The Quest for The Lost Inheritors
Pertemuan di Hail
Di Hail, di balairung semua sudah berkumpul untuk mendengarkan keputusan masing-masing dari para bangsa, dan mengambil kemufakatan bersama. Ratu Reŷanim dan Akoéta sudah menunggu apa yang hendak dikatakan oleh raja Thornell, di mana putri Thaira sudah berdiri di samping singgasana. Élsus sudah duduk di samping ratu dryad.
“Seperti yang sudah kita sepakati, hari ini kita akan membicarakan langkah selanjutnya untuk menghadapi bangsa dëia. Silakan, Ratu Reŷanim sampaikan lebih dulu,” ucap raja Thornell.
Sang ratu dryad pun mengawali ucapannya, “Bangsa kami pun sedang menghadapi hal yang sangat dilematis, Yang Mulia. Kami sudah tidak memiliki tempat tinggal, bahkan kami sekarang harus mencari suatu tempat di mana bibit pohon Akishá bisa tumbuh dan menjadi tempat kami bernaung kembali. Jika tidak, maka bangsa kami akan benar-benar musnah.
“Kau mungkin tidak tahu, tanpa adanya Akishá yang tertanam di bumi, maka lambat laun bangsa kami akan sekarat. Jika kami harus berperang di saat tunas belum tumbuh di tanah, kami hanya akan menjadi pasukan yang lemah. Kami akan binasa sia-sia di tangan bangsa dëia.
“Jadi saranku, sebaiknya kita menunggu hingga para Takala kembali, lalu mencari pelarian bangsa dwarf dan elf, setelah itu, bergabung dengan mereka. Untuk melawan bangsa dëia,” papar sang ratu.
Raja Thornell mengangguk diplomatis. “Baiklah, lalu Akoéta?”
“Aku kehilangan banyak saudara dan saudari, setelah peperangan sepekan lebih lalu, Yang Mulia. Tidak ada lagi centaur yang ada di muka bumi ini, hanya aku dan mereka yang sementara tinggal di Hail. Jujur aku tidak ingin mendatangi ke sarang bangsa dëia, terlebih jika tidak ada bantuan atau pasukan lain. Sama saja, aku akan membinasakan centaur hingga benar-benar musnah,” jelas Akoéta.
“Baiklah, aku mengerti dengan kekhawatiran kalian, aku pun tak ingin apabila bangsa kalian sampai benar-benar tidak ada lagi. Tak ada penerus, dan lenyap menjadi legenda. Karena itu, aku akan mengirimkan pesan pada penguasa di Ferden’lyf, bahwa kita membutuhkan bantuan mereka,” kata Raja Thornell.
“Aldérin ada di utara, apa tidak sebaiknya kita menunggu kedatangannya ke Hail? Jika dia berhasil dengan pencarian, pasti dia sudah bicara dengan penguasa di sana,” seloroh Élsus.
“Apa Aldérin sudah memastikan kapan ia akan kembali? Sudah berapa lama ia pergi, dan untuk datang ke Hail, berapa waktu lagi yang harus kita tunggu?” tanya raja Thornell.
Élsus menggeleng. “Aku tidak tahu pasti, Yang Mulia. Bahkan Aldérin tidak mengatakan apakah dia akan segera datang ke Hail, atau melakukan pencariannya sendiri.”
“Jika Aldérin dalam pencarian yang sangat penting, mencari pewaris bandul apa yang pernah kau sebutkan, apa kita tidak akan menjadi beban berat bagi dia lagi?” Raja Thornell menatap pada semua sosok yang ada di balairung bergantian. “Tugas kita adalah membantu Aldérin, dengan menekan bangsa dëia, hingga mereka takkan berkutik. Lalu di saat itulah, Aldérin menuntaskan tugasnya.”
“Kau lihat sendiri bagaimana tangguhnya bangsa itu, bukan, Thornell? Aku bukan ingin menjatuhkan semangatmu, tapi untuk menyerang ke tanah air mereka, kita membutuhkan rencana yang sangat matang, pasukan yang benar-benar banyak, dan tentu sekuat mereka.” Putri Thaira berpendapat.
“Mereka mengalami kekalahan telak, jika kita serang kembali, mereka takkan mungkin dalam persiapan apa pun,” balas Raja Thornell bersikeras.
“Kau tidak tahu seperti apa di sana! Astaga, kau tidak bisa membawa segelintir pasukan untuk kau korbankan nyawanya. Tolong pikirkanlah,” pinta putri Thaira. “Sampai kapan pun aku akan ikut denganmu, tapi untuk kali ini, aku hanya ingin kau untuk mempertimbangkan kembali.”
“Aku tidak memaksa Yang Mulia Ratu Reŷanim, bahkan Akoéta untuk ikut berjuang bersamaku. Akan tetapi, aku akan tetap pergi ke tempat bangsa dëia berada, dengan pasukan berani yang akan ikut. Itu sudah menjadi keputusanku,” ucap Raja Thornell. “Jika memang ada bangsa lain yang masih bertahan, maka datang dan cari mereka, aku bersama prajurit terakhir akan tetap berjuang hingga kalian tiba di sana.”
“Tetapi Thornell...” Putri Thaira terlihat kesal bercampur sedih dengan apa yang diputuskan oleh adiknya.
