The Quest for The Lost Inheritors
Rencana Kolé
Sekitar dari seratus sisa pasukan dëia tiba ke puing kota Lamvorels, dalam keadaan baik-baik saja. Sisa dua lusin lainnya, mengalami cedera, entah bertahan hingga kapan. Telapak tangan mereka mulai terbakar, dan tak bisa diobati. Seolah-olah ajal sudah siap untuk membinasakan mereka.
Tampak raut-raut wajah muram ditampakkan oleh para pasukan dëia yang berhasil keluar dari Kota Pílghym. Mereka bertemu dengan teror baru, selain diri mereka sendiri.
Kolé sudah mengetahui kekalahan mereka di Kota Pílghym dari kabar para Oroizé. Itu yang membuat dia semakin geram, terlebih Gôntra dan Yähgé bisa melarikan diri, termasuk elf yang menjadi tahanan Gôntra sebelumnya. Yaitu Ninye.
Entah mengapa apa yang sedang disusun oleh Kolé dalam rencananya, mulai goyah dan tidak berjalan mulus.
Seorang pimpinan pasukan yang datang dari Pílghym dipanggil oleh Kolé untuk menghadap. Dia mengikuti seorang Oroizé yang menjemputnya, lalu mereka berdua melangkah menuju singgasana sementara Kolé di puing Kota Lamvorels.
Kolé sudah menunggu dengan tak sabar, sedangkan Nihlá hanya duduk di atas pembaringan, ketika sang pemimpin pasukan datang. Oroizé dan sang pimpinan pasukan memberi hormat dengan anggukan singkat. Setelah itu, sang Oroizé bergegas pergi.
“Kabar buruk apa yang akan kau berikan padaku? Kematian bangsa kita?” tanya Kolé.
Sang pimpinan terdiam beberapa saat, lalu dia mengangguk. “Aku menerima semua hukuman yang akan kau berikan padaku, Adegaz.”
“Tidak, aku membutuhkan semua pasukanku di sini, untuk menyerang kota manusia,” balas Kolé. “Aku butuh penjelasan. Apa penyebab sebagian pasukan kita hancur di Pílghym? Apa mereka memiliki senjata yang kuat, sampai membinasakan setengah dari pasukan bangsa dëia?”
“Sebetulnya kota itu sudah kosong, saat kami tiba di sana,” sahut sang pimpinan.
Kolé hanya menaikkan sebelah alisnya. Dia mendengar apa yang dikatakan oleh sang pimpinan.
Ada tiga pemimpin pasukan yang masuk ke dalam kota, dan sang pimpinan yang menghadap pada Kolé adalah yang datang paling akhir. Dia pun tidak tahu apa yang terjadi, ketika masuk ke dalam gerbang, dia melihat ada api yang begitu besar lalu terjadi ledakan yang amat dashyat. Sisa bangsa dëia yang masih bisa menyelamatkan diri, berlari menuju gerbang utama masuk secepat mungkin.
“Api seperti apa?” tanya Kolé. “Siapa pelakunya?”
Pikiran Kolé tertuju pada adik-adiknya, mungkinkah keduanya mendapatkan kekuatan lain sehingga menjadi sangat kuat, dan akhirnya berani untuk menggulingkan kuasa Kolé?
“Yähgé dan Gôntra?” Lagi-lagi Kolé bertanya.
“Bukan, Adegaz,” geleng sang pimpinan pasukan. “Ada beberapa dëia yang cedera hebat, tapi mereka masih bertahan dan kami bawa. Mereka yang melihat dengan sangat jelas, dan menceritakan semua.”
“Lalu?” Kolé menjadi penasaran.
“Ada sosok bertubuh tinggi, berwarna merah, tidak seperti bangsa kita, tidak juga elf, tapi seperti roh yang mengeluarkan aura menakutkan. Lalu menyerang begitu saja. Kekuatannya pun sangat dashyat.”
Kolé keheranan. “Manusia?”
“Sudah kusampaikan, seperti roh, Adegaz. Kami tak tahu apa.”
“Baiklah, silakan kau kembali dan beristirahat. Karena kita akan menyerang kota manusia, tidak lama lagi, kau paham?” sahut Kolé.
Sang pimpinan pasukan hanya mengangguk dengan wajah keruh, lalu bergegas keluar dari ruangan Kolé dan Nihlá. Ada perasaan geram dan kelas, karena Kolé terlalu memaksakan rencananya. Jika mereka kembali ke Kalvath, kemungkinan para kaum-kaum tinggi akan menentang keras Kolé. Karena sudah menyia-nyiakan sebagian pasukan.
