The Quest for The Lost Inheritors

Bangsa Api dan Darah Datang Lagi

Mereka bertiga tiba di barisan bukit West Emun Gasal setelah melewati savana Norewestôth tanpa berhenti sepanjang malam dan hari. Itu merupakan malam kedua, dan sepertinya tidak ada satu pun dari Oroizé yang mengejar dan mengintai ketiganya. Gôntra mengendurkan langkah, diikuti oleh Yähgé dan juga Ninye.

Ketiganya beristirahat setelah sampai di barisan bukit, mencari tempat berteduh meski tetap saja keadaan mereka cukup terbuka. Tidak mungkin bisa berlama-lama di sana.

Ninye hanya diam, mendengarkan Gôntra dan Yähgé seperti beradu argumen dalam bahasa ibu mereka yang tak dimengerti sama sekali oleh elf perempuan itu. Dia memutuskan untuk tetap senyap, sembari mendengarkan percakapan keduanya. Yang lambat laun, ada sepatah dua patah kalimat Ninye paham maksudnya apa.

Elf memiliki kecerdasan luar biasa, untuk mempelajari bahasa bangsa lain, mereka diberikan kemudahan untuk cepat memahami. Bahkan mereka bisa mengingat banyak macam-macam bahasa, dan tak akan pernah melupakannya.

“Kita akan melanjutkan perjalanan lebih ke utara,” cetus Gôntra.

“Hendak ke mana kita pergi?” tanya Ninye.

“Bukan urusanmu,” jawab Yähgé sinis.

“Memang bukan urusanku, tapi setidaknya aku harus bersiap-siap jika memang di sana tempatnya cukup berbahaya atau tidak.” Ninye hanya melirik pada Yähgé sekilas.

“Oh, tidak ada siapa pun di sana. Hanya ada kawanan goblin atau troll, jika kau beruntung.” Ada kekehan sarkastik terdengar dari bibir Yähgé. “Dari sana, kau bisa mencari temanmu yang bernama Aldérin.”

“Apa itu jauh dari tempat tujuan Aldérin?” Ninye bertanya-tanya dalam hati. Jika memang tempat yang dituju oleh Gôntra dan Yähgé dekat dengan Aldérin, mungkin Ninye bisa bertemu dengan Aldérin segera.

“Entah ke mana temanmu itu pergi. Apa peduliku?” Yähgé mengendikan bahu.

Gôntra tahu ke mana Aldérin pergi, sudah pasti ke Ferden’lyf.

Namun, tidak mungkin Gôntra katakan di depan Ninye maupun Yähgé, bisa-bisa Yähgé mengetahui pengkhianatan Gôntra yang melepaskan Aldérin pergi. Tetap saja, Gôntra harus menjaga perannya agar tidak terjadi sesuatu yang lebih fatal setelah ini. Tujuan akhir Gôntra hanya satu, yaitu keluar dari kemelut peperangan yang disulut oleh Kolé.

“Apakah bangsa kalian takkan mengejar ke utara?” tanya Ninye.

“Mungkin saja, tapi kami yakin untuk sementara ini fokus mereka adalah menghancurkan bangsa lain,” jawab Gôntra. “Kurasa kita harus berlayar terus ke timur, mencari tempat baru atau ke mana saja, agar Kolé tak menemukan kita untuk selamanya.”

“Ada apa di timur dari bumi ini?” gumam Ninye.

Ada perasaan ragu dan takut berdesir merasuk ke dalam batinnya. Dia tidak ada keinginan untuk mencari tahu dan memiliki rasa penasaran yang besar. Jika mereka harus lari menghindari Kolé, hingga kapan?

Terlebih selamanya itu mengandung arti abadi. Apa Ninye harus kehilangan semua harapan dan berada dalam pelarian terus-menerus bersama Kolé dan Yähgé, hingga jangka waktu yang tak terhingga?

Ninye tidak mau. Ninye ingin berjuang dan melawan.

“Si otak dungu itu akan terus berusaha menaklukkan semua bangsa di belahan bumi mana pun,” kata Yähgé. “Aku tidak mau lari. Aku akan menghadapinya, kita lihat saja nanti.”

Baru kali itu perhatian Ninye pada Yähgé mulai sedikit berbeda. Mereka seperti memiliki pemikiran yang sama, meski hanya sedikit.

“Aku juga tak ingin lari,” balas Ninye. “Melarikan diri hanya untuk pecundang.”

“Seperti yang kau tahu, kita ini pecundang, karena menghindari konflik dengan kakakku,” kata Yähgé.

