The Quest for The Lost Inheritors

Bertemu Diguf

“Aku tidak mau pergi ke tempat itu,” tolak Lya, keras. Ia menunjuk ke sebuah rumah yang cukup megah, akan tetapi tampak murung dan tidak terurus. “Kalau kau ingin dikutuk atau terjangkit wabah atau apa pun, lebih baik kau pergi sendiri. Aku akan mencari kakakku, apa kau mengerti, Aldérin?”

“Tapi Tuan Axferdigh adalah orang terakhir yang sempat berbincang dengan kakakmu, apa kau tidak ingin bertanya padanya?”

“Oh tentu aku ingin, Aldérin. Bahkan jika memang dia penyebab dari hilangnya kakakku, aku ingin dia mati,” jawab Lya. Wajahnya yang marah berubah keruh. “Tapi, apa kau ingat apa yang dikatakan oleh orang-orang di kedai tadi, bahwa Axferdigh adalah penyebar wabah sekaligus kutukan? Aku tidak mau mati sia-sia, setelah pergi jauh dari rumah dan harus mati di tempat asing seperti ini.”

Findarel menunjukkan raut simpati. “Paman, sebaiknya Lya tetap tinggal di sini dan kita yang menemui tuan Axferdigh,” katanya. “Itu mungkin ide yang bagus.”

“Hmm … mungkin kau benar, Findarel.”

“Tidak, tidak, tidak,” tolak Lya lagi. “Apa kau hendak membawa Findarel kecil ke dalam bahaya besar? Tidak!! Dia tetap tinggal disini denganku.”

“Dan jika aku mati tiba-tiba karena kutukan tuan Axferdigh, lalu apa kalian akan tetap diam di sini selamanya menungguku?” gurau Aldérin. Dia tidak percaya apabila seorang manusia mampu mengutuk manusia lain, sedangkan menurut orang-orang, tuan Diguf Axferdigh selalu terlihat sakit-sakitan. “Setidaknya ada seseorang yang harus ikut denganku, dan jika sesuatu terjadi padaku, orang itu harus lari keluar dan memperingatkan yang lainnya.”

Lya terdiam sejenak, lalu dengan satu embusan napas berat ia pun akhirnya mengangguk. “Baiklah, Findarel boleh ikut denganmu,” ujarnya. “Karena aku tidak memiliki keahlian menggunakan senjata seperti dirinya, meskipun aku lebih besar dan dewasa dari dia, akan tetapi tetap saja dia anak kecil dan kau harus membuka kedua matamu lebar-lebar agar dia tetap selamat, Aldérin.”

“Ya, aku berjanji,” balas Aldérin. Ia pun menoleh ke arah Findarel yang terlihat tidak sabar memasuki pekarangan rumah Diguf. “Ayo kita pergi, Findarel.”

*

Rumah Diguf Axferdigh tampak tidak begitu seram kelihatannya apabila sudah memasuki pekarangan luasnya, dari luar, memang semak-semak begitu tinggi dan tampak mengerikan, akan tetapi di dalam, justru begitu bersih, dengan pohon-pohon besar, berbagai pot dengan beraneka ragam tanaman yang diurus sangat baik.

Hanya saja, rumahnya memang memberikan dampak kelam; gelap dan dingin. Dinding kayu bercat coklat tua itu terlihat sangat kering dan mengelupas di beberapa bagian permukaan; jendela-jendelanya begitu kusam, bahkan sebagian besar ditutupi oleh balok kayu dan tirai-tirai gelap; simbol naga yang ada tepat di atas atap rumahnya pun patah, hanya menyisakan tubuh dari sang naga dan sebelah dari sayap kirinya. Itu menunjukkan, tidak ada lagi kehormatan yang sepenuhnya dipegang teguh oleh si pemilik rumah.

“Sedih,” bisik Findarel, seolah ia merasakan apa yang dirasakan oleh si pemilik rumah. Ia menatap ke arah Aldérin. “Mereka hidup menderita selama ini, Ial.”

“Aku tahu, Findarel.” Aldérin menunjukkan raut yang sama. “Tapi kita tak bisa membantu mereka, hidup adalah sesuatu yang harus mereka perjuangkan sendiri. Begitu pun dengan bangsa kita, Findarel.”

