The Quest for The Lost Inheritors
Kota Cilticpën
Lorong terbuka itu ternyata suatu jalan yang sepertinya takkan pernah bertepi, jalannya curam ke dasar sungai, lalu menerobos masuk ke dalam gua yang gelap, dan bentangan jalan berbatu terus masuk ke dalam kesunyian dan gelap gulitanya gua.
Aldérin kagum dengan kehebatan para nymph yang bisa menciptakan sistem pengamanan kota yang amat ketat. Takkan ada makhluk bernapas lain yang bisa memasuki kota tanpa kekuatan dari nymph air yang mampu menahan aliran arus sungai hingga menciptakan rongga kosong di kedalaman sungai yang teramat dalam.
Jika ia atau makhluk lainnya berusaha mendobrak memasuki kota nymph air, Aldérin percaya, hanya kematian yang akan didapat. Seiring mereka melangkah, air kembali menutup di belakang mereka. Tak ada tempat untuk berlari dalam keadaan tersebut, baik di depan maupun di belakang Aldérin, semuanya adalah air.
Mereka berjalan lebih dari tiga mil, sampai akhirnya sampai pada tangga lebar yang curam setinggi pohon oak dewasa, kira-kira sepanjang seratus kaki. Ketika mereka sampai di puncak, air kembali menutupi permukaan jalan berbatu hingga anak tangga kelima paling atas. Mereka berjalan lagi menyusuri gua, hingga sebuah celah besar pun terlihat dan dari sana cahaya matahari datang.
Mereka sudah masuk ke dalam kota para nymph air, yaitu Cilticpën.
Kota yang terletak di sisi pegunungan Formount dan berada di tengah-tengah danau Töjolyr, kota itu seperti roti bulat yang terletak di tengah mangkuk sup, tak ada yang bisa memasukinya dengan mudah, akan tetapi sulit juga untuk keluar dari sana. Aldérin menatap kota dengan takjub ketika keluar dari celah gua di wilayah timur dari kota. Ia tak pernah mendapat kesempatan untuk mengunjungi kota itu.
Kota para nymph air adalah kota yang amat sederhana. Di sana-sini terdapat selokan-selokan besar dengan arus air deras yang melimpah, rumah-rumah para nymph seperti tempurung kura-kura yang terendam air dan dipenuhi lumut, hanya celah bulat yang dipastikan sebagai pintu tanpa jendela.
Di tengah-tengah kota, ada sebuah kolam besar dengan kubah setengah lingkaran yang juga terendam oleh air, pintunya tertutupi tanaman rambat yang menjuntai ke air dan berenang ke kiri juga ke kanan karena arus air yang tenang. Dengan setengah bagian tubuh yang basah, Aldérin juga Findarel berjalan ke dalam kolam itu dan masuk ke dalam kubah, yang ternyata adalah kediaman dari sang penguasa kota, yaitu Titelénta.
Kubah tersebut cukup luas, meski hampir seluruh permukaannya tertutupi air jernih yang sejuk dan menyegarkan, Findarel agak sedikit kesulitan untuk berjalan dengan baik di mana air mengurangi geraknya melangkah, dan Yardah—yang mengawal mereka menemui sang ratu.
Seolah mengerti kesukaran elterhel itu, Yardah membuka jalur dan menciptakan sebuah jalan tanpa air yang menghalangi mereka. Findarel tersenyum dan mengangguk berterima kasih padanya.
“Ah, kalian sudah datang.” Itu yang pertama kali dilontarkan oleh sang ratu saat Aldérin dan Findarel akhirnya sampai di depan singgasana.
Ratu yang kelihatan rapuh dan lelah, tetapi keanggunannya tidak berkurang sedikit pun. Rambutnya berwarna emas pucat, bergelombang, dan panjang sekali hingga mencapai mata kakinya; telinganya seruncing elf, meski melengkung bak bulan sabit di ujung atasnya; kulitnya putih pucat; matanya kecil dan agak sipit, bola matanya berwarna hijau lumut; bibirnya mungil disaput warna putih kapur.
Ia cantik, dan mengeluarkan aura menggoda, makhluk yang memiliki keinginan dan ekspetasi yang besar takkan bisa terlepas dari belenggu untuk tidak mencintainya. Kecuali elf, tentunya. Elf tidak terpengaruh pada bentuk kecantikan apa pun.
Titelénta pun menyentuh permukaan air dengan telapak tangannya yang amat pucat juga kelihatan lemah dan berbisik dalam bahasa nymph. Lalu tidak lama kemudian dua ekor kura-kura raksasa muncul dari belakang Aldérin juga Findarel. “Duduklah wahai Elianon, karena kalian takkan mungkin berdiam diri di dalam air. Kalian bukan bangsa yang hidup di dalamnya seperti kami,” ujarnya, ramah.