Jika memang ada lawan yang sepadan, mereka harus berembuk dengan petinggi-petinggi di tanah air. Mencari sekutu dari makhluk-makhluk berotak dungu, tapi sangat kuat, seperti troll, atau goblin.
Begitu pimpinan pasukan keluar, bergegas Nihlá menghampiri Kolé. Matanya tampak mengeluarkan sorot ingin tahu sekaligus marah. Karena dia mendengar apa yang dikatakan oleh Kolé dan sang pimpinan.
“Apakah sosok itu yang mengeluarkan kekuatannya? Pewaris Estion?” tanya Nihlá. “Dia pelakunya?”
“Mungkin,” balas Kolé.
Dia teringat saat setelah membumihanguskan Lamvorels, ada sebagian pasukan dëia yang tewas. Namun, saat itu justru seluruh pasukan dëia tewas membeku. Lalu mengapa sekarang menjadi abu? Jika memang pelakunya adalah sang pewaris Estion, kekuatan macam apa yang dimiliki Estion ini?
Kolé merasa ini adalah campur tangan dari Len’ Arna, yang memberikan kekuatan pada Kolé akan tetapi mereka juga memberikan kekuatan yang jauh lebih hebat bagi pihak lawan. Membuat Kolé benar-benar geram, tentu saja tidak akan menjadi peperangan yang sepadan, apabila dari kaum garis putih justru diberi kelebihan yang bisa membuat bangsa dëia kembali terpuruk.
Jika Kolé bisa menghancurkan para Len’ Arna, mungkinkah sumber kekuatan di pihak musuh akan hilang? Kolé merasa konyol, karena konon para Len’ Arna itu sangat sakti. Bukankah kekuatan yang dimiliki oleh Kolé pun datang dari mereka?
Namun, apabila Kolé bisa merebut Estion dari tangan sang pewaris, bisa kah itu menjadi lawan yang sepadan kelak, untuk menghancurkan para Len’ Arna?
“Kolé? Ada apa?” tanya Nihlá yang khawatir melihat Kolé hanya termenung.
“Sebaiknya kau segera kembali ke Kalvath,” jawab Kolé lugas.
Ada keterkejutan ditunjukkan oleh Nihlá. “Tapi mengapa? Aku merasa lebih baik berada di sampingku. Apa selama ini aku membuatmu terganggu?”
Ada gelengan lemah diperlihatkan Kolé. “Aku ingin kau tetap di sana, untuk mengawasi pergerakan para petinggi kaum-kaum. Berita pengkhianatan Yähgé dan Gôntra, aku takut sudah sampai di telinga mereka. Keduanya adalah adik-adik kita, ini bisa membuat guncang seluruh bangsa. Kau paham maksudku, bukan?
“Setelah ini, para petinggi tentu aja mempertanyakan kekuasaanku. Bagaimana aku bisa menjadi pemimpin bangsa, sedangkan adik-adikku sendiri berkhianat dan hendak melakukan kudeta?” jawab Kole.
Nihlá mengerti maksud Kolé. Dia takkan membantah, tak akan pula kecewa, karena itu yang harus diambil di awal agar mereka justru tidak dipaksa turun tahta oleh para petinggi-petinggi kaum yang bertugas sebagai dewan. Hanya saja, amarah di hatinya ditujukan pada Yähgé dan Gôntra, yang tidak memikirkan kelangsungan bangsa dëia untuk ke depan. Keduanya seolah ingin membuat perpecahan di antara bangsa sendiri. Entah apa yang ada di dalam pikiran Yähgé.
“Lalu tugasku adalah, menenangkan para petinggi, bahwa semua baik-baik saja? Meskipun aku harus jauh dari sisimu? Begitu menurutmu?” Mata Nihlá menatap pada Kolé.
“Aku tak mau terjadi sesuatu yang buruk padamu, pada kita semua.”
“Aku lebih khawatir dengan kekuatan misterius yang terjadi di Pílghym. Bagaimana jika—.”
“Tenanglah, aku akan melakukan serangan ke kota manusia secepat mungkin. Kau tidak usah khawatir,” pangkas Kolé. “Kumohon, mengertilah maksudku, Nihlá.”
“Baiklah. Aku akan segera kembali ke tanah air kita. Lalu kapan penyerangan ke kota manusia akan kau lakukan?” tanya Nihlá. “Aku ingin mengantarmu, setelah itu aku pulang ke rumah.”
