The Quest for The Lost Inheritors

Ilusi Yähgé

Begitu Yähgé menjentikkan jari, pintu gerbang benteng luar berkerit, lalu perlahan menutup, diikuti oleh jembatan yang mereka lalui tadi. Ninye waspada, dia melihat tidak ada lagi tempat untuk keluar dan menyelinap dari benteng tersebut, karena sudah tertutup rapat. Dia bisa melihat di luar benteng seperti ada gelombang perlahan, seperti sebuah pelindung sihir.

“Jangan coba-coba melarikan diri, terlebih jika aku berada di sini.” Yähgé seolah tahu apa yang ada dalam pikiran Ninye. “Kau tentu bisa melihat pelindung sihir itu, bukan? Itu bukan hanya melindungi dari apa yang di luar, tetapi mereka yang ada di dalam berusaha untuk pergi tanpa seizinku akan merasakan akibat yang fatal.”

“Kau membuat pelindung itu, karena aku ada di sini?” tanya Ninye setengah menantang.

Yähgé menggeleng. “Aku akan membukakan pelindung itu, jika kau mau pergi. Aku tidak merasa terancam oleh keberadaanmu.”

“Lalu untuk apa kau buat pelindung itu, setelah sebelumnya tempat ini hanya sebagai bangunan terbengkalai.” Mata Ninye memandang pada Yähgé tajam.

“Oh, menurutmu ini terbengkalai? Mereka hanya tak melihat ilusi apa yang kubuat.”

Yähgé membuka telapak tangan, dan bibirnya meniupkan embusan angin. Sekonyong-konyong suasana di sekitar mereka berubah, itu menjadi sebuah benteng yang begitu indah, puncak menaranya berkibar-kibar bendera. Permukaan berbatu berubah menjadi putih bersih, pohon-pohon tumbuh di sudut-sudut, suasananya berubah menjadi tempat yang begitu nyaman untuk ditinggali.

Lalu dari salah satu pintu bangunan, keluar sepasang manusia yang menggeliat seolah baru saja terbangun dari tidur. Mereka tersentak kaget saat melihat kehadiran Yähgé, Gôntra, dan juga Ninye. Bergegas keduanya mendekat dengan tergopoh-gopoh.

“Ratu Yähgé, oh kau sudah kembali!” sapa si pria dengan suara begitu senang.

Tentu saja Gôntra terkejut melihat sosok itu. Lelaki bernama Hering, dia tahu. Dan perempuan yang ikut mendekat di sampingnya adalah sang istri, Triala. Kedua manusia itu mulai menyadari kehadiran Ninye dan juga Gôntra, mereka membungkuk hormat.

“Yang Mulia membawa kawan, kami akan segera menjamu kalian,” ucap Triala sopan.

Kedua manusia itu bergegas pergi ke salah satu bangunan lain, seolah tidak merasa aneh melihat sosok Gôntra maupun Yähgé sebagai bangsa dëia, terlebih Ninye yang jelas-jelas elf. Tentu hal itu membuat heran Gôntra juga Ninye.

“Mereka baik-baik saja, bukan?” tanya Gôntra. “Mereka sama sekali tidak takut atau terkejut melihatku? Apa yang terjadi, Yähgé?”

“Aku hanya memperlihatkan apa yang mereka ingin lihat.” Senyum Yähgé tersungging.

“Apa yang telah kau lakukan pada mereka?” Ninye menatap pada Yähgé dengan tatapan siaga. “Kau memanfaatkan manusia itu? Apa yang kau inginkan dari keduanya?”

“Itu bukan urusanmu,” balas Yähgé enteng.

“Tapi—”

“Pergilah beristirahat, dan makan apa pun yang kau mau. Karena semua sudah tersedia di sini, Elf.” Yähgé hampir mendengkus. “Seharusnya kau bersyukur, aku menjamumu dengan baik.”

Lalu Yähgé pergi meninggalkan Gôntra dan Ninye, melangkah menuju ke tangga melingkar puncak menara benteng tersebut. Tanpa mengindahkan Gôntra, Ninye mulai mengamati sekitar benteng dan pepohonan juga tanaman yang tumbuh di sana. Pohon buah-buahan, juga tumbuhan pangan; sayur-mayur, umbi-umbian, entah itu ilusi atau bukan.

