The Quest for The Lost Inheritors
Hancurnya Vôld
Iring-iringan makhluk-makhluk bertubuh tinggi besar, kulit yang kemerahan, membawa senjata di tangan mereka, merupakan pemandangan paling mengerikan selama Kota Vôld berdiri. Belum pernah semenjak kota itu dibangun, manusia-manusia mendengar adanya bangsa dëia. Entah mereka lupa, entah memang sengaja dilupakan.
Namun, hari mengerikan itu datang. Di mana tidak ada pengampunan yang akan dilakukan oleh bangsa dëia. Mereka akan menumpas manusia, hingga habis.
Serangan demi serangan dari ketapel kota tidak membuat pasukan yang dipimpin oleh Kolé gentar. Bahkan bangsa dëia dengan mudah melemparkan bebatuan yang terselubung api. Menyerang Kota Vôld seperti itu permainan yang sangat menyenangkan.
Danau pun mulai mengering, karena kekuatan Kolé yang mampu membakar habis seluruh wilayah di luar benteng kota. Kini, hanya tinggal gerbang masuk saja yang menjadi pembatas bangsa dëia dengan manusia.
Sang raja menatap dari balkon kamarnya, ke arah kota yang sebagian sudah terbakar dan dilalap api. Sedangkan di bawah sana, di balairung dan halaman istana, para penduduk mencari perlindungan di bawah kuasa dan titah sang raja.
“Yang Mulia, kita harus segera melarikan penduduk menuju Hail,” ucap ajudan Raja Lord Raigland. “Mempertahankan kota, hanya untuk mengulur waktu agar semua bisa selamat.”
“Apa yang diucapkan oleh perempuan elf itu ternyata benar,” gumam sang raja dengan suara bergetar. “Lalu di mana dia sekarang? Apa kita bisa minta nasihatnya, apa yang harus kita lakukan?”
“Dia datang seorang diri, maka kuyakin bangsanya pun sudah musnah. Tetapi itu takkan terjadi pada bangsa kita, Yang Mulia. Kita harus menyelamatkan semua orang,” sahut sang ajudan, seolah dia sedang membuat sang raja benar-benar sadar bukan meratapi nasib. “Kami akan mempertahankan kota sebisa kami, dan Yang Mulia harus segera pergi bersama penduduk Vôld.”
“Mungkin ada yang ingin dia sampaikan pada kita, bagaimana menghadapi makhluk-makhluk itu.”
“Yang Mulia, kita tidak ada waktu lagi. Kau harus menyelamatkan diri.”
“Baiklah.”
Dengan wajah murung dan lesu, sang raja tertampar oleh kenyataan, bahwa kota yang dipimpinnya tidak lama lagi akan rata dengan tanah. Beberapa prajurit membuka jalan untuk sang raja, menuju jalan rahasia. Mereka menuruni tangga-tangga berliku, memasuki terowongan gelap, dan entah berapa jarak terowongan itu akan berakhir di depan.”
“Kami akan segera membawa penduduk kota menuju jalan ini, Yang Mulia. Mereka sudah kami bagi-bagi ke dalam kelompok, agar tidak berdesak-desakan,” kata salah satu prajurit.
“Pastikan anak-anak, perempuan, kalian utamakan lebih dahulu,” sahut raja Lord Raignald.
“Baik, Yang Mulia.” Para prajurit mengangguk patuh.
Lalu sang raja ditemani oleh dua orang prajurit, melewati terowongan gelap itu. Kedua prajurit dalam ketergesaan itu, menyalakan tiap obor-obor yang menempel di dinding dalam jarak tertentu. Sedangkan sang raja terus melangkah, dan larut dalam pikirannya sendiri. Merasa bodoh sekaligus congkak, karena tidak mempercayai apa yang telah diperingatkan oleh Ninye sebelumnya.
