The Quest for The Lost Inheritors
Hail yang Bertahan
Raja Thornell merangsek maju ke depan, dilindungi oleh putri Thaira dan Can’ Eru. Mereka menangkis pedang-pedang yang dihunuskan oleh bangsa dëia. Suara pedang berdenting, mengeluarkan suara benda-benda metal bertabrakan. Sang raja menangkis pedang ke arah kiri, lalu tubuhnya berputar ke kanan dan dengan kedua tangannya dia menebas pergelangan tangan satu dëia.
Putri Thaira melompat ke depan dan menjatuhkan tubuhnya hingga mendarat di antara kedua kaki bangsa dëia, tangan kanannya berayun dan menusuk telapak tangan bangsa api-darah tersebut. Satu-persatu tubuh dëia berpendar, dan mereka meledak menjadi abu.
Can’ Eru mengulurkan tangan, menggapai putri Thaira untuk berdiri.
“Kau baik-baik saja?” tanya Can’ Eru.
“Tidak masalah. Ayo, kita maju!” ucap putri Thaira seperti tak mengenal lelah. Yang diikuti oleh anggukan Can’ Eru.
Beberapa anak panah dilepaskan oleh Can’ Ara yang berdiri tidak jauh dari mereka, dryad itu mengumpulkan anak-anak panah yang bisa ditemukannya sepanjang penyerangan dari dalam istana hingga memukul mundur bangsa dëia keluar dari gerbang Kota Hail. Dia melompat dengan gemulai, berlari di atas bahu-bahu bangsa dëia yang mengamuk dan marah, tanpa menggunakan busurnya, dia menusuk tiap-tiap telapak tangan bangsa dëia yang lengah.
“Berapa yang sudah kau musnahkan, Saudariku?” teriak Can’ Eru.
“Cukup untuk menutup tubuhmu dengan abu mereka!” balas Can’ Ara.
Debu dan abu bermunculan di tengah-tengah peperangan, membuat pasukan bangsa dëia semakin terdesak. Dan jumlah mereka berangsur menyurut.
Cialla terus berlari diikuti prajurit-prajurit manusia di belakangnya. Dari kejauhan, dia bisa melihat para centaur dan saudari sesama dryad lainnya sedang bertempur. Tanpa Cialla sadari, ada sebuah bola api meluncur begitu cepatnya. Cialla menoleh dan dia terkesiap.
Sebuah hantaman, dan Cialla merasakan tanah berhamburan ke wajahnya. Dia membuka mata, dan melihat dinding dari tanah menahan bola api tersebut tepat di depan mata. Lalu dinding tersebut kembali jatuh ke permukaan daratan. Cialla menoleh ke belakang, dan melihat sosok Keld dengan telapak tangan terbuka, tampak terkejut juga.
“Kau yang menahan serangan itu dengan tanah?” tanya Cialla tak percaya.
“Aku tak tahu!” seru Keld dan dia pun begitu panik.
“Lalu apa yang kau lakukan di sini, Keld Fielgreen! Kau bukan prajurit!” kata Cialla antara kesal dan cemas. “Kembalilah ke kota! Kau bisa mati!”
“Aku ingin berjuang,” balas Keld dengan suara gemetar.
“Astaga! Ikuti aku dan jangan lepas dari pandanganku!”
Keld mengiyakan perkataan Cialla, dia mengikuti perempuan dryad itu dari belakang. Mereka terus bertarung tiada henti, prajurit manusia pun mengejar di belakang. Berusaha melindungi satu sama lain.
Sedangkan di depan sana, ratu Reŷanim, Néverlër, Nevêrther, Wédéal, dan Akoéta memukul pasukan bangsa dëia yang terkepung dan terkecoh. Ratu dryad adalah salah satu petarung terhebat, meski itu kali pertama dia harus menghunuskan senjatanya pada lawan.
Perempuan dryad itu memutar kedua pedang melengkung di kedua tangan, ketika dua sosok dëia menyerangnya, tangan kirinya menangkis kedua senjata yang dia tumpukan ke permukaan tanah. Lalu dia mencelat, tubuhnya bersalto dengan kedua pedang membentuk silang, ketika kedua tangannya terbuka, pedangnya menghunus tajam dan mematikan, seketika pergelangan tangan bangsa dëia itu langsung terputus. Ratu Reŷanim berdiri di tempatnya, dan menatap ke depan.
Dia menangkap sosok Kolé, yang berdiri di antara para Oroizé. Mereka berbeda dari dëia kebanyakan. Tentu saja para Oroizé bertubuh lebih kecil dan merah pucat. Sedangkan Kolé, auranya begitu menakutkan.
