The Quest for The Lost Inheritors
Batu Ir’aton
“Apa yang membuatmu berpikir bahwa aku dan kamu sama?”
Perkataan Ninye menepis semua apa yang diungkapkan oleh Yähgé. Perempuan elf itu menggeleng tegas, menatap perempuan dëia di hadapannya; marah dan waspada.
“Bebaskan Hering dan istrinya, biarkan aku membawa mereka kembali ke kota manusia. Agar mereka bisa hidup dengan baik, tidak di bawah kuasa dan ilusimu,” lanjut Ninye.
“Lalu apa? Kau akan mendapatkan lagi perlakuan yang sama, dari para manusia. Aku sudah melihat gelagat makhluk berumur pendek ini. Mereka arogan, mereka merasa tahu segalanya, dan mereka selalu berprasangka buruk terhadap apa pun.” Yähgé terkekeh pelan. “Mereka tidak pantas untuk diselamatkan, Ninye. Karena itu, menurutku Hering dan istrinya hidup sangat baik di sini, meski mereka hanya tertidur abadi.”
“Tubuh mereka rapuh, kau akan membiarkan mereka mati selamanya dalam mimpi?”
“Tidak tentu saja. Karena aku sudah memiliki batu Ratera, tubuh mereka jauh lebih baik sekarang. Bahkan seperti kembali ke umur mereka di kala memiliki stamina yang baik. Kau mau melihat keduanya?”
“Bebaskan mereka berdua, Yähgé.”
“Aku akan melakukannya. Kau tidak perlu sepanik itu.”
Intonasi suara Yähgé tetap seperti itu, santai dan seolah tanpa beban apa pun. Dia pun melangkah melewati Ninye, kembali menuju keluar dari rubanah di bawah menara. Ninye benar-benar tidak mengerti, mengapa Yähgé bersikap begitu aneh pada dirinya.
“Kapan kita akan keluar dari sini?” tanya Ninye.
“Kapan saja kau mau. Aku hanya berusaha melindungi kalian dari serangan bangsaku sendiri. Tetapi, apabila kau ingin menghadapi mereka di luar sana, kita bisa pergi sekarang juga,” jawab Yähgé.
“Apa kau selalu seperti ini? Menyikapi segala sesuatu dengan sikap masa bodohmu, Yähgé?”
“Aku punya pemikiran sendiri. Yang mungkin di matamu terlihat bodoh.”
Lalu Yähgé melangkah keluar dari ruangan itu, dan meninggalkan Ninye seorang diri. Karena terburu-buru, sebuah batu kecil hitam dari genggaman tangan Yähgé jatuh ke permukaan lantai yang dingin juga lembab. Di mana hal itu sebetulnya Yähgé sengaja, karena ada seulas senyum tampak dari sudut bibir, meski Ninye tak melihat sama sekali.
Ninye tak mengatakan sepatah kata apa pun, matanya hanya melihat pada batu hitam yang bergulir hingga akhirnya berhenti. Dia menunggu hingga momentum itu selesai, di mana Ninye pun bergelut dengan perasaannya sendiri, dan berusaha menepis semua yang dikatakan oleh Yähgé. Sayangnya, Ninye seperti ditarik oleh batu hitam yang sejak awal Ninye tahu bahwa benda tersebut berbahaya.
Dia mendekat pada batu Ir’aton, berjongkok di samping batu kecil, hitam, berkilat.
“Hanya karena sebuah batu seperti ini, bisa membuat seorang manusia memiliki kekuatan besar? Jika memang begitu, apakah ini sepadan untuk melawan bangsa dëia? Apa itu yang selama ini Yähgé rencanakan di belakang kuasa sang kakak?” gumam sang elf lirih.