Terowongan itu sendiri memang cukup panjang, di mana akan berakhir di dekat anak kaki Gunung Habér paling barat. Setelah melewati Sungai Palkia, kurang dari dua hari mereka akan tiba di Kota Hail. Semoga saja di saat itu, bangsa dëia belum melancarkan serangan ke sana. Karena yang raja takutkan, bahwa bangsa darah dan api ini akan benar-benar memusnahkan semua makhluk yang berada dalam jangkauan mereka.
*
Panah-panah yang diluncurkan oleh manusia bak helaian dedaunan yang rapuh menyentuh tubuh-tubuh bangsa dëia. Kolé menunggu tidak jauh dari gerbang utama, yang sedang didobrak oleh pasukannya, agar mereka bisa menghancurkan kota manusia itu. Para Oroizé berdiri di samping kiri dan kanan Kolé, mereka sudah kembali ke wujud semula. Di mana sudah jelas, manusia yang rupa dan tubuhnya dipakai untuk kedok mereka, para manusia ini sudah tewas.
“Kami tidak menemukan sosok adegazi Yähgé, akan tetapi kami bisa merasakan ada sihir yang persis seperti yang ia gunakan. Apakah sebaiknya kami mencari adegazi di sekitar area luar kota?” tanya salah satu Oroizé pada Kolé.
“Tidak, kita pusatkan serangan ke kota ini. Hancurkan sampai habis,” tolak Kolé. “Setelah itu, kita pergi menuju kota manusia lainnya. Sehingga tidak ada lagi sekutu bagi Yähgé maupun Gôntra.”
Pintu gerbang berhasil didobrak setelah beberapa lama. Pasukan dëia dengan beringas masuk ke dalam kota. Menghabisi tiap-tiap prajurit yang menghalangi jalan mereka. Kolé melangkah masuk ke dalam kota, ada seringai puas ia tunjukkan.
“Para elf menunjukkan perlawanan yang lebih baik daripada ini. Manusia memang lemah,” gumamnya. “Apa yang dicari oleh adikku, jika dia berhasil bersekutu dengan manusia? Pikirannya benar-benar aneh.”
Dari arah istana, tampak ajudan raja datang berbondong-bondong dengan sisa prajurit yang ada. Jumlahnya sekitar delapan lusin pasukan yang siap menghadapi kematian dengan gagah berani. Kolé tertawa, lalu dia mendekat bersama pasukannya, sehingga jarak dengan prajurit manusia hanya berjarak beberapa meter.
“Kalian menyerah pun, kami takkan mengampuni kalian,” ucap Kolé dengan congkak.
“Kami tak meminta pengampunan. Meski kami berakhir di sini, tapi akan ada banyak bangsa lain yang berdiri setelah kami. Dan menghancurkan kalian!” teriak sang ajudan lantang.
Sang ajudan berlari maju bersama pasukannya, diiringi teriakan-teriakan penuh semangat. Sedangkan pasukan bangsa dëia hanya berdiri seolah mereka siap menginjak-injak pasukan manusia yang bak serangga.
Pedang beradu, tombak saling memelintir, pasukan manusia begitu saja terhempas dan kematian yang mengerikan terjadi sesaat setelah pertempuran berlangsung. Hanya tersisa sedikit dari mereka yang bertahan, dan tidak ada yang tahu bagaimana melawan bangsa dëia.
Ketika salah satu prajurit manusia terdesak, satu dari bangsa dëia membuka telapak tangannya untuk mengeluarkan api. Sembari menutup mata, manusia itu mengeluarkan tenaga terakhirnya, menghunuskan pedang pada telapak tangan sang bangsa dëia.
Tiba-tiba, sosok dëia itu bergerak mundur. Wajahnya berubah terkejut dan suara tercekik terdengar jelas. Tubuhnya berpendar-pendar, lalu mendadak dia menjadi abu. Prajurit manusia itu tidak kalah terkejut. Lalu dia menoleh pada rekan-rekannya yang lain.
