The Quest for The Lost Inheritors

Thila Milik Tylosae

“Fir Andilosh, laira …

(Pewaris Andilosh, bangunlah.)

Suara itu terdengar begitu lembut dan menebarkan kedamaian.

“Fir Andilosh ….”

Findarel terbangun, tubuhnya terasa sakit, tetapi rasa nyeri itu dengan cepat berangsur-angsur pulih. Ia menatap sosok berupa roh kebiruan yang masih berdiri dengan tegap dihadapannya. Perasaan aneh menyelimuti Findarel.

“Siapa kau?” tanya Findarel.

Aldérin pun siuman dan ia melihat sosok misterius itu dengan takjub, bahkan ia tak bisa mengatakan sepatah kata pun karena begitu besarnya aura keagungan sosok tersebut. Sosok itu menatap ke arah Aldérin dan tersenyum.

“Siapa kau?” ulang Findarel.

Sosok itu bertumpu pada sebelah lututnya dan telapak tangannya mendekat pada telapak tangan Findarel. “Estion …,” bisiknya. Ia pun menyentuhkan telapak tangannya pada telapak Findarel dan sosoknya mendadak lenyap.

Keduanya masih di ambang tidak percaya. Karena bukan hanya kemunculan Estion yang misterius itu, tetapi keadaan di sekitar mereka pun berubah. Tubuh-tubuh musuh bergelimpangan tak bernyawa dan membeku. Batang-batang pohon tumbang, diluluh-lantakan badai salju yang mencair dan sebagian besar sudah menjadi air, di mana hutan menjadi basah dan lembab.

Bekas-bekas tanah yang menghitam karena api, dibasuh oleh air yang berasal dari salju, hutan lagi-lagi diselamatkan oleh kekuatan dashyat.

“Benar-benar kejadian yang luar biasa,” ujar Aldérin, masih tidak percaya.

“Itukah wujud Estion, Ial?” tanya Findarel.

“Kemungkinan itu memang dia.” Aldérin berdiri dan membantu Findarel yang tampak masih dalam keadaan letih. “Kau tidak apa-apa?”

“Ya, aku baik-baik saja, Ial. Rasanya tubuhku merasakan sesuatu yang sangat ganjil.” Findarel tersenyum. “Terasa hangat sekali dadaku.”

“Kurasa Estion membagi kekuatannya untukmu,” timpal Aldérin. Ia menatap ke arah langit. “Dan melihat cahaya yang indah di atas sana, membuat kekuatanku kembali bangkit.”

Matahari di ufuk timur mulai terlihat, sinar keemasannya menciptakan hangat. Terdengar kicauan burung, terasa desiran angin pagi nan segar. Suasana yang tadinya mencekam, berubah kembali damai, seolah tak pernah terjadi apa-apa.

Aldérin menerawang ke langit yang mulai berubah menjadi lebih cerah. “Kurasa itu semua dikarenakan kekuatan terakhir dari jiwa ayahmu yang ingin melindungimu, sampai rohnya dapat memanggil Estion.

Findarel tak mengatakan apa-apa, tetapi ia mengerti maksud Aldérin. Perasaan seorang ayah takkan pernah lekang oleh waktu, dan tentunya Elverel memiliki perasaan tersebut.

“Dan mulai sekarang itu kewajibanmu, untuk memanggil Estion dengan kekuatanmu sendiri.” Aldérin menepuk bahu Findarel. “Baik Tylosae atau ayahmu, mereka mengorbankan nyawa mereka bukan untuk hal sia-sia. Kau adalah harapan di masa depan bagi mereka, kelak.”

Findarel tersenyum. “Aku mengerti, Ial.”

“Nah, lebih baik kita meneruskan perjalanan,” ujar Aldérin. “Entah kenapa, aku merasakan bahwa ini takkan berakhir di sini, sebagian dari mereka masih mengejar kita. Ayo, Findarel.”

Sudah berhari-hari baik Aldérin dan Findarel melakukan perjalanan ke wilayah barat, keduanya berada di dalam ketergesaan, melintasi hutan yang seolah tiada berujung. Aldérin sendiri belum memutuskan ke mana ia akan pergi, apakah ia akan menyebrangi sungai Neverending dan mendatangi kediaman para makhluk bumi yaitu para kurcaci, atau mendatangi para manusia.

Ia masih ragu.

Bahkan tidak ada tanda-tanda dari Iroaél, seolah-olah Fel’ Meth itu enggan memberikan petunjuk bagi dirinya yang kini tersesat di dalam pemikirannya sendiri.

Aldérin berhenti ketika mereka sampai di ujung barat sungai Neverending, di mana mata air yang luas dan jernih memancarkan cahaya keemasan saat sinar matahari menerpa permukaan air. Findarel kelihatan lebih senang, elterhel itu berlari ke arah mata air dan meraup air dengan kedua telapak tangannya.

Karena suasana terlihat jauh lebih aman, Aldérin memutuskan untuk beristirahat di sana. Ia duduk bersandar pada batang yew sembari memperhatikan rantai berbandul yang diberikan oleh mendiang Tylosae, bandul batu yang dinamakan Thila, berwarna pasir dengan garis-garis gelombang kecoklatan.

