The Quest for The Lost Inheritors
Ke Kota Penyihir
Pagi itu keluarga Diguf sarapan bersama-sama kelompok Aldérin, tampak tidak terjadi apa-apa, bahkan mereka tampak begitu ceria. Helan menyiapkan sarapan yang sederhana, tapi terasa begitu lezat, dan menimbulkan rasa aman karena semua yang mereka nikmati, tidak tercampur dengan air dari istana. Di mana ada batu hitam dan pecahan batu Ratera di sana.
Helan menjejalkan buah-buahan, roti, dan mengatakan bahwa semua yang dibawa untuk bekal Aldérin bersama kelompoknya ia pastikan sangat aman.
“Ini kurasa cukup untuk beberapa hari ke depan untuk kalian bertiga,” ucap Helan.
“Lalu bagaimana dengan Raven?” tanya Lya. “Aku tahu dia mendapat julukan segala macam, karena dia berusaha melindungi orang-orang di kota ini dan para pendatang, bukan? Hanya karena dia berusaha menakut-nakuti semua orang.”
Yang lain hanya saling memandang sekilas. Lalu Diguf mengangguk cepat. “Dia tidak banyak makan.”
Sepertinya rahasia Raven yang hanya menghisap darah dari makhluk hidup, tidak perlu diberitahukan pada Findarel atau pun Lya untuk sementara waktu, begitu pikir Aldérin. Meski dia bertanya-tanya, mengapa Raven hanya menghisap darah, sedangkan semua penduduk di Ferden’Lyf mereka akan memangsa apa pun tanpa bersisa. Entah itu pengaruh dari batu Ratera, atau si batu hitam, bahkan mungkin kedua-duanya.
Namun, jika kedua-duanya, seharusnya Raven berakhir seperti orang-orang yang ada di kota tersebut.
“Aku akan mengantarmu keluar dari gerbang kota,” ucap Diguf sembari terburu-buru menghabiskan makanannya. “Hanya ingin memastikan kalian baik-baik saja.”
“Kami tidak akan apa-apa, Tuan Diguf. Sebaiknya kau tetap di rumah, aku tahu orang-orang pasti berpikir yang tidak-tidak tentangmu. Setidaknya, biarkan kami juga merasa kalian akan baik-baik saja, selama kami dalam pencarian mengambil batu Ratera dari sang penyihir,” kata Aldérin.
“Ke mana kita akan pergi, Aldérin?” tanya Lya.
“Ke arah timur dari kota, itu yang kami yakini di sanalah kota sang penyihir berada,” kata Aldérin.
Lya tampak kebingungan. “Apa kau yakin, dia tidak akan melakukan sesuatu yang lebih mengerikan, dari apa yang dilakukan Findarel?”
“Kau bisa tinggal di sini, menemani keluarga Tuan Diguf, jika kau mau,” ucap Aldérin.
“Tidak.” Lya menggeleng cepat. “Aku tak mau menyusahkan mereka. Lebih baik aku merepotkanmu.”
Lya lebih takut pada manusia-manusia yang ganas di malam hari, dan seolah tidak ada kejadian apa-apa di pagi hari. Terlebih jumlah mereka banyak, dan mereka takkan bisa mati. Melawan seorang penyihir, setidaknya ada Raven dan Aldérin yang memiliki kemampuan dalam bertempur.
“Kita pergi sekarang?” tanya Findarel yang sudah menghabiskan buah-buahan di piringnya.
Aldérin mengangguk lalu berdiri dari duduknya.
Mereka berpamitan dengan keluarga Diguf, dan masing-masing mengucapkan salam perpisahan agar senantiasa selalu dilindungi oleh dunia langit dan keberuntungan.
Ketiganya keluar dari pagar rumah Diguf, Lya merasakan udara yang menggigit, sehingga dia memeluk tubuhnya sendiri, meski sudah diberi mantel yang tebal oleh Maliya. Tidak ada orang yang lalu lalang seperti pagi di Hail. Yang terlihat hanya ada sinar redup dari perapian tampak dari masing-masing jendela rumah.
“Aku ingin tahu, begitu Angus tersadar, dan melihat penginapannya porak poranda, apa yang ada dalam pikirannya?" gumam Lya pelan.
“Dia akan menganggap penginapannya tengah disambangi Akil Stagish,” balas Aldérin.
