The Quest for The Lost Inheritors
Teror di Ferden’lyf
Suara langkah terburu-buru Aldérin menuruni tangga, menarik perhatian Findarel dan keluarga Diguf. Diguf dan Raven pun menyusul dari belakang tampak tergesa. Mata Findarel membelalak, dia terkejut melihat sosok Raven ada di kediaman Diguf.
“Raven?” Findarel tersentak kaget.
“Kami harus pergi, kita akan bicara lagi nanti,” ucap Raven sembari melangkah ke arah pintu belakang untuk keluar dari rumah.
“Ada apa, Ial?” Findarel berdiri menatap pada Aldérin dengan cemas.
“Nu athián. Taru méth álin (Aku tergesa. Kita bicara nanti),” kata Aldérin.
“Sesuatu yang buruk terjadi, bukan?” tanya bocah itu mendesak.
Aldérin hanya menoleh sekilas. “Kami harus pergi, Findarel.”
“Nu fól (Aku ikut).” Findarel mengekor di belakang Aldérin.
Raven mendelik pada Aldérin dan menggeleng tegas. “Tidak.”
“Kami harus membawa Lya, dan sebaiknya kau tetap di sini,” sahut Aldérin. “Tuan Axverdigh akan menjagamu, jadi kumohon jangan berdebat lagi. Karena masalah ini mendesak, Findarel.”
“Ial membutuhkan bantuanku.”
Findarel tidak mengindahkan permintaan Aldérin. Raven sudah keluar dari dalam rumah, dan tanpa banyak bicara Aldérin pun melangkah menuju pintu diikuti oleh Findarel.
Angin seolah tak berembus ketika ketiganya keluar dari kediaman Diguf. Suasana sepi, terlalu senyap bahkan, tidak terdengar suara binatang atau desau angin sedikit pun. Seolah keadaan di sana statis, tidak ada apa-apa yang hidup.
“Kau harus minum dari penyimpanan air milik Diguf, aku tak mau mengambil risiko jika kutukan itu menimpa kalian berdua,” ucap Raven sembari menunjuk pada wadah air yang ada di luar rumah, terletak di samping sumur.
Aldérin mengangguk, dan mengajak Findarel ikut untuk minum. Meski Findarel tampak keheranan, akan tetapi dia tetap mengikuti petunjuk Raven. Setelah itu mereka bertiga berlari-lari, dengan langkah tanpa suara menuju ke penginapan Klöndike.
Melewati sesemakan, Raven melompat seolah tanpa kesulitan, begitu juga Aldérin. Mata Raven sedikit keheranan, melihat Findarel pun bisa melompati sesemakan dengan luwes. Sesuatu yang tidak lazim kebanyakan anak-anak.
“Sepi sekali,” bisik Findarel.
“Diamlah,” peringat Raven.
Raven tiba di ujung barisan bangunan, lalu dia menaiki tumpukan kayu-kayu bakar yang berjejer rapi, satu, dua kali lompat dia sudah berada di atap rumah. Lagi-lagi Aldérin juga Findarel bisa melewati rintangan itu dengan mudah.
Raven menoleh ke arah langit, di mana bulan bersinar hampir di atas kepala, terdengar desahan khawatirnya dan dia terus berlari di atap dengan tergesa-gesa.
Terdengar pintu-pintu rumah terbuka dari bawah. Findarel terdiam, dan membungkuk, menatap pada orang-orang yang keluar dari dalam rumah, dengan langkah teratur yang sama, mereka mengeluarkan suara geraman. Saling mengendus satu sama lain. Begitu terdengar suara derakan atau suara sedikit ganjil, mereka seperti menajamkan telinganya.
Elf muda itu terkejut bukan main. Itu manusia dengan gejala aneh yang dilihatnya. Mereka serentak keluar dari dalam rumah, bergerombol, seperti orang-orang tanpa jiwa.
“Kita harus bergegas! Cepat!” seru Raven, kali ini dia bersuara keras, sepertinya sudah terdesak oleh waktu. Langkahnya semakin dipercepat melewati atap-atap rumah.
Lalu orang-orang di bawah sana semakin keras mengeluarkan geraman, mereka mendongakkan kepala ke arah atap. Rahang-rahang mereka terbuka lebar, mengeluarkan suara teriakan yang sama, seperti makhluk buas yang mengincar mangsa. Napas yang terengah-engah, seolah melihat pada sumber yang bisa menghilangkan dahaga mereka.
“Ial, apa yang terjadi pada mereka?!” cicit Findarel panik.
“Kita harus selamatkan, Lya! Lekas, Findarel!”
