The Quest for The Lost Inheritors
Amenyeil
Amenyeil.
Merupakan sebuah benteng kecil di dekat hutan Emun Jântrum, dimiliki oleh kaum dwarf selama ribuan tahun. Benteng itu berfungsi sebagai tempat istirahat para penebang, dan penyimpanan kayu-kayu, sebelum dibawa menuju Pílghym. Namun, kini tempat itu digunakan sebagai tempat persembunyian sementara para pelarian kaum dwarf dan elf dari Pílghym. Sehingga benteng itu begitu penuh, bahkan banyak yang menempatkan diri mereka di luar benteng.
Tenda-tenda berwarna tanah yang menyaru dengan bumi, tidak menarik perhatian. Dilihat dengan mata telanjang, tidak akan ada yang menyangka ada kehidupan di sana. Para elf yang berkemampuan sihir, membuat barikade pelindung agar Amenyeil terlihat seperti tanah kosong yang berdampingan dengan hutan Emun Jântrum. Meski begitu, tak ada satu pun yang gegabah, karena merasa dapat perlindungan dan dalam kondisi aman. Di sana tidak terdengar suara hiruk-pikuk, semua beraktivitas dalam diam dan senyap.
Karena, mereka sangat waspada akan bahaya yang mengintai. Terlebih, jika bangsa dëia mengendus, ada lagi tempat persembunyian lain yang dimiliki oleh para dwarf. Mereka masih aman selama tinggal di sana selama sepekan, akan tetapi, semua sudah gelisah, terlebih para elf yang memiliki insting tajam. Tinggal lebih lama di Amenyeil, bisa-bisa mereka tertangkap oleh bangsa dëia.
Namun, para elf yang berkemampuan sihir, merasa bahwa pelindung itu tidak mungkin berlangsung untuk selamanya. Hingga perwakilan dari elvin—sang pemaham—di bidang sihir, yang selamat dari pembantaian di Lamvorels, datang menemui Kyfa dengan tergesa-gesa. Dia mengetuk pintu ruangan Kyfa, yang sebelumnya merupakan tempat untuk menyimpan perkakas. Sebuah ruangan yang cukup sempit, setidaknya ada celah kecil agar sinar matahari bisa masuk, untuk Kyfa itu sudah sangat cukup.
Kyfa yang sedang melihat pada peta di meja, dengan tumpukan perkamen di sisi-sisinya, mendongakkan kepala. Dia melangkah ke arah pintu lalu membukanya, tampak sang elvin tersenyum, sosok pria elf dengan rambut pirang sepanjang dada, yang diikat buntut kuda.
“Énuil, Kyfa,” sapanya.
Ada anggukan hormat sekaligus sopan yang ditunjukkan oleh Kyfa. “Énuil, Lidórin.”
Kyfa membuka lebih lebar pintu dan mempersilakan Lidórin untuk masuk. Elf yang mengenakan tunik berwarna coklat itu memasuki ruangan Kyfa, melihat tumpukan perkakas, selembar kain tipis yang tergelar di pojok ruangan, dan meja penuh perkamen dengan peta yang terbuka lebar.
“Aku tidak ingin mengganggu kesibukanmu, aku tidak akan lama,” ucap Lidórin.
“Kita semua dalam ketergesaan akhir-akhir ini, akan tetapi aku akan selalu memiliki waktu untukmu. Apa yang bisa kubantu, Elthan?”
“Kurasa kau pun merasakannya, ada bayangan gelap yang menggelayut dan menebarkan rasa khawatir di batinku. Seolah itu begitu dekat, dan semakin lekat. Kyfa, kita tidak bisa terlalu lama tinggal di sini, sihir kami mulai memudar, dan aku takut keberadaan kita akan diketahui bangsa dëia,” ungkap Lidórin.
Sekilas wajah Kyfa menunjukkan muram. “Aku tahu, karena itu aku sedang mencari tempat lain, agar kita bisa berlindung lebih lama lagi. Sebelum kita mengumpulkan kekuatan, dan memerangi kaum shyrh.”