Mereka pun beranjak mendekati rumah nan sepi dan senyap itu, ada perasaan gelisah menyelusup ke dalam batin Findarel. Ada sesuatu hal yang mengganjal di dalam hatinya, solah-olah seseorang sedang mengawasi mereka dari jauh.

“Siapa kalian?” tanya seseorang yang sosoknya kelihatan dari balik jendela. Suaranya lebih terdengar takut dibandingkan marah karena ada orang memasuki rumahnya tanpa permisi. “Tidak ada yang baik jika kalian datang ke rumahku, ayo pergilah! Tidak aman! Tidak aman mendekatiku atau keluargaku!!!”

Bukan dia, batin Findarel. Aku tahu dia sudah mengawasi kami sejak tadi, tapi bukan orang ini, akan tetapi orang lain.

“Aku Aldérin Varwendil, dan kedatanganku kemari karena kepentingan pribadi dengan Tuan Diguf Axferdigh,” ujar Aldérin, tanpa mempedulikan peringatan dari orang itu. “Ini sangat mendesak, Tuan.”

“Apa maumu? Aku tidak berminat berbicara dengan siapa pun.”

“Ini mengenai  Thane Brander, pendatang dari Kota Hail. Aku mendengar—.”

Sosok itu menghilang dari balik jendela sebelum Aldérin menyelesaikan semua yang ingin diutarakannya. Lalu tak lama, dua buah pintu besar di hadapan Aldérin dan Findarel terbuka, meski hanya sedikit.

“Thane Brander dari Hail, Argud Tatolig, Quisdar, Arbom, Dessal, dan banyak nama lain yang tentunya dikaitkan denganku, karena mereka menghilang secara mendadak atau mati tiba-tiba,” ujarnya. Dan dia, adalah Diguf.

Lelaki tua itu kini menunjukkan wajah keriputnya yang dipenuhi ketakutan dan kegelisahan. Janggut putihnya tumbuh berantakan; matanya cekung, dengan bola mata berwarna hitam dan lingkaran putih yang tipis di sekitarnya; hidung bulat besar, merah pada ujungnya; rambut panjang sebahu dan seluruhnya berwarna abu-abu kotor; bibirnya tipis, kering dan tampak garis-garis keriput yang amat tegas; penampilannya pun bisa dikatakan amat buruk. Ia mengenakan jubah bulu berwarna abu-abu yang lusuh, baju berwarna merah tua yang pudar dan celana tebal berwarna coklat tua yang sedikit robek pada bagian lutut kanannya.

Takkan ada yang percaya bahwa Diguf ternyata hidup bersama istri dan dua anaknya. Ia lebih bisa dikatakan lelaki tua yang menyedihkan, hidup sendiri tanpa ada teman bahkan keluarga. Tuduhan dari masyarakat, diakui maupun tidak, ternyata telah menyengsarakan batin dan fisiknya selama ini.

“Kau mencari masalah, Tuan Aldérin. Kau bisa mati atau menghilang tiba-tiba jika terlalu dekat denganku atau keluargaku,” keluh Diguf.

“Aku akan mengambil resiko itu, jika memang harus.”

“Kau pemberani tapi kau bodoh.”

Aldérin terkekeh pelan. Dan entah karena tawa dari Aldérin, atau pengaruh yang dipancarkan oleh elf, Diguf pun ikut tertawa meski lirih. Dia merasakan rasa nyaman dan damai ketika menatap wajah Aldérin juga Findarel. Sesuatu hal yang tidak ia rasakan begitu lama.

“Kau tahu, sudah lama aku tidak tertawa sebebas ini sejak Thane menghilang dari kota, beberapa bulan yang lalu. Sedikitnya, aku menyesal karena harus mengenal dia, padahal dia anak yang baik,” ungkap Diguf. Ia menerawang. “Sudah kukatakan berkali-kali, agar ia meninggalkan kota terkutuk ini, akan tetapi ia keras kepala.”

“Dan?” Aldérin menunggu kisah selanjutnya.

“Dan seharusnya kau jangan menemuiku,” timpal Diguf. “Semua orang akan mati dan menghilang, kota ini akan menjadi kutukan! Pergilah selama kau bisa!!”