“Sampai kapan mereka semua harus merasakan penderitaan, tetapi tidak paham bahwa mereka menderita sama sekali?” Lya mendesah pelan. “Bahkan mereka tidak sadar, tidak adanya anak kecil, apa mungkin ingatan mereka seperti berkabut, Aldérin? Sepertiku?”
“Kurasa begitu, Lya,” angguk Aldérin.
Mereka terus melangkah melalui jalan setapak dengan tanah yang becek, dan bot-bot mereka sudah kotor oleh lumpur. Begitu mencapai gerbang, sang penjaga yang tampak terkantuk-kantuk membukakan pintu, menatap ketiganya dengan heran.
“Kapan kalian datang?” tanyanya seperti belum pernah bertemu dengan Aldérin dan yang lain sebelum itu. “Kukira aku belum menyambut kalian dengan baik, tetapi semoga kalian merasakan kesan yang mendalam di kota kami. Selamat jalan.”
“Sampai jumpa lagi, Tuan,” balas Aldérin.
Ketiganya bergegas keluar dari gerbang, dan kembali melalui jalan setapak menuju keluar dari kota. Di mana Raven sudah menunggu di atas salah satu dahan pohon, mengawasi dari kejauhan.
Begitu mereka mendekat, Raven segera turun dan bergabung dengan kelompok Aldérin.
“Kau tidur cukup nyenyak, Lya?” tanya Raven.
“Ya, tidak begitu. Tapi kurasa cukup,” balas gadis itu enteng.
“Berapa lama perjalanan kita ke kota penyihir?” Kali ini Findarel yang bertanya.
“Entahlah, aku tak pernah keluar dari Ferden’Lyf sebelumnya. Tetapi kita akan memutar jalan, karena aku tidak berani mengambil risiko melalui hutan Skyringstall, Konon, di sana masih ada makhluk-makhluk seperti troll dan goblin, yang sering menjelajah,” jawab Raven. “Kurasa kita bisa menghabiskan waktu sekitar lima sampai enam malam, kita tak bisa terburu-buru, karena ada Lya bersama kita.”
“Aku tidak mudah lelah,” celetuk Lya merasa sedikit tersinggung karena dianggap seperti lemah.
“Bukan kau yang lemah, tapi cuaca di sini terlalu dingin. Siapa pun, harus mengeluarkan energi ekstra untuk menghadapinya, Lya,” kata Raven. “Kau perempuan yang hebat, bahkan bisa mencapai kota kami. Itu tandanya kau bukanlah seseorang yang lemah.”
Raven jauh lebih ramah, begitu membuka jati dirinya, terlebih kepada Lya dan Findarel. Namun, pada Aldérin sepertinya masih ada keraguan dan kewaspadaan. Findarel memang memiliki Estion, tetap saja tubuhnya jauh lebih kecil dibandingkan dengan Raven. Sedangkan Aldérin, jika Raven tidak berjaga-jaga, elf itu memiliki kekuatan yang bisa mengalahkan Raven dalam duel.
“Lalu mengenai Pelanthum Irior, bisa kau ceritakan padaku?” Sekonyong-konyong Raven bertanya pada Aldérin. “Jika itu adalah misi utamamu dalam pencarian, lalu mengapa kau tidak tergesa dan malah melakukan hal ini bersamaku? Membantu orang-orang di Ferden’Lyf, sedangkan banyak nyawa tergantung padamu, Tuan Aldérin?”
“Aldérin saja,” ralat elf itu.
“Baiklah, Aldérin.”
“Mencari para pewaris Pelanthum Irior, tidak semudah yang terbayangkan. Seperti mencari jarum dalam tumpukan jerami. Para ruh ini, memilih sendiri siapa pewaris mereka masing-masing,” ujar Aldérin.
Raven tampak tertarik. “Dan apa yang menandakan mereka sebagai pewarisnya?”
“Pertama adalah bandul,” seloroh Findarel. Lalu dia menunjukkan bandul berwarna biru yang berada di balik pakaiannya. “Sebelumnya ini adalah milik ayahku, tetapi dia tewas dalam peperangan dengan bangsa dëia. Sehingga bandul ini, diberikan padaku.”
“Oh, jadi apabila pewarisnya tewas, lalu itu diberikan kepada keturunannya?” tanya Raven.