Dengan kikuk Findarel menaiki tempurung kura-kura raksasa lalu duduk bersila di atasnya, ia menyapa sang kura-kura yang disambut dengan anggukan lembut, dan setelahnya kura-kura itu diam membatu, seolah tertidur lelap tanpa menyadari ada sesuatu yang menaikinya.
“Aku adalah Titelénta, penguasa kota nymph air,” sapanya. “Lalu kalian?”
“Aldérin Varwendil dari klan Sholyrn, itulah aku.” Lalu Aldérin menunjuk pada Findarel dan memperkenalkannya. “Ia adalah Findarel Elderhel putra Elverel dan keponakan dari Tylosae dari klan Andilosh.”
“Dan sudah kuketahui sebelum ini bahwa kau, Aldérin, adalah pembawa pesan dari Tylosae,” ujar sang ratu, ramah.
“Maaf Ratu Titelénta, tetapi kedatanganku kemari bukan menyampaikan pesan terakhir dari Tylosae, melainkan karena pelarian,” ralat Aldérin. “Aku dan Findarel, menghindari kejaran bangsa dëia yang telah membinasakan kota kami.”
“Lalu apa maksud kedatanganmu kemari sebenarnya?”
“Kami hanya beristirahat di mata air menuju Neverending, sebelum meneruskan perjalanan, tidak ada kehendak lain yang kami sembunyikan.”
“Jadi kau datang ke tempat kami bukan karena ingin meminta persekutuan?”
Aldérin menggeleng. “Sama sekali tidak, akan tetapi kami sangat berterima kasih apabila kaum nymph air mau membantu kami dalam memerangi kekejaman bangsa dëia,” ungkap Aldérin.
“Mengenai hal itu, akan kupertimbangkan setelah kau menyerahkan benda milik Tylosae padaku, Aldérin.”
“Yang Mulia Ratu, tanpa mengurangi rasa hormatku kepada para nymph, tteapi mengapa kau begitu bersikeras untuk memiliki benda terakhir milik Tylosae?”
“Elianon, bagaimanapun juga, takdir akan membawa pesan terakhir Tylosae padaku, meski kau datang kemari tanpa disengaja,” jawab Titelénta, dingin. Dia mencondongkan tubuhnya. “Aku tidak berniat untuk mengambil dan menyimpan benda itu jika kau keberatan, aku hanya ingin meminjamnya, karena Tylosae telah menyimpan pesan di dalamnya untukku.”
“Tidak ada pesan lain yang diberikan oleh Tylosae,” elak Aldérin.
“Berikanlah padaku.” Titelénta bersikeras.
“Baiklah, jika itu memang keinginanmu,” desah Aldérin.
Yardah menerima Thila milik Tylosae dari tangan Aldérin dan menyerahkannya pada sang ratu. Di saat itulah Aldérin menyadari bahwa Titelénta ternyata buta kedua matanya, karena tangannya meraba-raba sesaat Yardah menyerahkan Thila itu ke genggaman tangannya.
Tak lama berselang, sang ratu terpekur seolah-olah nyaris tertidur. Tiba-tiba, kedua matanya membelalak, bola matanya berubah menjadi berwarna putih, dan ia mulai berbisik, bergumam sendiri, lalu terdengar suara Tylosae keluar dari bibir mungil berwarna putih pucatnya.
“Titelénta ….
Begitu awal yang dikatakan oleh suara dari Tylosae.
“Ketahuilah bahwa aku telah menemui hari terakhirku ketika kau menerima Thila dengan kedua tanganmu; bersama ini kuberitahukan bahwa segenap bangsa di dunia terancam bahaya, begitupun juga dengan kotamu.
“Hanya ada satu cara untuk menyelamatkan seluruh kolonimu, satukan kedua batu yang terpisah ribuan tahun, maka banyak nyawa yang dapat kau selamatkan. Aku tahu bahwa keselamatan bangsa dan kotaku sudah berada di ambang maut, tetapi kau bisa menyelamatkan bangsamu dan membangun kekuatan besar untuk melawan bangsa dëia.
“Maka setelah batu disucikan kembali, bantulah seluruh dunia ….
“Hanya itu yang kuminta dari persahabatan lama kita, Titelénta.
“Bantulah dunia ….”
Titelénta pun siuman, lalu menyerahkan kembali Thila pada Yardah untuk dikembalikan ke tangan Aldérin. Wajahnya terlihat letih juga muram, tetapi tidak mengurangi kecantikannya sebagai pemimpin dari nymph air.
“Thila milik Tylosae ternyata memiliki kemampuan menyembunyikan pesan. Di mana pesan itu akan muncul, apabila sosok penerima pesan, telah menyentuh Thila,” ujar Aldérin.