“Seseorang harus pergi ke kota para manusia, Kyfa. Karena peperangan di masa lampau pun, telah melibatkan bangsa mereka. Kita tak akan bisa kuat, jika tidak ada aliansi dengan mereka.”
“Aldérin sudah lama pergi, aku berharap dia selamat, dan bisa meyakinkan para manusia,” balas Kyfa. “Terakhir kami bertemu di Lamvorels, kurasa dia bisa menyelinap melarikan diri.”
“Betulkah dia pergi ke kota manusia?”
“Kita tak menemukannya di Pílghym.”
“Bagaimana jika dia tewas, seperti Tylosae? Bahkan pewaris Estion pun tidak bersama kita.” Ada nada khawatir terdengar dari suara Lidórin. “Bagaimana jika Findarel pun telah tiada?”
“Kita harus tetap bertahan, dan melakukan perlawanan. Percayalah, bahwa selalu ada harapan.”
Lidórin hanya mengangguk lemah. “Aku tidak bermaksud menambah beban pikiranmu, kuharap kita bisa segera pergi dari sini, dan mencari tempat aman lain.”
“Aku akan mengusahakan secepat mungkin. Sore ini aku akan berembuk dengan para petinggi klan di Pílghym, bahkan mereka pun memiliki kekhawatiran yang sama seperti kita.”
“Anak-anak dan perempuan yang menjadi perhatianku, mereka harus berada di tempat yang benar-benar terlindungi. Kekuatan sihir, tidak abadi, kami pun tidak bisa mempertahankan lebih lama lagi.”
Kyfa paham, dibutuhkan energi yang sangat besar untuk membuat pelindung dengan jumlah orang yang begitu banyak. Ketika di Lamvorels pun, pelindung tetap bisa dirangsek oleh bangsa dëia, padahal jumlah elvin di bidang sihir cukup banyak. Sekarang, tidak banyak para elvin di bidang tersebut yang selamat, mereka pasti kewalahan untuk terus-menerus mengeluarkan kekuatan sihir.
“Akan ada jalan keluar untuk kita semua,” angguk Kyfa.
“Baiklah, terima kasih atas usahamu yang begitu keras. Hanya itu yang ingin aku sampaikan, selia Elthan.” Ada senyum yang ditunjukkan oleh Lidórin.
“Seliara, Elthan.”
Kyfa mengantar Lidórin hingga ke ambang pintu, dan dia masih tertegun di sana hingga sosok Lidórin hilang dari jarak pandangan matanya. Pikiran Kyfa tertuju pada Aldérin, dan teringat kembali saat terakhir mereka bertemu. Ada firasat di batin Kyfa, bahwa Aldérin masih bertahan dan bisa menyelamatkan diri. Meski entah di mana keberadaan sahabatnya itu sekarang.
Bahkan Kyfa sendiri tidak menyangka bahwa dirinya bisa selamat dari serangan bangsa dëia di Lamvorels. Pertempuran begitu sengit terjadi di sana, banyak rekan-rekan lain yang kehilangan nyawa. Kyfa hanya berusaha bertahan, dan menyelamatkan sebanyak mungkin kaumnya untuk mencari perlindungan menuju Kota Pílghym.
Dia bahkan nyaris tak bisa menahan serangan bangsa dëia, karena mereka begitu kuat. Saat Kyfa berlari menyusuri hutan, bersama yang lain, sesosok bangsa dëia tepat berada di belakang langkahnya. Karena terdesak, Kyfa pun bertarung melawan.
Kyfa menebaskan pedang pada titik kelemahan di leher, akan tetapi kulit bangsa dëia bak kulit seekor naga; keras dan kuat. Pedang Kyfa sampai terpental dan patah menjadi dua. Sebuah pukulan telak tertumbuk pada wajah elf itu, hingga dia melayang dan terjatuh beberapa kaki dan tubuhnya mendarat pada batang pohon. Seluruh tubuh Kyfa terasa remuk, bahkan pandangan matanya mulai mengabur. Dia mengambil patahan pedang dan sudah pasrah, jika itu adalah malam terakhirnya berada di bumi, dalam pikirannya dia hanya berharap yang lain bisa selamat.