“Kalau begitu, pertemuan kali ini kuanggap telah selesai,” tukas Raja Thornell. “Aku pamit dari hadapan kalian, karena kurang dari sepekan aku akan segera berangkat. Sehingga aku harus mempersiapkan pasukan yang akan ikut denganku ke sana.”
Dia pun turun dari singgasananya dan keluar dari balairung. Ketiga sosok yang lain tahu, bahwa raja Thornell kecewa. Namun, dia pun tidak mungkin memaksakan kehendaknya, karena pertolongan dari bangsa dryad maupun centaur sudah lebih dari cukup. Di mana Kota Hail masih tetap bisa berdiri. Kali ini Thornell harus berjuang seorang diri, sebelum aliansi para bangsa-bangsa terbentuk. Karena mereka pasti takkan mau mengambil risiko untuk melawan bangsa dëia yang memang sangat kuat.
“Maaf aku harus menyampaikan hal ini, apakah dia sudah kehilangan akalnya?” ucap Ratu Reŷanim.
“Aku akan membujuk Thornell,” balas putri Thaira.
“Kau tidak bisa menggoyahkan keinginan seseorang yang sudah tertancap ke akar, Tuan Putri,” kata Élsus. “Karena sampai kapan pun, dia takkan mengurungkan niatnya.”
“Lalu apa yang harus aku lakukan, Élsus? Aku tak mau Thornell kehilangan semua orang, dan belum selesai penduduk di Hail dalam duka. Apa mereka harus menerima kabar kematian lagi? Di mana mungkin jasadnya pun tak akan kembali, jika mereka semua tewas di sarang bangsa dëia?” Putri Thaira tertunduk sedih. “Aku tak mau menjadi salah satu orang yang berduka lagi, kelak.”
“Aku akan membicarakan dengan kaumku, aku tak bisa membiarkan raja muda itu pergi sendirian dengan prajurit manusia yang bisa dihitung jumlahnya,” seloroh Akoéta.
“Saranku, kita tetap harus menahannya untuk pergi. Setelah para Takala selesai dengan tugas mereka, maka aku dan saudari-saudari yang akan mengantarnya hingga ke gerbang kematian sekali pun,” tegas ratu Reŷanim, dia menoleh pada putri Thaira. “Sampaikan pada raja Thornell, berikan bangsa kami waktu hingga para Takala datang. Maka dia akan membawa pasukanku, dan kita akan pergi ke tanah air bangsa dëia.”
“Aku tidak tahu, apa aku bisa meyakinkannya Thornell,” sahut putri Thaira.
“Cobalah lebih keras lagi, Tuan Putri,” balas ratu Reŷanim.
“Tapi kita membutuhkan seseorang untuk mencari pelarian bangsa dwarf dan elf, menemukan di mana tempat mereka bersembunyi,” kata Akoéta.
“Bangsaku bisa mencari jejak, mereka pun cukup cepat dan efisien. Apa sebaiknya kukirim salah satu dari saudariku, untuk melakukan pencarian?” ucap ratu Reŷanim.
“Tidak,” tolak Élsus tegas. “Bangsa kalian bukankah sekarang sudah melemah? Sebaiknya, kita tunggu kedatangan para Takala. Setelah itu, kita bicarakan lagi mengenai masalah ini, setelah mereka kembali. Kuharap raja Thornell, mau menunda untuk sementara waktu.”
“Aku akan mengusahakannya,” angguk putri Thaira.
*
Élsus dikejutkan oleh kedatangan Keld yang diantar oleh dua orang prajurit hingga ke depan pintu memasuki balairung. Lelaki itu mengangguk sopan pada Élsus, tampak raut wajahnya sedikit gelisah. Putri Thaira, ratu Reŷanim, dan Akoéta yang sama-sama keluar dari sana, juga diberi anggukan hormat oleh Keld.
“Ada yang ingin kau bicarakan denganku, Keld Fielgreen?” tanya Élsus.
Keld mengangguk. “Jika tidak mengganggu waktumu, Tuan Élsus.”
“Oh, jadi kau Keld Fielgreen, kita belum sempat bicara banyak. Sehingga aku sedikit melupakan wajahmu,” seloroh putri Thaira. “Aku tahu banyak masalah yang terjadi, dan melibatkan namamu, tapi semua sudah selesai. Urusan yang menyangkut dengan Crusel sedang ditangani, namamu dan mendiang Blud akan kami bersihkan dari semua tuduhan.”
Keld mengangguk pelan. “Terima kasih, Tuan Putri.”
“Kami belum mempunyai apa-apa, untuk menyampaikan terima kasih padamu, Keld. Tetapi, akan kupastikan, keluargamu akan dijaga baik-baik, dan menjadi tamu kehormatan istana.” Putri Thaira menyunggingkan senyumnya. "Kalau begitu, aku permisi. Silakan kalian berbincang-bincang.”
“Sampai bertemu lagi,” ucap ratu Reŷanim, yang melirik sekilas penuh arti pada Élsus.
Sedangkan Akoéta tidak mengucapkan apa-apa, hanya memberi anggukan singkat. Lalu ketiganya membubarkan diri, dan pergi menuju urusan masing-masing. Élsus melangkah menuju ke peraduan, diikuti oleh Keld yang mengekor di belakang.