan bersinar terang; tanah di sini terlalu lembab untuk dipakai pertanian, hanya beberapa tanaman yang bisa bertahan; dan bahkan tanah di sini tak akan bisa ditanami apa pun jika musim dingin tiba.
“Dan selama lebih dari enam bulan, di utara selalu musim dingin. Karena itu leluhur kami tinggal di gua-gua, menghindari cuaca buruk dan juga para troll. Meski kurasa makhluk-makhluk tersebut telah punah saat ini. Aku tak pernah bertemu salah satunya, hanya ada binatang liar saja,” jelas Raven.
“Yah, aku bisa mengerti,” ujar Findarel.
“Dan sebenarnya, jika orang-orang dari Ferden’lyf menemukan kembali tempat ini, mereka akan menjadi kaya raya,” tutur Raven. Ia menunjuk dinding-dinding, “Kristal. Batu yang sangat berharga, pada masa lampau batu-batu ini dipakai tuk menerangi gua, hanya saja untuk sekarang … lebih pantas dijadikan tempat penambangan. Sedikitnya, aku merasa bersyukur tak ada satu orang pun yang tahu akan tempat ini selain aku.”
“Jadi kau bisa kaya raya seorang diri,” gumam Lya.
Raven terkekeh. “Tidak, bukan itu. Jika orang lain mengetahui tempat ini, aku yakin mereka akan mengambil semua dan merusak tempat paling bersejarah ini. Kau takkan mungkin bisa membangun sejarah lama jika itu telah musnah, kecuali kau membuat sejarahmu sendiri. Bukankah begitu?”
“Memang begitu,” timpal Aldérin. “Sejarah takkan pernah bisa diulang lagi.”
Aldérin sedikit tertarik dengan Raven. Dia adalah orang yang berpengetahuan cukup baik, menunjukkan manusia yang terpelajar. Tak salah lagi dugaan Aldérin, bahwa Raven merupakan seseorang yang datang dari kalangan istana. Mungkin ia pernah tinggal di istana Ferden’lyf, tapi yang perlu dipertanyakan adalah, kenapa dia ada di tempat itu dan mengapa sendirian?
Mereka pun berjalan memasuki salah satu ceruk yang menyala tadi, di mana itu merupakan tempat tinggal Raven. Kain tebal berwarna coklat tua terbentang menyerupai pintu masuk, ada dua celah agak besar di antara pintu tersebut yang sepertinya dibuat dan sisi-sisinya agak kasar, menyerupai semacam jendela. Dan dari celah tersebut, keluar asap-asap keabuan yang datang dari dalam ceruk.
“Ini rumahku,” kata Raven. Ia membuka kain coklat itu dan dikaitkan pada sisi kiri. “Tidak terlalu bagus, akan tetapi untukku ini tempat yang nyaman untuk berlindung.”
“Hangat sekali,” gumam Lya. Ia buru-buru mendekati perapian yang letaknya di tengah-tengah ruang ceruk tersebut, ia merasa lebih baik daripada di luar tadi.
“Rumahmu cukup nyaman,” seloroh Findarel.
Raven mengangguk sopan. “Terima kasih.”
Aldérin memperhatikan ruangan tersebut. Mungkin pada masanya, ceruk kecil itu merupakan rumah bagi satu keluarga. Ada tiga pintu lainnya yang ditutupi kain dengan warna sama. Bayangan keluarga bahagia tertangkap di benak Aldérin.
“Itu ruang air,” tunjuk Raven pada pintu paling ujung di sebelah kanan. “Kau tahu? Ada mata air di gua ini, mengalir melalui sebuah selokan kecil dan terus dia mengalir hingga bermuara ke sungai Palkia.”
“Palkia? Bukankah itu jauh dari tempat ini?” tanya Lya.
Raven terkekeh, hanya saja yang terdengar seperti sedang bergumam. “Itulah hebatnya alam liar, Nona Lya. Kau tidak bisa meremehkan mereka. Alam memiliki caranya sendiri tuk hidup dan berkembang, dengan kekuatan yang begitu besar.”
“Aku setuju,” timpal Findarel. “Kau akan merasa takjub ketika melihat pohon-pohon tumbuh tinggi dan kokoh, padahal awalnya hanya berupa tunas.”