Ketika telapak tangan sosok dëia itu terbuka dan hendak mengeluarkan bola api, dengan seringai di wajahnya yang congkak, Kyfa melemparkan pedang dalam satu tarikan napas pada telapak tangan dëia itu. Begitu patahan pedang menembus telapak tangannya, si sosok dëia tersentak, lalu melangkah mundur perlahan. Tubuhnya mulai berpendar, dan dia seketika berubah menjadi abu.
Kenangan itu membuat Kyfa tersadar, apa mungkin kelemahan bangsa dëia berada di telapak tangan mereka? Hal tersebut tidak pernah Kyfa ungkapkan pada siapa pun, karena dia masih ragu apakah dugaannya selama ini benar atau tidak. Namun, mungkin sudah saatnya Kyfa katakan pada para elf dan dwarf lain.
Mungkin saja, itu bisa menjadi salah satu kunci kemenangan, untuk melawan bangsa darah dan api.
*
Ada tiga klan di kaum dwarf yang merupakan keturunan dari Rockbanner, Halfcloud, dan Mountmark. Sistem kepemimpinan di bangsa mereka adalah patriarki, di mana anak laki-laki tertua akan menjadi penerus dari moyang-moyangnya. Adalah Jërik Rockbanner, Glanar Halfcloud, dan Gartegor Mountmark, yang kini menjadi pemimpin para klan, dan sosok yang dihormati oleh bangsanya.
Jërik yang paling dituakan, selain dikenal bijaksana dan umurnya yang jauh lebih tua dari pimpinan klan lain, Jërik memiliki intuisi tajam juga pemikiran yang panjang. Karena itu, Jërik bisa memahami para elf, dibandingkan para dwarf lainnya. Menurut para dwarf, bangsa elf merupakan bangsa yang terlalu banyak aturan, penuh kehati-hatian, terlalu lembek, dan apa yang dipaparkan oleh mereka terlalu rumit. Meski begitu, para dwarf enggan berselisih paham, lebih baik menghindar dari sekumpulan elf, dan tetap pada kelompok masing-masing.
Di sore itu, ketiganya sudah berkumpul di ruangan benteng paling puncak. Sebuah ruangan yang agak luas, dengan bangku-bangku kayu memanjang dan meja besar. Itu merupakan ruang untuk makan (di mana para dwarf penebang selalu mengeluh untuk waktu makan mereka harus menyiksa diri menaiki banyak anak tangga), dan masih peruntukan yang sama, meski sekarang bertambah menjadi ruang pertemuan.
Ketiganya sedang menunggu kedatangan Kyfa.
“Apa dia sedang merias dirinya?” tanya Glanar dengan suara menggerutu berat, dan memang dia memiliki perangai yang cukup menjengkelkan meski tidak jahat.
“Kau belum menunggu terlalu lama, jadi bersabarlah,” balas Jërik tenang.
“Dia datang lebih dulu dari kau, Glanar. Dan aku setelah kau, jadi menurut urutan, tentunya Jërik yang berhak mengatakan hal tersebut.” Gartegor mengangguk-angguk. “Bukankah, begitu?”
“Tidak,” tolak Jërik tegas. “Tidak ada seorang pun yang diperbolehkan menghina atau menyakiti hati seseorang karena kesalahan kecilnya. Aku yakin dia ada alasan karena datang terlambat, tidak biasanya para elf datang tidak tepat waktu.”
Tiba-tiba pintu menuju ruang pertemuan terbuka lebar, tampak Kyfa di sana, tampak setelah berlari-lari dalam ketergesaan. Dia setengah berseru mengatakan sesuatu pada mereka bertiga yang ada di sana, “Dwarf terakhir dari Pílghym, mereka telah tiba ke Amenyeil!”
Baik Jërik, Glanar, dan Gartegor ketiganya serempak berdiri. Mereka segera berlari menghampiri Kyfa, lalu mengikuti langkah elf itu menuruni tangga puncak benteng. Untuk menemui mereka yang sudah diperintahkan untuk meledakkan kota sebelumnya.