“Aku sedang berusaha mencari cara untuk mengalahkan kakakmu,” balas Ninye.

Yähgé memutar bola matanya. “Oh, aku pun dalam rencana besar untuk membinasakan Kolé.”

“Bisakah kalian berhenti saling mendebat satu sama lain?” keluh Gôntra.

“Kami tak bertengkar,” ucap keduanya berbarengan.

Ninye menatap pada langit bertaburan bintang. Memikirkan keluarganya yang sebagian besar sudah tewas, entah para elf yang lain apa mereka bisa pergi dari kejaran bangsa dëia. Yang pasti, jika Yähgé pun akan melawan sang kakak, mungkin dia akan menawarkan aliansi pada perempuan bangsa dëia itu. Meski tetap, Ninye harus berhati-hati, karena Yähgé lebih pintar dan lebih licin dibandingkan Kolé.

*

Para Takala berlari secepat mungkin menuju ke gerbang Kota Hail, mereka melompat-lompat dengan luwes dan melewati benteng dengan mudah. Di atas benteng, tampak kedua raja menunggu dengan gelisah. Wajah para Takala menunjukkan apa yang mereka takutkan.

“Bangsa dëia sudah tiba,” ucap Cialla.

Menjelang tengah malam, prajurit bangsa dëia hampir mendekat ke Kota Hail. Pasukan gabungan manusia sudah bersiap-siap mempertahankan kota, apa pun risikonya. Para pemanah-pemanah terbaik ditempatkan di bagian-bagian yang memudahkan mereka untuk melemparkan serangan, Can’Ara adalah yang memimpin pasukan pemanah.

Di dalam kota pun, orang-orang sudah membuat benteng-benteng tambahan, mereka yang mampu dan ingin berperang, sudah bersiap-siap, sedangkan para perempuan, anak-anak, dan orangtua sudah berkumpul di dalam istana. Sehingga membuat suasana kota menjadi begitu sepi. Yang tampak hanya obor-obor api, berpendar-pendar redup.

Élsus tinggal di istana, dia memusatkan pikirannya di balkon, meminta pertolongan alam yang sudah ia lakukan sepanjang hari hingga malam itu. Namun, usahanya masih belum juga menunjukkan hasil apa pun.

Élsus baru mendengar bisikan-bisikan angin, suara halus dari dengungan serangga, juga seru-seruan dari binatang malam lainnya. Desiran dedaunan yang mulai gemerisik, seolah saling bicara satu sama lain, untuk menyampaikan keinginan Élsus.

Semua diburu oleh waktu, tetapi alam seolah memiliki momennya sendiri. Sehingga Élsus tiada henti untuk meminta bantuan. Meski dia harus menghabiskan energi yang ada di dalam tubuhnya.

Terdengar suara terompet dari kejauhan, diperdengarkan sahut-menyahut, juga lonceng yang berdentang kencang. Tanda bahwa bangsa dëia sudah tiba di Kota Hail.

Élsus membuka mata, dia mengembuskan napas panjang dan tampak cemas.

“Astaga, lindungilah semua manusia yang ada di kota ini. Jangan sampai semua binasa,” gumam druid itu letih dan sedih. “Oh, roh Tar … kumohon dengarlah permohonanku. Bantulah aku untuk menyampaikan pada alam semesta, untuk menciptakan badai besar di Kota Hail.”

Dari bawah sana, terdengar derapan langkah kuda yang dipacu dengan cepat. Sang putri keluar dari istana, dan dia hendak berperang, tidak hanya berdiam diri di dalam istana.

Melewati jalan-jalan kota, dinding-dinding kokoh, akhirnya Putri Thaira tiba di gerbang masuk Kota Hail. Tampak sang adik terkejut melihat kedatangan perempuan itu. Bergegas Putri Thaira menghampiri kedua raja yang sedang mengawasi kedatangan bangsa dëia.

“Apa yang kau lakukan di sini? Pergilah ke istana, jaga mereka di sana,” titah Raja Thornell.

“Aku lebih mahir bertarung dibandingkan denganmu,” balas Putri Thaira dingin.

“Justru karena kau lebih hebat, jika apa yang kita takutkan terjadi, setidaknya kau bisa pertahankan istana, Thaira,” seloroh Raja Thornell.

“Aku akan bertarung. Dan aku tak ingin kau debat.”