Wédéal, Néverlër, dan Nevêrther, tidak menyadari berbahayanya Kolé juga Oroizé, mereka maju menyerang. Di mana ratu Reŷanim tidak bisa menahan mereka bertiga.
“Tunggu!! Jangan gegabah!! Hentikan!” teriak ratu Reŷanim.
Dari telapak tangan Kolé, meluncur setitik api yang melesat begitu cepat. Tiba-tiba menjadi sebuah ledakan dashyat di permukaan tanah, sehingga ketiga centaur itu terpental sangat jauh. Ratu Reŷanim berlari secepat mungkin untuk menghampiri Wédéal, centaur itu penuh luka bakar di tubuhnya.
“Astaga, Wédéal.” Sang ratu terduduk di tanah, memeluk Wédéal dan menangis tertahan.
“Menangkan pertempuran ini, Yang Mulia,” bisik Wédéal.
Lalu kedua mata sang centaur itu pun terpejam untuk selamanya.
Gigi-gigi ratu Reŷanim bergemelutuk, dia benar-benar marah. Matanya mencari-cari sosok Kolé dan para Oroizé yang bergerak menjauh dari pertempuran. Mereka hendak melarikan diri.
“Kejar mereka! Tangkap!” teriak ratu Reŷanim sembari menunjuk pada Kolé.
Para dryad berlari melewati prajurit-prajurit dëia yang sedang bertempur melawan pasukan centaur dan manusia. Tiba-tiba tubuh para dryad itu melayang dan mereka tak bisa mengendalikan tubuh mereka. Tampak telapak tangan-tangan Oroizé terbuka, mereka menggunakan sihir. Lalu Kolé meluncurkan sebuah badai api, sehingga para dryad itu terbakar dan hangus.
Hal itu dilihat oleh putri Thaira dan raja Thornell, mereka berlari berusaha menolong para dryad, akan tetapi sepertinya sudah terlambat. Dengan kesal, putri Thaira mencabut tombak yang terpancang di tanah, dia melemparkan sekuat tenaga, dan menembus bahu Kolé.
Kolé meringis, tapi tidak berhenti berlari. Dia dan pasukan Oroizé, tidak bisa lagi dikejar. Begitu juga dengan sisa-sisa prajurit bangsa dëia yang berlari mengikuti pemimpinnya.
“Kita menang,” gumam raja Thornell tak percaya. Dia menatap pada semua sosok yang masih berdiri di hadapannya. “Kita menang!!!”
*
“Apa Néverlër baik-baik saja?” tanya Cialla setelah Élsus keluar dari ruang perawatan.
Druid itu mengangguk. “Dia akan sembuh, tapi entah luka di batinnya. Saudari dan pamannya tewas tepat di depan mata. Kurasa itu akan menjadi kenangan di hati yang sulit untuk dilupakan.”
Wédéal, Nevêrther, gugur dalam medan pertempuran, bersama para prajurit centaur, dryad, dan juga manusia lainnya. Tubuh-tubuh mereka sudah dikumpulkan, dan raja Thornell sudah memakamkan sebagian dari mereka secepat mungkin. Begitu banyak yang gugur, sehingga semua orang sibuk melubangi tanah untuk membuat makam-makam bagi para pejuang.
“Ada yang ingin kutanyakan padamu, Élsus,” kata Cialla. “Ini mengenai Keld Fielgreen.”
“Ada apa dengannya? Apa dia baik-baik saja?”
“Oh, dia sangat sehat. Sedikit luka gores dan luka lebam, tapi dia bisa bertahan. Ada hal lain, yang ingin aku tanyakan mengenai Keld.”
“Apa itu?”
“Keld Fielgreen bisa mengendalikan tanah,” seloroh Cialla.
Élsus menatap lekat-lekat pada Cialla seolah dia sendiri tidak percaya mendengarnya.
“Aku tanyakan padanya, bagaimana cara dia melakukan hal itu. Akan tetapi, dia sendiri tidak tahu.” Cialla mendesah pelan. “Dia melakukan itu, seperti sebuah ketidaksengajaan.”
“Tidak ada manusia yang bisa menggunakan sihir, Cialla. Mungkin dulu pernah, tapi tak ada penyihir sudah berabad-abad lamanya.”
“Karena itu, aku ingin bicara tentang ini padamu. Karena dia benar-benar melakukannya.”
“Itu sangat aneh.”