“Ada sesuatu yang hampir kulupakan,” ujar Raven, lalu ia pun menunjuk pada pintu di dinding sebelah kiri yang saling bersebelahan. “Ruangan ujung adalah tempat pribadiku, dan sebaiknya kalian tidak memasukinya. Dan untuk Nona Lya, kau bisa memakai ruangan di sebelahnya, agak sedikit kotor memang, sebentar lagi aku akan membersihkannya.”
“Tidak perlu,” tolak Lya. “Lebih baik aku sendiri saja yang melakukannya, kau sudah sangat baik menampung kami di sini, itu pun cukup untukku.”
“Kalau begitu selamat beristirahat,” ucap Raven.
Lalu dia masuk ke dalam ruangannya, meninggalkan Aldérin, Findarel, dan Lya yang berkumpul mengelilingi perapian. Di luar terdengar tiupan angin yang sangat kencang, membuat Lya makin merapatkan mantel yang dipakainya.
“Sampai berapa lama kita akan terjebak di sini? Bisa-bisa kita kelaparan,” keluh gadis itu pelan.
“Kita masih memiliki buah kering,” balas Aldérin. “Tenanglah, begitu sampai di Ferden’lyf kau boleh memakan apa pun yang kau mau.”
“Semoga makanan di sana tidak mengecewakan.” Lya hanya mengangguk lemah.
“Kau pasti lelah, istirahat, Lya,” kata Aldérin.
Lya beranjak berdiri, lalu menggeliat. “Aku harus membereskan kamarnya. Sepertinya lebih hangat tidur di depan perapian. Apa tidak masalah bagi Raven aku tidur di sini?”
“Sepertinya tak masalah,” balas Findarel.
Lya melangkah ke ruang kosong yang dimaksud oleh Raven, dia melongok ke sana sebentar, lalu masuk. Tidak lama kemudian, membawa alas tidur yang lembab dan sedikit berdebu, lalu Lya letakkan di depan perapian. Gadis itu tersenyum lega.
“Kita bisa berbagi tempat tidur ini, Findarel.” Matanya melirik pada Aldérin. “Tapi tidak untukmu, kau harus mencari tempat tidurmu sendiri,” tambahnya sembari tergelak.
“Selama kau dan Findarel nyaman, sudah cukup untukku,” balas Aldérin.
Sembari menepuk-nepuk alas tidur itu untuk mengenyahkan debu, Lya bersenandung pelan. Setelah itu dia pun berbaring, menghadap ke perapian. Kepalanya hampir beradu dengan kepala Findarel, yang ikut merebahkan tubuhnya.
“Findarel, apa kau pernah merindukan tempat tinggalmu?” tanya Lya tiba-tiba.
“Hampir setiap hari,” angguk Findarel.
Selama perjalanan ke utara, Lya dan Findarel sering membicarakan tentang kota di selatan. Lya tahu di sana sangat sejuk juga nyaman. Membayangkan pohon-pohon tinggi besar, bunga-bunga yang bermekaran sesuai musim, sehingga hampir setiap saat di sana musim bunga. Bahkan tidak pernah ada musim dingin, yang seperti mereka rasakan sekarang. Lya merindukan Hail, sebaik dan seburuk apa pun kota itu.
Angan gadis itu mengingat-ingat kembali apa yang paling disukainya, sembari memejamkan mata. Blud, Malda, Newtor, juga Lark tak luput dari khayalan Lya. Menikmati buah peach, apel, memerhatikan Cahreb yang sebetulnya sudah cukup lama Lya sukai.
Lya teringat, dia dan Cahreb menaiki kereta kuda, di malam yang dingin tapi tidak hujan. Lalu Cahreb berlari ke arah Lya, memberi peringatan. Seorang wanita meluncurkan bola api, dan Cahreb …
“TIDAK!!” jerit Lya tiba-tiba.
Dia langsung terduduk dengan napas tersengal-sengal.
Findarel dan Aldérin langsung terkejut, begitu juga Raven yang langsung keluar dari kamarnya. Lya menangis terisak-isak, bergegas Aldérin memeluk gadis itu dalam dekapannya.
