The Quest for The Lost Inheritors
Perjalanan Menuju Karakh
“Pergi? Hari ini juga?”
Mata Cialla membelalak saat Can’Eru dan Can’Ara mendatanginya di luar dinding istana. Hari itu belum terlalu siang, dan tampak semua prajurit sibuk membenahi perbekalan dan kebutuhan mereka saat akan berangkat menuju Karakh. Kemungkinan besar bangsa dëia tinggal di sana, atau konon merunut dari sejarah yang abu-abu.
Tidak ada yang tahu berapa lama mereka akan tiba ke tujuan, seperti apa medan perjalanan, atau bahaya apa yang mengintai. Setidaknya dibutuhkan satu pekan lebih untuk mempersiapkan semua rencana dengan matang.
Namun, tiba-tiba saja Raja Thornell memutuskan mereka akan bertolak dari Hail hari itu juga. Di hari kepergian Élsus dan Keld, menuju Ferden’Lyf.
Dalam pandangan Cialla itu tindakan sembrono dan kurang perhitungan.
Bagaimana bisa seorang raja membawa pasukannya untuk mati secara sia-sia, justru dengan kata-kata bahwa kematian mereka akan dikenang. Manusia lupa, bahwa di balik kisah-kisah heroik kematian yang agung, di belakang itu, ada waktu-waktu gelap bagi orang-orang yang ditinggalkan. Dan berduka berlama-lama.
“Apa sang raja sudah kehilangan akal sehatnya?” gumam Cialla.
“Dia adalah raja.” Can’Ara mengendikkan bahu.
Cialla tampak gusar. “Tetapi dia tidak bisa berbuat semena-mena, terlebih pada kaumnya sendiri.”
“Lalu apa yang dikatakan oleh Ratu Reŷanim?” Cialla menatap kedua saudarinya.
“Dia menitahkan kita untuk berkemas. Dia yang menyampaikan perihal ini,” jawab Can’Eru.
“Ratu Reŷanim menyetujuinya?” Seolah-olah Cialla tidak percaya dengan apa yang dikatakan baik oleh Can’Ara maupun oleh Can’Eru.
Can’Ara mengangguk. “Kurasa dia tidak punya pilihan. Karena sudah merupakan sumpah para dryadan, jika kita berjanji, tidak ada sebuah janji yang diingkari.”
Ratu Reŷanim sudah mengulur waktu agar Thornell mau melunakkan hatinya, dengan tidak tergesa-gesa pergi ke Karakh dan menyerang kembali bangsa dëia. Begitu para Takala sudah bisa menanam bibit pohon Akishá, yang kini sudah tumbuh tinggi besar di kediaman baru mereka, sudah tentu sang ratu tidak bisa mengelak lagi dari janji.
Raja Thornell masih sangat muda, dia ambisius, dan jika tidak dibimbing dengan tepat, nasibnya tidak akan berbeda jauh dengan raja Lord Raignald. Itu yang menjadi pertimbangan Ratu Reŷanim dan Akoéta.
“Kita akan pergi menuju tempat yang kali ini bisa menjadi akhir bagi semua,” keluh Cialla. “Baiklah, mari kita berangkat. Aku tak mau raja muda itu menunjuk dengan jarinya, bahwa aku adalah seorang dryad yang tidak memenuhi janji.”
Can’Eru melipat tangannya. “Tidak, Cialla. Aku hanya memberitahukanmu, bahwa semua dryadan, centaur, dan pasukan manusia akan pergi menuju Karakh. Tetapi tidak bagi kita, ratu Reŷanim menitahkan kita bertiga untuk mencari para dwarf dan elf, yang berhasil melarikan diri.”
“Dari Pílghym?” Lagi-lagi Cialla membelalak tak percaya.
“Mereka tidak musnah, dan mencari keberadaan mereka adalah satu-satunya cara bagi kita untuk menyelamatkan Raja Thornell. Juga bangsa kita, dan para centaur yang terjebak dalam ikatan janji, akan pergi menuju Karakh,” sahut Can’Ara.
“Tidak mudah mencari mereka, jika sampai saat ini bangsa dëia belum menemukan satu pun dari pelarian di sana. Maka mereka memiliki keahlian bersembunyi, atau sihir yang membentengi. Dan itu, pasti berlaku untuk semua makhluk, selain mereka. Apa kita akan berhasil? Ini benar-benar konyol,” sungut Cialla.
“Lebih konyol lagi membiarkan raja manusia membawa segelintir pasukan.” Can’Eru mendesah pelan. “Lekas, kita pun harus segera pergi dari Hail. Tujuan utama kita, adalah menuju Pílghym.”
“Di kota itu sudah tidak ada seorang pun,” keluh Cialla. "Bukankah sang ratu pun sudah mengatakan hal tersebut? Lalu untuk apa kita pergi ke sana."
“Kita harus mencari petunjuk sekecil apa pun. Ayolah! Cepat kemasi barang-barangmu,” kata Can’Ara.
"Petunjuk macam apa? Para pelarian tentu takkan memberikan petunjuk, bahkan remah-remah, agar mereka tetap terlindung dan selamat dari bangsa darah dan api. Lagi-lagi terdengar konyol," rutuk Cialla.