“Dan karena itulah, sikapku sedikit kurang sopan pada kalian,” ujar Titelénta.
“Apa hanya itu yang ingin dikatakan Tylosae padamu, Yang Mulia?” tanya Aldérin. Dan sang ratu mengangguk lemah. “Ia memintamu untuk menyatukan dua batu yang telah ribuan tahun terpisah, menurutku, bukan sesuatu yang sulit,” lanjut Aldérin.
“Sayangnya, Elianon … mustahil bagi bangsa kami untuk mendapatkan batu itu kembali,” keluh Titelénta, tangannya pun mengepal keras. “Jalan air menuju ke utara telah tertutup daratan, bangsaku sudah berada di ujung kematian.”
“Tunggu sebentar, Yang Mulia, apa yang sebenarnya terjadi di sini?” tanya Aldérin.
“Elianon, sejak 450 tahun yang lalu, bangsa kami mengalami guncangan hebat. Cahaya biru yang tertangkap oleh jangkauan perasaanku, membawa bencana, hingga kini.
Titelénta menghirup napas panjang, seolah beban berat menghimpitnya.
“Kami memiliki sumber kehidupan yang dinamakan Ratera juga Satera, dua batu yang berada di dalam satu garis utara dan selatan. Batu Ratera di kota Trâg, kota nymph air di utara dan Satera di selatan, di kota kami. Dulu, kami memiliki saudari di Trâg…
“Sejak cahaya biru itu datang, seluruh koloni kami di utara, lenyap begitu saja. Tak ada berita. Kami tak bisa mengetahui apa yang terjadi, karena jalan air ke utara pun tertutup. Sedikitnya, yang membuat kami sedikit bersyukur, batu tersebut tidak tersentuh aliran jahat dari si cahaya biru.
“Namun, sudah beberapa tahun ini tubuhku melemah dan rusak. Ini menunjukkan bahwa Batu Ratera telah tercemar, kekuatan gelap tengah menggerogotinya. Tylosae telah memperingatkan hal ini padaku, tetapi bangsa kami tak bisa melakukan apa-apa, kami sangat lemah, Elianon. Aku tahu, Tylosae tengah mengusahakan sesuatu ‘tuk membantu bangsa kami, akan tetapi perasaanku mengatakan bahwa dirinya pun ada di dalam kesulitan besar, dan kini terbukti … bahwa bangsa kalian tengah dibantai oleh bangsa dëia.”
“Lalu apa yang bisa bangsa kalian lakukan dengan keadaan seperti ini?” tanya Aldérin. “Kau takkan berdiam diri dan mati pelan-pelan bersama seluruh koloni nymph air, bukan?”
“Seandainya aku bisa melakukan sesuatu, Elianon,” desah Titelénta. “Tetapi, kau bisa melihat keadaanku yang tidak berdaya. Bahkan untuk menyelamatkan bangsa nymph, aku sudah tak mampu, apalagi membantu dunia.”
“Yang kau perlukan adalah menyucikan kembali batu Ratera, begitu?”
Titelénta mengangguk. “Ya, setelah disatukan dengan Satera, bangsa nymph air akan pulih dan mendapatkan kekuatannya kembali.”
“Kalau begitu, aku akan mengambil batu Ratera dan menyerahkannya ke tanganmu secepat aku bisa,” putus Aldérin. “Jika Tylosae memang berniat untuk membantumu, maka aku yang akan menjalankan apa yang pernah ia niatkan.”
Titelénta menggeleng. “Perjalanan ke utara terlalu berat, Elianon. Dengan kau berada dalam pengejaran, dan kini bangsa dëia tengah menyerang semua makhluk di dunia, aku tak yakin kau bisa melakukannya,” tolak Titelénta. “Bukan aku meragukan kehebatanmu, hanya saja jangan sia-siakan nyawa demi bangsa kami yang bukan darah dagingmu, lebih baik kau menghimpun kekuatan dengan kaum lainnya dan menghancurkan bangsa dëia.”
“Dan kehilangan persahabatan dengan kaum nymph air?” ujar Aldérin. Ia menggeleng tegas. “Tidak! Aku akan membantumu menyucikan kembali Ratera dan dengan begitu, kita dapat menghimpun kekuatan yang lebih besar dan memerangi kekejaman bangsa dëia.”
“Betapa mulianya sikap elianon kepada bangsa kami,” sahut Titelénta. Ia pun bersimpuh dan memberikan penghormatan terdalam. “Kami tidak mungkin bisa menolak keinginan yang begitu agung. Maka dengan segenap hatiku, aku sangat berterima kasih atas niatanmu, Elianon.”
Yardah dan kedua rekannya pun membungkuk dalam kepada Aldérin.
“Nah, kini beritahukan padaku, di mana letak Ratera berada,” ujar Aldérin.