The Quest for The Lost Inheritors

Oroize di Vôld

Pasukan dëia sudah siap berangkat menuju Kota Vôld, di mana Kolé akan memimpin mereka menuju medan pertempuran. Sekitar dua puluh lima lusin pasukan melangkah keluar dari puing-puing Kota Lamvorels, jumlah yang sebetulnya sangat kurang menurut Kolé, akan tetapi dia kehilangan banyak pasukan yang tewas si kota para dwarf.

Lalu berdiri di samping Kolé, Nihlá yang hendak mengantar kepergian suaminya. Perempuan itu bersama pasukan penjaga dan yang terluka hendak bertolak kembali ke tanah air mereka.

“Jaga dirimu baik-baik, Kolé,” ucap Nihlá.

“Kau harus bisa meyakinkan petinggi-petinggi kaum, bahwa usahaku akan berhasil.”

“Tentu saja.” Nihlá pun memeluk erat Kolé setelah itu dia berangkat bersama pasukannya.

Setelah kepergian Nihlá lebih dulu, maka Kolé berangkat bersama sisa prajurit yang dibawanya untuk menyerang kota manusia. Para Oroizé menghampiri Kolé, mereka seperti pasukan elit yang memang bukan peruntukannya untuk berperang. Namun, untuk hal-hal taktis.

“Pergilah lebih dulu menuju Kota Vôld. Pastikan kalian mengetahui kelemahan para manusia,” ucap Kolé. “Dalam waktu empat malam kami akan tiba di sana, dan aku harus mengetahui di mana titik serang mereka. Kalian paham?”

Para Oroizé mengangguk. “Baik, Adegaz.”

Tubuh para Oroizé bergerak cepat mendahului pasukan yang berjalan. Lalu mereka mencelat ke angkasa, naik ke dahan-dahan pohon dan berlari melesat. Konon, para Oroizé bisa meringankan beban tubuh mereka sehingga takkan membuat dahan pohon hancur. Mereka memiliki banyak kelebihan, tapi tidak bisa berperang.

Tubuh para Oroizé hampir sama dengan kekuatan manusia, rapuh. Mereka hanya bisa membunuh dengan cara tersembunyi dan licik.

Para Oroizé bisa mencapai suatu jarak dengan kecepatan dua hingga tiga kali lipat bangsa dëia biasa. Mereka pun bisa tidak terdeteksi oleh manusia, bahkan bangsa mereka sendiri. Yang bisa menandingi para Oroizé adalah ketajaman insting para elf.

Kolé tak khawatir, karena manusia makhluk-makhluk lemah. Mereka takkan sadar adanya Oroizé. Karena itu perjalanan para bangsa dëia tidak akan terburu-buru, mereka akan menghemat energi. Sehingga saatnya tiba, mereka takkan mengampuni lagi bangsa manusia. Dengan begitu, Yähgé tidak akan memiliki sekutu untuk menggulingkan tahta sang kakak.

“Manusia adalah makhluk lemah, akan mudah bagi kita untuk menaklukkan mereka, Adegaz,” ucap salah satu pimpinan prajurit bangsa dëia. “Mengapa kita tidak mengejar pelarian dari Gunung Pílghym?”

Kolé tidak menjawab, dia terus berjalan mengikuti langkah pasukannya yang berderap menuju ke arah Kota Vôld. Sang pimpinan pasukan menundukkan wajahnya. Tidak berani berucap apa-apa lagi.

“Jika memang ada seseorang yang memiliki kekuatan begitu besar, bahkan hampir menumpas setengah pasukan kita. Kau ingin kita mencari mereka dan mendapatkan kekalahan yang sama?” tanya Kolé setelah beberapa saat mereka berjalan dalam diam.

“Tentu tidak, Adegaz.”

“Kita harus membawa pasukan lebih banyak dari tanah air, untuk menghadapi seseorang ini. Kita tak bisa meremehkan suatu kekuatan, di saat kita lengah. Layaknya saat penyerangan ke kota para dwarf. Dan aku yakin, sosok ini pasti berada bersama mereka.”

“Apa kita bisa meyakinkan para petinggi untuk mengerahkan semua pasukan kita, Adegaz?”

“Kau tidak yakin padaku?”

“Aku tidak berkata seperti itu, Adegaz. Ke mana pun kau akan pergi, aku akan setia denganmu sampai akhir. Itu adalah janjiku.”

“Kita bisa meyakinkan mereka, jika mereka mengetahui seluruh kota bangsa lain sudah kita hancurkan. Aku pastikan, seluruh prajurit dëia, dan sekutu-sekutu kita akan menyerang pertahanan terakhir pada dwarf dan elf yang sekarang bersembunyi.”

Dan aku sendiri yang akan menghancurkan pewaris Estion, geram Kolé dalam hati.

Sang pimpinan pasukan mengangguk. “Aku pun akan membalaskan dendam kaum kita yang dihancurkan oleh seseorang yang memiliki kekuatan itu. Dia takkan bisa lagi lari, dari kemarahan bangsa dëia.”