Namun, saat Ninye menyentuhkan tangannya pada permukaan daun, dia merasakan kehidupan di sana. Itu bukan khayalan.

“Apa yang sebetulnya Yähgé rencanakan selama ini?” gumam Ninye.

“Aku tak tahu,” balas Gôntra yang ternyata sudah berdiri di belakangnya.

Ninye menoleh dan mendesah pelan. Dia hanya menatap pada dedaunan hijau yang sudah lama tak ia lihat, bahkan sangat ia rindukan sangat. Tempat itu begitu nyaman, bahkan ada perasaan Ninye tak ingin meninggalkan benteng tersebut. Karena suasananya begitu damai, dan tenang.

“Dari mana tanaman-tanaman ini? Mengapa bisa tumbuh di sini dengan subur? Sedangkan kau lihat sendiri, permukaan tanah di luar benteng sudah tak ada kehidupan sama sekali,” kata Ninye.

“Selama ini Yähgé banyak menutupi hal padaku. Baru kali ini dia membuka sebagian rahasianya, tak hanya padaku, tetapi padamu juga.”

“Apa itu sesuatu yang bagus? Atau justru menakutkan?”

“Keduanya kurasa.” Gôntra melirik ke arah menara, yang mungkin Yähgé sudah sampai di sana tak mendengar pembicaraan mereka. Atau bisa saja justru Yähgé bisa mendengar apa pun di benteng itu, bahkan bisikan yang sangat lirih.

“Itu tidak menjawab pertanyaanku, Gôntra.” Ninye mendesah pelan. “Dia menakutkan.”

“Kurasa setelah dia membawa kita ke sini, dia akan menjelaskan semua, meski tidak sepenuhnya. Sebaiknya, kita jangan terus beririsan dengan Yähgé. Dia tidak seburuk itu, Ninye.”

“Entahlah.” Ninye tampak ragu. “Dengan menyekap manusia, dan memberikan mereka ilusi, hidup dalam mimpi, menurutku sangat kejam. Dia menyekap mereka, dengan cara yang sangat mengerikan.”

“Bagaimana jika para manusia ini, justru merasa lebih baik jadi tawanan, daripada harus menjalani hidup yang nyata? Kau pun harus melihat dan mendengar alasan Yähgé.”

Ninye tidak menjawab, dia hanya melangkah menjauh dari Gôntra. Sebetulnya, jika Yähgé ingin benar-benar menghabisi Ninye, bisa dia lakukan kapan saja. terlebih Ninye tidak memiliki senjata sama sekali.

Jika karena Gôntra yang meminta agar tak menyakiti Ninye, dan Yähgé meluluskan permintaan tersebut dengan mudah, rasanya aneh. Antara Yähgé yang memang memiliki sedikit kebaikan di hatinya, atau justru Yähgé menyimpan setitik perasaan pada Gôntra.

Tahu betul Ninye perasaan saling sayang dan kasih, meski bangsa elf tidak menunjukkannya dengan interaksi fisik, lebih cenderung pada perasaan. Jika benar dugaannya, Ninye harus hati-hati. Karena Yähgé sepertinya sedang mencari cara, untuk menyingkirkan Ninye suatu saat nanti.

Yähgé sangat perhitungan, dan setiap langkahnya tidak diduga oleh siapa pun. Bahkan Ninye akui, dengan memiliki benteng tersebut, pasti Yähgé sudah memiliki rencana yang sangat panjang. Sesuatu yang telah disusun begitu lama, dan sangat matang.

Kemungkinan besar, kehadiran Ninye di kehidupan perempuan dëia itu, di luar ekspetasi. Dan Yähgé bisa sangat sabar untuk membiarkan Ninye hidup, sampai suatu saat Ninye tidak bisa mengelak lagi dari serangan telak Yähgé.

Apa pun tujuan Yähgé, Ninye tidak boleh lengah. Karena perempuan dëia itu sangat berbeda dengan kaumnya.

Hering dan istrinya keluar dari bangunan yang seperti tempat penyimpanan makanan, mereka membawa botol air dan piring dari sana. Keranjang berisi buah-buahan. Ninye hanya mengawasi dengan hati-hati, hingga keduanya mendekat.

“Kami akan menyiapkan ini semua. Senang sekali ada tamu datang ke tempat ini,” ucap Hering.