Tangan Ninye meraih batu tersebut tanpa banyak pikir lagi, tiba-tiba sesuatu menjalari tubuhnya, masuk hingga ke tulang dan mengeluarkan rasa nyeri yang luar biasa. Ninye sampai tidak bisa berteriak, karena napasnya seperti tercekik. Namun, lambat laun nyeri itu mulai berubah, Ninye merasakan ada desiran dingin di seluruh tubuhnya. Ada dorongan energi yang begitu kuat, sehingga dia bisa merasakan tiap aliran darah, otot-otot, tulang, juga daging begitu bertenaga.
“Kekuatan macam apa ini?” bisik Ninye tak percaya.
Dia menoleh ke arah batu Ratera, lalu melangkah menghampiri ke sana. Ia mencelupkan jari-jarinya pada mata air dengan batu tersebut, dan tangannya terasa tersengat tiba-tiba. Ninye melangkah mundur, menatap pada batu Ir’aton yang warnanya memudar sedikit, karena terkena pengaruh dari batu Ratera.
“Oh, ternyata mereka saling bertolak belakang satu sama lain. Aku tidak tahu apa yang sebetulnya ada dalam pikiran Yähgé, tetapi jika dia berpikir bahwa dia bisa mengubah dunia. Aku pun takkan tinggal diam, apabila niatnya ternyata begitu buruk.”
Ninye pun mengikuti langkah Yähgé keluar dari rubanah, membiarkan potongan batu Ratera di tempatnya. Karena kemungkinan besar, Hering dan istrinya bergantung pada kekuatan batu itu sekarang. Jadi itu merupakan tugas Yähgé untuk membebaskan keduanya.
Begitu Ninye keluar dari rubanah di bawah menara, tiba-tiba saja dia melihat Gôntra sedang berada di sana, seperti mencari-cari sesuatu. Saat melihat dinding terbuka, Gôntra terkejut bukan main.
“Apa yang sedang kau lakukan di sana?” tanya Gontra keheranan. “Tempat apa itu?”
“Yähgé menunjukkanku sebuah tempat yang cukup membuatku terkejut. Dia menyimpan potongan batu bangsa nymph air, batu Ratera namanya. Apa kau mengetahui tentang hal ini?”
“Tidak.” Gôntra menggeleng.
“Jangan berbohong padaku, Gôntra.”
“Aku tidak berbohong padamu. Mengenai batu hitam Ir’aton aku tahu, akan tetapi Ratera, aku tidak mengetahui sama sekali. Entah jika dia pernah mengatakan padaku, lalu aku melupakannya.” Gôntra pun mengendikan bahu. “Lalu apa hubungannya denganku atau segala sesuatu yang ada di sini?”
“Apa tidak ada sedikit pun petunjuk yang ia katakan padamu, apa yang ia rencanakan pada kedua manusia yang ada di sini? Untuk apa dia menyekap mereka? Lalu menyimpan batu Ratera? Belum lagi, batu Ir’aton yang selalu dibawanya.”
“Dia belum membuang batu itu?” Gôntra tampak terkejut. “Batu Ir’aton membuatku sangat waspada. Karena ada kekuatan gelap terkandung di dalamnya, bahkan lebih gelap dari sihir-sihir yang pernah dikenali oleh bangsa kami.”
“Yähgé mengatakan padaku, bahwa batu itu diperkenalkan oleh penyihir yang dulu sempat tinggal di Kalf Gunnar. Beberapa ratus tahun lalu.” Ninye mendesah pelan. “Bahkan tidak ada ingatan dari kaum kami mengenai bangsa manusia, yang tinggal di sini. Dan mereka memiliki kekuatan sihir.”
“Itu terdengar mencurigakan. Apa mungkin Yähgé membohongi kita lagi kali ini?”
“Kau merasa dia berbohong?” tanya Ninye.
Namun, Gôntra bergegas menggeleng tegas. “Tidak. Jika dia sampai membawa kita sejauh ini, Yähgé sudah mengambil risiko terbesar dalam hidupnya untuk memercayai kita. Dia bukan seseorang yang mudah percaya pada sosok lain, bahkan mungkin pada dirinya sendiri.”