“Telapak tangan!! Tusuk telapak tangan mereka!! Itu kelemahannya!!”
Teriakan terakhirnya itu, terdengar oleh sisa pasukan lain, sebelum dia digilas oleh pasukan dëia lainnya. Sang ajudan, menarik tubuh salah satu prajurit.
“Pergi, selamatkan dirimu dan katakan pada orang-orang di Hail, mengenai kelemahan bangsa ini. Kami akan bertahan, hingga semua orang selamat,” ucap sang ajudan raja dengan napas terengah-engah.
“Tapi, Tuan—”
“PERGI, SEKARANG!” pangkasnya.
Begitu melihat prajurit itu berlari ke dalam istana, yang lain mengerti bahwa mereka harus bertahan selama mungkin. Agar penduduk Kota Vôld selamat menuju Hail. Tidak lagi ditunjukkan raut wajah yang takut dan gentar, semua manusia memiliki tekad sekuat baja meski mereka akan binasa di sana.
*
“Ah, kota itu pun hancur juga,” gumam Yähgé yang berdiri menatap runtuhnya kota Vôld.
“Kau sudah melihat aksi yang dilakukan oleh kakakmu, itu sudah membuat puas, bukan?” tanya Gôntra.
Yähgé hanya mengendikan bahu. Lalu dia melirik pada Ninye yang juga berdiri di samping Gôntra, menatap pada Kota Vôld yang sudah dipenuhi oleh api.
“Kau teringat pada kotamu, Kuping Runcing?” tanya Yähgé. “Jangan katakan, apa yang terjadi dengan manusia, itu membuat hatimu menjadi lebih sentimentil.”
“Untuk apa kalian menyelamatkanku?” tanya Ninye tiba-tiba. Tidak mengindahkan perkataan Yähgé.
“Bukan aku, tapi dia,” tunjuk Yähgé. “Aku sendiri tidak peduli, apa yang akan terjadi padamu.”
“Ke mana kau akan pergi, Gôntra?” tanya Ninye lagi.
Gôntra melirik pada Yähgé. “Ke mana dia akan membawaku pergi.”
“Kalau begitu, aku ikut dengan kalian.” Ninye mengangguk tegas.
“Aku tidak mengajakmu ikut serta!” seru Yähgé kesal.
“Dan aku tidak meminta izinmu.” Ninye melirik sekilas, tidak peduli.
Yähgé membuka telapak tangannya, dan tiba-tiba saja Ninye sudah bergerak secepat kilat, lalu menghunuskan belati tepat di depan telapak tangan putri bangsa dëia itu.
“Aku bisa membunuhmu jika aku mau,” kata Ninye dingin.
Yähgé menaikkan sebelah alisnya. “Bunuh saja, aku tak pernah takut akan kematian.”
“Kita di sini tidak untuk bertengkar. Sudah, sebaiknya kita pergi. Atau para Oroizé akan mencari dan menemukan kita,” balas Gôntra.
“Rasanya sebelum ini, aku mendengar seseorang dengan berani bisa menghadapi para Oroizé,” cemooh Yähgé. “Mengapa sekarang tiba-tiba ia menjadi takut?”
“Para Oroizé takkan menyia-nyiakan kelemahan mereka untuk bertempur, itu yang baru saja kuingat. Mereka akan membawa pasukan lebih banyak, untuk menyergap kita,” balas Gôntra.
“Lalu apalagi yang kita tunggu? Ayo, kita pergi,” ajak Ninye.
Yähgé mendengkus kesal. “Astaga, perjalanan macam ini. Pelarian dëia dan seorang elf yang kehilangan segalanya. Ini benar-benar menyedihkan.”
“Setidaknya teman berpetualangmu bertambah satu orang, Yähgé.” Ada seringai ditunjukkan oleh Gôntra. “Bukankah ini menyenangkan?”
“Terkutuklah kau, Gôntra!” balas Yähgé sembari berjalan memasuki hutan yang gelap.