Tiap-tiap elf memiliki benda berharga yang dianugerahi pada dirinya saat mereka lahir ke dunia. Ada yang dianugerahi tiara, cincin, bandul, hingga gelang. Namun, beberapa benda berharga tersebut lebih banyak digunakan sebagai wadah ingatan bagi pemakainya. Menyimpan kenangan dan sejarah-sejarah yang pernah dilalui dan dirasakan penting bagi mereka.

Aldérin sendiri terlahir dengan anugerah gelang perak tipis berbatu kristal yang diberi nama Rünga, dengan pengharapan suatu saat Aldérin dapat menjadi elf yang berhati kuat juga teguh.

Karena berada di pelarian, keberadaan Thila sesaat terlupakan oleh Aldérin. Ia baru menyadari setelah beristirahat sejenak dan teringat kembali kejadian mengerikan di Lamvorels juga percakapannya dengan Kyfa. Aldérin memejamkan kedua matanya sembari memegang erat-erat Thila.

Jika memang benar Tylosae menitipkan pesan terakhir padanya, maka Thila takkan menolak kehadiran Aldérin. Dan ternyata memang benar. Thila milik Tylosae bereaksi.

Kini muncul dalam benak Aldérin bayangan dari sosok Tylosae yang berdiri di depan sebuah jendela besar terbuka lebar, di mana langit malam membentang di luar sana dan cahaya merah meluncur ke langit tiada habisnya.

“Aldérin, musuh telah datang. Kita takkan mungkin bisa menahan mereka.” Itu adalah awal yang dikatakan oleh Tylosae. “Dengan waktu yang begitu sempit, aku hanya ingin mengatakan agar kau menyelamatkan pewaris Andilosh, dia adalah keponakanku yang bernama Findarel.

Bayangan Tylosae yang memunggungi Aldérin kini berbalik dan tersenyum begitu getir, kesedihan terpancar dari matanya yang jernih.

“Aldérin, kau adalah sahabatku dan aku percaya padamu. Jagalah dirinya baik-baik, kawanku. Aku mendapatkan penglihatan, bahwa kau adalah satu-satunya harapan bagi bangsa kita, dan dengan adanya Findarel di sisimu, kalian akan bisa menyatukan lagi perpecahan dan mempersatukan kekuatan tiap ras di dunia ini. Kenangan akan Lamvorels, akan senantiasa hidup di sisimu, kawan.”

Suara dentuman terdengar makin keras. Tylosae pun kembali melihat keluar jendela, ia mengembuskan napas berat.

“Semoga berhasil. Estelia, elthan.”

Aldérin membuka kedua mata dan air mata meleleh ke pipinya yang seputih mutiara. Tylosae tampak sudah siap menghadapi segala kemungkinan buruk bahkan ia mempersiapkan segalanya agar Aldérin dapat menyelamatkan si bocah Findarel.

Namun, teka-tekinya adalah, apa peranan Findarel, kelak? Hanya karena dia memiliki Estion dan sebagai pewarisnya? Apa mungkin  Findarel adalah takdir dari tiga hati yang dikatakan oleh Iroaél? Bahkan Aldérin tak bisa memecahkan misterinya.

“Ial? Apa ada?” tanya Findarel, yang membuyarkan pemikiran Aldérin.

“Tak ada apa-apa, Findarel. Aku hanya teringat pada Tylosae,” jawab Aldérin, ia pun menyunggingkan senyum getir. “Rasanya begitu lama kita dalam pelarian, dan baru kali ini bisa kupikirkan keadaan teman-teman, dan keluarga kita di sana, di Lamvorels.”

Findarel duduk di samping Aldérin, matanya awas menatap air yang jernih. Ia berkata, “Aku juga merasakan hal yang sama. Kadang hatiku ingin kembali ke Lamvorels, meski itu berarti menyerahkan nyawaku kepada musuh. Namun, di sisi lain, aku selalu berpikir bahwa pergi denganmu, mungkin itu satu-satunya cara agar aku bisa selamat.”

Aldérin menjawabnya dengan anggukan.

Kemungkinan tersebut bukanlah hal yang mustahil, dibalik semua peristiwa yang terjadi, di sana ada rencana menuju sesuatu yang lebih baik, meski Aldérin sama sekali tidak pernah tahu apa yang direncanakan oleh Avinlár di Élfarä. Dia hanya berharap yang terbaik.

“Lalu, apakah kita akan pergi ke negeri para kurcaci setelah semua aman, Ial?” tanya Findarel. “Apa kita akan bertemu kembali dengan saudara-saudara kita?”

Aldérin menggeleng. “Aku akan terus menuju ke Barat, menemui manusia.”

“Manusia?” Findarel terbelalak. “Ial, aku tahu aku hanya elterhel yang belum memahami banyak hal, tetapi sepengetahuanku, bangsa manusia—”

“Tidak saling berhubungan selama ribuan tahun,” potong Aldérin. “Aku pun mengerti akan hal tersebut, Findarel. Namun, jika kita memerangi kaum dëia sendiri-sendiri, aku yakin benar, takkan ada yang bisa selamat lagi di dunia ini.”

“Jadi, maksud Ial pergi ke Barat, adalah untuk meminta bantuan mereka?”

“Kau benar.” Aldérin tersenyum.

Belum Findarel menyatakan pendapatnya lagi, mendadak saja air beriak cepat, dan menciptakan gelombang besar. Seiring dengan perubahan air tersebut, terdengar bisikan-bisikan halus, tetapi begitu jelas, bisikan berirama lembut nan sendu, bak nyanyian elegi.

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!