“Aku hanya ingin tahu. Apa yang sebetulnya ia rencanakan.”
Gôntra menepuk bahu Ninye. “Akan ada waktunya. Sekarang, baiknya kita mengistirahatkan pikiran untuk sejenak. Bukan aku tidak ingin menjadi jembatan antara pikiranmu atau Yähgé, tetapi, ada hal-hal yang baiknya kita tunda sejenak untuk kita bicarakan kelak.”
“Aku tidak akan mengatakan apa-apa lagi, hingga Yähgé menjelaskan semua.”
“Kuharap kau bisa lebih bersabar. Aku akan bicara pada Yähgé pelan-pelan.”
Lalu Ninye melangkah kembali ke arah ruang makan, di mana mungkin ada sosok Hering dan Triala dalam bentuk ilusi yang diciptakan oleh Yähgé. Membuat Ninye semakin penasaran sebetulnya, di mana Yähgé menyembunyikan tubuh keduanya.
Yang ia dan Gôntra tak sadari, bahwa Yähgé mengawasi pembicaraan keduanya dari puncak menara. Yähgé sangat pandai dalam sihir, dia bisa mendengar segala sesuatu yang ada di dalam benteng tersebut.
*
Yähgé membuka tabir sihir dan dia memasuki ruang di puncak menara. Ruangan itu begitu gelap, begitu Yähgé ada di sana semua obor api menyala. Di tengah-tengah ruangan, tampak dua orang manusia sedang berbaring. Mereka hidup, karena dada mereka tampak naik-turun, meski keduanya sama-sama memejamkan mata.
Itu adalah Hering dan Triala, yang tengah dalam tidur. Mereka tidur begitu lama, bahkan mungkin mereka menjalani mimpi yang terus berulang tiada henti, seperti yang sudah diatur oleh Yähgé selama ratusan tahun.
Di dada Hering tersembul sebuah kalung berwarna perak, dengan bandul batu kecil berwarna hijau zamrud. Kali pertama Yähgé melihat Hering dan istrinya, ketika mereka hendak dibinasakan oleh bangsanya sendiri. Bangsa manusia.
Karena, dikatakan Hering juga istrinya pembawa sial, dan mereka mengatakan bahwa ada bangsa lain, yaitu bangsa darah dan api. Ketika keduanya hendak dibunuh, Yähgé menyelamatkan dua manusia itu. Mengunci ingatan mereka, dan memberikan ilusi.
Setelah tiba di Kalf Gunnar, keduanya ditidur abadikan oleh Yähgé.
Yang belum terjawab adalah, siapa bangsa dëia yang sebelumnya pernah dilihat oleh Hering? Apa para Oroizé?
Karena ingatan itu benar-benar samar, seolah seseorang sudah membuatnya agar tidak terlihat oleh siapa-siapa lagi. Ini yang membuat Yähgé penasaran. Karena tidak mungkin apabila itu Kolé.
Namun, Yähgé tetap bersabar, hal itu pun suatu saat akan terkuak. Yang penting bagi Yähgé adalah membangunkan Hering, karena itu adalah saatnya. Dan memastikan bahwa lelaki itu adalah pewaris bandul Rafael, yang sekarang dikenakan oleh Hering.
“Kurasa waktunya bagi kalian untuk berperan besar di dunia Khâli.” Senyum Yähgé tersungging. “Aku selalu tahu, bahwa kau merupakan sosok penting, Hering. Dan aku mengandalkanmu untuk membangkitkan roh itu, agar aku bisa menghancurkan kakakku. Dan menjadi pemimpin tunggal bangsa dëia.”
Lalu Yähgé membuka telapak tangannya, tampak sinar keunguan membias lalu masuk ke dalam tubuh Hering dan Triala. Tidak lama kemudian, ada gerakan dari tangan dan kelopak mata keduanya yang perlahan terbuka. Hering dan Triala pada akhirnya sadar, setelah ratusan tahun lamanya.