“Aku terlupa, tempat ini dinamakan apa?” tanya Ninye berkilah.

“Kalf Gunnar. Sebetulnya Kalf Gunnar adalah seorang penyihir jahat, dia dan pengikutnya tinggal di sini. Lalu Ratu Yähgé mengalahkan mereka, sehingga dia menguasai benteng ini pada akhirnya.” Hering tampak begitu bersemangat bercerita. “Dia menyelamatkan kami berdua, dan memperbolehkan kami tinggal di sini. Kami benar-benar berterima kasih padanya.”

“Menyelamatkanmu? Kau tidak tinggal di sini sebelumnya?”

“Tentu tidak. Aku dan istriku datang dari Hail, jauh dari sini. Letaknya di barat.”

Ninye hanya diam, tidak mengatakan apa pun selama Yähgé dan Gôntra menikmati makanan yang tersaji di meja. Tidak pernah Ninye sangka, bahwa bangsa dëia makan dengan terdidik. Yang sempat Ninye pikirkan, bahwa mereka bisa menelan musuh mentah-mentah.

Namun, tidak. Mereka memakan apa pun, yang tentunya harus dimasak. Tidak berbeda dengan manusia.

“Kau tidak makan?” tanya Gôntra, saat melihat Ninye tidak menyentuh buah atau sayuran.

“Makanan itu bukan ilusi, tidak beracun, dan sangat aman kau makan,” seloroh Yähgé yang menatap pada sup di mangkuknya. “Tetapi terserah kau, jika kau lebih memilih kelaparan.”

“Bagaimana bisa semua yang ada di sini, tumbuh dan hidup.” Ninye menatap pada Yähgé. “Ini tidak masuk akal bagiku. Kau bisa menjelaskannya?”

Bibir Yähgé mengerucut. Lalu dia menatap tajam pada Ninye. “Aku mengumpulkan bibit-bibit pohon, tanaman, apa pun yang menurutku menarik. Dan itu berhasil tumbuh di sini, apa menurutmu itu mustahil?”

“Ya, mustahil,” angguk Ninye. “Kalian bangsa penghancur. Untuk apa kau melakukan semua ini?”

“Hanya kesenangan semata. Kau pernah diremehkan? Lalu semakin diremehkan, kau justru ingin membuktikan, bahwa tak ada seorang pun yang meremehkanmu?” tanya Yähgé.

“Lalu ini pembuktianmu? Menanam pohon?” Ninye hampir tertawa.

“Dengar, Elf. Jika kau memang kaum pecinta tanaman, bisakah kau membuat kehidupan di tanah yang takkan bisa menghidupkan apa pun?” Ada seringai ditunjukkan oleh Yähgé. “Aku sudah membuktikannya, jadi kuharap kau bisa menutup mulutmu … sebelum kau menunjukkan kemampuanmu.”

“Kau takkan mampu, kecuali ada sesuatu yang kau miliki. Sesuatu yang memang sangat ajaib,” kata Ninye. “Dan sihir bangsamu, tidak mungkin bisa melakukan hal semacam ini.”

“Oh, astaga. Makan malam kali ini benar-benar membuatku tidak selera untuk makan.” Yähgé pun menguap malas. “Apa yang ingin kau ketahui sebetulnya, Elf? Hidupmu penuh dengan keingintahuan yang mengganggu.”

“Kau pun takkan menjawabnya,” balas Ninye. “Untuk apa aku bersusah payah mencari tahu?”

“Mungkin sebaiknya kau makan, Ninye,” kata Gôntra, berusaha mengalihkan pembicaraan di antara dua perempuan dari dua bangsa yang kini terlihat semakin sengit satu sama lain.

“Kita akan bicara esok, di pagi hari,” kata Yähgé tiba-tiba. “Makanlah, Ninye. Aku tak ingin telingaku terlalu bising, karena mendengar rengekanmu. Kumohon,” lanjutnya sembari tersenyum sinis.

Ninye terdiam, dia terlihat salah tingkah dan akhirnya mengangguk singkat. Meski elf itu terus berpikir di dalam benaknya, mengapa Yähgé menjadi lebih lunak. Entah itu salah satu rencana Yähgé atau memang benar bahwa dia mulai mempercayai Ninye.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!