"Cepatlah!" desak Can'Eru mulai jengkel.
Pasukan berkuda sudah berbaris rapi di luar gerbang Kota Hail, mereka sudah bergerak maju lebih dulu membuka jalan bagi pasukan centaur dan dryad yang berjalan di belakang mereka. Perjalanan mereka adalah menyusuri sepanjang Norewestôth, yang pasti melalui puing-puing Kota Vôld, setelah itu meneruskan jalan melewati barisan bukit West Emun Gasal.
Ratu Reŷanim sudah mengatakan baiknya mereka tetap berada di jalur tepi Pegunungan Habér, karena di sana keadaan jauh lebih aman. Para dryad dan centaur pun pernah melewati area tersebut, tetapi Raja Thornell tetap pada pendiriannya. Melewati tepi pegunungan tersebut, hanya akan membuat jalan jauh lebih panjang.
Sang raja lebih memilih mengambil jalan mendekati ke celah pegunungan Scark, yang berbatasan dengan barisan bukit North Emun Gasal, dan West Emun Gasal.
Para Takala berjalan di samping sang ratu, untuk mendengarkan rencana lebih lanjut dari pemimpin para perempuan tangguh tersebut.
“Pergilah kalian ke Pílghym, pastikan kalian temukan para pelarian dari kota itu secepat mungkin,” titah sang ratu. “Sesulit apa pun itu, kalian harus yakin bahwa tempat mereka bersembunyi sekarang akan bisa kalian ketahui.”
“Baik, Yang Mulia,” jawab ketiganya patuh.
Ada sorot mata sedikit cemas ditunjukkan oleh Ratu Reŷanim. “Aku tahu, kalian pasti berpikir bahwa apa yang dilakukan oleh raja muda itu, hanya akan menyia-nyiakan nyawa banyak. Akan tetapi, pemikiran dia pun tidak sepenuhnya salah. Jika kita terus menunda-nunda untuk melawan bangsa dëia, bangsa api dan darah itu akan segera kembali. Mereka akan membawa pasukan yang lebih besar lagi.
“Mereka bisa menunggu ratusan tahun kemudian untuk datang, di kala kita semua lengah. Bukankah ini yang terjadi sekarang? Sudah pernah ada sejarah, bahwa bangsa ini telah merusak kedamaian. Dulu, mereka bisa dikalahkan, entah kini. Karena aliansi telah rusak, dan kenangan manusia tidak sepanjang bangsa elf. Kita terpaksa harus melawan mereka secepat mungkin,” jelasnya.
“Kami akan berusaha sekuat tenaga, ini sepertinya permintaan yang cukup kurang ajar, tetapi kami mohon … untuk menahan laju pasukan agar tidak tergesa-gesa,” kata Can’Ara. “Kami tak mau Raja Thornell lari ke medan perang, di mana dia tidak mengetahui seperti apa kondisi di Karakh. Bagaimana jika pasukan musuh ternyata jumlahnya lebih dari yang ia kira?”
Sang ratu mengangguk. “Tentu saja, itu yang akan aku lakukan sekarang. Sebelum kita mendapatkan kabar, di mana para pelarian berada. Dan membuat rencana matang lainnya, agar kita bersama-sama bisa melawan bangsa dëia. Kuharap raja muda itu, tidak sekeras kepala yang kupikirkan sejak hari-hari berlalu. Semoga dia mau menunda lagi serangan ini, dan kembali bersama pasukan yang lebih besar.”
“Kami akan pergi lebih dulu, karena pencarian ini akan menjadi sesuatu yang cukup sulit,” pamit Can’Eru. Disusul oleh anggukan Cialla dan Can’Ara.
“Pergilah dengan restuku. Kalian berhati-hatilah.” Sang ratu hanya menyunggingkan senyum tipis.
“Ensaiya.”
Para dryad yang lain, memberi anggukan singkat kepada para Takala yang melangkah memisahkan diri dari barisan. Begitu pula para centaur, yang memberikan hormat pada para Takala. Putri Thaira yang berkuda, menoleh ke arah para Takala yang kini sudah berlari secepatnya menuju ke arah pegunungan Habér.
Ketiga dryad itu tidak mengucapkan salam perpisahan apa pun, sepertinya mereka sedang tergesa-gesa dengan titah penting dari ratu dryad. Hal itu pun menarik perhatian Raja Thornell.
“Ketiga dryad itu tidak ikut dengan kita?” tanya sang raja sedikit keheranan. “Padahal kita pun membutuhkan bantuan, meski sekecil apa pun itu.”
“Mereka pasti memiliki rencana yang lebih penting. Tidak mungkin ketiganya terpaksa memisahkan diri seperti itu,” balas sang putri.
“Bukankah rencanaku pun penting? Aku harus menunggu kedatangan ketiga dryad itu, dan menunda-nunda kepergian pasukan ke Karakh. Setelah mereka datang, tiba-tiba mereka tidak ikut bertempur bersama kita?” Tampak dahi Raja Thornell berkerut.
Putri Thaira hanya mendengkus pelan, mendengar kata-kata adiknya. “Percayalah, bahwa niat para dryad atau centaur, adalah tidak membuat kita terbunuh dengan sia-sia di tanah air bangsa dëia.”