“Tidak, bukan seperti itu. Findarel memang sang pewaris, tanpa dia ketahui sebelumnya. Jadi, salah satu dari bandul, diberikan kepada bangsa kami, dan itu dijaga baik, oleh klan Andilosh. Karena memang keturunan Andilosh yang nanti akan menjadi pewarisnya,” jawab Aldérin.
“Lalu bandul yang lain?” Lagi Raven bertanya.
“Diberikan pada bangsa dwarf, dan manusia, untuk dijaga. Meski kami tidak tahu, apa pewarisnya dari bangsa mereka, atau masih dari kaum kami. Bangsa elf,” ungkap Aldérin. “Akan tetapi, aku memiliki petunjuk bahwa kali ini pewarisnya satu dari bangsa kami, satu dari bangsa manusia, satu dwarf, dan satunya lagi itu entah … karena bandul Silmo adalah lambang angin. Dia menentukan sendiri, siapa pewarisnya.”
“Astaga itu terdengar seperti pencarian yang mustahil, sedangkan ada bangsa dëia, yang sepertinya sangat membahayakan semua,” gumam Raven.
“Karena itu, aku membutuhkan semua bangsa untuk bersatu, Raven,” kata Aldérin.
“Aku pun takkan tinggal diam, Aldérin. Jika urusanku dengan si penyihir itu sudah usai, maka aku akan membantumu. Aku berjanji,” balas Raven sungguh-sungguh.
“Omong-omong seperti apa penyihir itu?” tanya Lya.
Raven terdiam beberapa saat, seolah berusaha untuk mengingat-ingat.
“Dia sangat cantik, dia manusia dengan rambut bergelombang panjang berwarna coklat, kulitnya putih, halus, dan tampak bersinar ketika matahari menerpa kulitnya. Yang ganjil, adalah manik matanya yang berwarna keunguan, sangat tak lazim untuk manusia,” jawab Raven. “Tindak tanduknya sangat sopan, bahkan menurutku mulutnya begitu manis. Suaranya halus dan lirih, dia pandai memuji dan merayu. Ibuku sangat terpesona pada dia.”
Lya menatap Raven. “Lalu kenapa kau tidak seperti ibumu? Kurasa jika dia penyihir, tentu kau akan dirapal mantra atau semacamnya. Aku pernah membaca di perpustakaan kota, mengenai bahaya penyihir.”
“Entahlah, Lya. Ada sesuatu yang aneh dari penyihir itu. Layaknya firasat,” ucap Raven.
“Kau memiliki insting yang kuat,” seloroh Aldérin. “Ada manusia-manusia yang diberikan kelebihan, seperti bisa melihat sekilas masa depan, meski itu tidak bisa dipercayai sepenuhnya. Atau memiliki insting tajam pada perubahan cuaca, alam, bahkan pada sosok yang ada di hadapan.”
Raven mengangguk-angguk. “Atau mungkin karena aku terlatih menjadi petarung, di mana aku harus menggunakan semua indraku. Aku termasuk salah satu petarung hebat sebelum ini, Diguf yang mengajarkan aku selama ini.”
“Tetapi kau seorang putri, mengapa kau harus melakukan hal itu?” tanya Lya heran.
“Sebetulnya, ini berkaitan dengan mimpi yang sering datang di saat aku masih kecil. Kadang-kadang mimpi itu muncul, meski tidak sesering dulu. Terlebih setelah aku tewas dan bangkit kembali, aku belum pernah memimpikannya,” jawab Raven. “Aku selalu bermimpi, bertempur dengan lautan makhluk bertubuh tinggi besar, kulit mereka kemerahan, ada yang memiliki tanduk, ada pula yang tidak. Rambut mereka hitam, tergerai atau terkepang. Taring mereka mencuat dan tampak mengerikan.
“Peperangan itu di sebuah lapang berpasir yang luas, aku tak tahu di mana, ada sebuah gunung tidak jauh dari sana. Aku sangat takut, karena mimpi itu datang hampir setiap hari, seingatku, di saat umur lima atau enam tahun. Sehingga aku meminta Diguf mengajarkanku untuk bertarung,” jelas Raven.
Langkah Aldérin tiba-tiba terhenti ketika mendengar cerita dari Raven.
“Ada apa?” tanya Raven keheranan.
“Apa yang kau katakan itu, adalah ciri-ciri dari bangsa dëia,” jawab Aldérin.