*

Para Oroizé tiba dalam waktu dua malam ke luar Kota Vôld, jumlah mereka yang ada lima sosok menghampiri salah satu rumah petani dan peternak yang paling dekat ke anak bukit. Mereka mengintip dari jendela, mendengarkan celotehan anak-anak, remaja, dan orangtua yang sedang bercakap-cakap dalam acara makan malam.

“Kau bisa dalam masalah besar, untunglah raja tidak menghukummu, Ron,” ucap sang ibu.

“Sudah berapa kali aku bilang. Semua sudah selesai, perempuan itu esok akan disidang, dan aku hanya seseorang yang tidak mengenalnya. Jangan khawatir, Bu.” Remaja laki-laki itu tampak terusik.

“Apa kita harus membahas tentang Ron yang membawa perempuan bangsa lain? Di mana-mana terus saja cerita tentang itu. Aku bosan,” seloroh seorang anak perempuan yang usianya tidak jauh dari Ron. “Sudah, Bu … Ron bersama kita, dan tak perlu khawatir lagi. Perempuan itu sudah ditangkap.”

“Terima kasih, aku sangat menghargainya, Delilah.” Ron mengangguk sembari tersenyum.

Mata para Oroizé saling memandang. Mereka pun bergerak ke arah pintu, salah satunya pun mengetuk dengan pelan. Sehingga sang ayah, mendongakkan kepalanya.

“Ada siapa? Coba kau lihat, Rein. Siapa yang datang malam-malam begini,” ucapnya.

“Mungkin Tuan Oliver. Dia sering meminta herba akhir-akhir ini. Cuaca tak menentu, dan dia sering sakit sendi,” celoteh sang ibu yang langsung beranjak dari duduknya dan menyiapkan herba di dapur.

Gadis kecil yang paling bungsu, tanpa banyak curiga membuka pintu. Namun, begitu pintu terbuka tidak ada siapa pun di luar sana. Rein hanya menatap bingung. Dia kembali ke ruang makan.

“Tidak ada siapa-siapa,” kata gadis kecil itu.

Hanya saja, wajah-wajah yang menatap pada Rein berubah pucat, mereka berdiri dengan mata membelalak. Ketika Rein menoleh ke belakang, sebuah tangan besar, berwarna merah pucat dengan kuku-kuku panjang sudah membekap mulutnya.

“Tidak perlu berteriak, jika kalian masih ingin hidup,” ucap salah satu Oroizé dengan suara berat dan parau. “Diam dan duduklah, kami hanya butuh waktu sebentar. Sebelum kami mengambil nyawa kalian semua.”

“Kumohon, lepaskan putri kami,” pinta sang ayah dengan suara gemetar.

Pintu rumah ditutup pelan-pelan, di mana lima sosok Oroizé sudah berdiri di sana, menunjukkan teror yang tak pernah dilihat oleh keluarga itu sebelumnya. Kali itu Ron merasa sangat menyesal, karena tidak mempercayai Ninye.

Bahkan dia sempat mengutuk perempuan elf itu, karena membuat Ron terseret sedikit masalah. Meski pada akhirnya, dia dilepaskan oleh sang raja.

Jadi makhluk-makhluk bertubuh tinggi besar, bahkan kepalanya hampir menempel pada langit-langit rumah ini, yang dikatakan ancaman oleh Ninye.

Satu dari Oroizé, yang berambut kepang satu panjang, menghampiri Rein. Dia perempuan yang memiliki wajah begitu datar, lalu disentuhnya dahi Rein hingga gadis itu pingsan dan tak sadarkan diri. Keluarga Ron tidak bisa menjerit.

Sang Oroizé menghampiri satu persatu anggota keluarga Ron, menyentuh dahi mereka dengan tangannya, dan mereka langsung berjatuhan ke permukaan lantai. Begitu sekeluarga itu pingsan, sang Oroizé merapalkan mantra, membuka telapak tangannya pada tiap-tiap Oroizé yang lain. Kekuatan yang sama dengan Yähgé untuk mengambil bentuk makhluk lain.

Sang Oroizé perempuan menggunakan sosok Rein kecil, lalu dia berdecak pelan.

“Kita akan pergi ke kota esok, dan mencari tahu siapa perempuan yang mereka maksud,” ucapnya. “Apa itu Adegazi Yähgé atau bukan. Kita akan laporkan pada Adegaz.”

Yang lain mengangguk mengiyakan. Lalu mereka duduk di meja makan, melanjutkan makan malam keluarga Ron. Dan membiarkan tubuh-tubuh manusia pemilik aslinya, tergeletak begitu saja di lantai.

*

Pagi menjelang, Ninye dibangunkan oleh para prajurit yang begitu takut dan waspada terhadap perempuan elf itu. Ninye melihat sosok sang ajudan raja, yang sudah menunggu untuk membawa Ninye ke tempat pengadilan, di mana bukan salah Ninye sebetulnya. Rantai besi ditarik dan Ninye hanya mengikuti apa yang sudah diperintahkan oleh sang raja, mulutnya pun diikat oleh seutas tali. Dari tawanan bangsa dëia kini Ninye menjadi bahan cemoohan bangsa manusia.