Ketiganya terus berlari, di antara atap-atap rumah, dikejar-kejar oleh orang-orang di Ferden’Lyf yang menjelma menjadi makhluk pembunuh. Siap menerkam siapa pun yang ada di hadapan mereka.
*
Terdengar suara menggaruk-garuk pada dinding kayu secara terus-menerus, sehingga membuat Lya yang sedang tertidur nyenyak, terbangun seketika. Dia menyibakkan selimut, duduk di tepi tempat tidur sembari terkantuk-kantuk.
“Astaga, suara apa lagi itu. Penginapan macam apa yang memelihara tikus dan laba-laba di setiap sudut rumahnya,” bisik gadis itu parau.
Lya melangkah ke arah pintu, lalu membuka pintu, suara garukan itu semakin jelas terdengar dari lantai bawah. Perlahan-lahan Lya menuruni tangga, dia berhati-hati melongokkan kepalanya untuk melihat apa yang tengah terjadi di bawah sana.
Di dekat pintu depan penginapan, tampak tubuh Angus seperti membungkuk setengah melenting, dan jari-jarinya menggaruk pada kusen pintu, hingga mengeluarkan darah. Karena, dia menggaruk sangat keras. Lya yang melihat hal tersebut, tentu saja terkejut bukan main.
“Tuan Angus? Apa kau baik-baik saja?” tanya Lya.
Dia tiba-tiba teringat tentang cerita wabah yang dipaparkan oleh Raven. Apa mungkin Angus tiba-tiba terjangkit penyakit itu juga, pikir gadis itu. Bahkan Lya sendiri tidak tahu gejalanya seperti apa.
Tiba-tiba Angus menoleh dengan cepat, dan rahangnya langsung terbuka sembari mengeluarkan suara mengerikan. Kedua tangannya berusaha menggapai Lya, dalam langkah yang tertatih-tatih. Tanpa pikir panjang Lya langsung berlari ke lantai atas, menutup pintu dan menggeser tempat tidur untuk menahan pintu tersebut.
Suara gedoran, garukan dilakukan oleh Angus, berusaha mendobrak agar bisa masuk ke dalam. Terdengar suara dobrakan lagi dari bawah, lalu orang-orang masuk ke dalam penginapan Klöndike. Mereka menggeram, dan suara langkahnya terdengar oleh Lya.
“Aldérin!!” lolong Lya. “Aldérin, tolong aku!!”
Dari luar pintu kamar, suara dobrakan semakin kencang, tempat tidur bergeser sedikit demi sedikit. Lya bergerak mundur, dia mencari-cari benda yang bisa dipakai untuk membela diri, tetapi tidak apa-apa selain tas miliknya. Bergegas dia pakai tas, dan membuka jendela. Lalu di depan sana, tampak Raven dan Aldérin datang mendekat.
Tiba-tiba Raven sudah menghunuskan panahnya, menatap tajam pada Lya.
“Lya Brander, apa itu kau?” tanya Raven memastikan.
“Ini aku!” jerit Lya panik. Kenapa kau acungkan anak panah itu padaku!”
Raven menurunkan busurnya, dan bergegas menghampiri Lya, membantu gadis muda itu untuk naik ke atap. “Berhati-hatilah, atapnya rapuh. Kau harus berhati-hati. Tetap pada garis kayu penyangga atap, atau kau akan terjatuh ke bawah.”
Lya hanya mengangguk mengiyakan. Lalu Aldérin berusaha mendobrak jendela kamar yang ditempati olehnya dengan Findarel. Elf itu masuk ke dalam, dan mengambil barang-barang miliknya, lalu bergegas keluar lagi. Tiba-tiba orang-orang Ferden’Lyf berhasil mendobrak pintu kamar Lya, suara kayu yang hancur dan pecah, terdengar bersamaan dengan suara geraman keras.
Mereka berlarian ke arah jendela, saling berlomba untuk mengejar kelompok Aldérin. Beberapa bahkan jatuh meluncur ke permukaan tanah, akan tetapi segera bangkit, dan mengejar Aldérin juga yang lainnya. Raven terus menatap pada Lya, tanpa memikirkan orang-orang itu.
“Apa yang terjadi pada mereka?” tanya Lya ketakutan. “Apa yang terjadi di sini?”
“Kita harus jalan, cepat!” tegas Raven.
Di saat itu Lya tersadar, bahwa Raven adalah seorang perempuan, dia benar-benar terkejut lagi untuk kedua kalinya. Entah terkejut untuk ke sekian kalinya, karena tidak menyangka Raven sekonyong-konyong berada di Ferden’Lyf.