“Apa yang terjadi?” tanya Raven, bahkan dia tidak melepaskan ikatan kepalanya. Suaranya pun terdengar serak agak melengking karena tergegap mendengar jeritan Lya dari luar kamar. “Dia baik-baik saja?”
“Kau bermimpi buruk?” tanya Aldérin pada Lya, tidak menjawab pertanyaan Raven.
“Entahlah, tapi itu terasa nyata,” isak Lya.
“Dia tidak apa-apa. Maaf, kami membuatmu khawatir,” sahut Aldérin pada Raven.
“Aku akan menjerang air panas, dia butuh sesuatu yang hangat,” kata Raven.
Findarel ikut memeluk Lya, batinnya merasa sedih karena sedikit demi sedikit pasti ingatan Lya akan kembali. Saat ini baik Aldérin maupun Findarel hanya bisa menghibur Lya, dan menguatkan hati gadis itu jika semuanya terungkap.
Raven masuk kembali ke kamarnya, lalu terdengar suara sedikit berisik, seperti benda-benda metal jatuh dari dalam kamar. Tidak lama Raven keluar membawa sebuah panci kecil dan masuk ke dalam ruang air. Setelah itu dia kembali membawa panci berisi air, yang ia kaitkan pada besi penyangga di atas perapian.
Dengan kaki bersila Raven di duduk di seberang mereka yang terhalangi oleh perapian.
“Lya, apa kau sudah makan? Perutmu sakit?” tanya Raven hati-hati.
“Sedikit,” balas Lya lemah.
“Apa yang terasa nyata bagimu?” selidik Raven.
“Aku kehilangan seseorang, dan dia ….” Beberapa saat Lya terdiam. “Dia terbakar di depanku.”
Raven mendesah pelan. “Apa gadis ini seorang cenayang? Karena kutahu, ada orang yang konon bisa meramalkan masa depan.” Matanya menatap tajam pada Aldérin.
“Tidak, Lya tidak memiliki kemampuan seperti itu,” elak Aldérin cepat. “Itu mungkin hanya mimpi.”
“Istirahatlah, Lya. Tak perlu risaukan apa-apa,” bisik Findarel.
“Aku tiba-tiba teringat akan pembicaraan kita, yang belum selesai Tuan Varwendil.” Raven berdeham pelan. “Sembari menunggu air panas, bisa kau jelaskan kembali tujuanmu itu? Untuk mencari benda pusaka?”
Aldérin mengangguk. “Kurang lebih seperti itu.”
“Bagaimana kau bisa yakin adanya benda tersebut? Sedangkan hal seperti ini, jika memang berada di istana Ferden’lyf, takkan mungkin orang awam tahu,” kata Raven.
“Kisahnya begitu panjang dan bertautan, karenanya aku harus bertemu dengan pemimpin di sana. Akan sulit untuk kujelaskan saat ini, tapi kupastikan padamu, aku bukan orang jahat.”
“Baiklah. Aku menanyakan hal ini, karena aku harus memperingatkanmu. Tidak sebaiknya kau datang ke sana, sebaiknya kau kembali dan mencari cara lain untuk menyelamatkan teman-temanmu,” balas Raven.
“Mengenai wabah itu?” Findarel melirik pada Raven dan Aldérin.
“Tetapi kakakku, Thane. Dia berada di sana, jika memang wabah terjadi … aku ingin membawanya kembali ke Hail,” kata Lya di sela-sela isakannya.
“Pulanglah ke Hail, dan hiduplah dengan damai di sana, Lya. Lupakan tentang kakakmu,” ucap Raven lugas. “Karena jika kalian ke Ferden’lyf, aku tak yakin kalian bisa selamat dari wabah tersebut.”
Raven beranjak berdiri, lalu melangkah ke kamar, tidak lama kemudian dia muncul ke ruang tengah sembari membawa tiga mangkuk dari kayu. Lalu ia letakkan di samping Aldérin.
“Terima kasih,” ucap Aldérin. “Mengenai wabah ini, kau tidak jelaskan secara rinci.”
“Aku pun memiliki hal yang tak bisa kuungkapkan seperti kau, Tuan Varwendil.” Raven tersenyum. “Kecuali jika kau ingin bertukar informasi denganku.”