Élsus melangkah di koridor, dan Cialla ikut berjalan di sampingnya.
“Apa mungkin dia sosok yang dicari oleh Aldérin?” tanya Cialla. “Bukankah dia mencari orang-orang yang terpilih, begitu seingatku. Ada kemungkinan bahwa Keld salah satunya? Itu bukan hal yang mustahil, apa aku benar?”
“Aku harus menyelidikinya dengan saksama, Cialla. Jika Keld memiliki kekuatan yang cukup besar dan aneh, itu tidak mungkin. Dan apabila benar, kemungkinan dugaanmu tepat.” Élsus mengangguk-angguk. “Sayangnya, kita belum dipertemukan dengan Aldérin, jadi kita tidak tahu apa betul Keld adalah sosok yang sedang dia cari.”
“Sepertinya kita harus membawa Keld menemui Aldérin.”
“Kita akan membicarakan hal ini, setelah semua urusan di Hail selesai.”
“Tentu saja,” angguk Cialla.
“Aku akan mengawasi Keld, dan bicara pelan-pelan. Kurasa dia pun sangat takut dan terkejut dengan kekuatan yang dimilikinya. Jangan sampai dia merasa tertekan.”
“Baik, aku akan mengikuti petunjukmu, Élsus.”
Keduanya menuruni tangga dan melihat betapa sibuknya orang-orang di dalam istana, Élsus pergi ke ruang perawatan lain, meninggalkan Cialla seorang diri di depan balairung. Lalu perempuan dryad itu bergerak keluar, dan melangkah ke halaman.
Di sana dia melihat ratu Reŷanim sedang berbicara serius bersama Akoéta.
“Cialla, kemarilah,” panggil sang ratu.
Dengan anggukan sopan Cialla mendekat dan berdiri di samping sang ratu.
“Bagaimana dengan anak pohon Akishâ? Apa baik-baik saja?” tanya sang ratu.
“Kurasa begitu, Yang Mulia. Karena Can’ Eru yang kali ini menjaganya, kami secara bergantian menjaga, meski sebetulnya kami sangat khawatir.”
“Apa yang kalian khawatirkan?”
“Tetap saja kita harus menanamnya di suatu tempat yang aman. Yang kutakutkan jika dalam waktu ke depan kita akan terus bertempur, bibit ini akan ikut hancur jika kami semua tewas dalam pertempuran.” Cialla tampak murung. “Ini adalah tanggung jawab yang begitu besar. Dan kami takut tidak bisa mengemban tugas ini dengan baik.”
“Kalian harus mencari tempat yang jauh, di mana bangsa dëia takkan mungkin bisa menjamahnya,” saran Akoéta. “Kurasa untuk beberapa waktu berselang, bangsa itu tidak akan menyerang. Mereka pasti hendak mengumpulkan pasukan lain, untuk menyerang kita.”
“Kurasa ini saatnya kalian untuk menanam bibit Akishâ di tempat tinggal baru, Cialla,” kata ratu Reŷanim. “Kau dan saudari-saudarimu harus melanjutkan misi yang terpisah dari kami.”
Cialla tersentak kaget. “Akan tetapi, kami tidak tahu harus ke mana.”
“Pergilah ke utara, begitu kau hampir mencapai pegunungan es, ambil arah ke barat daya. Di sana belum terjamah oleh makhluk mana pun, setahuku. Dulu, Wédéal sempat mengatakan ada sebuah sungai dengan hutan yang begitu indah, sungai itu dinamakan sungai Clirwatar,” kata Akoéta.
“Apa tidak masalah jika aku dan saudari-saudariku pergi ke sana, Yang Mulia? Di mana kita semua sedang mengalami masa yang begitu genting.” Cialla tampak ragu.
“Kau sendiri yang mengatakan bahwa membawa keturunan dari ibu kita sangat berbahaya, maka lakukanlah tugas kalian sebagai para Takala. Tumbuhkan bibit pohon Akishâ, untuk menjadi tempat tinggal kita kelak,” kata sang ratu.
“Baik, aku akan membicarakan hal ini dengan Can’ Eru dan Can’ Ara.” Cialla mengangguk patuh.
Cialla pergi meninggalkan sang ratu dan Akoéta, samar-samar ia mendengar bahwa raja Thornell akan mengadakan pertemuan malam nanti. Mengenai kelanjutan rencana mereka, untuk memukul telak bangsa dëia. Namun, setelah itu Cialla tak mendengarkan lebih lanjut, dia terus berjalan keluar dari halaman istana. Untuk mencari kedua saudarinya.