Findarel memimpin jalan untuk kembali ke rumah Diguf, dia berlari secepat mungkin, dan matanya mengawasi orang-orang yang mengikuti mereka dari bawah. Tanpa Findarel sadari, kakinya salah memijak, hingga dia terpeleset dan tubuhnya merosot jatuh ke permukaan tanah.
“FINDAREL!” jerit Lya ketakutan.
Raven tersentak kaget, dan dia langsung mengambil anak panah, menarik tali busur dengan cepat, melesatkan anak panah pada sosok-sosok yang sudah terlalu dekat dengan Findarel. Anak-anak panah itu menembus telapak kaki mereka, sehingga langkah mereka tertahan.
Dari belakang Raven, Aldérin meluncur melewati atap rumah dan melompat ke permukaan tanah. Dia mengeluarkan pedang pendek, dan langsung menebas bagian leher, hingga memutuskan kepala mereka. Beberapa tubuh seketika ambruk di tanah. Aldérin menghampiri Findarel dan melindungi bocah itu.
“Jangan bunuh mereka!” peringat Raven marah.
Aldérin seketika bimbang, mereka hampir terkepung, sedangkan Lya pun masih berjuang untuk melangkah, tidak ada waktu lagi. Aldérin tidak mau Lya berubah menjadi salah satu dari orang-orang di Ferden’Lyf. Findarel memejamkan mata, dan mengembuskan napas panjang.
Elterhel itu berbisik lirih, “Laira, laira, Estion … laira, laira, Estion ….”
Aldérin tersentak kaget. “Findarel, urn!”
“ESTION, HARYA!” teriak Findarel.
Seperti sebuah embusan napas, angin bertiup pelan membuat pakaian yang dikenakan Findarel dan Aldérin berkibar. Seketika seberkas warna biru terang bersinar dari balik pakaian Findarel, di mana ia mengenakan kalung bandul biru di baliknya. Muncul sosok bak asap kebiruan, lelaki yang jangkung dengan rambut panjang menyentuh ke tanah, dan membawa sebilah pedang panjang.
Estion melangkah mendekat pada orang-orang yang memburu Aldérin serta Findarel, lalu tangannya mengayunkan pedang dari samping ke depan. Gerakan Estion begitu indah nan gemulai, akan tetapi mematikan.
Suara gemuruh besar terdengar, angin bertiup begitu kencang, hingga Lya hampir-hampir terjatuh, dan dia berpegangan erat pada kayu penyangga rumah. Lalu ombak salju muncul dari tebasan pedang Estion, menghentak dan menyerang orang-orang yang sudah hampir mencapai pada Aldérin juga Findarel. Mereka seketika membeku, tertutup oleh salju dan bongkahan es.
Tidak ada yang bisa bergerak, hanya terdengar suara geraman-geraman, bahkan orang-orang Ferden’Lyf itu berusaha menggeliat tapi tak bisa apa-apa. Raven membantu Lya untuk menuruni atap, lalu keduanya berlari menghampiri Aldérin. Yang jelas-jelas syok adalah Lya, wajahnya sudah begitu pucat ketika melihat Aldérin juga Findarel.
“Apa itu tadi? Apa yang kau lakukan?” cicit Lya.
“Kau berhutang banyak penjelasan padaku, Tuan Aldérin!” tunjuk Raven.
“Akan aku jelaskan,” balas Aldérin dengan suara lunak. Elf itu segera memapah lagi Findarel yang seolah kehilangan banyak tenaga. “Pergilah bersama Lya lebih dulu, aku dan Findarel akan baik-baik saja.”
Raven menoleh seketika pada Lya, menatap pada bulan di langit secara bergantian. Dia seolah tidak percaya. Lalu Raven memegangi kedua bahu Lya.
“Lya? Kau baik-baik saja? Apa ada sesuatu yang terjadi padamu?” tanyanya.
Gadis itu hanya menatap Raven kebingungan. “Tidak ada yang aneh padaku. Kecuali, kejadian mengerikan yang baru saja terjadi."
“Ini di luar dugaanku, akan tetapi sudahlah, di kediaman Diguf jauh lebih aman. Ayo cepat, kita segera kembali ke sana,” tukas Raven.
Lya yang masih takut, panik, dan terkejut, tidak bicara apa-apa lalu mengikuti Raven dari belakang dengan berlari secepat mungkin. Findarel menoleh pada Aldérin.
“Apa ini berarti kita harus membuka jati diri kita, Ial?” tanyanya lirih.
“Kurasa begitu, Findarel. Tak mungkin kita menutupinya lagi,” jawab Aldérin.