Hatinya mulai merasakan kesedihan dan penyesalan.

Masih dengan langkah tegap, Ninye dibawa keluar dari istana, berjalan keluar dari halaman, melewati gerbang, kembali ke pusat kota di mana ia sempat membuat kericuhan dalam pengejaran para penjaga kota. Lalu di atas sebuah mimbar, ada sebuah batang kayu terpancang, di mana itu seperti panggung. Panggung yang membuat siapa pun di atas sana akan merasakan rasa malu seumur hidup.

Penduduk sudah berkumpul, ingin tahu seperti apa sosok elf. Ninye menaiki tangga panggung dengan terpaksa, dia kini menjadi tontonan semua orang. Tidak lama kemudian, sang raja pun datang, duduk dengan angkuhnya di kursi yang sudah disediakan. Dari semua penduduk yang datang sejak dua hari terakhir, ada sosok Gôntra dan Yähgé yang menyamar di sana.

Begitu salah satu prajurit membuka tudung jubah yang menutupi kepala Ninye, terdengar suara gumaman tidak percaya saat melihat wujud sebetulnya perempuan elf itu. Suara-suara bak lebah mulai berdengung, ramai, dan ricuh.

Sang raja berdiri, lalu mengangkat sebelah telapak tangannya.

Semua suara itu pun senyap seketika.

“Ini adalah perempuan elf, yang datang entah dari mana dan mengatakan hal omong kosong, bahwa ada bangsa lain, bukan manusia … akan menyerang kota kita,” sang raja membuka perkataannya. “Dia sangat kasar, tidak bertatakrama, bahkan kedatangannya bak sebuah ancaman bagi kita semua.

“Karena itu, aku takkan tinggal diam. Sebuah penghinaan dari kaum yang tidak pernah kita temui, dan kini membuat masalah baru harus kita bungkam. Apa yang menjadi pernyataannya, sudah kuputuskan itu hanya bualan belaka. Maka dia harus mendapatkan hukuman yang setimpal.”

Mendengar apa yang disampaikan oleh raja Lord Raignald membuat tangan Gôntra mengepal.

“Manusia gila,” desis Gôntra geram.

“Manusia yang menarik,” sergah Yähgé sembari tersenyum.

Namun, Gôntra tak menghiraukan apa yang dikatakan oleh adik perempuan Kolé itu.

“Karena sesuai dengan suara rakyat, maka aku akan umumkan, apakah dua hari dari hari ini dia akan menjalani hukuman seperti apa. Aku meminta, kalian rakyatku, untuk menghukum dia enyah dari kota ini. Atau kita akan memakamkannya dengan layak, setelah dia menerima kematiannya. Maka dari itu, aku meminta kalian untuk menyuarakan suara, pilihan pertama atau kedua.

“Para prajurit dan penjaga kota, akan mengumpulkan suara terbanyak dari kalian semua, hingga esok di saat matahari tenggelam,” ujar sang raja.

Mata Ninye membelalak tidak percaya. Bisa-bisanya manusia yang tidak tahu apa-apa, memberi hukuman kematian bagi bangsa elf, dan itu merupakan hinaan juga pengkhianatan terbesar. Terlebih hal itu diputuskan dengan pemilihan suara. Itu benar-benar hilang akal.

Gôntra hampir maju, karena tidak menerima dengan apa yang hendak diputuskan oleh sang raja. Namun, tiba-tiba saja Yähgé menahan lengan sang mantan panglima bangsa dëia itu.

“Kita harus pergi dari sini,” bisik Yähgé dengan suara sedikit khawatir.

“Apa maksudmu?”

“Aku merasakan ada sihir yang sama, yang kugunakan. Aku takut para Oroizé. Lekas, Gôntra.”

“Tapi—”

“Kalau kau ingin menyelamatkan si kuping runcing, kita harus mencari kesempatan lain. Dan aku tidak bohong dengan instingku.”

Gôntra hanya mengangguk lemah, lalu dia mengikuti Yähgé keluar dari kerumunan orang-orang. Begitu mereka bergegas menjauh dari sana, lima sosok sekeluarga tiba dekat panggung di mana Ninye terikat. Para Oroizé memicingkan mata mereka, menyunggingkan senyum sinis.

“Oh, wanita elf,” ucap salah satu dari mereka.

“Bukan, Adegazi. Sayang sekali.”

“Ayo, kita kembali ke Adegaz. Dan sampaikan penemuan kita.”

Setelah itu, mereka berbalik dan melangkah kembali untuk keluar dari dalam kota. Salah satu penjaga melirik, dan melihat keluarga Ron dengan heran.

“Ron? Kau tidak akan melihat perempuan elf yang bersamamu?” tanya si penjaga.

Sosok Oroizé yang menjadi Ron menoleh. Menatap dengan dingin. “Dia akan mati. Dalam dua hari. Apa yang perlu aku lihat lagi?”

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!