Perangai Diguf kembali menjadi kasar dan tidak ramah, akan tetapi perkataannya menyiratkan bahwa dia melakukan hal yang benar. Hal yang sangat perlu.

Tiba-tiba Diguf melihat tali hitam berhias bandul batu safir yang melingkar di pergelangan tangan Findarel. Sejenak ia diam, lalu kedua matanya memicing dan tiba-tiba ia mencekal lengan kiri bocah itu.

“Dari mana kau dapatkan ini?” tanya Diguf, tidak sabar dan sangat kasar.

“Tuan, lepaskan tanganmu darinya!” peringat Aldérin. Dengan sigap dia memegang pedang pendek yang ada di pinggangnya. “Jangan melakukan tindakan yang sama sekali tidak perlu, Tuan Axferdigh.”

Diguf mengendurkan cengkramannya. “Maksudku, dari mana kau mendapatkan gelang ini, Nak? Maaf, aku berlaku kurang baik, tapi ini sangat penting bagiku.”

“Raven yang memberikannya,” jawab Findarel.

“Raven?” keterkejutan menghinggapi Diguf. “Kau tahu dia?”

“Dengan baik,” jawab Aldérin.

Kedua bola mata Diguf melirik ke kiri dan ke kanan, lalu ia pun berbisik sangat pelan. “Temui aku di belakang penginapan milik keluarga Klöndike, tepat pukul sepuluh malam nanti. Seterusnya, kita akan berbincang lagi di sini. Namun, tidak untuk saat ini, sekarang bukanlah waktu yang tepat.”

Aldérin mengerti. Bahkan ia merasakan gelagat yang Findarel rasakan sejak mereka memasuki pekarangan rumah Diguf. Ia pun hanya mengangguk dan sedikit menundukkan kepalanya, berpamitan.

“Pergilah!!!” teriak Diguf, bersandiwara. “Jangan temui aku lagi, cepat pergi!!”

Aldérin dan Findarel beranjak dari rumah Diguf. Lelaki tua itu segera membantingkan pintu rumahnya seketika Aldérin dan Findarel membalikkan tubuhnya dan mulai berjalan keluar dari pekarangan.

“Pria tua yang menarik,” bisik Findarel. “Aku tahu dia sangat baik, Ial.”

“Ya, kau benar,” timpal Aldérin. “Tapi bagian yang paling menarik adalah, aku tidak tahu apa hubungan dia dengan Raven. Dan bagaimana Raven dapat berpikir amat cerdik dengan memberikanmu gelang itu.”

“Apa ada sesuatu dengan gelang ini?”

Aldérin menggeleng. “Tidak pada gelang secara langsung, melainkan pesan yang dibawa oleh gelang yang kau pakai. Raven tengah merencanakan sesuatu, kurasa kita harus berhati-hati, Findarel. Baik dengan Diguf, Raven maupun semua orang yang ada di kota ini. Kau mengerti?”

“Ya.” Findarel mengangguk. “Manusia tidak bisa ditebak, aku tahu itu.”

Sosok Lya yang sedang menyandar pada semak-semak dengan kedua kaki ditekuk terlihat. Aldérin tersenyum padanya, sedangkan gadis itu hampir saja memuntahkan seluruh air matanya karena sangat khawatir.

“Halo Lya!” sapa Aldérin, ceria. “Beruntungnya, kita tidak mati di sana!”

“Kau bodoh!!!” pekik gadis itu, gusar. Tapi pada akhirnya ia pun tertawa.

Findarel menatap ke perbukitan yang letaknya agak jauh dari kawasan kota, itu perbukitan di mana istana Ferden’Lyf berada. Ia bisa merasakan, ada seseorang yang tengah mengawasi mereka dari sana, tak tahu bagaimana caranya, akan tetapi ia merasakannya. Mungkin seseorang itu dari bangsa manusia, bisa juga dari bangsa elf, atau yang paling ditakutinya adalah, bangsa dëia.

Aldérin tiba-tiba saja meraih bahu Findarel dengan lembut dan mengajaknya menjauhi rumah Diguf. “Aku tahu, Findarel. Jangan khawatir, aku kan menjagamu dan Lya,” bisiknya. “Aku takkan membiarkan apa pun menyakitimu.”

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!