“Dua hari yang akan datang. Setelah semua pasukan memulihkan tenaga mereka, dan yang terluka ikut bersamamu kembali ke Kalvath.”
Nihlá hanya mengangguk mengiyakan.
*
Sementara itu, jauh dari di mana Kolé dan Nihlá berada…
“Kekasihmu sepertinya sudah masuk ke dalam kota,” gumam Yähgé yang menatap pada Kota Vôld.
Keduanya mengawasi dari atas perbukitan, masih dalam jarak pandang yang aman untuk melihat ke arah kota yang berada di tengah-tengah padang rumput, dan kota itu adalah kota yang besar juga padat penduduk. Seringkali Yähgé dan Gôntra datang ke kota itu, hanya untuk melihat-lihat seperti apa tingkah laku manusia.
“Dia temanku,” balas Gôntra dingin.
“Entah keributan apa yang akan ia lakukan di sana, tetapi sepertinya akan terdengar luar biasa.” Lalu terdengar tawa sumbang Yähgé. “Tetapi dia patut mendapat pujian, karena keberaniannya yang bodoh, hanya untuk meyakinkan manusia seorang diri.”
“Aku akan mencegahnya berbuat gegabah.”
Yähgé menahan laju langkah Gôntra. Dia menggelengkan kepala.
“Kuping runcing itu harus ditunjukkan kebenaran, bahwa tidak semua yang baik di dunia ini dalam pikirannya, ternyata baik. Kau harus membiarkan dia merasakan kecewa,” kata Yähgé.
“Untuk apa? Dengan melihat kenyataan bahwa kota dan saudara-saudaranya musnah, sudah menjadi titik kekecewaan terbesarnya, Yähgé. Dan bangsa kita adalah penyebabnya.”
“Aku hanya ingin dia melihat gambaran besar. Jika dia menginginkan kedamaian, mustahil tidak akan terjadi tumpah darah. Mustahil bahwa kedamaian itu berujung pada kekuatan berimbang.”
“Apa maksudmu?”
“Aku ingin dia paham, bahwa dunia tidak seindah dan bersahabat seperti pikirannya selama ini.”
“Kau membencinya, untuk apa membuat dia memahami keinginanmu?”
Yähgé tertawa kecil. “Menyenangkan jika memiliki musuh sepadan. Aku lebih menyukai dia menjadi lawanku kelak, bukan kakakku yang bodoh.”
Gôntra tidak menjawab apa apa.
Dia sendiri sering bingung dengan pemikiran-pemikiran Yähgé yang ganjil dan berbeda dari makhluk mana pun yang pernah dikenalinya. Yähgé seperti punya sebuah peta besar masa lalu dan masa depan, seolah bisa mengatur sesuka hatinya. Perempuan itu tidak berpihak pada bangsa dëia sepenuhnya, tetapi di lain pihak dia pun tak mendukung bangsa lain. Dia hanya memikirkan dirinya sendiri.
“Cepatlah, aku harus mengejar Ninye,” ucap Gôntra sedikit gusar.
“Kau selalu terburu-buru, padahal aku butuh sedikit hiburan.”
“Kita adalah pelarian dan pengkhianat, kau masih memikirkan mencari kesenangan?” Gôntra terheran-heran dibuatnya. “Aku sendiri merasakan gentar, jika sampai keberadaan kita diketahui oleh bangsa dëia.”
“Ah, semakin tua kau semakin menyebalkan. Di mana semangatmu yang pernah kulihat dulu?” Yähgé mencebik. “Semenjak bertemu perempuan elf itu, kau menjadi lembek.”
“Ini tidak ada hubungannya dengan Ninye.”
“Baiklah, astaga! Panglima penggerutu!”
Lalu Yähgé mengangkat sebelah tangan dan membuka telapak tangannya, sebuah sinar keungunan melesat lalu menyelubungi tubuh Gôntra. Tidak lama kemudian, wujud asli Gôntra berubah menjadi sosok manusia. Lagi-lagi Hering Bluelock.
“Ingatlah, kau tidak boleh gegabah jika terjadi sesuatu pada si kuping runcing. Aku tak mau hal yang sama terulang saat kita berada di Hail,” peringat Yähgé. “Aku takkan mengampunimu.”
“Tentu saja,” balas Gôntra enteng.
Yähgé merapalkan mantra untuk dirinya sendiri, dan tubuhnya berubah menjadi sosok manusia. Setelah itu mereka berdua berjalan menuju ke kota Vôld. Untuk mencari keberadaan Ninye di sana.