Mereka mendengar seru-seruan bangsa dëia yang membuat bulu kuduk merinding. Langit gelap tidak menunjukkan kedatangan awan hitam, atau angin kencang penyerta badai. Kedua raja mulai cemas, karena permohonan Élsus belum juga terlaksana.

*

Langkah-langkah berat mendekati Kota Hail. Tapak-tapak kaki mereka berbekas di permukaan tanah. Kolé menghirup udara malam yang bersih itu, seolah dia sudah merasakan aroma kemenangan di genggaman tangan. Dia terkekeh pelan, saat menatap Kota Hail yang tidak semegah Kota Vôld. Kota itu akan lebih mudah dihancurkan, batinnya berkata.

Setelah hancurnya kota manusia terakhir, Kolé akan segera kembali ke Kalvath dan mengumpulkan lebih banyak lagi pasukan. Akan dia cari semua pelarian dari bangsa-bangsa lain yang kabur, dan begitu mereka semua binasa, dia akan mengejar para Len’ Arna.

“Aku bisa merasakan mereka semua ketakutan dan gentar melihat kedatangan kita,” kata Kolé pada para Oroizé yang senantiasa terus menemani ke mana Kolé pergi.

“Kami mencium ada sesuatu yang aneh, bau tanah basah dan udara lembab,” balas salah satu Oroizé dengan suara lirih. “Badai sepertinya akan datang.”

“Kita takkan binasa oleh badai. Kita bangsa dëia. Apa yang kalian takutkan?” Mata Kolé menyalang.

“Badai ini, berbeda.” Satu dari Oroizé itu berkata lagi.

Namun, Kolé tak mengindahkan peringatan dari Oroizé. Dia tidak mau momen kemenangannya yang akan terjadi sebentar lagi, diusik oleh kata-kata para Oroizé yang kadang tidak terlalu masuk di akal. Mereka sering melebih-lebihkan sesuatu. Memberi peringatan yang bisa membuat seseorang ragu untuk mengambil keputusan. Karena itu, Kolé tidak mau menggubris lebih lanjut.

Suara-suara senjata diperdengarkan, dentangan pedang saling beradu, membuat kegaduhan yang amat sangat di pasukan yang dibawa oleh Kolé. Mereka sudah memenangkan pertarungan di Kota Vôld seperti menebas ilalang di padang rumput. Menghadapi orang-orang di Kota Hail, akan jauh lebih mudah dari sebelumnya.

Dalam jarak sekitar tujuh ratus hasta, akhirnya barisan pasukan Kolé berhenti. Lagi-lagi mereka berteriak-teriak mengeluarkan suara yang kencang. Sedangkan para manusia di yang berdiri di atas benteng, bersiaga dengan panah mereka hanya diam dalam kesunyian.

“Menyerahlah, dan mati!” Suara lantang Kolé bergema di seantero area luar gerbang kota.

Pasukannya mengangkat senjata dan mengelu-elukan perkataan Kolé.

Terdengar desingan yang begitu halus, bahkan telinga paling tajam pun belum tentu bisa mendengar suara sepelan itu. Sebuah anak panah melesat dan melesak menembus telapak tangan salah satu prajurit bangsa dëia. Hingga tiba-tiba tubuh prajurit itu berpendar-pendar, lalu berubah menjadi abu.

Hal itu membuat pasukan bangsa dëia yang menyaksikan kejadian baru saja, terkejut. Mereka berteriak marah, karena salah satu rekannya tewas ditembus oleh anak panah yang dilayangkan oleh pihak musuh.

Can’ Ara berdiri di atas benteng, dan menyiapkan lagi anak panah. Di sampingnya, berdiri Cialla dan Can’ Eru yang juga sudah menyiapkan anak panah mereka masing-masing.

Kolé yang melihat, tidak menyangka akan mendapat perlawanan yang cukup mengejutkan. Apalagi, dia baru melihat ada manusia yang begitu aneh seperti ketiga perempuan yang berdiri di atas benteng.

“Manusia macam apa mereka?” desis Kolé.

“Mereka bukan manusia,” ujar salah satu Oroizé. “Mereka, berbau kayu.”

“Aku belum pernah melihat semacam itu, seumur hidupku,” kata Kolé.

Para Oroizé menatap pada Takala dengan mimik wajah yang sama seperti Kolé.

“Seperti wanita pohon,” lanjut Kole.

Ketiga Takala melepaskan lagi anak-anak panah, dan pasukan Kolé yang terkena serangan anak panah langsung tewas dan berubah menjadi abu.

“Kami akan tetap hidup,” balas Cialla dalam suara yang tak kalah keras.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!